
Alice masih termenung sambil memegang erat kalung liontinnya.
"Mengapa Ayah dan Ibu meninggalkan aku seperti ini?"
Air mata itu kembali menetes.
Sungguh jika memang kehadirannya sangat memberatkan orang lain, maka ia lebih memilih untuk pergi.
Namun pilihan itu juga tidak berada di pihaknya.
Ell melihat Alice sudah tampak lebih tenang dari sebelumnya.
Ia kemudian melangkahkan kakinya ke arah Alice.
Alice menyadari derap langkah seseorang yang berjalan ke arahnya.
Ia langsung menghapus air matanya dengan cepat.
Siapapun tidak boleh melihat keadaannya dalam seperti itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Alice begitu mengenal suara itu.
Ell pasti begitu marah melihat dirinya di sana.
Karena sebelumnya Ell sudah memperingatinya untuk tidak datang ke sana.
Alice berusaha mengatur suaranya.
Jangan sampai Ell mengetahui bahwa ia baru saja selesai menangis.
Alice berdiri dan membawa tasnya.
Posisinya membelakangi Ell agar pria itu tidak bisa melihat mata sembabnya.
"Maafkan aku Kak.
Tadi aku mencoba untuk belajar bermain basket.
Hanya saja aku selalu gagal.
Aku akhirnya sadar bahwa aku tidak akan bisa menjadi bagian dari tempat ini.
Maafkan aku."
Alice terpaksa berbohong pada Axel.
Alice kemudian melangkahkan kakinya.
Ia berniat untuk meninggalkan Ell di sana.
Ia tahu kehadirannya pasti sangat mengganggu Ell.
"Kau memang bodoh.
Aku tahu kau tidak akan pandai bermain basket."
Alice menghentikan langkahnya sejenak.
Ia kemudian menundukkan wajahnya.
Perkataan Ell memang benar adanya.
"Kemarilah, aku akan mengajarkannya padamu."
Alice begitu terkejut dengan ucapan Ell barusan.
Selama ini Ell tidak suka padanya bahkan ia tidak mau melihat Alice menampakkan wajahnya di sana.
"Apa kau tidak mendengarku?
Aku tidak bisa membiarkan ada orang yang bermain sangat buruk."
(Apa yang harus aku lakukan?
Bagaimana jika Kak Ell melihat kondisiku seperti ini?)
Ell kemudian mulai memainkan bola dan Alice bisa mendengarnya.
Alice tidak punya pilihan lagi.
Ia membalikkan badannya dan menatap ke arah Ell yang sedang menggiring bola.
Alice perlahan melangkahkan kakinya menuju lapangan basket.
Ell menyadari kedatangan Alice.
Ia kemudian langsung memberikan bola pada gadis itu.
__ADS_1
Seketika Alice begitu terkejut saat menerima bola dengan tiba-tiba.
Keduanya saling bertatapan.
Ell melihat wajah Alice yang masih diselimuti oleh sisa air mata.
Ell kemudian mengalihkan pandangannnya ke arah lain.
Seolah-olah tidak menyadari kondisi Alice.
"Pertama kau harus berdiri dengan postur tubuh yang benar."
Alice mengerutkan keningnya.
Ia kemudian mencoba instruksi yang diucapkan Ell.
Ell menghampiri Alice dan kemudian berdiri di belakangnya.
"Lututmu harus dibuka selebar bahu.
Tidak boleh terkunci seperti ini."
Alice bisa merasakan hembusan napas Ell dari belakang.
Itu artinya jarak mereka terbilang cukup dekat.
Sejujurnya saat ini ia begitu gugup.
Karena ini pertama kalinya ia berkomukasi dengan Ell seintens itu.
"Setelah itu cobalah untuk menggiring bola.
Kau harus bisa menguasai hal itu."
Selanjutnya Alice mencoba menggiring bola.
Namun sayang, tidak lama bola itu terlempar karena gerakannya yang salah.
Alice terkekeh dengan apa yang barusan dilakukannya.
Ia langsung membalikkan badannya ke arah Ell.
"Sepertinya aku melakukan gerakan yang salah Kak."
ucap Alice pada Ell.
Ell melihat senyuman di wajah Alice.
"Kau harus melakukkannya seperti ini dan ingat jangan menundukkan kepala."
Alice kembali mencobanya berulang kali.
Hingga akhirnya ia bisa menyelesaikan teknik itu dengan baik.
Selanjutnya Axel mengajarkannya teknik pertahanan dan menembak ke ring.
Awalnya sangat sulit.
Namun dengan usaha yang keras dan juga dengan kesabaran Ell akhirnya Alice perlahan bisa melakukannya walaupun belum mahir.
Paling tidak jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Sekarang kau coba mempraktekkan semua teknik yang sudah kau pelajari."
Alice melihat Ell menggiring bola.
Ia harus mengambil bola itu dari tangan Ell.
Ia langsung mendekati Ell dan berusaha merebut bola.
Namun ia gagal.
Ell langsung melempar bola masuk ke arah ring dengan cepat.
Raut wajah Alice berubah menjadi murung.
Ell sudah mencetak skor berulang kali dan ia sama sekali belum mendapatkannya.
Ell terkekeh melihat ekspresi lucu Alice.
Ia kemudian kembali membawa bola, menunggu serangan dari Alice.
Alice tersenyum dan semangatnya tumbuh kembali.
Kali ini ia harus bisa melempar bola ke arah ring.
Alice menghampiri Ell dan berusaha merebut bola.
Dan akhirnya ia berhasil membawa bola.
__ADS_1
Alice menggiring bola menuju ring dengan penuh hati-hati.
Ia tidak mau Ell berhasil merebut bola darinya.
"Aku tidak akan membiarkan Kakak merebutnya dariku."
ucap Alice dengan nada memperingati.
Ell hanya diam.
Sebenarnya ia bisa saja merebut bola itu dari Alice.
Namun ia ingin memberikan Alice kesempatan untuk memasukkan bola.
Alice kemudian melempar bola ke ring.
Dan akhirnya, bola itu masuk dengan arah yang tepat.
Hal itu membuat Alice langsung menutup mulutnya dan kemudian tersenyum bahagia.
"Apa Kakak melihatnya?
Aku bisa melakukannya Kak."
ucap Alice dengan nada riang.
Alice tampak seperti anak-anak.
Ell tersenyum melihat tingkah konyol yang ditunjukkan oleh Alice.
"Kakak tersenyum?"
tanya Alice.
Ini pertama kalinya ia melihat Ell tersenyum padanya.
Dan ia begitu bahagia.
Ucapan Alice sontak membuat Ell menghentikan senyumnya.
Ia mengarahkan pandangannya ke arah lain dan kemudian berjalan mengambil bola.
Alice hanya bisa tersenyum melihat Ell.
Paling tidak hubungan mereka sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Ia sangat mensyukurinya.
Setelah selesai bermain, Ell dan Alice duduk di kursi.
"Terima kasih karena telah mengajariku bermain basket Kak.
Aku sangat bahagia.
Akhirnya aku bisa mengetahuinya."
Alice tersenyum lagi.
Alice pikir berkat Ell, perasaannya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Ia bisa tersenyum dan juga tertawa karena Ell.
"Hem.."
ucap Ell sekilas.
Ell kemudian beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya.
Dan Alice hanya menatap punggung itu.
Sebenarnya ia masih belum ingin pergi dari sana.
Dan juga perasaannya masih belum siap untuk kembali ke rumah.
Mengingat perkataan Bibinya tadi.
Tidak disangka Ell menghentikan langkahnya tanpa berbalik.
"Apa kau ingin terus duduk di sana?"
Nada bicara Ell kembali seperti semula.
Terdengar dingin dan datar.
Namun hal itu tidak mengubah penilaian Alice terhadap Ell.
Nyatanya Ell memang pria yang baik.
Alice kemudian berdiri dan ikut pergi meninggalkan lapangan basket.
__ADS_1
Alice mengikuti langkah Ell dari belakang.