
Brein masuk ke dalam ruangan Ell.
Ia tersenyum tatkala melihat Ell yang terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya.
"Ada apa kau datang kemari?"
ucap Ell tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas-berkas di hadapannya.
Brein terkekeh dan kemudian langsung duduk di kursi yang berada di depan Ell.
"Seperti biasa, tidak ada pemandangan lain di ruangan ini selain berkas-berkas di mejamu Ell.
Apa kau tidak pernah merasa bosan dengan semua itu?
Beruntung, Ayahku akhirnya menyerah dan tidak memaksaku melakukan hal seperti yang kau lakukan ini."
"Kalau begitu aku yang akan memaksamu Brein.
Aku bisa saja meminta Ibu Mariana untuk menyerahkan seluruh pekerjaan Divisi padamu."
Ell tersenyum menyeringai.
"Hem..." Brein mempertimbangkan ucapan Ell barusan.
"Dengan senang hati aku akan melakukan semua pekerjaan itu, asalkan seseorang ikut membantuku mengerjakannya.
Aku tidak keberatan sama sekali."
Ucap Brein dengan wajah berbinar.
Ell seketika langsung menghentikan kegiatannya.
Apa seseorang yang dimaksud Brein adalah Alice?
Ia kemudian menyusun kembali berkas di tangannya dan menghentikan pekerjaannya untuk mengobrol bersama Brein.
"Bagaimana pekerjaanmu?
Apa kau sudah beradaptasi dengan lingkungan kantor ini?"
"Aku rasa, aku cukup menikmati suasana kantor ini Ell.
Dan pekerjaannya tidak semembosankan yang kau kerjakan, kau tahu?
Aku juga suka dengan ruanganku dan juga orang-orang di sana."
Ell terkekeh dengan ucapan Brein yang mengejeknya
"Aku akan memukulmu jika mengejekku lagi."
ucap Ell memperingati.
Brein tersenyum puas.
Ia melihat ke arah seluruh ruangan sekilas dan kemudian meregangkan ototnya.
"Hem, rasanya aku ingin datang ke kantor setiap hari."
Ell mengerutkan kening, menatap Brein bingung.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu menjadi bersemangat seperti ini Brein?
Bukankah sebelumnya kau sangat menghindari pekerjaan kantor?
Kau juga belum mengatakan padaku alasan mengapa kau mau bekerja di sini."
Brein tersenyum simpul.
"Kira-kira, apa yang membuatmu bersemangat datang ke sekolah dulu Ell?
Mungkin saat ini aku merasakan hal yang sama sepertimu."
Brein kembali melontarkan pertanyaan pada Ell.
Pikiran Ell langsung tertuju pada masa sekolahnya dulu, dimana Kate adalah alasan mengapa ia sangat bersemangat datang ke sekolah.
Ell langsung mengalihkan tatapannya pada Brein.
Apa seseorang itu yang membuat Brein menjadi bersemangat seperti ini?
Dan dia adalah Alice?
Pertanyaan itu berputar-putar di dalam pikiran Ell.
"Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya Ell.
Dan suatu saat nanti aku akan memberitahumu apa yang membuat aku menjadi seperti ini."
Wajah Alice terlintas di pikiran Brein.
Ia tersenyum mengingat wajah gadis yang ingin selalu lindungi itu.
Entahlah, saat ini ia ingin menjadi lebih dari sekedar pelindung bagi Alice.
Apa Brein jatuh cinta pada Alice?
"Apa ada gadis di kantor ini yang membuatmu tertarik?"
Ell menatap Brein dengan tatapan serius.
"Aku pikir seperti itu.
Hanya saja aku masih memastikan perasaanku lagi.
Kau tahu sendiri bahwa aku adalah pria yang serius jika menyangkut perasaan.
Aku juga tidak mau mempermainkan perasaan orang lain."
"Sama sepertimu juga Ell.
Kau begitu mempertahankan cintamu pada Kate, sehingga membuatmu melupakan segalanya.
Bahkan kau juga sama sekali tidak mempersoalkan pernikahanmu dengan Istrimu.
Walaupun kau tahu, gadis itu sama sekali tidak bersalah.
Alasannya hanya satu, yaitu karena kau begitu mencintai Kate."
Brein tersenyum lagi.
__ADS_1
"Sekarang aku bisa memaklumi hal itu.
Mungkin suatu saat nanti, aku juga akan melakukan apapun untuk orang yang kucintai.
Dan akan sangat sulit untuk melepaskannya.
Aku berharap kau dan Kate bisa bersama, dan setelah kau bercerai kau bisa menikahinya Ell."
Ell hanya diam tidak menjawab kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Brein padanya.
Pikirannya saat ini sangat kacau.
Entahlah, ia juga tidak tahu mengapa.
Mengapa akhir-akhir ini ia menjadi seperti ini?
"Ell..."
Brein memanggil Ell yang terlihat diam sedari tadi.
Ell langsung tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Brein memanggilnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan Ell?
Aku memanggilmu berkali-kali."
"Tidak, aku tidak memirkan apapun."
"Jadi kenapa kau diam saja tadi?
Ah, aku tahu.
Siang ini kau pasti memiliki janji makan siang dengan Kate kan?
Pikiranmu pasti tertuju kesana.
Maafkan aku Ell.
Aku sampai lupa waktu, sebentar lagi jam makan siang.
Tentu aku harus keluar dari ruangan ini."
Ell hanya tersenyum tanpa arti.
Karena nyatanya ia tidak sedang memikirkan Kate.
"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku.
Kau boleh menghubungi Kate sekarang."
Brein berniat menggoda Ell.
Ia kemudian beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan Ell.
Setelah kepergian Brein dari ruangannya, Ell memijit kepalanya yang terasa penat.
"Pekerjaan pasti telah membuatku kacau seperti ini.
Aku harus beristirahat sebentar."
__ADS_1
Ell berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.
Ia kemudian menutup kedua matanya dan akhirnya tertidur di sofa.