Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Datang menyelamatkan


__ADS_3

Alice bersama Mahasiswa lain masuk ke dalam ruangan laboratorium untuk melakukan ujian praktikum.


Semua Mahasiswa menggunakan alat pelindung diri agar tidak terkena zat-zat yang cukup berbahaya.


Dosen juga ikut memantau apa yang mereka lakukan.


Satu per satu mereka mulai melakukan instruksi dari Dosen serta apa yang telah mereka pelajari selama ini.


Tiba saatnya giliran Alice.


Alice melakukannya dengan sangat baik.


Dosen memuji praktikum yang dilakukannya dan bisa dipastikan Alice akan mendapatkan nilai yang memuaskan.


Hal itu tentu saja membuat teman-temannya iri dan tidak suka melihat pencapaian Alice.


"Kau lihat itu, dimana saja ia selalu bertingkah seperti orang yang paling cerdas."


ucap salah satu Mahasiswa yang juga merupakan teman satu sekolah Alice pada saat duduk di bangku SMA.


"Kita tidak boleh membiarkannya berlama-lama terbang di atas awan lagi."


ucap Mahasiswa yang lain.


"Apa maksudmu?"


Ia akhirnya paham setelah mendengar bisikan temannya yang berniat melakukan sebuah rencana untuk membalas Alice.


"Ide yang bagus.


Kali ini kita harus menghancurkan gadis licik itu!"


"Hem, kita lihat saja nanti.


Apa nanti dia masih bisa tersenyum atau tidak."


ucapnya dengan senyuman menyeringai.


Setelah selesai ujian praktikum, waktunya untuk membereskan alat-alat praktikum.


Satu per satu Mahasiswa mulai meninggalkan ruangan dan tidak ada seorangpun dari mereka yang berniat mengembalikan alat-alat praktikum ke tempatnya semula.


Hanya Alice yang melakukannya.


Dan pada akhirnya hanya Alice yang membereskan semuanya.


Ia tidak akan mungkin ikut meninggalkan ruangan dalam kondisi berantakan.


Alice mulai mengembalikan alat-alat praktikum satu per satu.


Tiba-tiba Alice mendengar suara ledakan dari arah meja belakang.


Alice begitu terkejut.


Ia perlahan mendekati meja itu dan dari baunya ia bisa mengenali bahwa ledakan terjadi akibat dua zat berbahaya dicampurkan.


Siapa yang melakukan hal itu?


Beruntung ia tidak berada di sana tadi.


Kalau tidak mungkin saja ia akan mengalami kerusakan pada kulit.


Tanpa diduga dari arah lain tiba-tiba muncul asap.


Akibatnya Alice terbatuk-batuk.


Tenggorokannya perlahan menjadi kering.


Alice memegang erat dinding dan berusaha segera keluar dari sana.


Namun ia tidak bisa.


Alice kemudian mengambil handphonenya dan mencoba menelpon seseorang untuk meminta pertolongan.


Nama yang pertama kali ia tuju adalah Ell.


Tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkannya selain Ell.


Dan setelah apa yang terjadi selama ini terutama kemarin, ia yakin bahwa Pria itu memiliki rasa kepedulian pada dirinya.


Panggilan pertama tidak dijawab oleh Ell.


Alice berusaha menelpon Ell kembali.


Dan beruntung kali ini Ell menjawab.


"Halo..."


ucap Ell dari tempatnya.


Saat ini Ell datang ke perpustakaan berniat membawa kembali buku yang kemarin ia gunakan untuk melindungi wajah Alice dari sinar matahari.


Tiba-tiba ia merasakan getaran yang berasal dari handphonenya.


Awalnya ia tidak berniat menjawab panggilan itu.


Namun pada panggilan kedua ia memutuskan untuk menjawabnya.


"Halo.."


ucap Ell lagi setelah tidak mendapatkan respon dari orang yang menelponnya.


Ell melihat layar handphonenya.


Nomor itu tidak tidak tersimpan di kontaknya.


"Halo Kak..."


ucap Alice dengan napas tersenggal-senggal.


"Siapa ini?"


Ell mencoba mengenali suara itu.


Suara yang seperti ia kenali.


"Aku Alice Kak."


"Ada apa?"


"Aku mohon selamatkan aku Kak."


Dari suara Alice, Ell bisa meyakini bahwa Alice sangat membutuhkan pertolongan darinya.


"Kau ada dimana sekarang?"


"Aku ada di ruangan laboratorium Kak."


"Baiklah aku akan segera datang ke sana.


Tunggu aku."


Ell langsung bergegas pergi dari ruangan perpustakaan.


Ia mempercepat langkahnya menuju ruangan laboratorium yang berada di gedung terpisah dengan gedung lain.


Beberapa saat kemudian, Ell sudah sampai di ruangan laboratorium.


Ia langsung masuk ke sana.


Dan saat ia masuk, ia melihat banyak asap dimana-mana.


Dirinya juga mulai batuk-batuk.


Namun walaupun begitu, ia masih mencari dimana keberadaan Alice.


Ell mencari ke segala sudut ruangan.


Dan akhirnya ia berhasil menemukan Alice tergeletak dekat meja.


Ia langsung mendekati gadis itu dan menggendongnya ke tempat yang lebih jauh dari sumber asap.


"Alice...

__ADS_1


Kau tidak apa-apa?"


Ell mencoba menyadarkan Alice.


"Kak Ell.."


Alice samar-samar melihat wajah Ell berada di hadapannya.


Alice tersenyum.


Ia tahu Ell pasti akan datang menyelamatkannya.


Hingga akhirnya kedua matanya perlahan tertutup dan ia tidak sadarkan diri lagi.


"Alice..."


Ell menepuk pipi Alice.


Dan benar dugaannya, Alice pingsan.


Ell melihat ke sekelilingnya.


Ia meyakini asap itu berasal dari gas beracun yang membuat orang pingsan bahkan mengalami gangguan pernapasan jika menghirupnya lama.


Ell kemudian membuka jaketnya dan menggunakannya sebagai penutup di wajah Alice agar gadis itu tidak menghirup banyak gas beracun itu lagi.


Ell berniat membawa Alice keluar dari sana.


Namun perlahan ia mulai merasakan sesak napas.


Ell memegang erat dadanya.


Penglihatannya juga mulai buram.


Ell tidak tahan lagi, hingga tubuhnya ikut terbaring di samping Alice.


Ell melihat ke arah Alice.


Tangannya terulur menyentuh wajah Alice.


Dan kemudian mata Ell perlahan tertup.


Keduanya sama-sama dalam kondisi tidak sadarkan diri.


30 menit kemudian, kelas berikutnya bersiap-siap menuju ruangan laboratorium untuk melaksanakan ujian praktikum.


Dosen dan Mahasiswa masuk ke dalam laboratorium.


Namun mereka semua begitu terkejut melihat pemandangan yang berada di hadapan mereka.


Ell dan Alice sedang terbaring dengan posisi berpelukan di lantai.


"Apa yang kalian lakukan di sini?


Benar-benar keterlaluan!"


ucap Dosen dengan nada tinggi.


Mereka semua salah paham dan mengira bahwa Ell dan Alice sedang melakukan tindakan asusila di sana.


Tidak sedikit juga dari mereka mengabadikan momen itu dengan memotret Ell dan Alice.


Mereka berniat akan menyebarluaskan foto itu ke publik, mengingat bahwa Ell dan Alice berasal dari keluarga terpandang sekaligus merupakan pemilIik dari kampus mereka.


Publik pasti akan heboh nantinya.


Mereka mencoba membangunkan Ell dan Alice.


Namun keduanya sama sekali tidak membuka mata.


Ell dan Alice kemudian dibawa ke poliklinik kampus.


Perawat Poliklinik kemudian meminta pihak kampus untuk membawa Ell dan Alice ke rumah sakit karena belum bisa memastikan apa yang terjadi dengan keduanya.


--


Marine dan Mario beserta Sergio yang sedang berada di kantor begitu terkejut melihat berita yang muncul di hadapan mereka.


"Apa-apan ini!


Bagaimana mungkin mereka menyiarkan hal seperti itu?"


ucap Marine dengan nada amarah.


"Sayang tenanglah.


Ell dan Alice tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu.


Pasti ada kesalahpahaman di sana."


Mario mencoba menenangkan Istrinya.


"Mario benar Marine.


Kita semua tahu bahwa Ell dan Alice adalah anak yang baik.


Sebaiknya sekarang kita harus segera ke rumah sakit dan mendengar penjelasan langsung dari Ell dan Alice."


"Kau benar Sergio.


Sayang, ayo kita pergi ke rumah sakit."


Mereka kemudian bergegas pergi ke rumah sakit.


Mereka harus mendengar penjelasan langsung dari Ell.


Jangan sampai hal itu mengakibatkan masalah besar bagi nama keluarga mereka.


Sesampainya di rumah sakit, Marine, Mario dan Sergio keluar dari mobil.


Di luar sudah ada banyak wartawan yang berdiri di depan rumah sakit.


Kedatangan mereka juga membuat para wartawan berlarian ke arah mereka.


Beruntung Keluarga Dakota memiliki penjagaan yang sangat ketat sehingga tidak ada satupun wartawan bisa meliput mereka ataupun masuk ke dalam rumah sakit.


Marine, Mario dan Sergio langsung menghampiri Dokter yang memeriksa keadaan Ell dan Alice.


Di sana juga ada beberapa pihak kampus .


"Apa yang terjadi dengan mereka berdua Dok?"


tanya Mario.


"Ell dan Alice tidak sadarkan diri akibat menghirup gas beracun dari ruangan laboratorium.


Mereka baik-baik saja.


Beruntung mereka langsung di bawa ke rumah sakit.


Keadaan mungkin akan jauh lebih parah jika mereka terlambat dibawa ke rumah sakit."


"Bagaimana bisa Ell dan Alice berada di ruangan yang sama?


Ell dan Alice berada di tingkat yang berbeda.


Kalian juga tahu itu bukan?"


Marine menatap tajam ke arah pihak Dosen.


"Informasi terakhir yang kami dapatkan, bahwa sebelumnya Nona Alice dan Mahasiswa yang lain melaksanakan ujian praktikum di ruangan itu Bu.


Semua Mahasiswa diyakini sudah keluar setelah melaksanakan ujian Bu.


Peralatan juga sudah tidak digunakan lagi.


Kami tidak mengerti mengapa Nona Alice masih berada di ruangan itu dan bisa menghirup gas beracun seperti itu."


"Alice..."


Marine menggeram kesal.


Gadis itu selalu menyebabkan masalah dalam keluarga mereka.

__ADS_1


"Untuk Tuan Ell, kami tidak tahu mengapa beliau bisa berada disana."


"Terima kasih atas informasinya.


Untuk selanjutnya kami minta bantuan kalian untuk menyampaikan pada Mahasiswa dan juga publik bahwa kabar yang sempat tersebar tidaklah benar.


Ell dan Alice sama sekali tidak melakukan tindakan asusila."


"Baik Pak.


Kami akan segera memberitahukan kebenarannya."


"Terima kasih.."


"Marine..."


Mereka semua melihat ke arah Laura yang baru saja datang.


"Apa yang sebenarnya terjadi?


Aku begitu terkejut melihat berita itu."


"Semua hanya salah paham sayang."


ucap Sergio.


"Dan bagaimana dengan Ell dan Alice?


Mereka baik-baik saja kan?"


Laura lebih mengkhawatirkan keduanya dibandingkan berita yang menimpa keluarganya.


Karena menurutnya Ell dan Alice akan menjadi korban atas kesalahpahaman publik.


"Mereka masih belum sadar.


Tenang saja, mereka akan baik-baik saja sayang."


Sergio mengelus pundak Istrinya yang terlihat begitu khawatir.


--


Beberapa jam kemudian, Suster menghampiri anggota keluarga yang menunggu di ruang tunggu.


"Kedua pasien sudah sadar Bu."


Mereka semua langsung berdiri dan bergegas masuk ke dalam ruangan dimana Ell dan Alice dirawat.


Ell dan Alice berada di ruangan yang sama dengan ranjang berdampingan.


Alice memijit kepalanya yang masih terasa sakit.


Ia kemudian melihat ke arah sampingnya.


Di sana Ell sedang duduk di ranjang sambil melihat ke arah handphonenya dengan begitu serius.


Alice berusaha mengganti posisinya menjadi duduk


Ia membuka handphonenya.


Alice menggelengkan kepalanya, tidak percaya.


Ia begitu terkejut melihat dirinya dan Ell yang menjadi topik pembicaraan di kampus.


Buruknya, mereka dituduh melakukan tindakan asusila di ruangan laboratorium.


Alice melihat ke arah El.


Sungguh ia merasa bersalah atas apa yang terjadi.


"Kak Ell..."


Ell menatap ke arahnya.


"Aku..."


Belum saja melanjutkan kalimatnya, pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dan menampilkan Marine, Mario, Sergio dan Laura yang berjalan ke arah mereka.


Marine melangkahkan kakinya dengan cepat, menghampiri ranjang Alice.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung memberikan tamparan keras di pipi Alice.


Hal itu mengejutkan semua anggota keluarga yang lain.


Pipi Alice seketika terhempas.


Ia langsung memegang pipinya yang terasa panas.


Perlahan matanya mulai berkaca-maca sambil menatap ke arah Bibinya yang dipenuhi amarah.


"Marine, apa yang kau lakukan, hah?"


Mario mendekati Marine.


Ia sangat tidak suka dengan perbuatan sangat kasar Istrinya itu.


"Kenapa kalian selalu membuat masalah dalam keluargaku?


Dulu Ibumu, dan sekarang Kau.


Kalian berdua benar-benar menghancurkan kehidupan keluargaku.


Kau sudah puas, hah?"


"Marine..."


Laura mencoba menghentikan perkataan kasar Marine pada Alice.


"Aku benar-benar sangat membencimu..."


tambah Marine.


Semua ucapan Marine tentu saja membuat Alice begitu sedih.


Air matanya lolos begitu saja hingga membanjiri wajahnya.


Alice menangis terseduh-seduh.


"Bibi, aku...."


"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!"


ucap Marine dan kemudian keluar dari ruangan itu dalam keadaan marah.


Mario kemudian menyusul Marine.


Sepeninggalan Marine dan Mario, Laura langsung mendekati Alice.


"Bibi, aku tidak bermaksud menyebabkan ini semua."


ucap Alice dengan terbata-bata.


"Iya sayang, Bibi tahu."


Laura mengelus pipi Alice yang bewarna merah, bekas tamparan Marine tadi.


Ia begitu sedih melihat keadaan Alice seperti itu.


Laura langsung memeluknya dengan erat.


Alice menangis di dalam pelukan Laura.


Rasanya ia ingin pergi saja, meninggalkan semua kesedihannya.


Ell melihat ke arah Alice yang sedang menangis di dalam pelukan Ibunya.


Sama halnya dengan anggota keluarga yang lain, ia juga tidak menerima perlakuan kasar Marine terhadap Alice.


Jujur saja, ia sama sekali tidak menyalahkan Alice atas apa yang terjadi.


Karena semua hanya kesalahpahaman semata.


Dirinya dan Alice sama-sama tidak menyangka hal itu akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2