Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Karena Brein


__ADS_3

"Alice...."


Brein melangkahkan kakinya dengan cepat untuk bisa menghampiri Alice.


Alice membalikkan badannya saat mendengar suara Brein memanggilnya dari belakang.


Ia melihat pria itu berjalan ke arahnya.


Brein menghampiri Alice yang tersenyum padanya.


Seketika sesuatu dalam diri Brein bergetar setiap kali melihat senyuman itu.


Ia begitu menyukai senyuman Alice.


"Ada apa Kak?"


Brein memperbaiki posisi jasnya yang berada di tangannya dan kemudian menatap Alice dengan tatapan penuh.


"Hem, apa kau tahu dimana halte bus terdekat?


Aku biasanya menggunakan bus setiap kali kemana-mana."


Alice mengarahkan matanya ke arah lain sebentar dan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Kebetulan aku juga akan pulang naik bus Kak.


Aku bisa membawa Kakak ke sana."


"Oh benarkah?


Kalau begitu, apa kau mau pulang bersamaku?"


tanya Brein dengan tatapan penuh harap.


Alice tersenyum dan kembali mengangguk.


Sementara Brein merasa senang karena bisa pulang bersama Alice.


Ia menatap Alice dari belakang sebentar dan kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat agar bisa mengimbangi langkah gadis itu.


Sesampainya di halte bus, tidak lama beberapa saat kemudian bus datang.


Alice dan Brein masuk ke dalam bus.


Di sana tinggal tersisa 2 kursi dalam satu barisan dan mereka berdua duduk di sana.


"Alice..."

__ADS_1


Brein membuka suara untuk memulai pembicaraan.


Alice langsung menatap Brein yang berada di sampingnya.


Brein menatap mata itu dengan lekat.


"Soal Sania, aku percaya bukan kau yang melakukannya.


Kau tidak akan melakukan hal seperti itu."


Alice menunduk sebentar dan kembali menatap Brein.


"Aku juga tidak pernah menduga Sania akan melakukan itu Kak.


Padahal aku sama sekali tidak membencinya."


Karena sebaliknya, Sania lah yang membencinya.


Dari awal Sania sudah menunjukkan ketidaksukaan pada dirinya.


"Aku tahu itu.


Kau hanya perlu bertahan untuk itu semua Alice.


Keberanian dalam dirimu akan membuatmu melalui itu semua.


Kau tahu bahwa kita hidup di zaman dimana kebaikan selalu disalahartikan bukan?


Perkataan Brein membuat perasaan Alice jauh lebih baik dari sebelumnya.


Seolah-olah pria itu sudah mengenalnya dengan baik dan mengerti bagaimana perasaannya.


"Selama aku di sana, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi.


Aku akan menjagamu."


tambah Brein dengan nada penuh keyakinan.


Entah mengapa, saat ini Alice melihat sosok Rein dalam diri Brein.


Sama seperti apa yang dikatakan Rein dulu, Brein juga mengatakan hal yang sama.


"Kenapa Kakak ingin menjagaku?


Maksudku, terlepas dari masa sekolah dulu.


Kita baru mengenal bukan?"

__ADS_1


"Hem, aku itu pria yang baik.


Aku tidak suka melihat siapapun diperlakukan dengan buruk.


Termasuk denganmu Alice.


Jadi aku menjagamu dari orang-orang gila itu."


ucap Brein dengan nada dan ekspresi konyol.


Seketika hal itu membuat Alice tertawa lepas.


Dan sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah tertawa selepas itu, sejak Rein pergi.


Brein ikut menyunggingkan senyumnya.


Ia begitu senang melihat Alice tertawa.


"Ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa seperti ini."


"Kalau begitu aku berterima kasih pada Kakak yang telah membuatku tertawa."


"Sama-sama Alice.


Kalau boleh setiap harinya kau harus seperti tadi.


Kau juga tidak perlu menyembunyikan kesedihanmu.


Kau bisa meluapkannya padaku Alice."


Alice tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih Kak."


ucap Alice dengan kesungguhan.


Alice kemudian menatap lurus ke depan.


Ia menarik napas lega, karena kini bebannya perlahan mulai terangkat.


Dan itu semua karena Brein.


Kehadiran Brein begitu tiba-tiba di dalam hidupnya.


Bahkan sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahwa akan ada seseorang yang mengerti dan memahami perasaannya selain Rein.


Karena dari dulu hingga sekarang, ia terbiasa dengan orang-orang yang membencinya.

__ADS_1


Tapi sekarang, Brein hadir dalam hidupnya.


Dan itu membuatnya bersyukur akan hal itu.


__ADS_2