Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Marine sangat keterlaluan


__ADS_3

Ell menatap Alice yang sudah tertidur lelap di tempat tidur tempatnya.


Rasanya begitu lega melihat Alice terlelap seperti itu.


"Ell.."


Ell sekilas berbalik saat melihat kehadiran Ibunya.


Laura mendekati Ell dan mengikuti arah pandangan Putranya itu yang menatap Alice dengan lekat.


"Ell, menurut Ibu kau harus kembali ke pesta sekarang.


Ayahmu berkata bahwa semua orang tengah mencarimu sekarang.


Terpaksa mereka mengatakan bahwa kau sedang mengurus pekerjaan penting sebentar.


Kau harus kembali sayang agar mereka tidak curiga."


Ell hanya diam dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.


Laura kemudian memegang pundak Ell.


"Ibu tahu kau sangat khawatir padanya, bukan?


Kau bisa menemui Alice setelah acara selesai.


Ibu akan menjaganya di sini.


Kau tidak perlu khawatir sayang."


Ell kemudian menggeser posisinya menjadi berhadapan dengan Laura.


"Baiklah Ibu.


Aku akan kembali."


Laura tersenyum.


"Pertama sekali, kau harus mengganti pakaianmu terlebih dahulu.


Bajumu sudah kusut begini sayang."


Ell menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi meninggalkan kamar Alice.


Laura menatap kepergian Ell sekilas dan setelah itu mendekati Alice.


Ia menarik selimut pada tubuh Alice dan tersenyum melihat wajah polos itu.


"Selamat tidur sayang."


Laura mencium kening Alice dan kemudian pergi dari sana.


--


Kate mengarahkan pandangannya pada Ell yang baru saja datang.


Ia langsung menghampiri Pria itu dan meminta jawaban mengapa tidak kembali dalam waktu yang sangat lama.


Tidak mungkin berada Ell di kamar mandi selama 2 jam lebih lamanya.


"Ell..."


Ell menghentikan langkahnya saat Kate datang menghampirinya.


Gadis itu pasti akan bertanya kemana saja dirinya tadi.


"Ell, kemana saja kau dari tadi?


Aku mencarimu kemana-mana tapi kau tidak ada.


Aku bahkan menghubungimu.


Tapi kau tidak menjawab satupun panggilanku.


Orang-orang bertanya dimana kau.


Beruntung Paman memberikan jawaban yang tepat dan menggantikanmu memberikan sambutan.


Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau lakukan selama 2 jam tadi."


tanya Kate sambil menyilangkan kedua tangannya dan menatap Ell dengan lekat.


"Aku mengurus pekerjaan kantor tadi.


Maaf, aku terlalu sibuk hingga tidak bisa menjawab panggilanmu."


Ell terpaksa berbohong karena saat ini ia tidak ingin jika harus membahas soal Marine lagi.


Kekesalan dan juga kemarahannya akan muncul kembali bila mengingat perbuatan buruk Bibinya itu.


"Ell kau tidak bisa membohongiku.


Katakan padaku yang sebenarnya."


Kate bisa melihat ketidakjujuran dari wajah Ell.


"Aku tidak berbohong Kate.


Aku mohon jangan tanyakan itu lagi.


Aku mengerjakan banyak pekerjaan tadi.


Pikiranku sedang kalut.


Aku ingin menemui para tamu dulu."


Ell kemudian meninggalkan Kate yang masih menuntut jawaban darinya.


Sementara Kate hanya menggelengkan kepalanya melihat Ell yang pergi begitu saja.


Ia kemudian berjalan mengikuti Ell.


Marine yang sedang berbicara dengan tamu, terkejut melihat kedatangan Ell.


Ia kemudian bersiap-siap berbicara pada Ell yang berjalan menuju ke arahnya.


"Ell kau dari mana saja?"


Namun Ell tidak menjawabnya dan pergi begitu saja.


Ell sungguh kecewa melihat Marine hingga bahkan menatap wajahnya saja ia malas.


Ia langsung melenggang pergi begitu saja, tidak menghiraukan Marine yang bertanya padanya.


Kate yang berada di belakang Ell keheranan melihat sikap tidak sopan yang diberikan Ell pada Ibunya.


Ada apa dengan Ell?


Tidak biasanya ia bersikap seperti itu.


"Ibu, apa yang terjadi pada Ell?


Mengapa ia bersikap tidak sopan seperti itu pada Ibu?"


"Ibu juga tidak tahu sayang.

__ADS_1


Padahal Ibu hanya bertanya mengapa ia baru kembali sekarang."


"Baiklah, aku akan pergi menemui Ell Bu."


"Hem.."


Marine mengepal tangannya dengan erat.


Ell pasti marah padanya karena Alice.


Gadis itu telah membuat semua orang marah padanya.


Mario bahkan juga tidak mau berbicara padanya tadi.


"Lihat saja gadis pengacau, aku akan memberikan pelajaran padamu!"


Kate berusaha untuk mendekati Ell dan berniat berbicara dengannya, namun sedari tadi Ell selalu menghindarinya bahkan tidak menghiraukannya.


Saat ini Ell terlihat sengaja berbicara pada seorang tamu hanya untuk menghindarinya.


--


Setelah acara selesai, Marine melihat ke arah Mario, Sergio dan Ell yang masih berbicara dengan tamu yang belum pulang.


Marine tidak bisa menunggu lagi.


Ini waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran pada Alice.


Marine bergegas ke kamar Alice.


Ia membuka pintu kamar Alice yang tidak terkunci dan masuk ke sana.


Ia menatap sinis ke arah Alice yang tertidur pulas di tempat tidur.


"Kau ternyata bisa terlelap setelah menyebabkan semua masalah, heh?"


Marine kemudian mendekati tempat tidur dan melepaskan selimut dari tubuh Alice.


"Bangun gadis pengacau!!!"


Marine berteriak keras pada Alice.


Sontal hal itu membuaat Alice terbangun dari tidurnya.


Saat ia membuka mata, ia begitu terkejut melihat Marine berada tidak jauh darinya dengan tatapan marah.


Alice memperbaiki posisinya menjadi duduk.


"Bibi..."


Sebisa mungkin Alice menanggapi Marine seperti biasanya.


Walaupun ia takut Marine akan melakukan buruk lagi padaya.


Apalagi raut wajah Marine saat ini terlihat begitu menyeramkan.


"Ada apa Bibi?"


tanya Alice lagi.


Saat ini Marine begitu diliputi amarah.


Apalagi bila mengingat semua orang marah padanya karena Alice.


Tanpa berpikir panjang, Marine langsung menampar Alice dengan keras hingga membuat pipi gadis itu memerah.


Alice merasa pipinya begitu memanas.


Ia perlahan menyentuhnya dan merasakan kesakitan.


"Berani-beraninya kau mengatakan yang tidak-tidak padaku hingga semua orang menyalahkanku.


"Bibi, aku sama sekali tidak melakukannya."


Alice mencoba membela dirinya.


Karena memang ia tidak mengatakan apapun pada Ell dan Marine.


"Maksudmu kau tidak bersalah begitu?


Apa kau tahu Suamiku menghindariku bahkan tidak mau berbicara padaku hanya karna gadis sepertimu?"


Kali ini Marine mencengkram wajah Alice dengan keras.


"Bibi, aku mohon lepaskan aku Bi.."


Air mata Alice sudah membanjiri wajahnya.


Ia merasa takut dan sedih di saat yang bersamaan.


Takut jika Marine melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi padanya.


Dan sedih karena ia tidak pernah menyangka bahwa Bibinya akan menyiksanya seperti ini.


"Apa kau tahu, hah?"


Marine sama sekali tidak menghiraukan permohonan Alice.


Saat melihat wajah Alice saat ini, ia ingin mencekik gadis itu.


Terlihat wajah Seraphine di wajah Alice.


Saat hendak ingin mencekik Alice, Laura datang saat mendengar suara tidak asing dari kamar Alice.


Takut terjadi apa-apa pada Alice, ia memutuskan untuk masuk.


"Marine, apa yang kau lakukan?


Laura begitu terkejut saat melihat Marine berniat nencekik Alice.


Ia langsung mendekati Marine dan berusaha melepaskan tangannya dari leher Alice.


"Marine, jangan bertindak bodoh seperti ini!


Kau bisa membunuh Alice."


"Lepaskan aku!


Aku tidak peduli.


Dia dan Ibunya harus mati."


Marine melepaskan tangan Laura darinya.


Alice hanya bisa menangis di dalam kungkungan Marine.


(Ibu, aku mohon selamatkan aku...)


Laura tidak menyerah dan kembali berusaha menarik Marine yang begitu diliputi amarah.


Hingga akhirnya tangan Marine terlepas dari Alice.


Laura kemudian menjauhkan Alice dari Marine.


"Jangan sentuh Alice lagi!"

__ADS_1


Jika kau menyentuhnya lagi, kau berhadapan denganku.


Aku tidak peduli bahwa kau adalah Sahabatku Marine."


Laura memperingati Marine dengan wajah marah bercampur kesal.


Mario, Sergio, Ell dan Kate masuk ke dalam kamar saat mendengar suara teriakan dari kamar Alice.


"Alice..."


Ell melihat Alice berada di balik punggung Ibunya.


Ia terkejut saat melihat gadis itu dipenuhi oleh air mata.


Dan wajah Alice terlihat memerah dan ada bekas tangan di wajahnya.


"Ibu apa yang terjadi?


Kate menghampiri Ibunya yang terlihat begitu emosi.


"Ibu katakan padaku!"


Mario bisa memahami apa yang terjadi.


Ia langsung mendekati Marine dan menarik tangannya.


"Apa setelah membahayakan nyawa Alice, sekarang kau berniat melukainya?


Kau memukulnya, hah?"


ucap Mario dengan penuh amarah.


"Ayah, apa maksud Ayah berkata seperti itu?


Ibu tidak mungkin memukul Alice.."


Kate menggelengkan kepalanya.


Ibunya tidak akan melakukan hal jahat itu.


"Marine tadi menampar Alice dan berniat untuk membunuhnya."


Laura membuka suara.


Ia sama sekali tidak peduli lagi dengan Marine.


"Sayang, apa yang kau katakan barusan?"


Sergio berusaha menenangkan semuanya.


"Aku tidak berbohong Sergio.


Aku sendiri yang melihatnya.


Beruntung aku datang tepat waktu.


Kalau tidak, Marine akan membunuh Alice."


"Ibu, Ibu melakukannya...?


Kate masih belum percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


"Mengapa Ibu melakukan itu semua?


Alice adalah Putri Paman Raphael, Keponakan Ibu sendiri.


Mengapa Ibu ingin membunuhnya?"


Kate menutup wajahnya.


Ia begitu kecewa dengan Ibunya.


Mario memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat wajah Marine.


Ia mengurut keningnya.


Ia tidak tahu harus berbuat apa-apa sekarang.


Bahkan ia tidak bisa berkata apapun.


"Iya, aku ingin membunuhnya!


Dia Putri Seraphine, dia harus mati!"


"Sudah cukup Bibi!


Bibi sudah sangat keterlaluan!


Sepertinya aku akan sulit memaafkan Bibi."


Kali ini Ell bersuara.


Perasaannya begitu hancur saat melihat Alice dengan keadaan seperti itu.


"Alice, kemarilah..."


Alice perlahan menaikkan wajahnya dan menatap Ell.


Ell tidak bisa berkata apa-apa saat melihat wajah rapuh itu.


Ia juga merasa bersalah karena pergi meninggalkan Alice tadi.


Tanpa menunggu lama, Ell langsung mengangkat tubuh Alice dalam gendongannya.


"Ibu, aku tidak mau terjadi sesuatu lagi pada Alice.


Aku akan membawanya ke kamarku."


Laura menganggukkan kepalanya.


Ia setuju dengan apa yang dilakukan Ell.


Akan lebih baik untuk menjauhkan Alice dari Marine.


Karena bukan tidak mungkin Marine akan mencoba melukai Alice lagi.


Mario kemudian memutuskan pergi dari sana.


Ia tidak mau melihat wajah Marine yang terlihat memuakkan baginya.


Sergio dan Laura juga mengikuti Mario dan keluar dari kamar Alice.


Hingga tersisa Marine dan Kate di sana.


Kate menghapus air matanya.


"Aku sangat kecewa dengan Ibu."


ucap Kate sebelum akhirnya juga pergi meninggalkan Marine.


Marine hanya bisa diam melihat kepergian Kate.


Putrinya yang selalu bangga padanya akhirnya juga ikut membencinya.


"Kate..."

__ADS_1


ucapnya dengan lirih.


Ya, setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya bukan?


__ADS_2