
Ell menghampiri Ayah dan Ibunya yang sedang mengobrol di ruang tamu.
"Ayah, Ibu, aku setuju untuk menikah."
"Apa?
Kau sedang tidak bercanda kan Ell?"
tanya Sergio mencoba meyakinkan.
Karena sebelumnya Ell sangat tidak ingin mengubah keputusannya.
"Aku tidak sedang bercanda Ayah."
ucap Ell dengan nada serius.
"Itu bagus Ell.
Ayah sangat senang mendengarnya.
Kau mengambil keputusan yang tepat."
Ell kemudian langsung kembali ke kamarnya.
Laura beranjak dari duduknya, mengikuti Ell dari belakang.
Alasan apa yang membuat Ell mengubah keputusannya?
Ia khawatir dengan Putranya itu.
"Ell.."
panggil Laura dari belakang.
Langkah Ell terhenti setelah mendengar suara Ibunya dari belakang.
Laura kemudian melangkah ke depan dan berhadapan dengan Ell.
"Ell, apa yang membuatmu berubah sayang?
Ibu begitu mengenalmu dengan baik.
Sebelumnya kau juga menentang pernikahanmu dengan Alice."
"Bukankah Ibu dan anggota keluarga yang lain ingin aku menikah dengan Alice?
Aku tidak memiliki alasan lain Ibu."
Laura mengelus pipi Ell dengan lembut.
"Ell, Ibu tahu bagaimana perasaanmu.
Maafkan Ibu sayang."
"Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan Ibu."
"Hem, Ibu tahu Ell.
Terima kasih telah menyetujui pernikahan kalian.
Jika keadaan sudah membaik, kau dan Alice boleh berpisah dalam jangka waktu dekat."
Ell hanya diam mendengar pernyataan Ibunya mengenai pernikahannya dengan Alice.
Entahlah, hanya saja ia tidak mau tahu soal itu.
Ia hanya melakukan permintaan Kate padanya.
Seandainya Kate melarangnya untuk menikah, maka ia tidak akan pernah menyetujui pernikahan itu.
--
Setelah mendengar keputusan Ell yang akhirnya setuju untuk menikah, semua anggota keluarga kembali berkumpul untuk membicarakan rencana kedepannya.
Alice hanya bisa menundukkan kepalanya.
Ia begitu terkejut mendengar bahwa Ell setuju untuk menikah.
Rasa bersalahnya juga semakin besar.
Ia tahu Ell pasti terpaksa menyetujuinya.
Dan Ell melakukannya demi Kakaknya, Kate.
Sungguh ia tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan orang lain.
Sementara Kate sedari tadi menatap Ell yang sedang melihat ke arah lain.
Sedari tadi Pria itu hanya memalingkan wajahnya, tanpa sedikitpun melihat ke arahnya.
Juga tidak ada senyuman maupun sapaan yang sering diberikan Ell padanya.
"Pernikahan akan dilakukan secepatnya.
Kita sudah sempat membicarakan ini sebelumnya.
Dan untuk Alice, Paman dan Bibi memintamu untuk berhenti kuliah sayang."
Deg, Alice begitu terkejut dengan pernyataan Mario barusan.
Itu artinya mimpi dan impiannya selama ini benar-benar terhenti.
Kerja keras dan perjuangannya juga berakhir dengan sia-sia.
Alice mengepal tangannya dengan erat, berusaha menahan dirinya.
Ia merasa begitu sedih.
Selama ini ia sudah cukup berkorban, dan sekarang ia harus mengorbankan impiannya juga.
"Kau berhenti kuliah untuk menghindari pergunjingan kembali muncul di kampus sayang.
Hal itu tentu akan menyakitimu, mengingat kau akan berganti status menjadi Istri Ell.
Sebagai gantinya, kau akan bekerja di perusahaan bersama Ell.
Setelah kalian berpisah, kau juga tidak perlu khawatir lagi untuk mendapatkan pekerjaan."
"Bagaimana Alice?
Kau setuju sayang?
Kau bisa menolaknya jika kau tidak setuju dengan permintaan Paman dan Bibi."
ucap Laura.
Ia tidak mau harus mengorbankan perasaan Ell dan Alice lagi.
Hal itu pasti membuat keduanya terluka.
Alice terdiam sejenak.
"Aku lebih baik berhenti kuliah Bi."
"Kau yakin Alice?"
tanya Laura lagi.
Alice perlahan menganggukkan kepalanya.
"Itu pilihan yang sangat bagus."
ucap Marine dengan tatapan tidak suka.
"Baiklah, sekarang waktunya kita menentukan kapan pernikahan Ell dengan Alice."
"Aku rasa lebih cepat lebih baik agar masalah juga cepat selesai."
ucap Sergio.
"Bagaimana jika minggu depan saja?"
"Aku dan Laura setuju saja."
ucap Sergio.
"Bagaimana denganmu sayang?"
tanya Mario pada Marine.
"Entahlah, kalian saja yang menentukan."
__ADS_1
Marine memasang raut wajah malas.
Sedari awal ia memang tidak setuju dengan pernikahan itu.
"Mungkin kau bisa tanyakan calon pengantinnya Mario."
"Kau benar.
Ell, Alice apa kalian berdua setuju pernikahan dilaksanakan minggu depan?"
Alice melihat ke arah Ell.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku setuju Paman."
ucap Ell.
Semua orang cukup terkejut dengan pernyataan Ell.
Kate hanya bisa menatap ke arah Ell dengan tatapan sedih.
Sementara Alice, ia tidak tahu harus melakukan apa kedepannya.
Pernikahan itu pasti memberatkan dirinya dan Ell.
Apalagi dengan kebencian yang dimiliki Pria itu padanya.
Kebencian Ell terlihat setiap kali bertemu dengannya.
Tatapan dingin selalu terpancar di wajah Ell.
Bahkan lebih dingin dari sebelumnya.
"Dan Alice?"
"Aku juga setuju Paman."
Alice ikut mengiyakan hal itu.
Karena ia juga sama sekali tidak punya pilihan lain setelah mendengar pernyataan Ell.
"Hem, baiklah.
Kalau begitu, pernikahan akan dilakukan minggu depan secara tertutup dan hanya dihadiri keluarga serta beberapa kolega kita.
Namun media akan mengetahui hal tersebut.
Semua persiapan akan segera diselesaikan dalam jangka waktu dekat.
Ell dan Alice hanya perlu mempersiapkan diri saja.
Dan tambahan, besok kalian harus memilih baju pernikahan.
Paman sudah menghubungi pihak yang khusus menyediakan baju pernikahan untuk kalian berdua."
Alice menatap Ell yang menatap lurus ke depan dengan tatapan datar.
(Apa yang harus aku lakukan Tuhan?
Kak Ell pasti sangat membenciku.
Pernikahan itu, bagaimana mana aku bisa menghadapinya nanti?)
--
Setelah selesai membicarakan persiapan pernikahan, Ell langsung meninggalkan kediaman Keluarga Dakota.
Saat ingin mencapai pintu keluar, Kate menghentikan langkah kaki Ell.
Gadis itu menarik tangannya.
"Ell..."
ucap Kate.
Ell menghadap Kate dan menatap gadis itu dengan tatapan datar.
"Aku tahu kau marah padaku.
Kau terpaksa melakukannya karena aku kan?
Maafkan aku Ell.
Aku memintamu melakukan itu untuk kebaikan keluarga kita."
ucap Kate dengan raut wajah merasa bersalah."
"Aku sama sekali tidak melakukannya untumu Kate.
Aku melakukan apa yang memang harus aku lakukan.
Masalah itu juga terjadi atas kesalahanku.
Aku hanya mencoba memperbaikinya."
ucap Ell datar dan dengan mata menatap ke arah lain.
"Ell, kau tidak perlu berbohong.
Aku mohon jangan mengacuhkanku seperti ini."
Kate menatap Ell dengan tatapan memohon.
Sungguh ia begitu tersiksa dengan sikap acuh Ell pada dirinya.
"Aku tidak berbohong Kate.
Kau juga tidak perlu merasa bersalah."
"Ell..."
Kate memegang Ell berusaha membuat pria itu kembali seperti sebelumnya.
"Aku harus pergi Kate."
Ell melepaskan tangan Kate dan kemudian pergi meninggalkan gadis itu.
Kate menatap punggung Ell dengan tatapan sedih.
Ini pertama kalinya Ell memperlakukannya seperti itu.
Bahkan biasanya Ell tidak bisa melihat kesedihan di wajahnya.
Dan sekarang semuanya jauh berubah.
Ell pasti sangat membencinya.
--
Keesokan harinya, Alice bersiap-siap pergi ke butik yang akan menyediakan baju pernikahan untuknya dan Ell.
Ada rasa tegang dirasakan oleh Alice, mengingat bahwa disana ia akan memilih baju pernikahan bersama Ell.
Ia masih belum bisa menghadapi pria itu.
Tapi bagaimanapun perlakuan pria itu nantinya, ia harus bisa melaluinya.
Untungnya Alice tidak berangkat ke sana bersama Ell karena pria itu harus pergi ke kantor sebentar dan akan menyusul setelah pekerjaannya selesai.
Alice telah sampai di butik yang ia tuju.
Saat masuk ke dalam sana, ia disambut dengan begitu antusias.
"Halo Nona Alice.
Perkenalkan saya Nore, saya pemilik butik ini.
Pak Mario sudah memberitahu saya bahwa Nona dan Tuan Ell akan datang hari ini untuk memilih baju pernikahan.
Kami sudah menyediakan banyak pilihan untuk anda berdua.
Ngomong-ngomong, dimana Tuan Ell?
Saya belum melihat beliau."
"Kak Ell sedang ada pekerjaan penting di kantor Bu."
Beliau nanti akan menyusul ke sini."
"Oh benarkah?
__ADS_1
Baiklah Nona.
Kalau begitu, Nona bisa melihat beberapa pilihan yang telah kami sediakan."
Nore, sang pemilik butik mengantar Alice melihat pilihan baju pengantin untuk dirinya dan Ell.
"Kami telah menyediakan banyak pilihan untuk Nona dan Tuan Elll.
Saya rasa Nona akan terlihat begitu cantik saat memakai salah satunya."
Mata Alice menangkap salah satu gaun pengantin yang begitu indah yang berada tapat di hadapannya.
Ia tidak bisa memalingkan pandangannya dari gaun itu.
Alice tersenyum.
"Boleh aku mencoba yang itu?"
Alice menunjuk ke arah gaun tadi.
"Tentu saja Nona.
Pilihan anda sangat tepat.
Mari saya antarkan agar Nona dibantu oleh salah satu staff kami."
Alice menganggukkan kepalanya.
Ia kemudian dibawa menuju ruang ganti.
Disana ia dibantu memakaikan gaun pengantinnya.
Alice terpukau dengan penampilan dirinya yang terlihat pada cermin besar di hadapannya.
Rambutnya sudah digulung menggunakan veil.
Alice juga melepas kacamatanya.
Ditambah gaun yang ia gunakan melekat pas di tubuhnya.
"Anda terlihat begitu cantik Nona.
Gaun ini sangat pas di tubuh indah Nona."
ucap Staff itu dengan tatapan terpukaunya.
Alice tersenyum.
"Terima kasih."
"Calon Suami Nona juga pasti akan terpukau dengan penampilan anda."
Raut wajah Alice berubah seketika.
(Hal itu tidak akan pernah terjadi.
Semua orang mungkin bisa terpukau dengan penampilanku, tapi tidak untuk Kak Ell.)
Alice kemudian teringat saat malam acara kelulusan SMA waktu itu.
Ell menilai penampilannya terlihat biasa saja.
Saat itu bahkan sekarang ia masih sedih karena hal itu.
(Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Mengapa aku merasakan hal seperti itu pada Kak Ell?)
Alice kemudian menggelengkan kepalanya.
(Tidak, aku tidak boleh seperti itu.)
Alice kemudian keluar dari ruang ganti.
Di saat bersamaan Ell sudah datang dan sedang mengobrol dengan pemilik butik yang sedang menunggu di luar.
Pandangan mereka langsung tertuju pada Alice yang baru saja keluar.
Mata Alice dan Ell saling bertatapan.
Ell kemudian mengalihkan pandangannya pada sang pemilik butik.
"Aku akan mencoba pakaianku."
ucapnya datar dan kemudian berjalan menuju ruang ganti.
Nore kemudiaan menghampiri Alice.
"Saya sudah menduga bahwa gaun ini pasti sangat cocok untuk Nona.
Nona tampak cantik walau tidak menggunakan riasan sedikitpun.
"Terima kasih Bu."
"Sekarang kita tinggal menunggu Tuan Ell keluar.
Saya yakin Tuan Ell juga terlihat begitu tampan menggunakan tuxedo yang sesuai dengan gaun pengantin Nona."
Beberapa saat kemudian, Ell keluar dari ruang ganti.
Ell juga terlihat begitu tampan dengan setelan tuxedo bewarna hitam.
Alice menatap ke arah Ell sekilas dan langsung menundukkan kepalanya.
Ia tidak berani menatap mata Ell.
Sang pemilik toko dan juga semua staff yang ada di sana terpukau melihat penampilan Ell dan Alice.
Mereka berpikir keduanya sangat serasi.
"Wah, kalian berdua sangat serasi satu sama lain.
Kami semua di sini sangat senang sekaligus terharu."
Ell tidak berekspresi apapun mendengar pujian itu.
Ia bahkan menganggap hal itu tidak ada artinya.
"Baiklah, setelah ini kita lanjutkan dengan pemotretan untuk foto pernikahan.
Tapi sebelumnya kami akan merias Tuan dan Nona."
"Tidak perlu.
Aku sama sekali tidak punya waktu untuk itu
Setelah ini aku juga harus kembali ke kantor."
ucap Ell dengan nada datarnya.
Alice perlahan menaikkan wajahnya, menatap Ell yang sedang menatap lurus ke depan dengan tangan masuk ke dalam sakunya.
"Tapi Tuan, Tuan Mario sebelumnya meminta saya untuk membantu Nona Alice dan Tuan melakukan pemotretan pernikahan.
"Aku bisa menjelaskan hal itu nanti pada Paman.
Ada pekerjaan penting menungguku.
Aku harus segera pergi.
Ell kemudian kembali masuk ke ruang ganti.
Tidak lama, Ell keluar dan langsung berjalan menuju pintu keluar.
Ell pergi tanpa berkata sedikitpun.
Alice menatap kepergian Ell dengan tatapan senduh.
Perkataan Ell tadi menyiaratkan bahwa ia sama sekali tidak penting untuk pria itu.
Bahkan sedari tadi wajah itu menunjukkan raut kemarahan.
"Apa Nona tidak apa-apa?"
tanya Nore.
"Aku tidak apa-apa Bu."
"Walaupun tidak ada pemotretan, bisa saya yakinkan bahwa Nona dan Tuan Ell adalah pasangan yang sangat serasi."
Ell hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan Nore.
__ADS_1
Walaupun kenyataannya sangat berbanding terbalik.