
Selesai sarapan pagi di Restoran, Leon dan Saila mengantar Nyonya Serly ke bandara. Hari ini Nyonya Serly memang berencana untuk kembali setelah menyaksikan pernikahan anak tunggalnya itu.
Tadinya ia berencana untuk tinggal beberapa hari lagi, menemani Saila dan Leon, namun pekerjaan menuntutnya untuk kembali ke Prancis. Nyonya Serly memang wanita karir. Ia memiliki bisnis sendiri di luar bisnis anggur milik anaknya.
Dan kini Nyonya Serly sudah berdiri di pintu masuk bandara di temani anak, menantunya. Ia memegang kedua tangan Saila di sana, menatap dengan senyuman pada gadis yang sudah menjadi menantunya itu.
“Saila ... kau harus menjaga kesehatanmu ya. Kalau kau butuh apa – apa, katakan saja pada suamimu. Ibu hamil itu tidak boleh memendam sesuatu yang diinginkan. Kalau dia tidak menurutimu. Beritahu pada ibu, oke,” ucap Nyonya Serly tersenyum.
“Iya bu,” Balas Saila sambil tersenyum.
“Kalau ibu sudah selesai dengan pekerjaan di Prancis. Ibu akan kembali lagi ke sini, menemani kalian berdua, ya,” ucap Nyonya Serly.
“Iya bu.” Balas Saila.
Nyonya Serly mengalihkan pandangannya pada Leon, yang sejak tadi berdiri menatapnya bicara bersama Saila.
“Dan kau. Jaga istrimu baik – baik. Saila sekarang masih hamil muda. Dia tidak boleh terlalu capek. Kalian harus selalu kontrol ke dokter.” Nyonya Serly mencoba mengingatkan kembali anaknya untuk yang ke sekian kalinya, semenjak ia pertama kali bertemu dengan keluarga Saila. Saat itu, ia terus mengingatkan anaknya tentang Saila yang hamil muda.
“Iya bu. Ibu tenang saja.” Balas Leon sambil tersenyum.
“Satu lagi. Kalian itu sudah menikah sekarang. Jadi kalau ada masalah selesaikan baik – baik ya. Ibu tidak mau dengar kalau kalian mau cerai hanya karena masalah sepele. Kalian harus bahagia, menjaga satu sama lain,” ucap Nyonya Serly mengingatkan anaknya.
Leon langsung memeluk bahu istrinya di sana, memperlihatkan pada ibunya kalau mereka bahagia. “Ibu tenang saja. Kami pasti akan bahagia seperti yang ibu inginkan.” Leon kemudian menoleh ke arah Saila sambil tersenyum. “Iya kan sayang.”
Saila kaget mendengar kata sayang dari mulut Leon, namun ia dengan cepat tersadar kalau mereka sekarang tengah berakting. “Iya mas.” Saila pun mengikuti akting Leon dengan membalas ucapannya dengan suaranya yang terdengar lembut dan mesra, di tambah senyuman yang ia tunjukkan pada Leon.
“Kalau begitu, ibu pergi ya.” Pamit Nyonya Serly sambil memegang pipi kiri menantunya.
“Iya bu.” Balas Saila sambil tersenyum melihat Nyonya Serly.
“Hati – hati bu. Kalau ibu sudah sampai di Prancis, jangan lupa untuk menghubungi kami,” ucap Leon menatap ibunya.
“Iya ... kalau begitu ibu pergi.” Pamitnya kembali sambil menarik kopernya masuk ke dalam bandara. “Dadaaaaa!” Nyonya Serly melambaikan tangannya pada Saila dan Leon ketika ia sudah berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
Saila dan Leon ikut melambaikan tangannya melihat kepergian Nyonya Serly masuk ke dalam pintu masuk bandara.
Setelah Nyonya Serly sudah tidak terlihat dalam pandangan mereka, Leon langsung menghela nafasnya, kemudian melihat istrinya yang masih ia peluk itu.
“Ayo ... kita pulang.” Ajaknya sambil menarik tubuh Saila dari sana. Ia dengan santainya memeluk bahu Saila berjalan menuju parkiran mobilnya.
Begitu pun dengan Saila yang ikut berjalan santai, namun tiba – tiba saja ia tersadar dengan Leon yang
tidak melepaskan tubuhnya itu. Ia menghentikan langkahnya, kemudian melepaskan tangan Leon dari bahunya.
“Aku bisa jalan sendiri mas,” ucap Saila melihat Leon.
Leon terlihat bingung ketika melihat Saila melepaskan tangannya. Ia diam menatap Saila di depannya sambil mengerutkan keningnya.
Saila kembali melangkah dengan wajahnya yang malu ketika melihat Leon diam menatapnya.
Namun tiba – tiba saja, Leon menarik tangan Saila yang saat itu berjalan melewatinya. Saila menoleh ke belakang melihat tangan Leon yang memegang tangannya, kemudian mengangkat bola matanya melihat Leon.
“Kenapa kau melepaskan tanganku?” tanya Leon menatap serius Saila.
Saila menghela nafasnya dengan pelan, kemudian menjawab Leon. “Ibu Mas Leon kan sudah pergi. Jadi kita tidak perlu berakting lagi.”
“Memangnya kita berakting tadi?” tanya Leon.
“Iya ... terus apa dong kalau bukan akting?” Saila dengan santainya membalas ucapan Leon tanpa ragu – ragu.
Sementara Leon tercengan ketika mendengar ucapan gadis itu. Pikirnya kalau Saila tadi bicara serius saat Saila bicara dengan mesra kepadanya. Leon tampak diam, tak tahu harus menjawab apa pada Saila? Kenapa ia harus berpikir seperti itu? Ada apa dengannya sekarang? Kenapa ia bisa terbawa suasana tadi, sampai mengira kalau Saila bicara serius?
Leon kembali bicara setelah ia diam menatap Saila. “Ayo ... aku harus tetap memegangmu sampai ke mobil. Kau itu sedang hamil bukan,” ucap Leon menarik tangan Saila menuju parkiran mobilnya.
Saila hanya bisa menuruti suaminya tanpa mengatakan apa – apa lagi. Ia berjalan mengikuti Leon menuju mobil mereka.
Saat sudah berada di samping mobilnya, Leon langsung membuka pintu mobilnya untuk Saila.
__ADS_1
“Masuklah.” Pinta Leon.
Saila pun masuk ke dalam mobil setelah mendengar ucapan suaminya. Saat itu, Leon mengangkat tangannya ke atas kepala Saila, melindungi Saila agar kepalanya tidak terbentur di pintu mobilnya.
Setelah Saila masuk dan duduk di dalam mobil, Leon kembali menutup pintu mobilnya, kemudian berjalan ke arah sebelah menuju kursi pengemudinya. Ia membuka pintu mobilnya, lalu masuk ke dalam. Ia menyalakan mobilnya di sana, lalu melajukan mobilnya meninggalkan bandara menuju Kediaman Mahesa. Rencananya kalau hari ini ia akan kembali ke Rumah Mahesa untuk berpamitan pada kedua orang tua Saila.
Di dalam mobil.
“Kita ke rumahmu dulu ya. Mengambil semua barang – barangmu, sekalian pamit pada ibu, ayahmu. Kita tidak usah ke Hotel,” ucap Leon sesekali menoleh ke samping, melihat Saila.
“Memangnya kita mau kemana mas?” tanya Saila penasaran.
“Tentu saja ke Apartemenku. Memangnya kemana lagi. Kita kan sudah menikah. Jadi harus tinggal bersama?” Leon tampak serius menatap Saila.
“Kenapa kita tidak tinggal di rumah ayahku. Ibu di sana cuma sendirian, tidak ada yang temani?” tanya Saila menoleh pada suaminya.
Leon menghela nafasnya, kemudian menjawab pertanyaan Saila. “Saila ... aku sekarang adalah suamimu. Suka tidak suka kau harus mengikutiku dimana aku tinggal. Kita tidak bisa tinggal di rumah ayah, ibumu. Kita punya kehidupan sendiri setelah menikah. Selama aku menjadi suamimu, kau tidak bisa terus bergantung pada kedua orang tuamu. Kau harus bergantung padaku. Kau mengerti kan, yang aku maksud.” Leon memberi pengertian pada Saila agar Saila mengerti kalau ia bukan lagi gadis yang mementingkan dirinya sendiri seperti dulu, namun wanita yang sudah menikah, wanita yang sudah memiliki suami.
“Baiklah ... terserah Mas Leon saja.” Balas Saila.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di Rumah Besar Mahesa. Leon membunyikan klakson mobilnya yang membuat pintu pagar rumah Mahesa terbuka lebar. Ia kembali melajukan mobilnya masuk ke dalam pekerangan Kediaman Mahesa.
Leon menghentikan mobilnya ketika mobilnya sudah berada di depan. Ia turun dari mobil, lalu berjalan ke arah pintu mobil Saila. Ia membuka pintu mobil untuk Saila di sana sambil membantu Saila turun dari mobil dengan memegang tangannya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah bersama – sama untuk mengambil semua barang – barang milik Saila sekalian berpamitan pada kedua orang tua Saila.
.
.
.
.
__ADS_1