Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Khawatir


__ADS_3

Rayn berjalan bersama Alice menuju ke parkiran.


Tanpa diduga, Ell sudah berada di sana.


Ia melihat ke arah Alice dan Rayn yang baru saja datang.


Sepertinya Rayn akan mengantar Alice pulang.


Ell kemudian melajukan motornya.


Sebelum menaiki motornya, Rayn menghadap Alice dan menatapnya dengan serius.


"Kau yakin aku tidak perlu mengantarmu pulang Alice?"


Alice tersenyum.


Ia tahu Rayn pasti begitu khawatir dengannya.


"Hem, kau tidak perlu khawatir Rayn."


"Bagaimana bisa aku tidak khawatir Alice?


Aku tidak ingin kau pulang dengan kondisimu seperti ini."


"Tapi aku sudah sangat sehat Rayn.


Kau lihat kondisiku sekarang..."


Alice berusaha meyakinkan Rayn.


"Baiklah Alice.


Aku tidak akan pernah menang melawanmu."


Alice terkekeh mendengar pernyataan Rayn.


"Jaga kesehatanmu kalau begitu.


Dan hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu, mengerti?"


"Baik Boss."


Rayn kemudian memakai helmnya dan menaiki motornya.


"Hati-hati di jalan Rayn."


Rayn mengangukkan kepalanya dan kemudian pergi.


--


Alice telah sampai di depan gerbang panti asuhan dimana ia dirawat dulu.


Ia memang sengaja pergi ke sana karena ia begitu merindukan Ibu Sonya.


Wajah wanita itu selalu ia rindukan.


Alice sangat menyayangi Ibu Sonya.


Alice masuk ke dalam rumah panti.


Ia melihat Ibu Sonya sedang menemani anak-anak menggambar.


Tatapan Ibu Sonya kemudian mengarah padanya


"Alice..."


Alice tersenyum.


Ibu Sonya langsung menghampirinya.


"Alice, kau datang sayang?"


Ibu Sonya mengelus kepala Alice dengan lembut.


"Iya Bu.


Alice begitu merindukan Ibu."


"Wajahmu?


Kau tampak pucat sayang.


Apa kau sakit?"


"Aku hanya sedikit tidak enak badan Bu."


"Benarkah?


Kalau begitu Ibu akan mengantarmu ke kamar untuk istirahat."


Alice tersenyum dan mengangguk.


Sesampainya di kamar, Alice langsung berbaring di tempat tidur.


Ibu Sonya menyelimutinya.


"Ibu akan menemanimu di sini."


"Terima kasih Bu."


Ibu Sonya duduk di tepi ranjang sambil mengelus kepala Alice.


"Apa telah terjadi sesuatu di rumah sayang?


Kau bisa cerita pada Ibu."


"Tidak ada apapun Bu."


Alice memberikan senyuman pada Ibu Sonya.


Mencoba meyakinkan bahwa semua baik-baik saja.


"Apa keadaan keluargamu baik-baik saja?


Bagaimana kabar Pamanmu, Mario?"


"Mereka baik Bu.


Paman Mario juga.


Dan Paman saat ini lagi berada di luar negeri untuk bekerja."


"Syukurlah kalau mereka dalam keadaan baik.


Pamanmu orang yang sangat baik sayang.


Sejak membawamu pergi dari sini, tiap bulan ia selalu memberikan banyak bantuan untuk panti.


Bahkan tidak jarang Beliau juga berkunjung ke sini."

__ADS_1


Alice tersenyum.


Pamannya itu memang sangat baik dan juga begitu menyayanginya.


Selama tinggal di rumah itu, Pamannya selalu memberikan perhatian padanya.


Bahkan selalu menentang perlakuan buruk Bibinya.


"Alice, Ibu tahu apa yang kau rasakan saat ini sayang.


Satu hal yang harus kau tahu adalah bahwa banyak orang yang menyayangimu Alice.


Mereka termasuk Bibi akan selalu bersamamu."


Alice meneteskan air matanya.


Ia kemudian mengangguk dan memeluk Ibu Sonya dengan erat.


Ibu Sonya mencium kepala Alice.


Seketika ia teringat dengan janjinya pada Sera untuk menjaga Alice dengan baik.


Ia ikut meneteskan air matanya.


Saat itu Alice tidak memiliki siapapun selain dirinya.


--


Hari sudah malam, namun Laura belum juga mendapati Alice di rumah.


Ia sudah menghubungi Alice, namun Alice tidak menjawab panggilannya.


"Ibu Rihanna, apa Ibu tahu dimana Alice?"


"Maaf Nyonya.


Saya tidak tahu dimana keberadaan Nona Alice."


"Saya sangat khawatir Bu.


Tidak biasanya Alice pulang terlambat seperti ini.


Apalagi kondisinya belum pulih sepenuhnya."


"Saya yakin Nona Alice baik-baik saja Nyonya."


Laura mengangguk dan kemudian menarik napas panjang.


Ia kemudian melihat ke arah jam dinding.


"Alice, kau dimana sayang?


Bibi sangat khawatir padamu."


Ell keluar dari kamarnya.


Ia melihat Ibunya duduk di ruang tamu dengan kondisi gelisah sambil menelpon seseorang yang sepertinya tidak bisa dihubungi.


"Ibu, ada apa?"


Ell menghampiri Laura.


"Ell, Alice.."


Ell mengerutkan keningnya.


"Alice?"


Ibu sangat khawatir padanya."


"Apa?"


(Bukankah tadi siang Rayn sudah mengantar Alice pulang ke rumah?)


Laura menghampiri Ell.


"Sayang, Ibu mohon kau cari dimana Alice.


Alice belum pulih sepenuhnya sayang.


Ibu takut terjadi apa-apa padanya."


"Ibu tidak perlu khawatir.


Aku akan mencarinya Bu."


Laura mengangguk.


"Hati-hati sayang."


Ell langsung bergegas keluar rumah.


Ia menaiki motornya untuk mencari Alice.


--


Ibu Sonya mengelus pipi Alice dengan lembut.


"Kalau kau memerlukan sesuatu, kau bisa datang ke sini sayang."


"Baik Bu.


Alice akan menyempatkan waktu datang ke sini."


"Kalau begitu pergilah.


Ini sudah malam.


Supir pasti sudah lama menunggumu di luar."


Sebenarnya Alice berbohong pada Ibu Sonya dengan mengatakan bahwa ia datang ke sana bersama supir.


Ia tidak mau membuat Ibu Sonya khawatir jika memberitahu kebenarannya.


Terlebih selama ini ia mengatakan bahwa keluarga Dakota memperlakukannya dengan sangat baik.


"Alice pergi Bu."


"Iya sayang.


Ibu akan mengantarmu ke depan."


"Tidak perlu Bu.


Alice bisa pergi sendiri."


"Baiklah sayang."


Alice memeluk Ibu Sonya dan kemudian pergi.

__ADS_1


Sesampainya di luar gerbang, Alice langsung pergi ke halte dimana ia sering menunggu Bus datang.


Sementara Ell saat ini sedang sibuk mencari keberadaan Alice.


Ia sudah mencari Alice di sekolah dan tidak menemukannya di sana.


Ia ingin menghubungi Rayn, namun ia tidak memiliki nomor Pria itu.


Seketika perasaannya menjadi khawatir.


Alice tidak pernah seperti ini.


"Kau dimana Alice..?"


ucapnya dengan nada gusar.


Ell kemudian mengarahkan motornya ke halte dimana Alice sering menunggu Bus untuk pulang ke rumah.


Itu adalah tempat terakhir kemungkinan Alice berada.


Alice duduk di halte, menunggu kedatangan Bus.


Ia melihat ke arah jam tangannya.


Ia berharap Bus masih ada mengingat waktu sudah hampir melewati batas waktu kedatangan bus terakhir.


Tiba-tiba Alice merasakan pusing.


Itu karena kondisinya masih belum pulih.


Tubuhnya juga kedinginan karena angin malam yang terhembus ke tubuhnya.


Ia mencoba bertahan sampai ia pulang ke rumah.


Ell memarkirkan motornya.


Ia mengedarkan seluruh pandangannya mencari keberadaan Alice.


Kakinya melangkah ke arah tujuan yang memungkinkan untuk ia datangi.


Hingga akhirnya ia menemukan seorang gadis duduk di halte dengan kepala tertunduk.


Ell langsung menghampirinya.


"Oh, jadi kau di sini rupanya."


Amarah dan perasaan lega kini menyelimuti Ell.


Alice langsung menaikkan wajahnya setelah mendengar suara yang ia begitu ia kenali.


"Kak Ell..."


Seketika Alice langsung berdiri saat melihat Ell berdiri di hadapannya.


"Apa kau tidak tahu saat ini semua orang sangat khawatir padamu, hah?


Kenapa kau pergi tanpa memberitahu seperti ini?


ucap Ell dengan nada tinggi.


Hal itu cukup membuat Alice ketakutan.


"Kak Ell, handphoneku lowbatt dan aku tidak sempat memberitahu orang rumah."


Alice menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Ell.


Ell menatap wajah pucat Alice.


Seketika amarahnya perlahan menghilang.


Ia kemudian menarik napas panjang.


Ia juga menyadari ketakutan yang tersirat di nada bicara Alice.


"Berikan itu padaku.."


Ell mengarahkan pandangannya pada tas sekolah Alice.


Nada bicara Ell sudah berubah menjadi lembut.


Alice perlahan memberikan tasnya pada Ell.


Ell kemudian melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya dan memakaikannya pada tubuh Alice.


Alice begitu terkejut.


Tubuhnya merinding seketika saat menyadari Ell memakaikan jaket padanya.


Matanya menatap kedua manik itu.


Mencoba meyakinkan dirinya bahwa saat ini ia sedang tidak bermimpi.


Tubuh Alice sudah terbalut oleh jaketnya.


Ell menatap Alice sekilas dan kemudian melihat ke arah lain.


"Kita harus pulang sekarang.


Ibu sangat khawatir padamu."


Ell kemudian membalikkan badannya dan mulai berjalan meninggalkan Alice.


Alice masih terdiam di tempatnya.


Ia melihat ke arah jaket Ell yang melekat di tubuhnya.


(Aku tidak seharusnya berpikiran yang tidak-tidak.)


Alice mengikuti Ell dari belakang.


Sesampainya di parkiran, Ell memberikan helm dan juga tas pada Alice.


Ell menaiki motornya dan menunggu Alice duduk di belakangnya.


Alice perlahan menaiki motor Ell.


Namun ia bingung harus duduk seperti bagaimana.


Bentuk motor Ell mengharuskannya untuk memegang sesuatu agar tidak terjatuh.


Ell menyadari hal itu.


"Kau bisa memegang bajuku agar tidak terjatuh."


Ell memberikan penawaran pada Alice.


Alice perlahan menganggukkan kepalanya.


Tangannya menyentuh baju Ell.

__ADS_1


Ell kemudian melajukan motornya menuju rumah setelah memastikan Alice sudah siap.


__ADS_2