SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Datang sendiri


__ADS_3

Pukul 10:00 pagi.


Kini Saila berada di kamar pribadinya. Ia duduk di sofa menunggu kedatangan Leon dengan perasaan gelisah memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Hari ini ia tidak di izinkan keluar rumah oleh ayahnya gara – gara masalah kehamilannya itu, dan sebelum ayahnya bertemu dengan Leon secara langsung.


Tadi malam ia sudah menghubungi Leon untuk datang ke rumah bertemu ayah dan ibunya. Ia menceritakan pada Leon kalau keluarganya tahu tentang kehamilannya. Butuh satu jam ia baru bisa mengubungi Leon, karena ia masih begitu asing dengan Leon.


Kalau saja itu adalah Zidan, ia pasti dengan muda mengubunginya tanpa memikirkan rasa gengsinya itu.


Saat Leon mengetahui semuanya dari Saila, ia ikut gelisah tentang apa yang harus ia lakukan. Ia belum pernah menghadapi masalah seperti ini, masalah dimana ia harus mendapatkan restu agar ia bisa menikahi gadis yang ia hamili.


Kalau saja ia tidak menghamili Saila, mungkin lebih gampang mendapat restu. Namun, statusnya berbeda. Ia telah menghamili anak gadis orang.


Apalagi ibunya baru saja terbang dari Prancis. Butuh satu hari untuk sampai di sini, sedangkan orang tua Saila sudah ingin bertemu dengannya.


Namun, ia tetap akan berusaha menghadapinya meskipun ia merasa gelisah sendiri kalau kedua orang tua Saila sampai melakukan sesuatu padanya, mengingat perbuatannya yang sangat bejat.


Ia hanya bisa mempersiapkan hatinya dulu sebelum ke rumah Saila. Dan tentu saja ia hanya bisa datang sendiri ke rumah Saila tanpa meminta di temani sahabatnya. Masalah bertemu dengan kedua orang tua Saila harus ia hadapi sendiri. Ia akan menghadapi masalahnya sendiri.


Saila terus mondar mandir di dalam kamarnya menunggu kedatangan Leon dengan perasaan gelisahnya itu.


Tak lama kemudian, Leon terlihat mengendarai mobilnya masuk ke dalam pekerangan rumah Keluarga Mahesa setelah ia meminta izin masuk oleh salah satu pengawal yang berjaga di depan pintu pagar rumah Mahesa.


Leon memarkirkan mobilnya di depan rumah Mahesa, kemudian turun dari mobilnya. Ia menatap depan pintu rumah Mahesa yang terlihat mewah sambil menghela nafasnya dengan pelan, menenangkan rasa gugupnya itu.


Tiba – tiba seorang pengawal membuka pintu rumah, kemudian berjalan keluar dari sana, menghampiri Leon yang masih berdiri di depan pintu.


Pengawalnya itu langsung membungkuk hormat di depan Leon. “Tuan, silahkan masuk ke dalam. Tuan dan Nyonya Besar sudah menunggu Anda di dalam!” ucap si pengawalnya.


“Baik,” balas Leon.


Leon pun berjalan masuk ke rumah mengikuti pengawal rumah Mahesa. Ia berjalan sambil melihat keadaan rumah Mahesa yang begitu mewah dan luas.


Di Ruang Tamu sudah terlihat Bima dan Yasmin duduk menunggu kedatangan Leon.


Saat Leon berjalan menghampiri Ruang Tamu bersama dengan pengawalnya tadi, Bima langsung berdiri menatap Leon dengan wajahnya yang terlihat tajam. Ia menatap dingin Leon yang berjalan menghampirinya.


"Berani juga dia datang sendiri," Dalam hati Bima yang terus melihat Leon berjalan menghampirinya.

__ADS_1


Setelah Leon sampai di Ruang Tamu, tepat di depan Bima dan Yasmin, kedua orang tua Saila. Ia langsung membungkuk hormat di depan kedua orang tua Saila.


“Pagi om, tante!” Sapa Leon mengulurkan tangannya.


Bima sama sekali tidak membalas uluran tangan Leon. Ia hanya menatap dingin lelaki yang sudah menghamili anaknya. Ia ingin sekali memukul habis – habisan lelaki yang berdiri di depannya itu, namun ia sudah di beri tahu oleh istrinya untuk tidak melakukan apapun pada Leon sebelum mereka bicara baik – baik pada Leon.


Tentu saja Bima harus menuruti istrinya. Ia harus menahan amarahnya untuk tidak memukul lelaki bertubuh atletis itu.


Rasa canggung di wajah Leon terlihat saat ia tidak mendapatkan balasan sapaannya dari Bima, ayah Saila.


Yasmin dengan cepat mengusir rasa canggung Leon dengan mempersilahkan Leon duduk di sofa.


Leon pun duduk di sofa dengan wajahnya yang merasa tidak nyaman melihat tatapan tajam Bima yang terus menatapnya.


Rasanya lelaki paruh bayah itu menatapnya dengan tatapan ingin membunuhnya. Pikir Leon.


Sesaat setelah Loen duduk, Yasmin menyuruh suaminya untuk duduk di sana. Bima pun menuruti istrinya untuk duduk di depan Leon. Ia duduk tegas dengan posisi kedua kakinya saling menyilang, menatap Leon.


Tanpa basa basi, Bima pun mulai menggerakkan bibir kakunya untuk bicara pada Leon.


“Sejak kapan kau pacaran dengan Putriku?” tanya Bima dengan serius.


“Dia bertanya tentang putrinya yang mana?” Dalam hati Leon.


Bima kembali bicara dengan tegas. “Aku sedang bertanya, sejak kapan kau pacaran dengan Saila?”


Leon kaget. “Saila ... .” Ia merasa linglung sendiri mendengar pertanyaan Bima, ayah Saila dan Sila. Itu semua karena ia merasa gugup berhadapan dengan ayah kekasihnya, sekaligus ayah dari gadis yang sudah ia hamili.


“Kayaknya, orang tua Saila mengira kalau aku adalah pacarnya. Apa yang harus aku katakan. Apa aku jujur pada mereka?” Dalam hati Leon yang merasa bimbang.


“Hei ... aku sedang bertanya. Apa kau tidak mendengar pertanyaanku?” teriak Bima yang marah melihat Leon diam.


Dengan sigap, Leon menjawab. “Aku sebenarnya--


“Ayah ... .” Tiba – tiba Saila datang menghampiri mereka di Ruang Tamu . Ia langsung memanggil ayahnya sesaat setelah ia sampai di sana.


Dan panggilannya itu membuat Leon menghentikan ucapannya tadi yang ingin berkata jujur pada kedua orang tua Saila. Bima, Yasmin menoleh melihat anaknya, begitu pun dengan Leon yang langsung melihat Saila.

__ADS_1


Saila kembali melangkah mendekati kedua orang tuanya. Saat itu kedua orang tuanya berdiri dari tempat duduknya melihat Saila berjalan ke arah mereka, begitu pun dengan Leon yang ikut berdiri ketika melihat kedua orang tua Saila berdiri.


Saila pun kembali bicara ketika ia sudah berhadapan dengan ayahnya.“Saila sudah pacaran sama dia selama satu tahun Yah.” Ucap Saila pada ayahnya. Ia sesekali melirik Leon yang saat itu melihatnya dengan tatapan kaget. Dan tentu saja Leon menuruti apa yang di katakan Saila pada kedua orang tuanya.


“Siapa yang mengizinkanmu keluar kamar?” tanya Bima menatap anaknya dengan serius.


“Tadi aku keluar sendiri dari kamar saat mendengar suara ayah dan ibu di sini,” jawab Saila.


Sejak tadi Saila memang sangat khawatir kalau Leon akan salah bicara pada kedua orang tuanya. Dan ia harus membantu Leon untuk bicara pada ayah, ibunya agar ayahnya tidak melakukan hal yang sampai melukai Leon.


“Ayah sudah bilang, bukan. Kalau kau tidak boleh keluar kamar sebelum ayah dan ibumu bicara sendiri padanya!” tegas Bima.


“Ayah ... dia tidak salah. Kami berdua saling mencintai.” Saila terpaksa berbohong pada ayahnya tentang hubungannya dengan Leon. Takutnya kalau ayahnya tidak mempercayai Leon. Dan sampai melukai Leon kalau ayahnya tahu tentang perbuatan Leon.


Perkataan Saila membuat Leon kaget. Ia merasa tersentuh saat gadis itu berbohong demi menolong dirinya. Rasanya ia semakin kasihan melihat Saila yang seperti itu.


Gadis yang menolak bicara padanya satu bulan yang lalu, telah menolongnya di depan kedua orang tuanya.


Saila bisa saja bilang pada kedua orang tuanya kalau ia telah di perkosa, di paksa olehnya bahkan menculiknya demi melampiaskan kemarahannya pada Sila.


“Meskipun kalian saling mencintai, tapi dia sudah berani menghamilimu. Dan kau masih membelanya di depan ayah. Ayah tidak akan merasa tenang sebelum bicara sendiri padanya, dan memberikannya pelajaran!” jelas Bima dengan tegas menjawab ucapan anaknya.


Saila berjalan menghampiri Leon saat ia mendengar ucapan ayahnya, kemudian memegang tangan Leon di sana.


“Ayah ... kumohon jangan melakukan apapun padanya. Dia tidak salah sama sekali!” ucap Saila membela Leon.


Leon kembali tersentuh saat Saila membela dirinya di depan ayahnya. Bahkan ia kaget sendiri ketika gadis itu memegang tangannya yang membuatnya merasa gugup.


Sementara Bima menghela nafasnya melihat anaknya yang terlihat khawatir kalau ia melakukan sesuatu pada Leon. Ia kembali membalas ucapan anaknya.


“Saila, apa ayah mengatakan padamu kalau ayah akan membunuhnya? Ayah hanya ingin bicara baik – baik dengannya!” Dengan suara yang sedikit merenda saat melihat wajah ketakutan anaknya.


Ya, Bima memang dikenal sebagai orang yang tidak bisa menahan emosinya kalau sedang marah. Dan hal itu yang membuat Saila sangat khawatir dengan Leon. Bagaimana kalau sampai ayahnya memukul habis – habisan Leon sampai tak berdaya?


Namun, Bima sudah di peringati oleh istrinya tadi malam kalau ia harus bicara baik – baik pada Leon tanpa harus melakukan kekerasan, mengingat kalau Saila bilang, Leon adalah pacarnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2