Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Rencana jahat Marine


__ADS_3

Alice bahkan sulit mengatur napasnya saat ini.


Ia menutup kedua matanya dengan erat.


Ell menyentuh mulai rambutnya dan bahkan deruh napas pria itu terasa di kulir lehernya.


Apalagi gaun yang dikenakannya tidak menutupi bagian punggungnya.


Ell menyadari kegugupan Alice terlihat dari tubuhnya yang begitu kaku saat ini.


Ia tersenyum di balik tubuh Alice.


"Kau tidak apa-apa?"


Alice langsung membuka kedua matanya.


"Ti-tidak.


Aku tidak apa-apa Kak.


Apa Kakak sudah selesai melakukannya?"


"Belum, sedikit lagi.


Aku hanya tinggal menatanya agar terlihat lebih rapi."


Sementara Laura masih menatap keduanya sedari tadi.


Ia kemudian berdehem hingga membuat Ell dan Alice menyadari kehadirannya di sana.


"Ibu..."


Ell melepaskan tangannya dari kepala Alice.


Rambut Alice kebetulan sudah tertata dengan rapi.


Sementara Alice memegang erat tangannya.


Ia khawatir Laura berpikir yang tidak-tidak bahkan sampai salah paham dengan dirinya dan Ell.


"Ibu tidak tahu bahwa kau terampil menata rambut Ell.


Bahkan gulunganmu terlihat sangat sempurna.


Alice menjadi lebih cantik."


"Ibu..."


Alice langsung melihat ke arah Ell.


Tidak seharusnya ia menggunakan panggilan itu di depan Ell.


"Hem, maksudku Bibi.


Gulungan rambutku tadi terlepas dan Kak Ell membantuku Bi."


Alice berusaha menjelaskan apa yang dilihat Laura tadi.


"Benarkah?


Kau sangat perhatian pada Alice Ell.


Kalau begitu, lain kali kau harus menata rambut Ibu juga."


Laura tersenyum, berniat menggoda Ell.


"Aku tahu Ibu tidak akan memerlukan bantuanku.


Ibu sudah mempunyai penata rambut khusus."


Laura terkekeh.


"Oh, jadi kau hanya ingin menata rambut Istrimu saja?"


Ell kembali menggaruk tengkuknya.


Ia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Ibunya.


Ia kemudian sekilas melihat ke arah Alice yang berdiri di sampingnya.


Ini pertama kalinya ia bersikap bodoh dan sama sekali tidak memiliki jawaban selama hidupnya.


"Sudah Ibu hentikan.


Aku kesini ingin menanyai Ibu sesuatu.


Kemarilah."


Ell langsung menarik tangan Ibunya keluar dari kamar.


Laura hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu putranya yang menurutnya begitu menggemaskan.


Setelah Ell dan Laura pergi, Alice akhirnya bisa bernapas dengan lega.


Sedari tadi ia memang sulit bernapas dengan benar.


Beruntung Laura tidak memberikan respon negatif tadi


---


2 jam sebelum acara dimulai, semua anggota keluarga mulai bersiap-siap dan beberapa dari mereka sudah mengenakan pakaian.


Karena sebentar lagi mereka akan menyambut wartawan yang hadir.


Termasuk Kate, dirinya sudah mengenakan gaun terbaik dari Ibunya.


Ia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Ell.


Ia ingin segera mengetahui bagaimana respon Ell terhadap penampilannya malam ini.


"Sayang..."


Marine yang baru saja masuk ke dalam kamar Kate, begitu terpukau dengan penampilan Putrinya yang terlihat begitu cantik.


"Kate, kau begitu cantik sayang."


ucap Marine dengan tatapan berbinar.

__ADS_1


"Terima kasih Ibu.


Aku terlihat cantik mengenakan gaun ini."


"Tidak sayang.


Kau jauh lebih lebih cantik dari sebelumnya.


Ibu bangga padamu."


Marine kemudian memeluk Kate dan kemudian melepaskan pelukannya.


"Kau akan menjadi gadis tercantik malam ini Kate."


"Aku tidak yakin Ibu."


Marine langsung mengerutkan keningnya mendengar penuturan Kate barusan.


Siapa gadis yang bisa menandingi kecantikan Putri cantiknya?


"Ibu juga terlihat sangat cantik sampai aku merasa tidak ada apa-apanya dibanding Ibu."


Marine langsung tertawa setelah mendengar kalimat Kate.


"Ya ampun sayang.


Baiklah, Ibu juga mengakui hal itu.


Putri yang cantik terlahir dari Ibu yang cantik juga."


Kate juga akhirnya ikut tertawa.


Mereka berdua melanjukan obrolan sebelum acara dimulai.


--


Di kamar, Ell sedang mengancingi kemeja putihnya.


Setelah memasang dasinya, ia kemudian memakaikan jasnya.


Seperti biasa, Ell begitu tampan dengan setelan jas berwarna hitam yang membentuk tubuh proporsionalnya.


Matanya kemudian melihat ke cermin yang berada di hadapannya.


Berniat ingin merapikan kembali pakaiannya, namun tiba-tiba wajah Alice muncul di pikirannya.


Ia kemudian terbayang dengan penampilan Alice tadi siang.


Alice terlihat sangat cantik dan dengan beraninya ia mendekat pada gadis itu dan menggulung rambutnya yang terlepas.


Bagaimana penampilan gadis itu malam ini?


Ia penasaran walaupun ia sudah tahu bahwa Alice pasti akan mengenakan gaun yang sama malam ini.


Alice perlahan mulai tersenyum.


Tidak lama kemudian, ia tersadar dari lamunannya.


"Kau tersenyum?


Ucap Ell pada dirinya sendiri yang tergambar di cermin.


--


Sementara Alice masih bekerja di dapur.


Setelah kembali dari kamar Laura, Marine menyuruhnya lagi ke dapur untuk membantu Ibu Rihanna dan yang lainnya.


"Nona, sebaiknya Nona segera bersiap-siap.


Acara tidak lama lagi akan dimulai."


"Tapi Bu, aku tidak bisa pergi sebelum semua ini selesai."


"Nona tidak perlu khawatir.


Kami semua bisa menyelesaikan ini semua tepat waktu.


Lagian selama acara berlangsung, kami akan tetap di dapur.


Kehadiran Nona sangat penting di acara itu."


Rihanna kemudian memegang tangan Alice dan menatapnya dengan lekat, mencoba meyakinkan Alice bahwa semua akan baik-baik saja.


Alice kemudian mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah Bi.


Aku akan kembali ke kamarku dan mulai bersiap-siap."


Rihanna tersenyum dan membantu Alice melepaskan apron dari tubuhnya.


Saat berniat pergi dari dapur, Marine tiba-tiba datang menatap Alice dengan garang.


"Kau kemana?


Apa pekerjaanmu sudah selesai?


Bukankah aku sudah aku mengatakan padamu untuk tidak akan pergi sebelum semua pekerjaan di dapur selesai?"


Rihanna langsung mendekati Marine.


"Semua pekerjaan sudah hampir selesai Nyonya.


Nona Alice sudah bekerja selama berjam-jam di dapur.


Saya rasa sekarang waktunya Nona Alice bersiap-siap untuk acara malam ini Nyonya."


"Apa aku sedang meminta pendapatmu Rihanna?


Bersikaplah sesuai dengan posisimu di rumah ini."


Ucap Marine dengan tatapan yang sama.


Alice menatap Rihanna dengan kasihan.


Ia tidak mau Rihanna mendapat masalah karena dirinya.

__ADS_1


Rihanna juga tidak bisa berkata apa lagi.


Marine memang selalu bersikap sangat kejam jika menyangkut soal Alice.


"Baiklah aku terima pendapatmu.


Jika pekerjaan dapur sudah selesai, maka ada pekerjaan lain yang menunggunya.


Rihanna menaikkan wajahnya, seolah tidak percaya bahwa Alice masih lanjut bekerja.


Marine tersenyum menyeringai.


Ia kemudian mengeluarkan sebuah plastik di tangannya.


"Di dalam plastik ini ada sepuluh kartu undangan dan disana tertulis tujuannya masing-masing.


Rumah mereka ada di perumahan rakyat yang berada di seberang hutan.


Kemarin karyawan tidak sempat memberikan mereka undangan.


Jadi sekarang kau harus pergi ke sana dan memberikan mereka kartu undangan ini.


Pastikan kau berhasil memberikan semuanya dan membuat mereka mau datang malam ini."


"Saya akan ikut pergi dengan Nona Alice Nyonya."


"Tidak, aku tidak mau kau ikut.


Aku mau dia sendirian datang ke sana."


ucap Marine dengan tangan bersilang."


Rihanna menggelengkan kepalanya.


Bagaimana bisa Marine begitu kejam terhadap Alice?


Wilayah itu terbilang jauh dan berbahaya karena harus melewati hutan.


Ia takut terjadi apa-apa pada Alice.


"Tapi Nyonya, waktunya tidak akan cukup.


Apalagi sekarang sudah menjelang malam.


Akan sangat berbahaya jika Nona Alice pergi sendirian ke sana.


Lebih baik penjaga yang memberikan undangan dan.."


"Cukup!


Cukup Rihanna!


Kau sudah terlalu banyak bicara sedari tadi.


Apa kau ingin kehilangan pekerjaanmu, hah?"


Marine menatap Rihanna dengan penuh kemarahan.


Alice menggelengkan kepalanya.


Ia sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.


Lebih baik ia pergi ke sana daripada harus kehilangan Ibu Rihanna.


Sudah cukup ia kehilangan Ibunya.


Ia tidak mau kehilangan Ibu Rihanna yang sudah ia anggap seperti Ibunya sendiri.


"Baik Bi.


Aku akan pergi ke sana dan memberikan semua kartu undangan ini."


ucap Alice dengan penuh keyakinan.


"Tapi Nona Alice.."


"Ibu tidak perlu khawatir.


Aku akan kembali dengan tepat waktu Bu.


Sebelum acara dimulai."


Alice memegang tangan Rihanna dengan erat.


Wajah itu terlihat begitu mengkhawatirkannya.


Marine tersenyum dengan puas.


Ia kemudian terkekeh saat mendengar penuturan Alice barusan.


Bahkan ia sudah mengatur rencana agar gadis itu tidak bisa menghadiri acara malam ini.


Tentu saja dengan sengaja ia melakukannya.


"Kalau begitu ambil ini.


Jangan pernah kembali sebelum kau memberikan semua kartu undangannya."


Alice perlahan menganggukkan kepalanya dan membawa kartu undangan itu bersamanya.


Rihanna hanya bisa menatap kepergian Alice tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya.


Marine kemudian mendekat pada Rihanna.


"Kau sudah melebihi batasmu Rihanna.


Jangan sampai aku kehilangan batas juga menolerir sikapmu itu!


Dan jangan beritahu siapapun soal ini.


Atau kau akan menanggung sendiri akibatnya!"


Marine memberi peringatan pada Rihanna sebelum akhirnya pergi dari sana.


Marine jalan ke sana kemari dengan begitu gelisahnya.


Apaanyang harus ia lakukan sekarang?

__ADS_1


__ADS_2