SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Lelaki tidak waras


__ADS_3

Pagi ini, Sila mulai kuliah kembali setelah acara pertunangannya dilaksanakan dua hari yang lalu. Kini ia berada di dalam mobil bersama Zidan menuju kampusnya.


Sila dan Zidan asyik mengobrol di perjalanan menuju kampusnya, banyak hal yang mereka bicarakan, dan Sila terlihat sangat menikmati obrolannya sampai akhirnya ia tidak sadar kalau tenyata mobil Zidan sudah sampai di depan kampusnya.


Zidan melajukan mobilnya masuk ke dalam melewati pintu Gerbang Kampusnya, kemudian menghentikan mobilnya di depan kampus, menurunkan Sila di depan pintu masuk kampusnya. Setelah Sila turun dari mobil, Zidan kembali melajukan mobilnya menuju parkiran kampus.


Sila masuk ke dalam kampus setelah melihat mobil Zidan melaju menuju parkiran kampusnya, namun saat Sila berjalan beberapa langkah, Sila dikejutkan dengan kedatangan David yang tiba – tiba saja memegang tangannya dari belakang. Sila menoleh melihat David, dan ia semakin terkejut melihat orang yang memegang tangannya, menahannya di sana, ternyata adalah David, pacar yang pernah ia tinggali dulu.


“David!” kata Sila terkejut menatap David, matanya sampai melotot melihat David.


“Kenapa kau terkejut begitu, Sila? Apa kau terlalu bahagia melihatku ada disini?” tanya David tersenyum dengan penuh arti.


“Lepaskan tanganku, brengsek!” kata Sila berusaha menarik tangannya dari David. Wajahnya terlihat sangat marah pada David. Ia merasa jijik pada lelaki yang hampir menghancurkan hidupnya.


“Tidak, aku tidak akan melepaskannya. Kita masih sepasang kekasih, Sila. Aku masih pacarmu, jadi aku tidak akan melepaskan tanganmu!” tolak David yang semakin memegang erat tangan Sila.


“Kalau kau tidak melepaskan tanganku. Aku akan teriak disini. Dan orang – orang disini akan menghajarmu!” ancam Sila tegas.


“Sila, aku jauh – jauh datang kesini hanya untuk mencarimu. Kau pikir aku mau melepaskanmu dengan mudah. Tidak, Sila. Aku tidak akan melepaskanmu. Hari ini kau harus ikut bersamaku!” kata David memaksa Sila.


Sila terus saja menarik paksa tangannya dari David, namun tetap saja kekuatannya kalah dari lelaki itu.


Tiba – tiba Zidan berlari menghampiri mereka saat ia melihat Sila dari kejauhan. Saat sampai di dekat Sila, ia langsung memegang tangan David yang memegang tangan Sila.


“Lepaskan tangannya!” pinta Zidan tegas menatap David.


“Siapa kau?” tanya David yang seketika menatap Zidan dengan tajam.


“Kau tidak perlu tahu aku siapa? Yang perlu kau tahu, kalau aku bisa menghajarmu disini. Dan bukan hanya aku, tapi aku bisa memanggil orang untuk menghabisimu. Cepat lepaskan tangannya!” tegas Zidan.


David terdiam menatap Zidan. Ia mulai takut mendengar ancaman Zidan, mengingat kalau ia orang baru di sana. Ia berpikir kalau ia tidak melepaskan tangan Sila, maka mungkin saja Zidan memanggil orang untuk menghajarnya di sana.


Dengan terpaksa, David melepaskan tangan Sila, dan menatap Sila sejenak, kemudian berkata: “Sila, jangan berharap kau bisa lari dariku!”

__ADS_1


Sila tidak menjawab dan hanya menatap David dengan penuh amarah pada David. Sementara David meninggalkan Sila bersama Zidan setelah mengatakan hal itu pada Sila.


Setelah David pergi, Zidan melihat ke arah Sila, kemudian berkata: “Siapa dia?”


“David, dia mantan pacarku dulu!” jawab Sila yang melihat ke arah lain seakan tak mau melihat langsung mata Zidan.


“Apa ada masalah sampai dia berbuat seperti itu tadi?” tanya Zidan.


“Tidak ada,” jawab Sila.


Ia masih belum bisa mengatakan apapun mengenai David pada Zidan. Hatinya belum siap, dan masih tidak mempercayai lelaki tampan yang sudah menjadi tunangannya itu.


“Aku tahu kalau kau punya masalah padanya, Sila. Dan aku tahu kalau kau sengaja menyembunyikan dariku. Aku bisa melihat wajah pria tadi. Aku bertanya hanya mau kau menceritakannya sendiri padaku, tapi sepertinya kau sengaja tidak mau memberitahuku!” kata Zidan serius.


“Maafkan aku, Kak Zidan!” kata Sila yang hanya bisa meminta maaf pada Zidan.


“Tidak masalah, Sila. Aku bisa mengerti kalau kau masih belum bisa membuka semua isi hatimu padaku. Aku akan tunggu sampai hatimu sepenuhnya percaya padaku!” kata Zidan tersenyum pada Sila.


“Ya sudah, kita masuk yuk!” ajak Zidan memegang tangan Sila masuk ke dalam kampusnya.


Mereka pun masuk ke dalam kelasnya masing – masing untuk memulai mata pelajaran mereka.


Selama setengah hari Sila berada di kampusnya, kini waktunya ia pulang setelah menyelesaikan semua mata kuliahnya. Ia pun keluar dari kelasnya dan menunggu Zidan diluar kelasnya, namun Zidan tak kunjung keluar dari sana, sedangkan ia harus pulang cepat ke rumah untuk memenuhi janjinya pada Saila. Rencananya hari ini ia akan pergi berbelanja bersama Saila dan Riana.


“Aduh, kenapa Kak Zidan belum keluar juga? Dan Riana, kenapa dia meninggalkanku sendiri di kampus, kenapa dia tidak menungguku sampai keluar kampus. Ah ... menyebalkan sekali dia. Mentang – mentang dia merindukan Saila, malah membiarkanku menunggu Kak Zidan disini seperti orang bodoh!” kata Sila yang terus menerus mengeluh di depan kelas Zidan.


Sila menghela nafasnya setelah mengoceh di sana, ia terlihat sangat bosan menunggu Zidan. Beberapa menit berlalu, Zidan masih tidak keluar dari kelasnya.


Dengan terpaksa ia mengirim pesan pada Zidan untuk pergi duluan. Setelah ia mengirim pesan pada Zidan, Sila melangkah meninggalkan kelas Zidan untuk kembali pulang.


Sila buru – buru keluar Gedung Kampusnya untuk mencari taksi, namun tanpa ia sadari, David ternyata masih menunggunya di depan Gedung Kampusnya. Lelaki itu benar – benar sudah tidak waras sampai ia menunggu Sila di sana selama berjam – jam.


“Sila!” teriak David memanggil Sila dengan keras.

__ADS_1


Seketika Sila menoleh melihat David, dan ia kembali terkejut melihat lelaki tidak waras itu.


David segera berlari menghampiri Sila ketika Sila baru saja memanggil taksi untuk pergi. Ia langsung memegang tangan Sila, menariknya dari sana.


“David, apa yang kau lakukan?” teriak Sila kesal.


“Membawamu pergi dari sini,” jawab David.


“Tidak mau, aku tidak sudi pergi denganmu, lepaskan aku!” teriak Sila.


David menghentikan langkahnya, kemudian melihat Sila.


“Hari ini kau harus pergi denganku. Kau sudah membohongiku, Sila. Ternyata kau sudah bertunangan di belakangku. Berani sekali kau menghianatiku!” kata David marah. Ia baru saja tahu kalau Sila ternyata sudah bertunangan dua hari yang lalu dari seseorang yang baru saja menghubunginya.


“Itu bukan urusanmu lagi. Aku mau sama siapa, terserah aku. Tidak ada urusannya lagi denganmu!” kata Sila serius.


David kembali menarik tangan Sila dengan paksa. Ia membawa paksa Sila dari tempatnya itu.


Sila tidak bisa melepaskan dirinya dari David. Ia tidak bisa melawan kekuatan David yang menariknya secara paksa.


“David, kau sudah tidak waras, lepaskan aku!” teriak Sila sambil memukul tangan David dengan keras. “Kau sadar, kalau kau sedang menculikku sekarang. Apa kau tahu kalau aku bisa memenjarakanmu?” ancam Sila.


“Kau pikir aku takut. Cepat masuk!” perintah David mendorong Sila masuk ke dalam mobilnya. Ia langsung mengunci pintu mobilnya saat Sila sudah ada di dalam mobilnya.


“Beraninya kau, David. Hei, buka pintunya brengsek!” teriak Sila yang sudah berada di dalam mobil.


David tidak peduli dengan teriakan Sila. Ia melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu sebelum banyak orang yang menyadari perbuatannya yang memaksa Sila pergi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2