
Hari ini adalah pesta pernikahan Sila dan Zidan. Mereka mengadakan pernikahannya itu setelah tiga bulan kelahiran anak pertama Leon dan Saila. Seperti janji Sila pada Zidan, kalau ia akan menikah dengan Zidan kalau Saila sudah melahirkan.
Dan kini Sila dan Zidan sudah berdiri di depan para tamu dengan status baru mereka sebagai suami istri. Mereka berdiri di sana menyambut para tamu yang memberikan mereka selamat atas pernikahannya itu.
Setelah menyambut sebagian tamunya, Sila dan Zidan mulai berfoto bersama para keluarga besarnya.
Pertama, mereka berdua berfoto dengan Leon dan Saila yang saat itu menggendong bayi mungilnya, kemudian berfoto dengan kedua orang tua mereka masing – masing.
Setelah berfoto – foto, mereka semua kembali menikmati pestanya dengan suka cita. Semuanya tampak bahagia, begitu juga dengan Saila dan Leon yang duduk berdampingan.
Saat itu, Leon merangkul istrinya yang tengah menggendong bayi mereka. Sesekali ia mencium kening Saila sambil menyaksikan kedua pengantin baru yang berdiri tak jauh darinya dengan senyuman kebahagiaan mereka.
Mereka berdua tersenyum bahagia bisa melihat Sila dan Zidan menikah, bahkan Saila meneteskan air matanya melihat saudara kembarnya akhirnya bisa menikah di hadapannya.
Semua kebahagiaan yang ia dapat sekarang karena Sila. Jadi pantas juga Sila bahagia, sama seperti dirinya yang sudah sangat bahagia sekarang ini.
“Kau menangis?” tanya Leon yang menyadari air mata istrinya yang jatuh.
“Iya ... ini bukan tangisan sedih, melainkan tangisan kebahagiaan. Takdir itu tidak bisa di tebak, Mas Leon. Dulu aku pikir, aku pasti menikah dengan pria yang di jodohkan ayah dan ibu, tapi ternyata aku menikah denganmu karena sebuah kesalahan. Dan kesalahan itu malah membuatku sangat bahagia. Bukan hanya aku, tapi kau, Sila dan Kak Zidan. Aku sangat bahagia sekarang bisa memilikimu. Aku berterima kasih pada tuhan bisa memberikanku suami seperti dirimu!” kata Saila yang terus meneteskan air matanya melihat suaminya.
“Harusnya aku yang berterima kasih karena memberikanku istri terbaik seperti dirimu!” kata Leon yang seketika mencium kening istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1
***
Pukul 1:00 malam
Pesta pernikahan Sila dan Zidan pun berakhir. Semua tamu sudah kembali satu persatu. Sila kini sudah berada di kamar pengantinya yang terlihat bertabur banyak bunga mawar merah. Ia berdiri di depan cermin kaca besar dengan jubah mandi yang ia pakai. Ia berdiri disana untuk membuka anting yang masih terpasang di kedua telinganya. Rencananya ia ingin mandi untuk menghilangkan bau keringat ditubuhnya.
Zidan yang baru saja masuk ke dalam kamar pengantinnya, langsung memeluk Sila dari belakang.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Sila menoleh ke samping melirik suaminya.
“Tentu saja memelukmu,” jawab Zidan sambil meletakkan dagunya di bahu Sila, kemudian mencium bahu Sila membuat Sila langsung melepaskan kedua tangan Zidan, dan membalikkan tubuhnya berhadapan dengan suaminya.
“Ada apa?” tanya Zidan yang heran melihat Sila melepaskan pelukannya.
“Biarkan aku mandi dulu. Badanku rasanya lengket semua,” jawab Sila.
Sila yang di gendong Zidan tampak gugup dan malu – malu. Meskipun ia merasa pernah di nodai David, namun ini pertama kalinya ia akan melakukan hubungan badan dengan keadaan sadar, apalagi dengan seorang pria yang sudah menjadi suaminya.
Zidan meletakkan tubuh istrinya di atas kasur, kemudian ikut naik berbaring di samping Sila. Ia berbaring miring dengan tangan kirinya yang menopang kepalanya menatap Sila.
“Apa aku boleh menyentuhmu?” tanya Zidan meminta izin pada istrinya.
“Kau sudah menyentuhku tadi, kan,” kata Sila.
Zidan meraih rambut Sila, memainkannya, dan mencium baunya, kemudian berkata: “Maksudku menyentuh semua tubuhmu?”
Sila tampak malu mendengar ucapan Zidan yang membuatnya langsung memalingkan wajahnya ke samping kiri.
Melihat Sila memalingkan wajahnya membuat Zidan langsung mengubah posisi tubuhnya dengan berada di atas
__ADS_1
tubuh Sila. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya dan lututnya bertumpu di kasur.
Sila menoleh ketika menyadari posisi Zidan di atasnya, kemudian berkata: “Apa yang kau lakukan?”
Zidan langsung mendaratkan ciumannya di bibir Sila dengan lembut saat wanita itu bertanya padanya. Tentu saja Sila menerima ciuman Zidan dengan senang hati, meskipun ia masih terlihat kaku.
Namun semakin lama Zidan menciumnya membuat ia ikut menikmatinya bahkan mulai melingkarkan kedua tangannya di leher Zidan. Ia mencium suaminya dengan mesra membuat Zidan semakin memperdalam ciumannya pada Sila.
Saat Zidan sadar dengan Sila yang mulai menikmati sentuhan bibirnya, ia pun menegakkan tubuhnya untuk melepaskan bajunya, dan membuka kancing celananya, kemudian kembali melanjutkan aksinya tadi.
Ia mencium setiap jengkal tubuh Sila, membuat tanda merah di sebagian tubuh istrinya. Setelah puas, ia mulai mengangkat kedua paha Sila, meregangkannya sampai tubuhnya dan tubuh Sila menyatu.
Sila mendesah, merasakan sakit, perih pada miliknya yang baru pertama kali ia rasakan ketika Zidan melakukan penyatuan dirinya, bahkan Sila meneteskan air matanya menahan perihnya, namun rasa sakit itu hanya sebentar saja ia rasakan. Ia ikut menikmati penyatuannya itu dengan Zidan.
Saat mendengar desahan dari Sila membuat Zidan semakin merasakan gairah yang juga pertama kali ia rasakan.
Kedua insan yang saling mencintai itu kini sama – sama menikmati penyatuan mereka yang tidak pernah mereka bayangkan. Terutama Zidan yang tidak menyangka kalau ia adalah pria yang pertama kali menyentuh istrinya.
.
.
.
udah segitu ajah😂 gak usah hot hot...nanti pada kepanasan lagi🤧. Yang jomblo jangan marah yah✌🏻✌🏻piss kita damai guys.
.
.
__ADS_1