
Setelah selesai memasak makanan untuk makan malam, Alice mulai menghidangkan satu per satu makanan itu ke atas meja makan.
Alice melihat ke arah jam dinding.
Sepertinya sebentar lagi Ell akan pulang.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian Alice mendengar suara pintu dibuka.
Alice melihat ke arah sumber suara.
Tidak lama kemudian, Ell mucul dengan jas di tangannya.
Alice bersiap-siap akan memberikan senyuman pada pria itu, namun Ell tidak melihat ke arahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Senyum Alice perlahan mulai memudar.
Perkataan Brein tiba-tiba muncul di pikirannya.
Alice akhirnya menyunggingkan senyumannya.
Seperti apa yang dikatakan Brein padanya tadi sore, ia harus bersabar walaupun dalam kondisi yang sulit.
Termasuk dalam menghadapi Ell yang setiap harinya selalu bertemu dengannya.
Alice kembali menata meja makan.
Tidak lama kemudian, Alice perlahan mulai menyadari kedatangan seseorang.
Ia menaikkan wajahnya dan melihat Ell berdiri tidak jauh darinya.
Alice terkejut dengan hal itu.
Karena Ell sama sekali belum mengganti bajunya.
Kemeja bahkan dasi kantor masih melekat di tubuh pria itu.
Alice mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.
Apakah kali ini Ell akan mengatakan sesuatu lagi padanya?
Pasti ada hal yang membuat pria itu menghamprinya begitu tiba-tiba.
"Apa Kakak ingin mengatakan sesuatu padaku?"
Alice mencoba memberanikan dirinya dan menatap Ell dengan lekat.
Ia juga akan menerima apapun yang akan dikatakan Ell padanya nanti.
"Ibu Mariana tadi memberitahuku bahwa ada masalah di ruangan Divisi.
Dan itu ada hubungannya denganmu."
Raut wajah Alice seketika langsung berubah.
Alice mulai merasa gelisah setelah mendengar pernyataan Ell barusan.
Tiba-tiba ia teringat dengan kejadian tadi siang saat Sania ketumpahan kopi panas.
Apa Ell akan menyalahkannya atas kejadian itu karena telah membuat keributan di dalam ruangan?
Apa pria itu akan kembali memarahinya seperti kemarin?
"Soal Sania, aku...
Bukan aku pelakunya Kak.
Aku sama sekali tidak pernah berniat melakukan hal buruk ataupun melukainya.
__ADS_1
Aku bahkan tidak menyadari kehadirannya sat itu.
Aku...."
"Aku tahu."
Perkataan Ell membuat kalimat Alice terputus.
Alice mencoba mencari jawaban dari tatapan Ell padanya.
Apa itu berarti Ell tidak menyalahkannya?
Mengingat Ell yang sebelumnya yang sempat memperingatkannya untuk tidak membuat ulah di kantor.
"Ibu Marine sudah menceritakan semuanya padaku.
Tidak ada bukti bahwa kau yang melakukannya pada Sania."
Walaupun Ell mengakui bahwa ia tidak bersalah, Alice masih merasa takut akan kemarahan Ell padanya.
Ia masih mengingat perkataan Ell terakhir kali.
Rasanya ia tidak ingin mendengar kata-kata kasar lagi dari mulut pria itu.
"Apa Kakak marah padaku?" Alice menatap Ell dengan ragu.
Maksudku, kehadiranku yang masih baru di sana, tapi sudah membuat orang-orang di sekitarku menjadi tidak nyaman.
Maafkan aku Kak.
Hal itu pasti membuatmu terganggu.
Tapi aku akan berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan siapapun."
ucap Alice dengan kesungguhan.
Ia berusaha meyakinkan El agar pria itu tidak marah padanya.
Kau tidak bersalah.
Untuk apa kau minta maaf?
ucap Ell dengan nada yang berbeda dari biasanya.
Tentu saja hal itu membuat Alice cukup terkejut, mengingat Ell yang selalu berbicara ketus padanya dan dengan nada yang tinggi.
Namun kali ini terdengar jauh lebih baik dan sama sekali tidak menyakiti perasaan Alice.
"Aku juga tidak marah padamu."
tambah Ell dengan mata yang melihat ke arah lain.
Keduanya terdiam sejenak.
Alice juga sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
Kepalanya tertunduk sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya selanjutnya.
Apa ia harus mengucapkan terima kasih pada Ell atau mengucapkan sesuatu yang lain.
Namun saat ini ia sudah bisa bernapas dengan lega karena Ell tidak memarahinya.
Ia sangat bersyukur untuk hal itu.
Ell kemudian kembali menatap Alice yang tengah menundukkan kepalanya.
"Dan soal Brein.."
__ADS_1
Alice langsung menaikkan wajahnya dan menatap Ell saat mendengar nama Brein.
"Kakak tenang saja, aku tidak akan memberitahukan soal pernikahan pada Kak Brein."
ucap Alice seolah-olah ia tahu apa yang akan dikatakan Ell padanya soal Brein.
"Aku berjanji akan menyembunyikannya Kak" ucap Alice sekali lagi.
Ia mengucapkannya penuh dengan kesungguhan.
Walaupun cepat atau lambat Brein mungkin akan mengetahuinya sendiri.
Ell mengerutkan keningnya.
Ia sama sekali tidak berniat mengatakan apa yang dipikirkan oleh Alice.
Sebaliknya, sebenarnya ia ingin menanyakan hal lain soal Brein.
Namun niatnya itu batal akibat pemikiran Alice yang salah terhadapnya.
Alice tersenyum dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah meja makan sebentar.
Ternyata ia lupa menaruh air minum untuk Ell.
Ia kemudian berjalan ke arah dispenser dan mengisi air minum.
Sementara Ell sedari tadi menatap gerak gerik Alice yang tengah sibuk menyiapkan sesuatu di meja makan.
Setelah semua selesai, gadis itu kembali menghampirinya.
"Semuanya sudah terhidang di meja makan Kak.
Sekarang Kakak bisa makan malam."
Sama sekali tidak ada respon dari Ell.
Pria itu hanya diam dan masih menatapnya.
Seketika keduanya saling bertatapan.
Detak jantung Alice kembali berjalan tidak normal.
(Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta pada Kak Ell.
Tidak, tidak boleh Alice.
Kak Ell hanya milik Kak Kate.
Dan kau sudah mengetahui hal itu sejak awal)
Alice mulai memilin celana yang ia kenakan.
Ia kemudian memutuskan untuk mengarahkan tatapannya ke arah lain.
"Makanan sudah siap Kak.
Selamat makan."
Alice kemudian pergi meninggalkan Ell dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, Alice bersandar di pintu kamarnya sambil memegang dadanya yang masih berdegup dengan kencang.
Ia kemudian menghusapnya agar bisa kembali normal.
Sementara Ell masih berdiri di tempatnya.
Ia kemudian menatap ke arah kamar Alice.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan saat ini?
Bahkan akhir-akhir ini ia hampir tidak bisa mengenali dirinya sendiri.