Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Berusaha


__ADS_3

Ell dan Alice sudah sampai di apartemen Ell.


Pak Ransen, Supir yang sudah lama bekerja dengan Keluarga Dakota kemudian membawa barang-barang mereka masuk.


"Saya akan kembali ke rumah Tuan Ell."


Pak Ransen berpamitan dengan Ell dan Alice.


"Baiklah terima kasih Pak."


Pak Ransen meninggalkan Ell dan Alice berdua.


Alice memegang erat tangannya sambil melihat ke sembarang arah.


Ia menunggu Ell membuka suara.


"Kau tidur kamar itu.


Sedangkan aku berada di sana."


ucap Ell tanpa melihat ke arah Alice.


Alice mengarahkan pandangannya pada kamar yang disebutkan oleh Ell.


"Dan satu yang kutekankan padamu.


Bahwa aku dan kau hanyalah orang asing walaupun tinggal di ruangan yang sama."


Pernikahan ini hanya sementara sampai menunggu waktu yang tepat untuk berpisah."


Kau tidak boleh ikut campur dalam kehidupan pribadiku.


Bahkan kau tidak boleh menginjakkan kakimu sedikitpun di kamarku ataupun menyentuh barang-barangku."


Ell menekankan setiap kalimatnya.


"Aku membawamu ke sini semata-mata hanyalah agar Ayah dan Ibu tidak menyuruhku melakukan hal yang tidak kusukai lagi.


Karena itu jaga sikapmu.


Aku peringatkan kau tidak boleh memberitahu Ibu sedikitpun tentang kondisi di apartemen ini.


Bersikaplah sebagai seorang tamu!"


tambah Ell dengan nada memperingati.


Terlihat tatapan tajam di mata Ell walaupun Pria itu tidak melihat ke arahnya.


Dengan penuh kesabaran, Alice menerima ucapan Ell barusan.


Ia paham apa yang membuat Ell berkata seperti itu.


"Baik Kak.


Aku akan melakukannya."


"Aku sama sekali tidak peduli dengan kehadiranmu di rumah ini.


Kau bebas melakukan apapun begitu juga dengan aku."


Ell melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Namun tiba-tiba langkah itu berhenti dan Ell kembali bersuara tanpa berbalik.


"Kau bisa bekerja seperti apa yang diperintahkan Ayah."


Ell kemudian melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalamnya.


Terdengar dorongan keras saat pintu itu tertutup.


Ell pasti benar-benar tidak suka dengan kehadirannya di sana.


Pria itu membawanya ke sana semata-mata hanyalah untuk mendapatkan kebebasan dari orang tuanya.


Alice kemudian membawa barang-barangnya masuk ke dalam kamar yang berada di samping kamar Ell.


Ia mulai memasukkan satu per satu pakaiannya ke dalam lemari.


Perkataan Ell tiba-tiba terlintas di pikiran Alice.


Alice hanya bisa menghembuskan napas panjang.


Mungkin sudah tadirnya ia mengalami semua ini.


Tiba-tiba Alice mendapat suara dering pesan masuk.


Dan anehnya dering itu terdengar lama.


Sepertinya Alice mendapatkan banyak pesan.

__ADS_1


Namun pertanyaannya, siapa yang mengirimnya pesan sebanyak itu malam-malam begini?


Alice kemudian mengambil handphonenya yang berada di atas meja untuk memeriksa pesan yang diterimanya.


Matanya seketika tergelak saat mendapati pesan yang berasal dari teman-teman satu sekolahnya dulu.


Bahkan teman-teman kuliahnya juga ikut mengiriminya pesan.


Dan yang menyedihkan adalah mereka semua mengiriminya pesan kebencian.


Pesan mereka menyudutkan dirinya yang seakan akan merebut Ell dari Kate.


Bahkan banyak dari mereka mengutukinya. Alice terperangah saat membaca salah satu pesan yang menyebutkannya untuk menghilang saja dari muka bumi.


Sungguh menyakitkan!


Alice tidak kuasa memendung kesedihannya


Bagaimanapun ia hanyalah seorang manusia biasa yang akan terluka saat mendapat kalimat-kalimat kebencian seperti itu.


Air mata Alice satu per satu jatuh membasahi wajahnya.


Handphonenya perlahan ia letakkan kembali ke atas meja.


Badan Alice terluruh hingga posisinya menjadi duduk di atas lantai.


Alice memeluk erat kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana.


Ia menangis terisak.


Kalimat-kalimat itu kembali muncul di pikirannya.


Mengapa mereka semua begitu membencinya?


Apa kesalahan yang ia perbuat hingga layak menerima lontaran kasar itu?


Selama ini ia pikir orang-orang yang sebelumnya berbuat buruk padanya tidak benar-benar berniat ingin menyakitinya.


Hingga ia memaklumi semua perbuatan mereka.


Namun kali ini sudah melewati batas!


Mereka menganggap hidupnya sama sekali tidak memiliki arti.


Sementara di dalam kamarnya, Ell berdiri dengan tatapan datar mengarah ke arah luar jendela.


Ia sendiri juga sudah mengetahui keributan yang saat ini terjadi di lingkungan teman-temannya.


Selama ini teman-teman di sekolahnya memang sangat mendukung hubungannya dengan Kate.


Hingga lantas saat ini mereka pasti begitu menyudutkan Alice yang sudah berstatus sebagai Istrinya.


Jujur ia sama sekali tidak terpengaruh dengan hal itu.


Karena sama halnya dengan teman-temannya, ia juga begitu tidak menyukai pernikahannya.


Ell hanya mencintai Kate walaupun mungkin gadis itu tidak mencintainya.


--


Keesokan harinya, Alice terbangun dengan posisi yang sama saat dimana ia menangis semalaman.


Waktu menunjukkan pukul 4 Pagi.


Alice dengan tubuh yang lemah berdiri dan kemudian melihat ke arah cermin yang berada di hadapannya.


Penampilannya begitu kacau saat ini.


Matanya juga begitu sembab.


Alice mengingat apa yang terjadi dengannya semalam.


Mata Alice kembali berkaca-kaca.


Kepalanya kemudian tertunduk mencoba menahan air matanya untuk tidak keluar.


Alice mengepal tangannya dengan erat.


Namun nyatanya ia masih belum bisa menahan kesedihannya.


Ia kembali menangis.


(Mengapa aku berubah menjadi cengeng seperti ini?


Bukankah sejak kecil aku selalu mengalami banyak hal menyedihkan?)


Alice bergumam di dalam hati.


Alice kemudian langsung menghapus air matanya.

__ADS_1


Ia melihat ke arah cermin sambil bergumam.


(Bertahanlah)


Setelah membersihkan dirinya, Alice keluar dari kamarnya.


Ia berancana akan membuat sarapan untuk Ell mengingat bahwa pagi ini Pria itu akan pergi ke kantor.


Walaupun ia tidak yakin apakah Ell mau memakan sarapan buatannya.


Ia hanya mengingat janjinya pada Laura untuk melakukan yang terbaik pada pernikahannya.


Alice membuka kulkas.


Ia terperangah melihat bahan-bahan makanan yang terisi penuh.


Sepertinya Ell sudah mempersiapkan segalanya.


Alice memulai kegiatan memasaknya.


Pagi ini ia akan memasak bubur ayam resep Ibu Rihanna.


Beruntung selama ini Alice sering membantu Ibu Rihanna memasak, jadi ia tidak mengalami kesulitan.


Beberapa saat kemudian, masakan Alice sudah matang dan siap dihidangkan.


Alice melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi.


Alice kemudian meletakkan semangkuk bubur ayam untuk Ell di atas meja makan.


Sebentar lagi Ell akan keluar dari kamarnya.


Pria itu selalu berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.


Dan benar saja.


Tidak lama kemudian, Ell keluar dari kamarnya dengan setelan kantor yang sudah melekat di tubuhnya.


Alice melangkahkan kakinya menghampiri Ell.


Sebenarnya ia masih enggan untuk bertatapan dengan pria itu.


Namun ia harus memberanikan dirinya.


"Kak Ell.."


Ell menghentikan langkahnya yang hendak berjalan menuju pintu.


Alice meremas tangannya.


Perasaan takutnya kembali muncul melihat Ell membalikkan badannya.


Hingga ia harus bertatapan langsung dengan Ell.


Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam seolah tidak suka melihat wajahnya.


"Kak Ell, aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan.


Makanlah sebelum pergi ke kantor."


Alice berusaha tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa kau tidak mengerti dengan ucapanku kemarin?


Kau hanya tamu yang menumpang makan dan tidur di apartemen ini.


Kau tidak berhak mengaturku!"


Alice hanya bisa diam menerima bentakan dari Ell.


"Aku minta jangan pernah menampakan wajahmu di hadapanku lagi!"


Ell mencoba menahan emosinya muncul kembali setiap kali melihat wajah Alice.


Ia kemudian langsung melenggang pergi meninggalkan Alice yang menunjukkan kesedihan di wajahnya.


Alice menatap senduh kepergian Ell.


Pria itu menutup pintu dengan keras menandakan bahwa ia begitu kesal dan marah padanya.


"Aku tidak boleh menyerah.


Aku sudah berjanji pada Bibi bersabar dengan sikap Kak Ell.


Aku mengerti apa yang dirasakan Kak Ell saat ini."


Alice perlahan memasang senyum di wajahnya, mencoba melupakan kejadian tadi.


Ia kemudian pergi ke meja makan dan menarik kursi untuknya.

__ADS_1


Bubur ayam buatannya akhirnya disantap olehnya sendiri.


__ADS_2