Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Belajar Memasak


__ADS_3

"Alice..."


Laura begitu senang melihat kedatangan Alice kerumahnya.


Ia langsung menyambut Alice dan kemudian memeluknya dengan erat.


"Ibu begitu senang melihatmu datang kemari?


Apa kau datang bersama Ell?"


Alice tersenyum dan kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak Bi.


Maksudku Ibu.


Aku datang sendirian Bu.


Kak Ell tidak bisa datang karena sibuk."


"Anak itu memang selalu seperti itu.


Kau harus tahan dengan sifat Ell yang seperti itu Alice."


"Tidak apa-apa Bi.


Alice tahu selain kuliah, Kak Ell juga harus melakukan pekerjaan kantor."


"Padahal Ibu dan Ayah sudah memaksanya untuk tidak perlu lembur untuk melakukan pekerjaan kantor.


Oh ya, bagaimana kabarmu sayang?


Ell tidak melakukan sesuatu yang buruk kan?"


"Alice sangat baik Bi.


Kak Ell sama sekali tidak melakukan sesuatu yang buruk padaku."


Laura tersenyum.


"Syukurlah sayang.


Kalau Ell sampai melakukan hal itu padamu, Ibu tidak akan segan-segan memarahinya."


(Benar kata Kak Ell. Jika seandainya kami tinggal bersama Bibi dan Paman, mungkin Kak Ell akan jauh lebih menderita. Bibi akan meminta Kak Ell melakukan hal yang tidak disukainya. Atau bahkan mungkin memarahinya jika Kak Ell tidak melakukan apa yang Bibi minta.)


"Alice..."


Suara Laura menyadarkan Alice dari lamunannya.


"Iya Bu.."


"Kemarilah. Ibu tadi memasak banyak makanan.


Kau harus mencobanya."


Alice tersenyum dan kemudian mengikuti Bibi Laura ke dapur.


Dan benar, sudah banyak makanan terhidang di meja makan.


Laura kemudian menarik kursi untuk Alice.


Alice hanya bisa tersenyum mendapat perhatian seperti itu dari Bibi sekaligus Ibu Mertuanya.


Alice mengambil nasi dan juga lauk ke atas piringnya.


Ia kemudian menyuap makanan itu ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya sayang?


Apakah lezat?"


tanya Laura dengan penasaran.


Alice sangat menikmati makanan itu.


Ia kemudian memberikan senyuman.


"Seperti biasa, makanan ini sangat lezat Bu.


Alice sangat menyukainya."


"Oh, syukurlah sayang.


Kau bisa menghabiskan semua makanan ini kalau begitu."


Alice hanya bisa terkekeh mendengar penuturan Laura.

__ADS_1


Bagaimana bisa ia menghabiskan makanan sebanyak itu?


Perutnya tidak akan sanggup menampung semuanya.


--


"Ibu.."


"Iya sayang?"


"Terima kasih telah mengantar banyak makanan untukku dan Kak Ell setiap hari."


"Sama-sama sayang.


Ibu tahu bagaimana sifat keras kepala Ell.


Dia pasti akan menolak makan masakanmu."


(Benar yang Ibu katakan.)


Ibu, sebenarnya aku ingin belajar memasak dari Ibu.


Aku ingin bisa memasak makanan yang Ibu masak setiap harinya untuk kami.


Jadi aku sendiri bisa memasak di apartemen."


"Benarkah Alice?"


Tentu, Ibu bisa mengajarimu sayang.


Ibu begitu senang mendengarnya.


Itu artinya kau melakukan salah satu kewajibanmu sebagai seorang Istri.


Ibu akan mengajarimu."


Laura mengelus pipi Alice dengan lembut.


"Terima kasih Bu."


Alice dan Laura kemudian pergi ke dapur.


Alice mulai menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan.


Alice mengikuti resep yang diberikan oleh Laura.


Saat makanan mulai matang, Laura mencoba masakan Alice.


"Alice, rasa makanan buatanmu persis dengan buatan Bibi.


Kerja bagus sayang."


"Terima kasih banyak Bi."


Alice menarik napas lega.


Ia berharap semoga Ell bisa merasakan hal yang sama dengan Bibi Laura.


Selanjutnya ia mulai belajar memasak menu yang lain.


Tidak lupa Alice juga belajar memasak makanan kesukaan Ell.


Alice begitu senang karena ia sudah mencoba memasak semuanya dan hasilnya memuaskan.


Itu artinya ia bisa mencoba memasaknya di rumah tanpa sepengetahuan Ell.


Pria itu akan memakan masakannya walaupun tidak tahu itu buatannya.


Tidak apa-apa, yang terpenting baginya adalah bisa melihat Ell makan di rumah.


Beberapa jam kemudian, Alice meminta izin pada Laura untuk kembali ke apartemen.


"Ibu sudah meminta Bibi membungkus makanan buatanmu sayang.


Kau bisa menghidangkannya kembali di apartemen."


Laura memberikan bungkusan yang berisi makanan pada Alice.


"Terima kasih banyak Bu."


"Sama-sama sayang."


"Alice...."


Laura dan Alice melihat ke arah sumber suara.


Sergio berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Alice, kau datang sayang?


Ayah sama sekali tidak mengetahui kedatanganmu tadi."


"Sedari tadi kau hanya sibuk di ruang kerjamu Sergio.


Pantas saja kau tidak mengetahui kehadiran Alice."


Laura melipat kedua tangannya sambil menatap Suaminya dengan tatapan kesal.


"Kau benar sayang.


Maafkan aku.


Maafkan Ayah Alice."


ucap Sergio dengan nada merasa bersalah.


Aluce tersenyum.


"Tidak apa-apa Ayah."


"Oh ya Alice, mulai lusa kau sudah bisa bekerja di kantor sayang.


Ayah tahu sangat membosankan jika seharian hanya di rumah saja.


Akan lebih baik jika kau bekerja dan kau juga sudah mempunyai posisi di kantor."


Alice terdiam sejenak.


Sejujurnya ia masih enggan untuk bekerja.


Apalagi di kantor ia akan bertemu dengan orang banyak.


Hal itu membuatnya teringat dengan pesan-pesan kebencian yang diterimanya kemarin.


Tapi lagi-lagi ia sama sekali tidak punya pilihan lagi sekarang.


"Baiklah Ayah.


Lusa Alice akan datang ke kantor."


Sergio tersenyum.


"Kau tidak perlu khawatir Alice.


Ell juga ada di sana sayang."


Sergio mengelus bahu Alice.


Sergio mengerti bagaimana perasaan Alice saat ini.


Walaupun ia tidak yakin Putranya bisa melindungi Alice dari orang-orang yang ingin menyakitinya.


Alice hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Sergio.


Sebaliknya, Ell pastinya tidak akan suka melihat kehadirannya di sana


"Baiklah Ayah, Ibu.


Sekarang Alice pamit pulang."


"Hati-hati di jalan sayang.


Ayah dan Ibu menitipkan salam untuk Ell."


"Akan Alice sampaikan Ibu."


Alice memberikan senyuman hangatnya dan kemudian pergi dari sana.


Ia berjalan menuju gerbang.


Matanya kemudian melihat ke arah rumah Paman dan Bibinya.


Langkahnya terhenti.


Sekilas ia teringat dengan kejadian yang dialaminya sejak ia datang ke rumah itu.


Tanpa diduga air matanya menetes.


Alice menutup mulutnya, berusaha menahan tangisnya.


Banyak penolakan yang ia alami selama ini.


Hingga saat ini, saat dimana ia harus menikah dengan pria yang begitu membencinya.


Ia berhasil menahan semuanya dengan harapan bahwa suatu hari Ibunya akan datang menjemputnya.

__ADS_1


Dan saat waktu itu tiba, ia akan begitu bahagia.


Karena semua penderitaan dan luka yang ia alami akan hilang dengan kehadiran Ibunya di sisinya.


__ADS_2