Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Ucapan Brein


__ADS_3

Ell dan Kate telah sampai di kantin.


Mereka berdua duduk di meja yang berada di belakang.


"Sebentar aku akan memesan makanan Ell."


"Baiklah."


Kate kemudian berjalan menuju kasir dan menunggu makanan datang.


Tiba-tiba matanya menangkap 2 orang yang berada di meja makan depan.


Sepertinya ia mengenali gadis yang berada di meja itu.


Kate mencoba mengenalinya dari belakang.


"Bukankah itu Alice?"


Beberapa saat kemudian, Kate kembali ke meja dengan membawa makanan.


Ia duduk kembali di samping Ell.


"El...."


"Hem..?"


Ell mengarahkan pandangannya pada Kate yang terlihat kebingungan.


"Apa Alice sudah mulai bekerja di kantor ini?"


Ell hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar Kate mengucapkan nama Alice.


Ia kemudian mulai menikmati makanannya.


"Kenapa kau tidak memberitahuku Ell?


Dengan begitu, aku juga akan mengajaknya makan bersama kita tadi.


Dia jadinya makan bersama orang lain sekarang."


Ell berhenti sejenak dan kemudian menatap Kate mencoba menanyakan apa maksud perkataan Kate barusan.


"Kau lihat gadis yang di sana?


Bukankah itu Alice?"


Ell mengarahkan pandangannya pada meja depan yang cukup jauh dari mereka.


Namun walaupun seperti itu, ia bisa mengenali gadis itu dari kejauhan.


Brein kemudian melihat ke arah seorang pria yang duduk dan makan bersama dengan Alice.


(Brein?)


ucap Ell di dalam hati.


Ya, pria yang berada di samping Alice adalah Brein.


Mengapa Brein bisa makan siang bersama dengan Alice?


"Apa kau mengenali siapa pria itu Ell?"


ucap Kate dengan nada penasaran.


"Dia Brein."


ucap Ell datar.


Kate mengerutkan keningnya.


"Brein?


Siapa Brein?"


"Dia Senior kita dulu saat sekolah.


Dan mulai hari ini, ia bekerja di sini."


"Kak Brein Christian, Senior kita yang dulu pindah ke luar negeri?"


"Hem..."


"Aku pikir Alice juga masih mengenal Kak Brein.


Tidak heran mereka terlihat akrab seperti itu.


Aku senang melihat Alice memiliki teman yang baik di kantor ini.


Mungkin Kak Brein akan menjadi Rein yang akan menjaga Alice disini."


Ell hanya diam dan tidak merespon ucapan Kate.


Sekilas ia melihat ke arah Brein dan Alice yang terlihat mengobrol.


Bukankah Brein tadi sempat mengajaknya makan siang bersama?


Mungkin Pria itu memutuskan untuk mengajak Alice saja.


Mengingat mereka berada di Divisi yang sama.


--


"Terima kasih untuk makanan ini Alice.


Kau tahu, baru kali ini aku makan selahap ini setelah kembali ke Indonesia.


Kau membuatku seolah-olah makan masakan Ibuku."

__ADS_1


Alice tersenyum.


"Sama-sama Kak.


Lain kali aku akan memasak lagi untuk Kakak."


"Benarkah?"


tanya Brein dengan nada girang.


Alice menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Hem, kalau begitu aku tidak sabar untuk memakan masakanmu lagi."


ucap Brein dengan nada konyol, layaknya seperti anak-anak.


Alice lagi-lagi tersenyum dengan tingkah lucu Brein.


"Baiklah ayo kita kembali ke ruangan Alice."


"Hem, ayo Kak."


Brein dan Alice berdiri dan kemudian berjalan bersama menuju ke ruangan.


"Alice.."


panggil Brein.


Alice kemudian melihat ke arah Brein yang berjalan di sampingnya.


"Kau tahu, kau terlihat sangat cantik setiap kali kau tersenyum."


Alice seketika menghentikan langkahnya.


Ia terkejut dengan pernyataan Brein barusan.


Matanya masih menatap Brein yang juga ikut berhenti.


Pria itu tersenyum padanya.


Alice kemudian mengarahkan pandangannya ke arah lain berusaha menghindari tatapan Brein.


Namun tanpa diduga matanya menangkap Ell yang ternyata juga berada di sana.


Hal itu membuat Alice begitu terkejut.


Apalagi saat melihat kehadiran Kate yang duduk di samping Ell.


Alice kembali menatap Ell yang juga tengah menatapnya.


Ingatan Alice saat melihat Ell bersama dengan Kate di ruangannya kembali muncul di pikirannya.


Perasaannya kembali sedih.


"Ell...."


Alice terpaksa mengikuti dari belakang.


Walaupun sebenarnya ia ingin menghindar.


"Ell, ternyata kalian berdua makan di sini."


Brein langsung mengambil tempat duduk di depan Ell.


Sementara Alice menghentikan langkahnya sebentar.


Ia bingung harus melakukan apa.


"Alice..."


Kate berdiri dan langsung mendekati Alice.


"Kakak tidak tahu kau sudah mulai bekerja sayang.


Kalau tidak, Kakak akan menemuimu terlebih dahulu dan mengajakmu makan siang bersama kami."


ucap Kate dengan nada merasa bersalah.


Alice memasang senyumnya.


"Tidak apa-apa Kak.


Aku juga tidak tahu kalau Kakak datang ke kantor", bohong Alice.


Brein bisa melihat kesedihan di wajah Alice, namun gadis itu berusaha menyembunyikannya.


"Kalau begitu, duduklah bersama kami."


Kate menarik tangan Alice dan membawanya duduk ke kursi yang berada di samping Brein.


"Kami sama sekali tidak menyadari kehadiran kalian Ell.


Ternyata kau dan Kate juga makan di sini.


Dan kau, kau pasti Kate kan?


Wajahmu sama sekali tidak berubah Kate.


Sepertinya kau masih menjadi primadona dimanapun."


Alice terkejut mendengar pernyataan Brein barusan.


Apa Brein sebelumnya sudah mengenal Kate?


"Terima kasih Kak Brein.


Wajah Kakak juga tidak berubah.

__ADS_1


Aku masih ingat bagaimana dulu gadis-gadis di sekolah patah hati setelah mendengar Kakak pindah ke luar negeri."


"Oh benarkah?


Ell tidak pernah mengatakan hal itu padaku."


"Ngomong-ngomong, apa Kakak tahu bahwa Alice juga adalah Junior Kakak saat di sekolah dulu?


Kakak juga pernah menyelamatkan Alice dari teman-temannya."


Alice langsung menatap Brein.


Itu berarti Brein adalah Seniornya di sekolah dulu.


Namun Alice sama sekali tidak tahu karena ia sudah lupa.


Walaupun ia tahu bahwa dulu ada seorang pria yang begitu baik padanya.


Pria itu membantunya saat teman-temannya mengerjainya.


Dan pria itu ternyata adalah Brein.


Hal itu sangat mengejutkannya.


Brein tersenyum lebar.


"Wah, aku tidak pernah menyangka bahwa Alice adalah gadis yang dulu pernah aku selamatkan dari anak-anak nakal itu.


Dan aku juga mungkin sudah lupa sehingga tidak mengenali wajah Alice.


Kalau begitu, Alice adalah Sepupumu bukan?


Bukankah kau dan Alice bersaudara?"


Kate tersenyum dan mengiyakan.


"Kakak benar.


Alice adalah adikku."


Brein tersenyum sambil melihat ke arah Alice.


"Dunia ternyata memang terlalu sempit.


Tapi aku sangat senang mengetahui itu semua.


Dengan begitu, aku bisa semakin dekat dengan Alice."


Alice langsung melihat ke arah Brein.


Brein dan Alice saling menatap satu sama lain.


Alice mencoba mencari maksud perkataan Brein barusan dari tatapan pria itu.


Kate juga terkejut dengan ucapan Brein.


Apa Brein menyukai Alice?


Kate perlahan mulai tersenyum.


Karena jika itu memang benar, maka hal itu membuatnya sangat bahagia.


Brein pria yang baik, tentu ia sangat cocok untuk Alice.


Pria itu juga pasti akan menjaga dan melindungi Adiknya dengan baik.


Mengerti akan tatapan Alice, Brein langsung membuka suara.


"Ah, maksudku aku bisa semakin dekat denganmu sebagai teman kerja.


Kita bekerja di Divisi yang sama bukan?"


Ucap Brein mencoba menjelaskan maksud perkataannya pada Alice yang terlihat mencari jawaban darinya.


"Kate juga pasti setuju dengan ucapanku barusan."


Kate terkekeh dan langsung menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja aku sangat setuju Kak.


Kakak bisa menjalin hubungan yang baik dengan Alice."


"Bagaimana denganmu Ell?


Kau juga setuju dengan ucapanku tadi kan?"


Ell hanya diam dan tidak menjawab.


"Aku sangat berharap kau setuju Ell."


"Hem, aku setuju."


ucap Ell.


Kate langsung tersenyum lega mendengar pernyataan Ell.


Begitu juga dengan Brein.


Sebenarnya ia hanya membutuhkan jawaban dari Ell.


Apakah Ell keberatan atau tidak dengan apa yang ia ucapkan.


Sementara Alice masih berkutat pada pikirannya.


Semua perkataan yang diucapkan Brein hari ini padanya, membuat Alice bertanya-tanya.


Sebenarnya ia masih membutuhkan jawaban dari pria itu.

__ADS_1


Walaupun dirinya meyakini bahwa Brein bukanlah pria yang jahat.


__ADS_2