
Zidan yang baru saja keluar dari kelasnya dan tidak melihat keberadaan Sila, mencoba menghubungi Sila, namun ia tidak mendapat jawaban. Ponsel Sila sama sekali tidak tersambung.
Ia pun menghubungi Saila untuk menanyakan apa kah Sila sudah sampai di rumah, namun Saila juga tidak tahu keberadaan Sila dimana? Sampai Zidan teringat dengan lelaki yang datang menemui Sila tadi pagi di kampusnya. Zidan sudah mulai khawatir dengan Sila yang sejak tadi beberapa kali ia hubungi, namun tidak tersambung, sampai Zidan terpaksa menghubungi Tuan Bima.
“Halo paman!” kata Zidan saat panggilannya sudah tersambung dengan Tuan Bima.
“Iya ... Ada apa, Zidan. Kenapa kau menghubungi paman?” tanya Tuan Bima di balik telfon.
“Paman, saya minta maaf. Saya lalai menjaga Sila. Sekarang saya tidak bersama dengannya,” ucap Zidan meminta maaf dengan suaranya yang terdengar gugup.
“Apa maksudmu. Bukannya paman menyuruhmu menjaganya dan terus bersamanya?” tanya Tuan Bima.
“Iya, paman. Saya minta maaf. Saya baru saja keluar kelas dan tidak tahu dimana dia sekarang. Tadi pagi ada seorang pria datang mencarinya. Saya takut kalau itu ada hubungannya dengan pria yang mencari Sila!” jelas Zidan.
“Zidan, kau bagaimana sih? Kenapa kau meninggalkan Sila, hah? Paman sudah menyuruhmu menjaganya. Tahu begini, paman lebih baik memberikannya pengawal. Kau sama sekali tidak bisa di andalkan!” ucap Tuan Bima mengomeli Zidan di telfon dengan nada tinggi.
“Maaf paman, ini salah saya!” ucap Zidan yang terdengar menyesal.
“Sudahlah. Paman akan suruh orang mencarinya diseluruh kota ini. Kau itu sama saja seperti Leon. Tidak ada yang bisa diandalkan!” ucap Tuan Bima yang terus mengoceh dengan suaranya yang terdengar tinggi.
“Baik paman. Saya juga akan suruh anak buah ayah untuk mencarinya. Mereka pasti bisa menemukan Sila,” jawab Zidan.
Tuan Bima pun menutup telfonnya setelah mendengar ucapan Zidan. Dan Zidan langsung menghela nafasnya dengan kasar setelah bicara dengan Tuan Bima. Ia baru kali ini mendapat omelan keras dari Tuan Bima yang membuatnya menghela nafas panjang.
Ia segera meninggalkan kampusnya untuk mencari keberadaan Sila dengan meminta bantuan dari anak buah ayahnya.
Begitu pun dengan Tuan Bima yang sudah bergerak mencari keberadaan anaknya dengan meminta Ken menyelidiki keberadaan Sila. Tuan Bima tidak memberitahu hilangnya Sila pada istrinya sebelum ia menemukan anaknya. Ia tidak ingin istrinya dan orang rumah merasa khawatir dengan Sila, apalagi Saila sedang hamil muda. Dan mereka semua berpikir kalau Sila sedang bersama Zidan.
***
Sudah empat jam pencarian Sila, orang suruhan Tuan Bima dan Zidan akhirnya menemukan keberadaan Sila yang kini berada di sebuah apartemen sederhana milik David. Mereka pun pergi ke sana untuk menjemput Sila. Setelah sampai di apartemen milik David, Zidan langsung menerobos masuk ke dalam, dan ia sudah melihat Sila duduk di lantai sambil memegang kedua lututnya dengan kepala menunduk. Tubuhnya terlihat gemetar dan ketakutan. Zidan berlari mendatangi Sila di sana, dan melihat apa yang terjadi pada Sila. Ia sangat syok melihat pakaian Sila yang rusak akibat habis di robek seseorang.
“Sila!” kata Zidan menyebut nama Sila yang membuat Sila seketika histeris.
“Aaaaaaaa ... pergi, jangan sentuh aku. Jangan sentuh aku!” teriak Sila memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Kepalanya masih menunduk ketakutan.
__ADS_1
Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya melihat siapa yang tengah memanggilnya.
Tuan Bima segera mendatangi anaknya, dan berjongkok di depan anaknya itu.
“Sila!” kata Tuan Bima memanggil putrinya
“Aaaaaaa ... pergi ... pergi ...!” Sila kembali berteriak ketakutan tanpa mengangkat kepalanya melihat ayahnya. Ia bahkan menggeser tubuhnya ke dinding menjauhi mereka berdua dengan tubuhnya yang gemetar ketakutan.
“Sila, ini ayah. Ini ayah sayang!” kata Tuan Bima mendekati anaknya.
Seketika Sila mengangkat kepalanya melihat orang yang ada di depannya.
“Ayah ... hiks ... hiks ... hiks ... ayah!” kata Sila menangis di depan ayahnya.
Tuan Bima dan Zidan syok ketika Sila mengangkat kepalanya, mereka melihat bekas pukulan di wajah Sila.
“Sila, siapa yang melakukan ini padamu, Nak. Hah ... siapa?” tanya Tuan Bima menatap anaknya dengan mata melotot dengan ekspresi marah yang ia tunjukkan.
“Aaaaaaa ..... aaaaa!” Sila kembali histeris di depan ayahnya dengan kepala menunduk. Ia memegang kepalanya, meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Bibirnya seakan kaku, dan tidak bisa mengatakan apapun pada ayahnya jika mengingat tentang kejadian yang ia alami. Itu membuatnya trauma dan semakin histeris.
“Tenang, sayang. Ayah disini. Ayah tidak akan membiarkan orang yang melakukan ini padamu bisa menghirup udara segar dengan bebas. Ayah pasti akan membalasnya sepuluh kali lipat dari yang dia lakukan padamu!” kata Tuan Bima yang terus memeluk anaknya dengan erat. Tatapannya sangat tajam. Matanya merah dengan penuh amarah melihat putrinya menjadi seperti itu. Rasanya ia ingin membunuh orang yang sudah menyakiti anak kesayangannya.
Sila terus menangis histeris di pelukan ayahnya dengan tubuhnya yang masih gemetar.
“Ken!” panggil Tuan Bima dengan tegas.
“Iya, tuan,” jawab Ken yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
“Cari orang yang melakukan ini pada anakku. Bawa dia kehadapanku. Aku ingin membuat dia merasakan sakit berkali – kali lipat yang dia berikan pada Sila!” perintah Tuan Bima.
“Baik tuan!” jawab Ken.
“Paman, aku akan ikut bersama Paman Ken untuk mencari orang itu. Aku tahu siapa dia!” sahut Zidan.
“Baiklah. Kau pergilah sekarang!” kata Tuan Bima dengan suara tegasnya.
__ADS_1
Zidan dan Ken pun pergi meninggalkan Tuan Bima yang saat itu bersama anaknya dan beberapa pengawal yang menemaninya. Sebenarnya Zidan ingin menemani Sila disaat seperti ini, namun ia lihat Sila lebih nyaman dengan Tuan Bima ketimbang dirinya. Jadi, Zidan lebih memilih mencari David untuk memberikannya pelajaran.
Setelah Zidan dan Ken pergi, Tuan Bima juga pergi meninggalkan tempat itu dengan menggendong putrinya untuk kembali ke rumah.
Tuan Bima menaiki mobil yang dikemudikan supir pribadinya itu. Mobilnya melaju dengan cepat menuju Rumah Kediaman Mahesa.
Beberapa menit kemudian, mobilnya telah sampai di depan rumahnya, dan melajukan kembali mobilnya masuk ke dalam pekerangan rumah setelah pintu pagar besi rumah Mahesa terbuka.
Tuan Bima segera turun dari mobil setelah pengawalnya membuka pintu untuknya. Ia menggendong anaknya masuk ke dalam rumahnya yang saat itu dalam keadaan tidak stabil.
Nyonya Yasmin dan yang lainnya melihat keadaan Sila, merasa sangat khawatir dan heran dengan keadaan Sila yang jadi seperti itu.
Tuan Bima langsung membawa anaknya naik ke lantai atas rumahnya, menuju kamar pribadi Sila. Ia bahkan memanggil dokter pribadi keluarganya untuk memeriksa keadaan Sila.
“Sayang, sebenarnya apa yang terjadi pada Sila?” tanya Nyonya Yasmin yang sangat khawatir dengan Sila.
“Seseorang melakukan sesuatu padanya, tapi saat aku menanyakan pada Sila. Dia malah berteriak histeris. Sepertinya orang itu melakukan sesuatu hal besar pada anakku!” jelas Tuan Bima.
Saila dan Leon masuk ke dalam kamar Sila ketika mereka tahu kalau terjadi sesuatu pada Sila.
“Ayah, apa yang terjadi pada Sila?” tanya Saila yang berlari bersama Leon menghampiri ayah dan ibunya. Ia terlihat sangat khawatir dan panik.
Tuan Bima memegang bahu anaknya, kemudian berkata: “Tidak apa – apa sayang. Saudaramu hanya butuh istirahat. Dia hanya lelah. Biarkan saja dokter merawatnya. Oke!” kata Tuan Bima.
Tuan Bima menoleh melihat Leon. “Leon, bawa istrimu istirahat dulu!” kata Tuan Bima yang juga khawatir dengan Saila. Ia tidak mau kalau keadaan Sila bisa berpengaruh pada kondisi Saila.
“Iya, ayah!” jawab Leon. Leon langsung melingkarkan tangannya di bahu Saila dari belakang. “Ayo sayang. Nanti kita bisa lihat Sila lagi setelah dokter memeriksanya. Dia baik – baik saja. Ayo ... ke kamar!” kata Leon mengajak istrinya.
“Tapi, Mas Leon, aku mau menunggu Sila disini!” jawab Saila.
“Tenanglah. Kamar kita bersebelahan dengannya. Ayo istirahat dulu!” pinta Leon menarik tubuh istrinya pergi dari sana.
Saila pun menuruti suaminya untuk kembali ke kamarnya, namun tetap saja ia masih khawatir dengan keadaan Sila.
.
__ADS_1
.