SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Liburan ke pantai


__ADS_3

Beberapa hari ini Sila sama sekali tidak ada kemajuan untuk bisa kembali pada sifatnya yang dulu banyak bicara. Ia menjadi orang yang sangat pendiam.


Untuk mengembalikan keceriaan Sila, Tuan Bima dan Nyonya Yasmin berencana membawa Sila dan anak – anaknya liburan bersama – sama di pantai.


Kini Saila tengah berada di kamar Sila bersama ibunya. Ia membantu Sila untuk mengemas semua pakaiannya ke dalam koper, sedangkan Leon berada di kamarnya sendiri untuk mengemas pakaiannya dan Saila ke dalam koper.


Setelah Saila memasukkan pakaian Sila yang saat itu bersama ibunya. Ia pun membantu Sila mengenakan jaket luarnya.


“Aku bisa sendiri!” kata Sila dengan ekspresi datarnya menatap Saila. Saat itu, ia langsung meraih jaket yang baru saja mau di pasang Saila ke tubuhnya.


“Tidak apa – apa Sila. Aku memang suka melakukannya!” balas Saila sambil tersenyum.


“Aku bukan orang cacat yang tidak bisa melakukannya sendiri!” kata Sila dengan datar melihat Saila.


“Saila, biarkan dia melakukannya sendiri. Kau lihatlah suamimu dikamar. Siapa tahu dia butuh sesuatu?” sahut Nyonya Yasmin.


“Iya bu,” jawab Saila.


Saila pun keluar dari kamar Sila menuju kamarnya. Saat dikamarnya, ia melihat Leon sibuk mengemas pakaiannya dan pakaian sexi yang pernah diberikan Sila padanya.


“Mas Leon ... kenapa kau memasukkan pakaian seperti itu?” tanya Saila yang langsung merebut pakaiannya di tangan Leon.


“Loh ... ini pakaianmu sayang. Memang apa yang salah?” kata Leon.


“Aku tahu, tapi ... ini pakaian yang tidak pernah kupakai. Masa bawa ini sih. Mau dipakai dimana coba?” kata Saila.


“Tentu saja pakai saat kau tidur!” balas Leon sambil tersenyum.


“Mas Leon ... kita kesana mau pergi liburan ya, bukan main – main. Kita kesana untuk Sila. Lagi pula pakaian seperti ini cocok dipakai untuk pengantin baru. Memangnya kita pengantin baru!” kata Saila dengan wajahnya yang terlihat serius.


“Bukannya setiap malam kita itu selalu menjadi pengantin baru? Di sana kita juga harus memanfaatkan momen sayang. Siapa tahu aku bisa mendapatkan anak kembar juga seperti ayah?” kata Leon tersenyum genit melihat Saila.


Saila langsung melemparkan pakaiannya itu ke wajah Leon, kemudian berkata: “Dasar genit!”


Saila kemudian berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi dengan wajahnya yang terlihat malu mendengar ucapan Leon.


Kedua bola mata Leon mengikuti arah tubuh Saila yang berjalan menuju kamar mandinya. Ia tersenyum senang bisa melihat istrinya terlihat malu dengan kata – katanya tadi.

__ADS_1


“Saila ... Saila ... istriku yang polos!” gumam Leon tertawa sambil menggeleng – gelengkan kepalanya melihat Saila yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi.


Leon kembali merapikan pakaiannya ke dalam koper.


Sementara Riana, Zidan dan Ben kini baru saja sampai di rumah Kediaman Mahesa. Mereka masuk ke dalamrumah bersama – sama. Mereka langsung duduk di ruang tamu setelah pelayan menyambutnya masuk dan menyuruh mereka duduk menunggu di sana.


“Ri, kenapa kau tidak bawa pacarmu?” tanya Zidan saat ia sudah duduk di sofa.


“Haaaa ... tadinya aku mengajaknya, tapi, dia sibuk Kak Zidan,” jawab Riana.


“Kalau kalian bawa pasangan masing – masing. Lalu aku bagaimana?” sahut Ben melihat mereka secara bergantian.


“Astaga ... memangnya Kak Ben tidak punya pacar? Kak Leon saja sebentar lagi punya anak!” sahut Riana.


Ben tidak menjawab pertanyaan Riana dan memilih diam di sana melihat ke arah lain. Ia merasa malu sendiri mendengar ucapan Riana, karena ia masih belum mendapatkan pasangan diumur 32 tahun, yang menurutnya sudah sangat pantas untuk menikah.


“Sepertinya tidak punya!” lanjut Riana dengan suara pelan tanpa berani melihat Ben.


Dari lantai 2, terlihat Sila dan ibunya berjalan menuruni tangga, sedangkan Saila dan Leon baru saja keluar dari kamarnya, kemudian segera menyusul mereka dari belakang.


Mereka semua menuruni tangga dan berjalan menghampiri Zidan, Riana dan Ben.


“Kalian jaga Sila ya. Bibi akan menyusul kalian setelah paman kalian pulang!” kata Nyonya Yasmin ketika ia sudah berdiri di depan mereka bertiga bersama anak – anaknya.


“Iya bi,” sahut Zidan.


“Ya sudah. Pergilah. Hati – hati dijalan. Suruh supirnya untuk menyetir pelan – pelan!” kata Nyonya Yasmin yang mengingatkan anak – anaknya.


“Iya, bu. Kami pasti akan hati – hati dijalan. Ibu tenang saja,” sahut Leon melihat ibu mertuanya.


Mereka semua pun berpamitan satu persatu pada Nyonya Yasmin untuk meninggalkan rumah Kediaman Mahesa menuju pantai yang akan mereka datangi.


Beberapa mobil sudah siap di depan rumah untuk membawa mereka semua pergi liburan, dan salah satunya adalah mobil pengawal yang sudah disiapkan Tuan Bima untuk anak – anaknya itu.


Mereka pun naik ke dalam mobil bersama – sama, kemudian melaju meninggalkan Kediaman Mahesa.


Di dalam mobil, mereka asyik mengobrol satu sama lain, sedangkan Sila hanya diam tanpa ikut merespon mereka yang asyik mengobrol. Ia hanya memalingkan wajahnya ke samping jendela mobil, melihat jalanan luar yang mereka lewati.

__ADS_1


Setelah satu jam perjalanan. Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan liburan mereka. Terlihat beberapa pelayan Villa yang mengurus Villa Keluarga Mahesa keluar menyambut kedatangan mereka semua.


Sebagian pelayan itu menurunkan semua barang – barang mereka, kemudian memasukkannya ke dalam Villa. Dan salah satu pelayan mengantar mereka masuk ke dalam Villa.


Mereka pun masuk ke dalam Villa, kemudian duduk bersama – sama di Ruang Tamu untuk beristirahat setelah melakukan perjalan selama satu jam.


“Sila, apa kau lelah?” tanya Zidan yang saat itu duduk di sampingnya.


“Tidak,” jawab Sila dengan datar.


“Apa kau mau keluar jalan – jalan?” tanya Zidan kembali sambil tersenyum.


“Tidak,” jawab Sila.


“Atau kau mau ke pantai sekarang. Pantainya dekat dari Villa?” tanya Zidan kembali.


Sila tidak menjawab ucapan Zidan, dan langsung berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan meninggalkan mereka. Ia berjalan menaiki tangga menuju kamar yang sudah disediakan pelayan Villanya.


Zidan yang lagi – lagi tidak dipedulikan oleh Sila hanya bisa menghela nafasnya dengan lesu. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat gadis yang dicintainya itu bisa kembali seperti dulu. Setidaknya Sila bisa tersenyum padanya, meskipun Sila tidak menanggapi ucapannya, namun Sila sama sekali tidak pernah tersenyum padanya, dan hanya berwajah datar.


Sementara mereka yang sejak tadi bicara sambil tertawa seketika menghentikan tawanya saat melihat Sila pergi, apalagi saat melihat Zidan berwajah lesu.


Mereka hanya bisa diam dengan wajahnya yang ikut sedih melihat Zidan dan Sila.


Semenjak kejadian David, Sila dan Zidan memang semakin menjauh, bahkan bisa dikatakan mereka berdua seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.


Bukan Zidan yang mulai menjauhi Sila, namun Sila yang membatasi dirinya pada Zidan. Dan itu semua karena Sila berpikir kalau tidak ada pria yang bisa menerimanya sekarang dengan keadaan dirinya, termasuk Zidan. Ia tidak memiliki kepercayaan diri lagi dengan dirinya sendiri yang menurutnya sudah hancur.


Sebelum kejadian David, Sila masih punya kepercayaan diri untuk menikahi Zidan. Meskipun Sila tidak bisa memberikan cinta pada Zidan, namun ia bisa memberikan harta yang selama ini ia pertahankan yaitu kesuciannya.


.


.


Bersambung.


.

__ADS_1


.


__ADS_2