SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku tidak bisa memberikannya apa - apa


__ADS_3

Saat Leon melihat kepergian Sila tadi, dan melihat Zidan duduk diam dengan ekspresi kecewa, Leon berdiri dari tempat duduknya dan datang menghampiri Zidan. Ia duduk di samping Zidan sambil melingkarkan kedua tangannya di depan dadanya dengan tubuh tegak.


Ia menghela nafasnya dengan kasar, kemudian berkata: “Sepertinya Sila masih tidak percaya padamu!”


Zidan menoleh melihat Leon sambil mengerutkan keningnya.


“Apa maksudmu tidak percaya padaku?” tanya Zidan bingung.


“Sila baru saja mengalami hal yang membuatnya trauma. Tapi menurutku, ini bukan trauma, melainkan tidak kepercayaan dirinya pada pria. Dia baru saja diperkosa sama David. Bukan hanya itu, Sila juga mendapatkan penyiksaan dari David. Meskipun David sekarang sudah di penjara, tapi dia tetap tidak mau mengakui perbuatannya pada Sila. Dan itu membuat Sila semakin tertekan. Kalau kau bisa membuat dia percaya padamu, mungkin saja dia bisa kembali seperti dulu. Gadis itu butuh cinta yang bisa menerima dia dengan keadaannya yang seperti sekarang!” kata Leon serius.


Zidan menoleh melihat Leon, kemudian berkata: “Aku tidak pernah memikirkan sebuah alasan untuk bisa mencintai Sila. Aku sungguh mencintai dia, bahkan kalau dia hamil anak dari David, aku tidak masalah. Aku bisa menerimanya selama dia bisa menerimaku. Aku bisa menjadi ayah dari anak yang dia kandung!”


Ben yang mendengar itu, ikut berdiri dan menghampiri Zidan.


“Aku salut padamu Zidan. Kau lebih cepat mengerti cinta dari pada Leon!” kata Ben saat ia sudah berdiri di depan Leon dan Zidan.


“Apa maksud kata – katamu itu?” tanya Leon menatap tajam Ben.


“Seperti yang kau dengar tadi. Dulu kalau kau tidak egois, kau tidak mungkin menghamili Saila. Yang kau pikirkan hanya untuk mendapatkan pacarmu sampai kau tidak bisa mengenali pacarmu sendiri. Menurutku, kau masih belum sepenuhnya mencintai Sila. Kalau hatimu benar – benar mencintai Sila, kau pasti bisa membedakan Sila dan Saila. Dan kau lebih cepat melupakan Sila, saat kau bersama Saila. Itu berarti, kau hanya terbiasa dengan Sila. Dan ketika kau berpisah beberapa hari saja dengan Saila, kau bahkan rela memberikan nyawamu sendiri pada mertuamu, agar kau bisa melihat Saila. Sedangkan Zidan, dia sudah sadar, kalau dia benar – benar mencintai Sila. Bukan hanya karena terbiasa, tapi karena Zidan memang menyadari perasaan tulusnya pada Sila!” kata Ben bicara panjang lebar pada Leon.


“Tidak usah jelaskan. Aku tahu. Kau seperti orang yang mengerti cinta saja. Berhubungan dengan wanita saja jarang kau lakukan!” balas Leon dengan kesal.


“Cih ... sekarang kau gampang sekali tersinggung ya!” kata Ben melirik Leon.


“Kalau begitu, aku harus menikahi Sila secepatnya!” sahut Zidan yang sejak tadi mendengar mereka bicara.


Leon langsung menoleh melihat Zidan, kemudian berkata: “Hah ... bukannya ayah bilang, pernikahan kalian satu tahun lagi. Kau harus menyelesaikan kuliah hukummu itu, kan?”


“Iya, tapi kalau aku menunggu sampai satu tahun. Itu lama sekali. Bagaimana kalau Sila hamil? Dan Sila semakin menjauhiku!” jawab Zidan yang terlihat khawatir jika saja perkataannya benar.


“Kalau begitu, kau katakan saja padanya kalau kau mencintainya, baru kau lamar dia!” sahut Ben.


“Aku sudah bilang cinta saat kami mau melangsungkan pertunangan dulu! Kenapa harus mengatakan itu lagi?” kata Zidan.


“Itu masih belum cukup Zidan, karena dia baru saja mengalami kejadian yang membuatnya tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Dia masih butuh penjelasan darimu. Kalau kau langsung melamarnya, itu hanya membuat dia berpikir kalau kau hanya kasihan padanya. Dan pastinya dia tidak akan menerimamu. Aku tahu, Sila itu orang yang keras kepala. Benar, kan?” sahut Leon.


Saila dan Riana yang sejak tadi berada jauh dari mereka, datang menghampiri mereka bertiga.


“Apa sih yang kalian bicarakan sejak tadi? Ini sudah waktunya makan siang. Ayo ... kita makan dulu, baru jalan – jalan ke pantai!” kata Saila saat ia sudah berdiri di depan ketiga pria itu bersama Riana.

__ADS_1


“Kalian duluan saja. Aku mau melihat Sila dulu!” kata Zidan saat ia sudah berdiri dari sofa bersama Leon.


“Baiklah, panggil Sila turun ya, Kak. Kami semua tunggu di meja makan. Setelah itu, kita ke pantai. Kalau menjelang sore, pemandangan pantai disini sangat indah!” kata Saila.


“Oke!” balas Zidan sambil tersenyum.


Zidan pun berjalan menaiki tangga untuk menghampiri Sila. Sementara Saila, Leon dan kedua temannya berjalan menuju meja makan.


Mereka semua berjalan menuju meja makannya bersama – sama dan duduk di sana. Terlihat Sila dan Zidan yang baru saja turun dari lantai atas untuk datang menghampiri mereka. Mereka makan siang bersama – sama dengan banyak makanan yang sudah di sediakan di atas meja makan.


Selesai makan siang, mereka keluar dari Villa dan berjalan bersama menuju pantai yang terlihat tepat berhadapan dengan Villa mereka.


Mereka semua terlihat sangat senang bisa bermain di pinggir pantai. Terkecuali Sila yang hanya duduk di pinggir pantai menatap mereka yang asyik bermain air.


Zidan mendatanginya, dan duduk di samping Sila yang larut dalam lamunannya.


“Apa yang kau pikirkan. Apa kau tidak suka disini?” tanya Zidan menoleh ke samping melihat Sila.


Sila tidak menjawab dan hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datarnya.


“Katakan, apa yang kau inginkan. Aku pasti bisa mengabulkan semua keinginanmu itu!” kata Zidan tersenyum.


“Sila, katakanlah sesuatu!” kata Zidan yang kembali mengajak Sila bicara.


Seketika Sila berdiri dari sana. Ia tidak suka mendengar Zidan terus bicara padanya.


Zidan ikut berdiri saat ia melihat Sila berdiri di sampingnya. Ia menarik tangan Sila ketika gadis itu berbalik meninggalkannya.


Secara refleks Sila berbalik dan menampar Zidan dengan keras sampai ke empat orang yang asyik bermain dan tertawa di sana tadi, langsung berhenti melihat Sila yang baru saja menampar Zidan.


“Jangan sentuh aku. Pergi. Aku tidak mau melihatmu!” teriak Sila yang terlihat gemetar melihat Zidan.


Sila langsung berlari meninggalkan pantai setelah ia meneriaki Zidan. Leon dan Saila mendatangi Zidan begitu juga dengan Ben dan Riana yang ikut berjalan menghampiri Zidan.


“Ada apa. Kenapa Sila menamparmu?” tanya Leon melihat Zidan dengan serius.


Zidan malah tersenyum ketika mendengar pertanyaan Leon.


“Ada apa denganmu Kak Zidan? Kenapa kau malah tersenyum?” sahut Saila menatap Zidan dengan heran.

__ADS_1


“Meskipun di tampar, dan di teriaki Sila. Itu jauh lebih baik daripada dia diam terus dan tidak menjawabku!” jawab Zidan.


“Apa Kak Zidan tidak waras?” sahut Riana.


Zidan menoleh ke samping melihat Riana yang berdiri di sampingnya, kemudian berkata: “Kau tidak mengerti Ri. Aku lebih suka dia kasar daripada diam seperti orang bodoh. Aku sebaiknya menyusul dia sekarang!”


“Biar aku saja yang menyusulnya kak. Mungkin dia butuh aku!” sahut Saila.


“Iya, aku akan pergi bersama Saila menyusul Sila. Mungkin dia butuh kami sekarang!” sambung Riana.


“Baiklah!” balas Zidan.


Saila dan Riana pun berjalan menghampiri Sila yang kini berada di kamarnya.


Saat mereka berdua sudah berada di depan pintu kamar Sila, Saila dan Riana langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Mereka langsung duduk di samping Sila yang saat itu duduk di sofa dengan ekspresi datarnya.


“Sila, kenapa kau menampar Zidan tadi?” tanya Saila yang saat itu duduk di samping kiri Sila.


Sila menoleh melihat Saila sebentar, kemudian kembali menatap ke depan tanpa menjawab pertanyaan Saila.


“Sila, aku tahu kau masih memikirkan kejadian David, tapi ... Kak Zidan sama sekali tidak bersalah. Kau tidak bisa melampiaskan amarahmu padanya!” sahut Riana memegang bahu kanan Sila, menatapnya dengan sedih. Saat itu, ia duduk di samping kanan Sila.


Sila terlihat gemetar ketika Riana menyebut nama David. Kedua tangannya saling menggenggam erat ketakutan. Saila langsung memegang tangan Sila yang gemetar dengan kedua tangannya.


“Apa kau takut kalau Kak Zidan sama seperti David?” tanya Saila.


Sila langsung menoleh, kemudian berkata: “Tidak, bukan seperti itu Saila!”


“Lalu apa yang membuatmu menghindari Kak Zidan. Apa, Sila?” tanya Saila dengan wajahnya yang sedih melihat Sila.


“Saila ... aku tidak bisa menikah dengan Zidan. Aku tidak bisa memberikannya apa – apa. Tidak ada yang tersisa lagi. Semuanya hancur ... hiks ... hiks ... hiks!” kata Sila yang seketika menangis.


Saila langsung memeluk saudara kembarnya saat ia melihat Sila menangis, kemudian berkata: “Sila ... biar bagaimana pun Zidan sudah menjadi bagian dari hidupmu. Kau harus mengatakan padanya, apa yang kau rasakan sekarang? Kau harus perjelas hubunganmu dengan Kak Zidan. Jangan diamkan dia seperti itu!”


Sila mengangguk di pelukan Saila. “Iya, aku tahu!” kata Sila yang masih menangis di pelukan Saila.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2