Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Kenapa harus marah?


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah Keluarga Dakota, Ell keluar dari mobil dan mengeluarkan kopernya dan juga koper Alice dari bagasi.


Alice berniat membawa masuk kopernya, namun Ell langsung mengangkatnya dan membawanya.


Ell pergi tanpa berkata apapun pada Alice.


Alice hanya diam di tempatnya dan menatap Ell yang berjalan masuk ke dalam rumah.


Ia kemudian perlahan melangkahkan kalinya dan menyusul Ell dari belakang.


Dan ternyata semua anggota keluarga sudah menunggu kedatangan mereka di rumah.


"Ell, kalian sudah sampai sayang.


Ibu senang kalian bisa kembali ke rumah ini."


Laura memeluk lengan Ell dengan erat.


Ell tersenyum dan kemudian memegang tangan Ibunya.


"Bibi juga senang melihatmu kembali Ell."


ucap Marine.


"Oh ya, dimana Alice?"


tanya Mario.


"Kalian pergi bersama kan Ell?"


tanya Sergio dengan tatapan menyelidik pada Ell.


Marine tersenyum.


Dugaannya benar, bahwa memang Ell masih membenci Alice.


Buktinya saat ini Ell tidak pergi bersama dengan Alice.


"Ell, dimana Alice?"


Kate melihat ke sekelilingnya, mencari keberadaan Alice.


Beberapa saat kemudian, Alice muncul di hadapan mereka.


Perlahan senyuman Marine mulai memudar.


Ia kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.


Mario tersenyum dan kemudian menghampiri Alice.


"Alice...


Paman sangat merindukanmu Alice."


Alice tersenyum.


Ia kemudian menatap anggota keluarga lain yang tengah tersenyum padanya.


Terkecuali Marine dan Ell yang memalingkan wajah darinya.


Apa Ell memang benar-benar marah padanya?


"Alice sayang, kau boleh membawa kopermu ke dalam kamarmu."


ujar Laura.


Alice menganggukkan kepalanya.


Matanya sekilas melihat ke arah Ell dan kemudian pergi ke kamarnya.


Laura tersenyum melihat Alice yang pergi ke kamarnya.


Ia senang melihat penampilan baru Alice.


Alice terlihat begitu cantik.


Laura kemudian mengalihkan pandangannya pada Ell.


Kemarin ia sempat melihat berita di TV yang menunjukkan bagaimana manisnya Ell bersikap pada Alice.


Ia begitu mengenalnya putranya itu.


Bisa ia pastikan bahwa saat itu Ell tidak sedang berpura-pura.


Ia bisa lega sekarang.


Itu artinya Ell sudah bisa menerima Alice.


Tiba malamnya, semua anggota keluarga makan malam bersama tidak terkecuali Alice.


Alice hanya diam di tengah obrolan keluarga.


Matanya kemudian menatap Ell yang sedang menikmati makanannya.


Sebenarnya apa salahku padanya?


Aku lebih suka dia marah-marah padaku dari pada diam seperti itu tanpa alasan yang jelas.


"Besok kita akan mulai bersiap-siap.


Ell, kau ikut dengan Paman dan Ayahmu berdiskusi dengan para perwakilan perangkat desa.


Mereka akan datang kesini besok."

__ADS_1


Ell menganggukkan kepalanya.


"Baik Paman."


"Kate juga akan ikut bersama kalian sayang."


ucap Marine memotong.


Mario mengerutkan keningnya.


"Kate, kau bisa mengikuti acara itu sayang?"


Kate tersenyum.


"Tentu Ayah.


Aku sama sekali tidak memiliki jadwal selama seminggu.


Jadi aku pikir, aku harus berpartisipasi dalam acara itu."


"Baiklah, Ayah senang mendengarnya.


Akan lebih baik kau ada di sana."


"Kalau begitu, aku , Marine dan Alice akan mempersiapkan bagian yang lain."


ujar Laura.


"Kami akan memberitahu kalian jika ada keperluan mendadak."


"Aku hanya berharap tidak ada seorangpun membuat kekacauan di acara itu.


Tidak akan mudah untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat lagi."


Marine menatap ke arah Alice dengan sinis.


Perkataannya tertuju pada Alice yang baginya selalu membuat masalah untuk keluarganya.


Mario dan yang lain tidak suka dengan perkataan Marine barusan.


Ia tahu Istrinya itu berniat untuk menyalahkan Alice lagi.


Alice menundukkan kepalanya.


Lagi-lagi Bibinya menilainya sebagai pembuat masalah di keluarga itu.


Apapun yang dilakukannya selalu salah di mata Marine.


--


Alice duduk di tepi ranjangnya sambil menatap lurus ke depan.


Dirinya memikirkan Ell dan juga perkataan Marine saat di meja makan tadi.


Ia takut kehadirannya disana malah membuat semuanya menjadi tidak baik.


"Aku bahkan sama sekali tidak punya alasan untuk datang ke sana."


Tiba-tiba terdengar ketukan dari kamarnya.


Pintu kamar Alice kemudian terbuka dan menampilkan Laura yang tersenyum padanya.


Laura kemudian masuk.


"Apa yang kau lakukan sendirian di sini sayang?


Kenapa kau tidak keluar dan menonton bersama kami di ruang tamu?"


Alice tersenyum tipis.


Nyatanya ia tidak mau memperburuk suasana lagi di sana.


Laura kemudian duduk di samping Alice.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu, hem?"


"Bibi, hem maksudku Ibu.


Bukankah kehadiranku di sana akan memperburuk keadaan?"


Laura menarik napas panjang.


Perkataan Marine memang benar-benar tidak baik.


Alice berkata seperti itu karena Marine.


"Sayang, kau tidak perlu memikirkan perkataan Bibimu.


Hal itu tidak benar Alice.


Kau tidak pernah membuat masalah ataupun kekacauan di keluarga ini."


"Tapi bagaimana jika Bibi Marine tetap tidak suka dengan kehadiranku di sana Bu?


Akan lebih baik jika aku tidak pergi dan akan menunggu di sini."


"Apa maksudmu berkata seperti itu Alice?


Bahkan Ibu Rihanna dan pekerja lain ikut membantu.


Tentu kau harus ikut."


Laura memegang tangan Alice.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir sayang.


Walaupun Marine bersikap seperti itu, ada Ibu yang begitu mencintaimu di sini.


Kau gadis yang sangat baik.


Dan lihat, bahkan sekarang kau terlihat sangat cantik Alice.


Kau sama sekali tidak membutuhkan penilaian buruk dari orang-orang Alice.


Kau mengerti, hem?"


Alice tersenyum dan perlahan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Bi.


Aku akan ikut dalam acara itu."


Laura tersenyum puas mendengar jawaban Alice.


"Itu bagus sayang.


Ngomong-ngomong, apa ada seseorang yang membuatmu mengubah penampilan seperti ini?


Kau sangat cantik Alice."


Alice tersenyum.


"Aku mengubah penampilanku atas keinginanku sendiri Bu."


"Oh benarkah?


Kemarin Ibu sempat melihat berita mengenaimu dan Ell di TV.


Ibu senang melihat hubungan kalian berdua semakin membaik."


Dan sekarang Kak Ell kembali bersikap dingin pdaku Bu.


"Kak Ell memang perlahan mulai menerima kehadiranku Bu.


Dia berbicara denganku bahkan Kak Ell mau makan masakanku Bu."


"Ibu senang mendengarnya Alice.


Ell sebenarnya memiliki sifat yang baik. Kau tahu itu bukan?"


Alice menganggukkan kepalanya.


"Hanya saja ia terkadang ia terlalu cepat menyikapi sesuatu.


Ibu yakin kedepannya Ell akan semakin menyayangimu dan menganggapmu sebagai Adiknya Alice."


Benar, Ell selama ini bersikap baik padanya karena pria itu perlahan menganggapnya sebagai seorang Adik.


Bukankah lebih baik seperti itu?


Dengan begitu Alice berharap ia juga bisa menghilangkan perasaannnya dan menganggap Ell sebagai seorang Saudara laki-laki.


"Kalau begitu, Ibu akan pulang Alice.


Besok kita akan mulai bersiap-siap."


"Baik Bu.


Selamat malam."


"Selamat malam juga untukmu Alice."


Laura kemudian melepaskan tangannya dari Alice dan pergi dari kamar Alice.


Sementara di ruang tamu, Ell sedang menonton film bersama anggota keluarga yang lain.


Walaupun sebenarnya pikirannya berada di tempat lain.


Ell kemudian melihat ke arah kamar Alice.


Apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini?


Dia kesal dan tidak mau berbicara dengannya hanya karena Alice dan Brein makan bersama siang itu.


Layaknya seorang pria yang marah pada Kekasihnya karena makan siang bersama pria lain.


Apa?


Ell membelakkkan matanya.


Tidak, tidak mungkin ia mengalami hal yang sama seperti itu juga.


Keadaannya sangat berbeda karena ia tidak memiliki perasaan apapun pada Alice.


Benar, aku tidak memiliki perasaan apapun padanya.


Lantas, mengapa aku harus marah?


Ell menggaruk tengkuknya


Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di pikirannya.


Mata Ell kemudian terarah pada Kate yang sedang tertawa bersama Ayahnya.


Bukankah kau sangat mencintai gadis itu?


Seharusnya kau tidak memikirkan gadis lain saat dirinya jelas-jelas berada dekat denganmu.

__ADS_1


Ucap Ell pada dirinya sendiri.


__ADS_2