
Brein dan Alice kembali ke ruangan.
Sementara Kate sedang mengikuti Ell dari belakang yang tanpa berniat menunggunya.
Celine yang berjalan menuju ke ruangannya pun terkejut dengan raut wajah Ell yang tampak sangat kesal.
Kate hanya melalui Celine begitu saja dan masuk ke ruangan Ell.
"Nona Kate datang lagi?
Aku heran dengan mereka.
Apa jangan-jangan wanita yang sebenarnya dicintai Pak Ell adalah Nona Kate?
Aku juga sempat mendengar kabar dari orang-orang bahwa pernikahan Pak Ell dan Nona Alice adalah karena terpaksa.
Kalau memang benar seperti itu, aku kasihan pada Nona Alice.
Rasanya akan sangat sakit jika berada di dalam pernikahan tanpa cinta."
Celine menghela napas.
Pantas saja ia tidak pernah melihat kemesraan di antara Ell dan Alice.
Malah menurutnya Ell memiliki hubungan yang jauh lebih dekat dengan Kate ketimbang dengan Istrinya.
Ell berdiri dan menatap ke arah luar ruangannya.
Kate perlahan mulai mendekati Ell.
"Ell, kau marah padaku?
Kenapa tiba-tiba kau diam dan menjauh dariku seperti ini?"
Ell menutup kedua matanya sebentar.
Jujur ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kate.
"Aku tidak marah padamu Kate."
ucap Ell dengan nada rendah.
"Kalau begitu, kenapa kau seperti ini?
Aku bisa melihat kau sedang marah dan kesal saat ini.
Tapi aku tidak tahu apa masalahnya."
ucap Kate dengan nada frustasi.
Ell kemudian membalikkan badannya dan menatap wajah Kate yang terlihat begitu khawatir.
"Aku tidak marah padamu Kate."
Ell mengulang kembali kalimatnya.
"Kalau begitu, kau punya masalah dengan Kak Brein?"
Ell melihat ke arah lain.
"Aku juga tidak ada masalah dengannya."
Ell kembali menatap Kate.
"Aku hanya memliki sedikit masalah pekerjaan.
Maafkan aku jika itu membuatmu khawatir."
Kate kemudian memeluk Ell.
"Aku takut kau marah lagi padaku Ell.
Sejak kita berbaikan, rasanya aku tidak mau membuat kesalahan baru yang membuatmu kesal ataupun marah.
Kita tumbuh bersama dan tidak pernah berpisah.
Dan aku ingin kita bersama selamanya seperti ini."
Kate semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Sementara Ell hanya diam dan tidak seperti biasanya, ia tidak membalas pelukan Kate.
--
Di dalam ruangan, Alice mengirimkan pesan pada Brein.
Sedari tadi Alice merasa gelisah melihat perubahan raut wajah Ell saat di mobil tadi.
Jujur ia begitu khawatir dengan Ell.
Mungkin Brein tahu apa yang membuat Ell seperti itu.
Brein membaca pesan Alice.
Kak Brein,
Apa telah terjadi sesuatu pada Kak Ell?
Brein menatap layar handphonenya.
Ia tidak mungkin memberitahu Alice yang sebenarnya.
Akan terlalu cepat jika gadis itu mengetahui perasaannya.
Tidak ada apapun terjadi pada Ell Alice.
Menurutku Ell bersikap seperti biasa.
Alice membaca pesan Brein.
(Baiklah.
Apa ini hanya perasaanku saja?)
--
Setelah selesai mandi, Alice langsung ke dapur untuk masak makan malam.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka yang menandakan Ell sudah pulang dari kantor.
Beruntung Alice sudah selesai memasak.
Ell berjalan menuju meja makan.
Di sana ia melihat Alice sedang menghidangkan makanan.
Alice menyadari kedatangan Ell.
Ia tersenyum tatkala melihat pria itu mendekati meja makan.
Setelah semua makanan terhidang di meja makan, Alice berniat pergi dari sana.
Ia melepaskan apron pada tubuhnya dan melewati meja makan.
"Makanlah bersamaku."
Suara Ell seketika membuat langkah Alice terhenti.
Ia perlahan membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Ell yang juga menatapnya.
"Aku..."
Alice berniat mengatakan bahwa ia sudah makan.
Ia juga sangat terkejut dengan ucapan Ell barusan mengingat Ell sebelumnya tidak suka melihat kehadirannya di sana.
"Aku tahu kau belum makan.
Makanlah bersamaku."
Ell kembali mengulangi kalimatnya.
Namun kali ini terdengar lebih lembut.
Alice perlahan menganggukkan kepalanya dan kemudian mendekati meja makan.
Dan ia cukup terkejut saat Ell menggeser kursi yang berada di samping pria itu untuknya.
Sejujurnya ia ingin mengambil tempat duduk yang lain.
__ADS_1
Karena ia takut tidak bisa mengontrol perasaannya.
Ini juga pertama kalinya ia makan berdua dengan Ell.
"Kenapa kau selalu masak makanan kesukaanku?"
Hal itu membuat Alice terkejut bukan main.
Pasalnya ucapan Ell barusan mengartikan bahwa pria itu tahu bahwa selama ini yang masak makanan adalah dirinya.
Alice menatap Ell dengan tatapan lekat.
"Kakak tahu aku yang masak selama ini?"
"Tentu saja.
Walaupun rasanya sama, tapi aku masih membedakan mana masakan Ibuku dan mana masakan orang lain."
Lantas mengapa selama ini pria itu tidak menolak semua masakannya?
Alice sama sekali tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
Karena selama ini ia sudah menipu Ell.
"Kak, aku minta maaf.
Aku tidak bermaksud berbohong selama ini.."
Alice mencoba memberikan penjelasan.
Ia takut Ell kembali marah padanya dan semakin membencinya.
"Aku memafkanmu."
Kau lihat, apa wajahku terlihat kesal atau marah?"
Ell menunjuk ke arah wajahnya.
Alice menatap wajah Ell dengan teliti.
Benar, wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan kemarahan.
"Aku hanya bertanya, mengapa selama ini kau masak makanan kesukaanku?
Kau bisa menggantinya dengan menu lain."
Ell menatap Alice dengan tangan menopang dagu.
Hal itu membuat Alice semakin gugup.
Ia paling menghindari tatapan Ell seperti sekarang ini.
"Katakan padaku makanan apa yang kau suka", ucap Ell masih dengan tatapan yang sama.
Lidah Alice terasa keluh dan mulutnya sulit untuk mengeluarkan suara.
"Jangan bilang, kalau kau menyukai semua makanan."
Tanpa sadar, Alice tersenyum mendengar ucapan Ell barusan.
Hal itu juga membuat Ell ikut tersenyum.
"Kau bebas memasak makanan apapun.
Aku juga tidak memiliki alergi."
Alice perlahan mengangukkan kepalanya.
Ell tersenyum lagi dan kemudian mengalihkan pandangannya dari Alice.
Mereka berdua kemudian mulai menikmati makan malam.
Sesekali mereka mengobrol dan Alice menanggapi semua pembicaraannya dengan Ell.
Dan Alice begitu senang, karena Ell perlahan mulai kembali seperti dulu, saat sebelum mereka berdua menikah.
Alice sama sekali tidak berharap lebih.
Ia hanya berharap kedepannya ia bisa berhubungan dengan baik dengan Ell.
__ADS_1