
Leon kini berada di perjalanan pulang ke rumah Mahesa untuk melihat istrinya. Ia terlihat sangat khawatir dan panik mendengar Saila menangis tadi, bahkan ia meninggalkan semua pekerjaan kantornya begitu saja hanya untuk menemui istrinya yang manja itu.
Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai telah sampai di depan pintu pagar rumah Mahesa. Leon buru – buru melajukan mobilnya masuk ketika pintu pagarnya terbuka lebar. Ia langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah Mahesa, kemudian segera turun dari mobilnya.
Ia berlari masuk ke dalam rumahnya, dan menanyakan keberadaan Saila pada salah satu pelayan yang berpapasan dengannya. Pelayannya pun mengatakan kalau saat ini Saila tengah berada di dapur mempersiapkan makan siang untuk di bawanya ke kantor Leon.
Leon segera menuju ke dapur. Dan saat didapur, Leon langsung berlari ke arah Saila yang tengah asyik memasukkan makanannya ke kotak makan siang.
“Saila, kau baik – baik saja, kan. Dimana yang terluka, hah. Dimana, coba kulihat semua?” kata Leon. Saat itu ia memegang kedua bahu Saila sambil melihat semua tubuh Saila, menggoyangkan tubuh Saila dengan pelan ke kiri dan ke kanan dengan wajahnya yang masih terlihat panik dan khawatir.
“Hentikan. Lepaskan aku dulu. Aku baik – baik saja. Aku tidak apa – apa!” kata Saila.
“Tadi kau menelfonku dan menangis keras. Apa benar semuanya baik – baik saja?” tanya Leon yang masih belum percaya istrinya baik – baik saja.
“Aku benar baik – baik saja Mas Leon. Lihat, kan, tubuhku tidak apa – apa. Aku baru saja mau membawakanmu makan siang, tapi Mas Leon sudah ada disini,” jawab Saila.
Leon langsung bernafas lega, dan melepaskan kedua tangannya di bahu Saila, kemudian duduk di kursi ruang makannya dengan ekspresinya yang sangat kelelahan.
Saila yang melihat itu terlihat khawatir.
“Mas Leon baik – baik saja, kan?” tanya Saila memegang sebelah bahu Leon.
__ADS_1
"Berikan aku air. Aku haus sekali!" pinta Leon.
Saila segera menuangkan air di gelasnya yang ada di atas meja makannya, kemudian menyodorkannya di depan Leon.
"Ini airnya!" kata Saila sambil membantu Leon minum airnya.
Leon pun menegakkan tubuhnya, kemudian minum air yang di pegang istrinya saat itu.
Leon kembali menyandarkan tubuhnya di kursi setelah ia selesai minum, kemudian berkata: “Saila ... aku ini sudah tua tidak sama sepertimu. Apa kau mau membuatku jantungan? Kau tahu, aku berlari dari kantor ke sini untuk melihatmu. Sepertinya kau mau membunuh suamimu sendiri. Apa kau mau menyingkirkanku dan menikah dengan si Ben kurang ajar itu?” Leon mengeluh sambil mengatur nafasnya yang masih ngos – ngosan akibat perbuatan Saila.
Saila semakin khawatir ketika mendengar keluhan dari suaminya.
“Astaga Mas Leon. Kenapa kau bisa berlari ke sini tanpa mobil. Dimana mobilmu?” kata Saila yang tiba – tiba saja mengeluarkan air matanya di depan Leon. “Aku minta maaf. Aku tidak sengaja. Tiba – tiba saja aku menangis setelah selesai bicara sama Sila. Aku sudah salah bicara padanya, tapi setelah aku menghubunginya barusan. Dia bilang mau berikan jawaban pada Kak Zidan. Kupikir dia mau minta putus sama Kak Zidan. Makanya aku menangis. Hiks ... hiks ... aku salah sudah membuatmu berlari kesini. Maafkan aku ya Mas Leon!”
“Sabar Leon ... sabar. Ini karena anakku sendiri, istriku jadi begini. Ya tuhan ... aku bisa mati berdiri kalau begini!” batin Leon.
Leon kembali mengangkat kepalanya melihat Saila ketika Saila tidak berhenti menangis di depannya.
"Sini!" pinta Leon sambil menepuk - nepuk pahanya menyuruh Saila duduk di sana.
Saila pun menurutinya dan duduk di pangkuan suaminya lagi.
__ADS_1
"Sudah. Jangan menangis. Aku baik - baik saja. Aku juga tidak marah padamu. Lihat, aku sekarang sudah tersenyum!" kata Leon yang menenangkan istrinya, mengembalikan mood Saila agar kembali senang.
“Iya, Mas Leon mau aku pijitin kakinya. Pasti sakit , kan, lari dari sana ke sini!” pinta Saila kembali ketika melihat Leon hanya diam sambil memegang kepalanya itu.
“Saila sayang. Aku berlari dari dalam kantor ke parkiran, lalu naik mobil ke sini. Dari luar aku juga berlari masuk ke sini. Bukan berlari dari kantor ke rumah. Aku baik – baik saja. Tidak sakit sama sekali. Aku hanya lapar karena kelelahan.”
“Kalau gitu makan siangnya dimakan disini saja ya,” pinta Saila.
“Iya, mana makanannya? AKu lapar sekali belum makan di kantor!” kata Leon sambil menegakkan tubuhnya kembali bersiap untuk makan.
Saila kembali berdiri dari pangkuan Leon, kemudian membuka kotak makan siang yang rencanannya akan di bawakan ke kantor Leon.
“Ini. Aku baru saja memasukkannya ke dalam kotak,” kata Saila sambil menyajikannya di depan Leon.
“Ayo makan. Ini semua makanan kesukaan Mas Leon!” lanjut Saila.
Leon hanya tersenyum membalas Saila yang tengah bicara padanya, kemudian mulai mencicipi makan siang di depannya itu.
Sedangkan Saila duduk di samping Leon, tersenyum melihat Leon tengah asyik makan.
.
__ADS_1
.
.