SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku mau minum teh susu buatanmu ...


__ADS_3

Sila dan Riana sudah berdiri di depan pintu Apartemen Leon. Riana membunyikan bel Apartemen Leon beberapa kali, sampai akhirnya Leon keluar kamarnya untuk membuka pintu Apartemennya.


Saat membuka pintu, Leon melihat Sila dan Riana berdiri tersenyum di depannya. Ia menatap mereka berdua dengan tatapan tak sukanya, seakan enggan melihat mereka berdua, apalagi dengan Sila.


“Apa kami boleh masuk kak?” tanya Riana sambil tersenyum.


“Buat apa kalian datang kesini? Apa kalian mau buat keributan lagi disini?” kata Leon dengan tatapan kesalnya melihat kedatangan mereka.


“Aku datang untuk minta maaf pada Saila. Kemarin aku sudah menamparnya,” sahut Sila dengan suaranya yang terdengar pelan. Ia terlihat tidak enak hati di depan Leon saat lelaki itu menatapnya dengan kesal.


Leon memejamkan matanya sebentar sambil menghela nafasnya dengan kasar.


Ia menatap Sila kembali. “Sila, aku tidak bisa membiarkanmu masuk. Keadaan Saila tidak baik sekarang. Dia tidak boleh banyak pikiran atau pun memikirkan ketidak puasan dirimu itu. Kau bisa kembali sekarang!” ucap Leon.


“Kak Leon ... aku datang kesini murni untuk minta maaf bukan untuk cari ribut. Aku ingin mengurangi bebannya. Saila pasti berpikir kalau aku masih membencinya. Tolong biarkan aku masuk ke dalam untuk minta maaf padanya!” ucap Sila memohon pada Leon.


“Iya, Kak Leon. Kami datang kesini untuk menghibur Saila. Dan Sila juga mau minta maaf pada Saila. Mungkin itu bisa mengurangi beban pikiran Saila,” sambung Riana.


Leon diam sejenak menatap mereka dengan tatapan dinginnya, kemudian berjalan mundur sambil menarik pintu Apartemennya ke samping, membiarkan Sila dan Riana masuk ke dalam.


“Masuklah!” perintah Leon tanpa melihat mereka berdua. Pandangannya menatap ke samping dengan kepala sedikit menunduk. Ia masih enggan untuk membiarkan Sila dan Riana masuk, namun ia juga tidak mau kalau masalah kesalahpahaman Sila dan Saila semakin panjang.


Sila dan Riana pun masuk ke dalam dengan langkah kaki pelan mereka.


Sementara Leon langsung menutup kembali pintu Apartemennya, kemudian berjalan melewati Sila dan Riana.


“Ayo. Aku bawa kalian ke kamar. Saila istirahat di sana!” ucap Leon.


“Iya,” balas Riana.


Saat Leon berada di depan pintu kamar. Ia langsung memegang gagang pintu kamarnya untuk membuka pintunya, namun aksinya seketika berhenti.


Leon kemudian menoleh ke arah Sila dan Riana.


“Ingat. Jangan katakan hal yang bisa menyakiti perasaannya!” ucap Leon memperingati Sila dan Riana.


Sila dan Riana mengangguk. “Oke!” jawab Sila.


Leon kembali membuka pintunya. “Masuklah!”


Sila dan Riana masuk ke dalam, sedangkan Leon hanya menunggu di luar, membiarkan mereka untuk bicara.


Sila berjalan menghampiri Saila yang saat itu sedang tidur di kasur. Ia duduk di tepi tempat tidur Saila, sedangkan Riana berdiri di samping tempat tidur Saila, tepat di dekat Sila.


“Saila, aku datang!” kata Sila memegang lengan Saila.

__ADS_1


Saila yang berbaring miring, membelakangi Sila, mulai menggerakkan badannya pelan untuk melihat suara siapa yang bicara dengannya?


“Sila!” Saila terkejut melihat Sila duduk di sampingnya sambil tersenyum padanya.


“Iya, ini aku,” jawab Sila.


Saila langsung bangun dan memeluk saudari kembarnya itu. Sila pun ikut membalas pelukan dari Saila.


“Sila ... kau sudah tidak benci lagi padaku?” tanya Saila.


“Aku tidak pernah membencimu, Saila. Sama sekali tidak pernah. Aku cuma kesal denganmu, karena tidak mengatakan semuanya padaku. Aku sangat malu di depanmu dan juga Kak Leon. Dan aku datang kesini untuk minta maaf karena sudah memukulmu dan mengusirmu kemarin!” jelas Sila.


Saila melepaskan pelukannya pada Sila, kemudian memegang kedua bahu Sila.


“Tidak apa – apa. Aku pantas menerimanya. Harusnya aku jujur padamu.” Menundukkan kepalanya “Aku minta maaf!”


“Hei ... untuk apa kau meminta maaf padaku?” tanya Sila menatap serius Saila. Saat itu, ia memegang kedua pipi Saila, kemudian mengangkat kepala Saila, membiarkan Saila melihat wajahnya.


“Karena aku tidak jujur padamu tentang Leon,” jawab Saila.


“Sudahlah. Jangan katakan itu lagi. Aku sudah melupakannya. Aku datang kesini untuk menjengukmu sekaligus minta maaf. Bukan membuatmu meminta maaf, Saila!” ucap Sila.


Saila mengangguk sambil tersenyum di depan Sila. "Baiklah. Aku tidak akan bahas lagi," jawab Saila.


“Sampai kapan aku harus berdiri seperti orang bodoh disini. Dicuekin kalian,” sahut Riana. Kedua tangannya berada di atas dadanya, menatap Sila dan Saila serius.


Saila membentangkan kedua tangannya di depan Riana. “Ayo sini. Peluk aku!” pinta Saila.


“Kau minta saja Sila memelukmu. Dari tadi aku disini, tapi yang kau pedulikan hanya Sila saja. Aku di biarkan berdiri,” ucap Riana yang ngambek di depan Saila.


“Kau itu cerewet sekali. Hentikan keluhanmu itu di depanku. Kalau tidak, aku akan biarkan kau jalan kaki pulang!” Ancam Sila.


“Huh!” Riana memalingkan wajahnya. “Yang punya mobil siapa, yang ngancam siapa. Dasar tukang perintah, kasar, sombong?” Gumam Riana.


Sila meraih tangan Riana sampai Riana berada di dekatnya. Ia kemudian melingkarkan lengannya di leher Riana, mengeratkan lengannya di leher temannya itu.


“Sila, kau mau membunuhku ya. Leherku sakit tahu!” teriak Riana dengan kesal.


“Kau bilang apa tadi. Aku sombong, kasar dan tukang perintah. Apa kau mau lihat contoh saat aku kasar. Hah?” Ancam Sila.


Saat itu, Saila terkekeh menyaksikan kedua orang itu bertengkar di depannya. Memang sejak dulu Sila dan Riana sudah terbiasa seperti itu, jadi Saila malah tertawa kalau melihat mereka bertengkar begitu.


Riana melihat Saila. “ Kau tega sekali malah menertawaiku ya, Saila!” keluh Riana.


Saila malah semakin tertawa melihat sahabatnya itu yang masih dalam posisinya tadi. Lehernya masih di cengkram lengan Sila.

__ADS_1


Saila kemudian menghentikan tawanya, kemudian menatap Sila.


“Sila!” panggil Saila.


Sila langsung melihat Saila. “Ada apa?” tanya Sila sambil melepaskan lengannya di leher Riana.


Saat itu, Riana langsung berdiri dan mengusap lehernya yang di cengkram Sila.


“Kau bilang tidak marah lagi padaku. Kenapa kau tidak membuatkanku teh susu sebagai bentuk keseriusanmu itu?” pinta Saila.


“Kau mau minum teh susu?” tanya Sila


Saila mengangguk. “Emm. Aku mau minum teh susu buatanmu!”


“Suruh saja Kak Leon yang membuatnya. Dia bisa melakukan segalanya! Kenapa harus aku?” tolak Sila.


“Ya aku, kan, bilang teh susu buatanmu, Buatkan aku teh susu ya, ya,” pinta Saila sambil tersenyum dengan manja di depan Sila.


Sila menghela nafasnya. “Haaaa ... baiklah! Aku buatkan sekarang!” ucap Sila.


Sila pun berdiri dari sana. “Tunggu disini. Jangan kemana - mana!” Sambil menunjuk tempat tidur Saila itu


“Iya,” balas Saila.


"Memangnya Saila mau kemana kalau bukan disini," sahut Riana memutar bola matanya melihat ke arah lain. Tak ingin bertatapan langsung dengan Sila.


"Cih!" balas Sila.


Sila kemudian berjalan untuk keluar dari sana, sedangkan Riana duduk di samping Saila.


Saat Sila mau membuka pintu kamar Saila, ia menoleh ke arah Saila.


“Oh, ya. Dimana dapurnya?” tanya Sila.


“Kau bisa tanya sama Mas Leon,” jawab Saila.


Sila sedikit kaget. “Hah. Kau menyuruhku bertanya pada Kak Leon?”


“Iya, lalu sama siapa lagi kalau bukan Mas Leon,” balas Saila.


Sila terdiam sejenak. “Bagaimana aku bisa bertanya sendiri padanya? Aku masih membencinya. Tega sekali dia pada Saila!” dalam hati Sila.


Sebenarnya Sila memang masih marah pada Leon. Ia tidak mau bicara duluan pada Leon, apalagi kalau harus berdua. Dan is bicara tadi pada Leon, karena mau bertemu dengan Saila.


.

__ADS_1


.


__ADS_2