Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Menjemput Alice


__ADS_3

Keesokan harinya,


"Sebentar lagi aku akan berangkat ke panti asuhan itu.


Apa kau yakin tidak ikut bersamaku?"


"Tidak.


Aku akan menunggu di rumah."


"Baiklah sayang.


Aku pergi."


Mario mencium kening Marine dan kemudian masuk ke dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, Mario dan beberapa pengawal telah sampai di depan panti asuhan Kasih, dimana Alice tinggal.


"Selamat Pagi Pak.


Ada yang ingin saya bantu?"


"Apa benar anak perempuan yang bernama Alice Brielle tinggal di panti asuhan ini?"


Sonya cukup terkejut dengan pertanyaan pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Benar Pak.


Dia sudah berada di panti asuhan ini selama 4 tahun lamanya.


Tapi Alice.."


"Kami akan membawa Alice pulang bersama kami."


"Saya tidak mengerti maksud perkataan Bapak barusan.


Perlu Bapak ketahui bahwa Ibunya Alice menitipkan Alice di sini dan berjanji akan menjemputnya.


Kami tidak akan memberikan Alice pada siapapun sampai Ibu Sera datang."


Mario memahami kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Sonya.


"Ibu tidak perlu khawatir.


Saya Mario Lauren Dakota, Menantu dari Leonardo Dakota."


Sonya mengerutkan keningnya.


Sepertinya ia pernah mendengar nama itu.


"Saya juga adalah Paman kandung Alice.


Dia anak Adik Ipar saya, Raphael Dakota."


"Apa?


Maaf atas keterkejutan saya Pak.


Tapi saya sudah berjanji dengan Ibu Sera sebelumnya."


"Alice adalah keluarga kami Bu.


Kami tidak akan membiarkannya tinggal di sini sendiri.


Saat Sera kembali nanti, kami akan memberitahu Sera soal itu.


Kami juga akan membawa Sera pulang bersama kami."


"Baiklah kalau begitu Pak.


Tapi saya yakin Alice akan terkejut dengan semua itu.


Saya takut dia tidak terbiasa tinggal di sana."


Mario tersenyum.


"Ibu tenang saja.


Kami akan menjaga dan merawat Alice dengan sangat baik.


Alice tinggal di rumah keluarganya sendiri.


Tentu tidak akan ada seorangpun yang akan menyakitinya.


Kami akan memberikan kasih sayang pada Alice, sama seperti ia tinggal di sini."


"Baiklah Pak.


Saya sangat lega mendengarnya.


Sebentar saya panggilkan Alice."


Sonya kemudian mendatangi Alice yang sedang berada di dalam kamarnya.


Anak itu sedang menggambar.


Gambar yang berisi dirinya dan kedua orang tuanya.


Sonya tersenyum.

__ADS_1


Ia kemudian mengelus kepala Alice dengan lembut.


"Sayang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."


"Siapa Bu?"


"Keluargamu datang untuk menjemputmu sayang?"


"Ayah dan Ibu datang menjemput Alice Bu?


Benarkah itu Bu?"


Alice menatap Sonya dengan nada kegirangan.


Sonya hanya diam.


Ia tidak tega jika harus memberitahu Alice yang sebenarnya.


"Ayo kita menemui mereka Bu.


Alice akan menunjukkan gambar ini pada mereka."


Alice kemudian menarik tangan Sonya keluar dari kamar.


Alice begitu semangat untuk bertemu kedua orang tuanya.


"Ibu Sonya, dimana Ayah dan Ibuku?"


"Mereka ada di sana sayang."


Sonya kemudian menggendong Alice dan membawanya pada Mario yang sedang menunggu.


Sonya kemudian menurunkan Alice.


Alice perlahan mendekati Mario yang berada di hadapannya.


"Apa dia adalah Ayahku?


Tidak, dia berbeda dengan gambar yang berada di liontinku.


Dimana Ayah dan Ibuku Bu?"


Mario menatap Alice dengan kebingungan.


Ia kemudian berdiri sejajar dengan Alice dan kemudian tersenyum.


Alice benar-benar mirip dengan Raphael.


Ia yakin Alice adalah anak Raphael.


"Sayang, aku adalah Pamanmu.


Paman datang ke sini untuk menjemputmu pulang sayang."


"Hai Paman.


Aku Alice."


Alice memberikan senyuman manis pada Mario.


"Kamu anak yang sangat baik."


Mario mengelus kepala Alice dengan lembut dan kemudian mensejajarnya tingginya dengan Alice.


"Dimana Ayah dan Ibuku Paman?


Mengapa tidak ikut menjemputku ke sini?"


Mario menatap Sonya sekilas.


"Mereka sangat sibuk sayang.


Jadi Paman yang menjemputmu pulang.


Kau mau kan pulang bersama Paman?"


Alice kemudian menganggukkan kepalanya.


"Kalau Alice ikut Paman, apa itu artinya Alice tidak akan kembali ke sini?


Alice tidak akan bertemu dengan Ibu Sonya?"


Wajah Alice perlahan berubah menjadi murung.


Sonya kemudian mendekat pada Alice.


"Sayang, tentu Alice bisa datang lagi ke sini dan bertemu dengan Ibu.


Mengapa wajah Alice murung seperti itu?


Bukankah harusnya Alice bahagia akan bertemu dengan keluarga?"


"Tapi Alice akan begitu merindukan Ibu."


ucap Alice dengan mata berkaca-kaca.


"Alice bisa datang ke sini kapanpun Alice mau."


"Benarkah Bu?"

__ADS_1


Sonya mengangguk yakin.


"Hem."


Sonya kemudian menghapus air mata Alice.


"Alice harus berjanji pada Ibu kalau Alice tidak akan bersedih lagi."


"Alice berjanji Bu."


"Bagus.


Alice memang anak yang sangat baik."


"Sekarang, waktunya Alice berangkat.


Paman Mario sudah menunggu."


Alice kemudian perlahan menghampiri Mario.


Ia menengok ke arah Sonya lagi.


Alice kembali meneteskan air matanya.


"Pergilah sayang.."


ucap Sonya dengan nada bergetar.


Sebenarnya dirinya juga tidak ingin Alice pergi.


Tapi ia harus membiarkan Alice bahagia.


Mario kemudian membawa Alice masuk ke dalam mobil.


Barang-barang Alice juga sudah dibawa oleh Supir.


Setelah itu, ia menghampiri Sonya yang masih berada di depan gerbang.


"Terima kasih telah merawat dan menjaga Alice dengan sangat baik Bu."


"Sama-sama Pak.


Saya sangat senang melakukannya.


Alice sudah saya anggap seperti anak saya sendiri."


"Perlu Ibu ketahui bahwa sebenarnya Raphael telah meninggal dunia."


Sonya begitu terkejut mendengar penuturan Mario.


Ia kemudian menutup mulutnya.


Alice akan begitu sedih saat mengetahui kebenarannya nanti.


"Tapi Alice selama ini mengira bahwa Ayahnya masih hidup Pak.


Bahkan Bapak tadi mengatakan padanya bahwa Ayahnya tengah menunggunya di rumah.


Ia akan sedih saat mengetahuinya."


"Iya saya tahu Bu.


Saya akan menjelaskannya pada Alice setelah sampai di rumah nanti."


"Saya mohon jangan biarkan ia sendirian Pak.


Di balik sikap cerianya, Alice adalah anak yang begitu rapuh.


Maklum, karena ia tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya."


"Baik Bu.


Kami akan menyayangi Alice seperti Putri kami sendiri.


Sekarang kami akan berangkat Bu.


Saya izin pada Ibu."


"Baik Pak.


Hati-hati di jalan Pak."


Mario tersenyum dan kemudian meninggalkan Sonya.


Mobil melaju setelah Mario masuk ke dalam mobil.


Sementara Alice masih menengok ke belakang sambil melambaikan tangannya pada Sonya.


Sonya meneteskan air matanya melihat Alice memandangnya dengan tatapan sedih.


Mendengar bahwa Ayah Alice ternyata sudah meninggal dunia, membuat Sonya sangat khawatir dengan Alice nantinya.


Gadis kecil itu pasti sedih saat mendengar kebenarannya.


Ia berharap Keluarga Dakota bisa memberikan kasih sayang penuh pada Alice.


“Kau harus bahagia sayang..”


ucap Sonya dengan nada bergetar.

__ADS_1


__ADS_2