
Pukul 3:00 sore
Apartemen Leon terlihat sepi. Sila dan Riana baru saja pulang setelah makan siang dan mengobrol dengan Saila. Tinggal Saila yang berada di kamarnya. Ia baru saja selesai mandi di dalam kamar mandinya. Ia berjalan keluar kamar mencari keberadaan Leon.
Dan saat itu, Leon tengah berada di Ruang Kerjanya. Ia tengah sibuk mengerjakan dokumen kantornya.
Semenjak dokter mengatakan kalau Saila harus banyak istirahat di rumah, dan membutuhkan banyak perhatian dari orang terdekatnya, Leon memang memilih untuk berkerja di rumah ketimbang bolak balik kantornya.
Saila membuka pintu Ruang Kerja suaminya, memasukkan sebagian tubuhnya dan kepalanya ke dalam sambil memegang pintu Ruang Kerja Leon.
Leon yang duduk di kursi kerjanya, langsung mengangkat kepalanya melihat Saila.
“Apa aku mengganggu Mas Leon?” tanya Saila.
“Nggak. Masuk lah!” perintah Leon sambil tersenyum.
Saila masuk ke dalam setelah mendapat ijin dari Leon. Ia melangkah mendekati Leon yang sibuk dengan dokumen – dokumen di depannya.
Leon menghentikan kesibukannya itu ketika Saila sudah berada di depan meja kerjanya.
“Apa kau butuh sesuatu?” tanya Leon sambil tersenyum menatap Saila.
“Nggak, aku cuma mau bilang sama Mas Leon, kalau Mas Leon nggak perlu menemaniku di rumah. Kalau mau ke kantor, Mas Leon ke kantor saja,” ucap Saila.
“Kemarilah!” perintah Leon sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, kemudian menepuk – nepuk pahanya, menyuruh Saila mendekatinya untuk duduk di pahanya.
Saila tampak diam sejenak melihat Leon menepuk – nepuk pahanya. Ia merasa malu kalau harus duduk lagi di pangkuan suaminya.
“Ayo kemarilah. Aku mau bicara sesuatu padamu!” perintah Leon.
“Aku disini saja. Mas Leon silahkan bicara kalau mau bicara. Aku bisa dengar kok,” balas Saila.
Leon menatap tajam istrinya. “Saila ... aku menyuruhmu datang kesini. Aku mau mengatakan sesuatu padamu!” ucap Leon.
Saila dengan terpaksa berjalan pelan mendekati Leon yang masih duduk di kursinya itu.
Saat Saila sudah berdiri di depan Leon, Leon langsung menarik tangan Saila sampai tubuh Saila duduk kembali di pahanya. Ia memeluk tubuh Saila dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Saila.
Saila kembali merasa canggung dengan kelakuan Leon yang memeluknya seperti itu, apalagi kepala Leon berada di bahu kanannya yang membuat pipi mereka saling menempel.
Deg ... deg ... deg ...
Saila sampai merasakan detak jantungnya berdetak cepat karena kecanggungannya itu. Ia merasa malu dengan Leon yang mendekatkan kepalanya sampai ia tidak berani menatap langsung Leon dan akhirnya ia hanya bisa memalingkan wajahnya ke samping kiri.
“Ma-Mas Leon mau katakan apa?” tanya Saila dengan suara gagapnya, karena gugup.
“Aku cuma mau memelukmu sebentar. Rasanya sangat nyaman,” jawab Leon sambil memejamkan matanya, merasakan kenyamanan di tubuh istrinya.
Dan saat itu, Leon semakin memeluk erat Saila sambil terus mencium bahu Saila dengan lembut, mencium rambut istrinya, merasakan bau khas Saila di tubuhnya.
__ADS_1
Leon menggerakkan tangannya sampai ke dada Saila, merasakan semua tubuh mungil istrinya.
“Mas Leon, apa yang kau lakukan?” tanya Saila merasa sedikit risih dengan tangan Leon yang meraba – raba dadanya.
Leon membuka matanya. “Eh ... kenapa jantungmu cepat begini?” tanya Leon menggoda istrinya.
Saila kaget mendengar ucapan Leon yang membuat wajahnya seketika malu, pipinya sampai memerah karena jantungnya yang berdetak cepat telah di ketahui Leon.
“Jantungku kenapa? Baik – baik saja!” ucap Saila yang pura – pura tidak tahu dengan yang dialaminya itu.
“Jangan – jangan kau-
Leon menghentikan ucapannya sambil pura – pura kaget di depan Saila. Dan saat itu Saila langsung menggerakkan kepalanya ke samping, menatap Leon dengan serius. Ia terlihat kaget karena mengira kalau Leon akan bilang dia menyukai dirinya. Ia akan sangat malu kalau sampai Leon menyadari perasaannya yang memang sudah menyukai Leon.
“A-aku kenapa?” tanya Saila yang terdengar gagap.
“Jangan – jangan kau malu di depanku ya?” tanya Leon.
Saila langsung memalingkan wajahnya ke arah lain tak menunjukkan wajahnya di depan Leon, kemudian menghela nafasnya dengan pelan, merasa lega sendiri.
"Benar, kan. Kau malu di depanku?" tanya Leon kembali.
Ia kembali melihat Leon, menggeleng – gelengkan kepalanya. “Nggak kok. Nggak sama sekali. Aku nggak malu. Biasa ajah” jawab Saila.
Leon menyembunyikan wajahnya ke samping, menahan tawanya di sana. Rasanya ia begitu senang bisa menggoda Saila, apalagi melihat wajah Saila yang memerah karena dirinya.
“Apa kau jatuh cinta padaku?” tanya Leon kembali menggoda Saila.
Saila sangat kaget mendengar pertanyaan Leon. Ia langsung menatap tajam Leon yang saat itu tersenyum manis melihatnya.
“Siapa yang bilang begitu??” tanya Saila.
“Aku yang bilang,” jawab Leon
“Sama sekali nggak. Aku nggak suka sama Mas Leon!” ucap Saila sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, merasa malu melihat wajah suaminya.
“Kalau gitu, buktikan kalau kau tidak jatuh cinta!” kata Leon.
Saila kembali menoleh. “Mau bukti apa?” tanya Saila.
Leon memonyongkan bibirnya di depan Saila dengan ekspresi genitnya. “Cium aku!”
“Apa?” Saila kaget dengan mata melotot melihat Leon.
Dengan genitnya, Leon menaikkan alisnya sambil tersenyum diikuti bibir monyongnya yang kembali ia tunjukkan di depan Saila.
Saila kembali memalingkan wajah merahnya. “Eghem!” Ia merasa malu sendiri melihat Leon yang genit seperti itu.
“Ayo lakukan sayang!” pinta Leon.
__ADS_1
Saila kembali kaget saat mendengar kata sayang yang di ucapkan suaminya. Ia menatap heran Leon yang terus tersenyum padanya.
“Ayo cium aku!” pinta Leon kembali.
“Kenapa aku harus mencium Mas Leon?” tanya Saila.
“Tentu saja untuk mengetes dirimu. Katanya kau tidak jatuh cinta. Kalau kau nggak mau menciumku. Itu berarti kau jatuh cinta,” jawab Leon.
“Itu sama sekali nggak ada hubungannya, Mas Leon,” ucap Saila.
“Tentu saja ada. Kalau seseorang jatuh cinta. Dia pasti malu mencium orang yang dia sukai. Sekarang buktinya kamu. Kau malu untuk menciumku. Ya, kan?” ucap Leon.
Dengan terpaksa Saila menuruti kemauan Leon, karena tidak mau di bilang kalau dirinya sedang jatuh cinta dengan Leon. Ia menggerakkan badannya sampai wajahnya berhadapan dengan Leon. Ia langsung mencium bibir Leon. Dan saat Saila mencium Leon, Leon memegang belakang kepala Saila, menariknya sampai ciuman bibir mereka semakin dalam.
Saila memang merasa malu, sampai detak jantungnya berdetak cepat tak karuan. Namun karena Leon terus menggodanya dan ia juga tidak mau mengakui tentang perasaannya yang mulai menyukai Leon. Hingga akhirnya, Saila menuruti Leon untuk membuktikan kalau ia tidak jatuh cinta.
Saila sudah ingin melepaskan bibirnya dari ciuman Leon. Ia memegang kedua bahu Leon, berusaha mendorong tubuh Leon darinya. Namun Leon terus mencium bibir Saila semakin dalam dan semakin dalam sampai Saila tidak bisa menghentikan suaminya, bahkan ia ikut menikmati ciumannya bersama Leon.
Leon kaget saat istrinya ikut mencium bibirnya, menikmati ciuman darinya. Ia sempat membuka matanya melihat Saila yang saat itu memejamkan matanya menikmati ciuman bibirnya. Leon menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum tipis, kemudian kembali melanjutkan ciumannya.
Setelah puas, Leon melepaskan bibirnya dari Saila. Ia menatap Saila yang saat itu menunduk malu di depannya. Leon kembali tersenyum tipis melihat wajah malu Saila di depannya.
“Jantungku nggak bisa berhenti berdetak, malah semakin berdetak. Aku malu sekali karena ikut menciumnya tadi, bahkan menikmatinya. Ini nggak benar. Aku benar – benar menyukainya. Aku menyukainya. Ya tuhan, bagaimana ini?” dalam hati Saila sambil memegang dadanya dengan kepala menunduk.
.
.
.
Bersambung.
.
.
Hai sayang2ku. Aku sempat lihat ada beberapa koment yang nanya tentang CEO AND ME dan DIPAKSA MENIKAHI SEPUPU kapan up date. Sabar ya sayang2ku. Aku nulis mereka sedikit2 kok tapi nggak aku up karena rencana mau langsung craxy up beberapa episode nanti kalau SDS sudah tamat.
Dan untuk SDS sendiri, masih ada konfliknya ya sayang, tapi insya allah nggak berat kok. Tapi bagi yang nggak bisa nahan bisa skip ajah atau lewati lah, karena cerita ngga bisa aku ubah ya sayangku. Cerita tetap di awal, ngga akan kuubah.
Ada yang bilang Sila itu hanya pemeran pembantu. No....No....No....dia bukan pemeran pembantu ya. Judulnya SILA DAN SAILA, tentu saja pemerannya mereka berdua. Kalian lihat saja ya bagaimana aksi Sila nanti disaat Saila mengalami kesulitan, begitu juga dengan Saila. Jangan lupain Alexa sayang2ku. Si wanita bermulut pedas dan mau memisahkan Leon dan Saila.
Sabar ya sabar, minum jus semen dulu baru bacanya. Hehehe.....
Dan episodenya ngga terlalu panjang kok, nggak sampai beratus ratus episode lah.
Terima kasih, selamat berhalu, dan jangan lupa tahan emosi.
Love you selapangan buat kalian semua..........................
__ADS_1