
Pukul 7:00 malam.
Bima dan Yasmin kini sudah berada di rumahnya. Ia baru saja kembali dari liburan mereka berdua.
Hari ini mereka memanggil Leon dan Saila untuk datang makan malam ke Rumah Kediaman Mahesa, sekaligus melepaskan kerinduan mereka selama beberapa hari tidak bertemu dengan Saila.
***
Mobil Leon sudah tiba di depan pagar besi Kediaman Mahesa. Ia membunyikan klakson mobilnya beberapa kali sampai akhirnya pintu pagarnya terbuka lebar. Leon kembali melajukan mobilnya masuk ke dalam pekerangan rumah. Ia menghentikan mobil yang di kendarainya tepat di depan rumah besar Mahesa.
Leon segera turun dari mobil, lalu berjalan ke arah pintu mobil sebelah. Ia membuka pintu mobilnya, kemudian membantu Saila turun dari mobil.
Saat itu, Saila terlihat pucat. Memang kondisi kandungan Saila sangat lemah sejak kemarin, bahkan Leon sering membawa Saila cek up kandungan untuk mengetahui kondisi janinnya yang masih berusia dua bulan. Sebenarnya Saila harus banyak istirahat di rumah agar kondisinya kembali stabil.
Namun karena Saila sangat merindukan ayah dan ibunya yang baru kembali. Leon terpaksa menuruti kemauan istrinya untuk datang memenuhi undangan makan malam keluarga. Itu bisa membuat hati Saila sedikit bahagia dan senang.
“Kau benar nggak apa – apa sayang?” tanya Leon yang terlihat khawatir dengan kondisi istrinya.
“Nggak apa – apa, Mas Leon. Dokter bilang, kan, aku baik – baik saja. Hanya perlu istirahat banyak. Lagi pula dokter kandungannya memberikanku banyak obat, jadi pasti aku baik – baik saja,” jawab Saila.
“Bagaimana kalau aku menggendongmu masuk ke dalam?” pinta Leon.
“Aku nggak mau. Aku malu dilihat semua orang di dalam,” tolak Saila dengan bibir cemberutnya.
“Saila!” Leon menatap serius istrinya.
“Pokoknya aku nggak mau, Mas Leon. Nggak mau!” tegas Saila dengan ekspresi kesalnya.
“Oke. Baiklah. Jangan cemberut begitu dong,” ucap Leon sambil memegang kedua pipi Saila, kemudian menarik kedua sudut bibir Saila sampai Saila tidak cemberut lagi. “Aku nggak akan gendong, tapi aku tetap memegang tanganmu masuk ya!” pinta Leon.
“Terserah!” kesal Saila memalingkan wajahnya.
Leon hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar melihat perubahan sikap Saila yang selalu sensitif. Dan ia hanya bisa menuruti kemauan Saila, karena ia tahu kalau Saila begitu pasti karena kehamilannya, seperti yang pernah dikatakan Dokter Kandungannya kalau wanita hamil memang selalu sensitif.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan. Dan di dalam sudah ada pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Saat itu, Saila dan Leon berhenti di depan pelayan rumahnya.
“Dimana ayah dan ibu?” tanya Saila pada salah satu pelayannya.
“Ada di Ruang Makan, Nona Muda. Tuan dan nyonya sudah menunggu Anda sejak tadi,” jawab si pelayan rumah.
“Oke, terima kasih!” balas Saila sambil tersenyum pada pelayannya itu.
__ADS_1
Saila kembali melangkah masuk ke dalam sambil bergandengan tangan dengan suaminya. Sesekali ia memandang dengan bibir senyumnya pada Leon yang menggandeng tangannya.
Saat di Ruang Makan, Saila sudah melihat ayah, ibu dan saudara kembarnya duduk di meja makan.
“Kalian sudah datang. Ayo cepat duduk disini!” sahut Yasmin ketika melihat kedatangan Saila dan Leon.
“Iya bu,” balas Saila.
Leon langsung menarik kursi untuk Saila duduki. Dan Saila pun duduk di kursi yang ditarik suaminya, tepat di depan kursi yang diduduki Sila dan ibunya.
Saat itu, Sila memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak ingin melihat Leon yang memperlakukan Saila seperti itu. Ada rasa cemburu dan iri hati dalam dirinya ketika menyaksikan perhatian Leon pada Saila.
Leon ikut duduk setelah Saila duduk di kursinya.
“Sekarang mereka sudah datang. Kita bisa mulai makan malamnya,” ucap Yasmin yang mulai menyendok makanan ke piring suaminya.
Sila ikut mengambil makanan di atas mejanya, begitu juga Saila yang mengambilkan makanan untuk Leon ke piringnya. Baru setelah itu, Saila mengambil makanan ke piringnya sendiri.
Mereka pun memakan makanan mereka masing – masing.
“Saila!” panggil Bima sambil menguyah makanan dimulutnya.
“Berapa usia kandunganmu sekarang?” tanya Bima
“Dua bulan, Yah,” jawab Saila.
“Apa selama ayah pergi kau baik – baik saja? Ayah dengar dari Sila kalau kau mengambil cuti selama satu bulan. Apa semuanya baik – baik saja?” tanya Bima penasaran.
Saila dan Leon saling menatap satu sama lain. Dan saat itu, Leon mengangguk pelan pada istrinya, memberikan kode pada Saila untuk membiarkan ia yang bicara. Leon kemudian menatap ayah mertuanya itu.
“Saila baik – baik saja, Ayah mertua. Dia hanya butuh istirahat. Kami baru selesai cek up dan langsung datang kesini. Masalah cuti Saila. Saya sengaja meminta ijin cuti dari kampus Saila selama satu bulan supaya Saila bisa banyak istirahat. Dokter Kandungan menganjurkan seperti itu. Selama Saila tidak stress dan kelelahan. Kandungannya akan baik – baik saja. Jadi, ayah dan ibu mertua tenang saja. Jangan khawatir. Saya pasti akan menjaga Saila dengan baik!” jelas Leon dengan serius.
“Baiklah. Aku bisa lega mendengarnya kalau memang seperti yang kau katakan itu. Lanjutkan makanmu!” ucapTuan Bima.
“Baik,” balas Leon.
Sementara Yasmin masih terlihat khawatir dengan anaknya itu.
“Saila ... kamu benar baik – baik saja, kan, Nak?” sambung Yasmin.
“Baik, ibu mertua. Jangan khawatir!” sahut Leon sambil tersenyum.
__ADS_1
“Aku baik – baik saja bu. Jangan khawatirkan aku!” sambung Saila.
“Oke. Makan lah. Habiskan makanan kalian!” ucap Yasmin. Wajahnya terlihat lega ketika mendapatkan penjelasan dari anak dan menantunya.
Leon pun kembali menyendok makanan ke mulutnya.
Dan Bima mengalihkan pandangannya pada Sila.
“Sila!” panggilnya.
Sila langsung menoleh ke arah ayahnya sambil minum air di gelas yang ia pegang.
“Bagaimana dengan pacarmu itu? Kapan dia akan menemui ayah dan ibu?” tanya Tuan Bima.
Sila langsung tersedak air yang ia minum.
“Uhuk ... uhuk ... uhuk ... .!”
Yasmin segera berdiri di sana dengan khawatir.
“Kau baik – baik saja sayang?” tanya Yasmin sambil mengusap – usap punggung anaknya.
“Nggak apa – apa bu. Ibu duduk saja. Aku hanya tersedak air,” balas Sila sambil memegang tangan ibunya, menariknya untuk kembali duduk.
Yasmin pun kembali duduk di tempatnya tanpa mengalihkan tatapan khawatirnya pada Sila.
Sila tersedak air karena ia begitu kaget mendengar pertanyaan ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya menanyakan hal itu di depan Leon yang akan ia kenalkan dulu? Ia malu sendiri kalau mengingat hal itu ketika ia berniat mengenalkan Leon pada ayahnya.
Sementara Leon yang tahu kalau pacar yang di maksud Bima adalah dirinya, berusaha untuk bersikap santai di depan mereka, begitu juga dengan Saila yang merasa tidak enak.
Mereka hanya menyibukkan diri mereka masing – masing dengan makan makanan di piringnya tanpa ikut campur atau mengangkat kepala mereka melihat Sila. Leon dan Saila hanya menundukkan kepalanya, fokus dengan makanan di piringnya.
Seolah olah mereka tidak tahu siapa pacar yang dimaksud Sila. Mereka takut kalau kebohongan mereka akan terbongkar di depan kedua orang tuanya.
.
.
.
.Bersambung
__ADS_1