
Setelah mandi, Alice langsung minum obat agar kondisinya lebih baik.
Setelah merasa baikan, Alice langsung memasak makan malam untuk Ell.
Waktu yang dimilikinya untuk masak masih panjang sebelum Ell pulang dari kantor.
Tiba-tiba ucapan Brein tadi kembali muncul di pikiran Alice.
Alice menghentikan kegiatan memasaknya sebentar.
"Kak Brein sepertinya memang pria yang baik. Dia begitu peduli walaupun kami baru mengenal."
Alice kemudian kembali melanjutkan kegiatannya.
Satu jam kemudian masakan Alice sudah matang.
Ia kemudian menghidangkan semuanya di meja makan sambil menunggu Alice pulang dari kantor.
Tiba-tiba Alice mendengar suara pintu terbuka.
Dan ia meyakini Ell sudah pulang dari kantor.
Dugaan Alice benar, Ell sudah pulang kantor.
Seketika keduanya saling bertatapan.
Ell kemudian melihat ke arah makanan yang berada di atas meja makan.
"Bibi kembali menitipkan makanan untuk kita Kak.
Pak Ransen tadi mengantarnya kemari.
Jadi aku tinggal menghangatkannya saja."
"Aku sudah makan malam.
Kakak makanlah setelah mandi."
Alice tersenyum sekilas dan kemudian pergi dari sana.
Alice masuk ke dalam kamarnya dan kemudian bersandar di pintu kamarnya.
Dadanya kembali sesak setiap kali mengingat perkataan Ell siang tadi.
Alice kemudian menghusap dadanya.
"Kau tidak boleh menyerah Alice.
Seperti biasa, kau bisa menghadapi semuanya dengan sendiri.
Kau hanya perlu bertahan sampai Ibu datang menjemputmu.
__ADS_1
Ya, aku bisa menghadapinya."
ucap Alice, berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Alice kemudian menggenggam erat liontinnya.
"Aku hanya berharap dimanapun Ibu berada saat ini, Ibu baik-baik saja dan selalu sehat."
Di tempat lain, Brein sedang mendapat panggilan dari seseorang.
"Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Bibi Seraphine?"
"Maaf Pak.
Sampai sekarang kami belum mengetahui dimana keberadaan Beliau.
Kami akan berusaha mencari kembali Pak."
"Baik, lanjutkan pencarian kalian.
Segera beritahu aku jika ada kabar atau informasi terbaru mengenai Bibi Seraphine."
Brein langsung memutus panggilannya.
Selama ini ia memang melakukan pencarian terhadap Seraphine.
Ibunya bahkan sudah mencari keberadaan Seraphine sejak wanita itu menghilang dan tidak ada kabar sama sekali.
Hari dimana Seraphine akan menitipkan Alice, Hana sudah menunggu kedatangan mereka.
Hal itu membuat Hana begitu khawatir dengan Sera dan Alice.
Dengan bantuan Suaminya, ia langsung menyuruh seseorang untuk mencari tahu dimana keberadaan Sera dan Putrinya.
Namun hingga bertahun-tahun lamanya, mereka masih belum menemukan Sera.
Hana juga begitu mendukung keputusan Brein untuk kembali ke Indonesia.
Ia sendiri sudah berjanji pada Sera untuk menjaga Alice.
Dan ia setuju dengan niat Brein untuk menjaga Alice, mengetahui Alice yang sepertinya mendapat perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya.
"Aku harus bisa menemukan keberadaan Bibi Sera.
Karena hanya itu cara satu-satunya agar Alice mau pergi dari kehidupan Keluarga Dakota."
---
Alice keluar dari kamarnya dengan penuh hati-hati agar Ell tidak terbangun.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan ia yakin bahwa saat ini Ell sudah tidur.
__ADS_1
Alice melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Ia sangat lapar karena sebenarnya ia sama sekali belum makan malam tadi.
Ia berbohong pada Ell agar Pria itu bisa makan sendirian tanpa kehadirannya di sana.
Alice mengambil piring dan memasukkan nasi beserta lauk ke dalam piringnya.
Ia menggeser kursi dengan perlahan dan kemudian duduk di meja makan.
Alice kemudian menikmati makannnya.
Namun kenyataannya berbanding terbalik.
Ell sama sekali belum tidur karena masih harus mengerjakan pekerjaan kantor di kamarnya.
Tiba-tiba rasa haus mendera tenggorokan Ell.
Ia kemudian meninggalkan pekerjaannya sebentar untuk mengambil air minum di dapur.
Namun saat Ell membuka pintu kamarnya sedikit, ia melihat Alice sedang makan di meja makan.
Ia memutuskan menghentikan niatnya pergi ke dapur.
Ell masih berdiri di sana sambil menatap Alice yang sedang menikmati makanannya.
Ternyata Alice tadi berbohong padanya.
Ell tahu bahwa Alice sengaja melakukannya karena gadis itu tahu bahwa ia tidak menyukai kehadirannya di sana.
Dan tentu juga tidak mau makan malam bersamanya.
Ell kemudian teringat dengan perkataannya pada Alice tadi siang.
Kata-katanya terlalu kasar pada gadis itu.
Lama ia berdiri di sana hingga memutuskan untuk menutup pintu kamarnya dan kembali ke meja kerjanya.
Ell membuka kotak yang berisi cincin pernikahannya.
Setelah acara pernikahan, keesokan harinya Ell langsung melepaskan cincin itu dan kemudian menyimpannya di sana.
Ia juga sudah memutuskan untuk tidak akan mengenakan benda itu di jari tangannya karena ia begitu membenci pernikahan itu.
Ell menatap benda pipih itu.
Dulu ia selalu berharap akan mengenakan cincin yang sama dengan gadis yang dicintainya.
Namun nyatanya itu tidak terjadi.
Ia malah menikah dengan gadis yang tidak dicintainya.
__ADS_1
Dan parahnya lagi, gadis yang dicintainya itu setuju dengan pernikahan itu.
Hal itu membuatnya kembali membenci Alice bahkan semakin membencinya dari sebelumnya.