
Kepala sekolah begitu terkejut mendengar pernyataan Alice.
Beliau tidak menyangka bahwa Alice akan menolak beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi ternama di Indonesia.
"Alice, apa yang membuatmu berubah pikiran?
Bukankah selama ini kau berusaha keras untuk berkuliah di sana?"
"Tidak ada alasan khusus Bu.
Saya hanya ingin berkuliah di tempat lain."
"Apa Paman dan Bibimu yang memaksamu melakukan ini?"
Kepala sekolah mengetahui bagaimana seluk beluk Keluarga Dakota dari berita yang sering memberikan informasi tentang mereka.
Alice langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak Bu.
Aku sendiri yang memutuskannya."
"Baiklah jika itu keinginanmu Alice.
Hanya saja Ibu sedikit kecewa dengan keputusanmu."
"Maafkan saya Bu.
Saya tidak bermaksud untuk membuat Ibu kecewa."
"Tidak apa-apa Alice.
Bagaimanapun kau sendiri yang menentukan masa depanmu."
"Terima kasih atas pengertian Ibu."
"Kau bisa kembali ke kelasmu Alice."
"Baik Bu."
Alice kemudian keluar dari ruangan kepala sekolah.
Alice menarik napas panjang.
Ternyata impiannya selama ini terhenti sampai di situ.
Ia tidak akan bisa mencapainya.
Bahkan hanya sekedar berharap saja.
--
"Alice, katakan padaku bahwa Bibimu yang menyuruh menolak beasiswa itu."
ucap Rayn dengan tatapan menuduh.
"Tidak Rayn.
Kau salah.
Aku sendiri yang memutuskan untuk menolaknya."
"Tapi kenapa Alice?
Aku tahu bagaimana kerasnya usaha yang kau lakukan selama ini untuk bisa mendapatkan beasiswa itu."
"Setiap orang bisa saja berubah pikiran Rayn."
"Tapi tidak dengan dirimu Alice.
Aku begitu mengenalmu."
Rayn mendekatkan tubuhnya pada Alice dan menatap matanya.
"Kau tidak perlu berbohong padaku Alice.
Tanpa kau beritahu pun aku sudah mengetahui kebenarannya."
Alice menundukkan wajahnya.
Ia tidak bisa mengelak lagi.
"Aku tidak punya pilihan lain Rayn."
"Tapi sampai kapan kau akan terus berkorban seperti ini, hem?
Kau juga punya mimpi yang besar Alice."
"Aku juga tidak tahu Rayn.
Yang aku tahu adalah aku tidak boleh menambah beban mereka lagi.
Selama ini aku sudah sangat membebani orang-orang di sekitarku."
"Jika mereka menganggapmu adalah beban sebaliknya aku menganggapmu anugerah Alice.
Aku sangat beruntung bertemu denganmu.
Kau mengajarkanku banyak hal."
__ADS_1
Bukannya terharu, Alice malah terkekeh mendengar ucapan Rayn barusan.
"Dari mana kau mendapatkan kalimat kalimat manis seperti itu Rayn?
Jangan bilang kau mengatakan hal itu untuk menggoda para gadis.
Kau tahu aku tidak akan mempan dengan hal itu."
Alice kembali tertawa dan kemudian berjalan meninggalkan Rayn yang menatapnya heran.
Ia sama sekali tidak bercanda.
Kalimat itu benar-benar berasal dari hatinya.
"Alice aku tidak bercanda.
Aku serius."
ucap Rayn dengan suara lantang.
"Aku tidak percaya."
ucap Alice yang semakin menjauh darinya.
"Benar-benar!"
Rayn menggelengkan kepalanya.
--
Sepulang sekolah, Kate menghampiri Alice ke kelasnya.
"Alice, Kakak ingin meminta tolong padamu untuk mengembalikan buku catatan ini pada Ell.
Besok kami ada kuis di kelas.
Tadi Kakak lupa mengembalikannya pada Ell.
Dan setelah ini Kakak harus segera pergi untuk melakukan pemotretan.
Kau bisa kan mengembalikannya pada Ell?"
Alice menganggukkan kepalanya dan kemudian menerima buku catatan milik Ell.
"Terima kasih Alice.
Aku sangat menyayangimu."
Kate mencium pipi Alice dan kemudian pergi meninggalkan ruangan kelas Alice.
Alice kemudian pergi menuju ruangan kelas Ell.
Ia masuk kesana, namun ruangan itu kosong.
Alice kemudian melangkahkan kakinya menuju lapangan basket.
Dan Ell juga tidak ada di sana.
(Apa Kak Ell sudah pulang ke rumah?
Mungkin saja.)
Alice mulai berasumsi.
Alice kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah.
Dan setelah itu ia akan menemui Ell di rumahnya.
Sesampainya di depan gerbang rumah,
Alice langsung melangkahkan kakinya menuju rumah Ell.
Samar-samar ia mendengar pertengkaran dari dalam rumah.
Itu suara Paman dan Bibinya.
Alice mendekat dan mengentikan langkahnya saat melihat Paman dan Bibinya sedang bersitegang di ruang tamu.
"Kau seharusnya tidak memperlakukan Alice seperti itu Marine.
Alice adalah Keponakan kandungmu sendiri.
Dia Putri Raphael, Adikmu.
Bagaimana bisa kau berbuat jahat pada Keponakanmu sendiri, hah?"
"Jangan lupakan bahwa Alice terlahir dari rahim wanita murahan itu Mario.
Sampai kapanpun aku akan tetap menganggap Alice anak haram.
Karena dia lahir dari hubungan terlarang.
Bukankah kau tahu bagaimana menderitanya aku selama ini, hah?
Wanita itu membuat aku kehilangan Raphael dan Ayah.
Dia yang menyebabkan Raphael dan Ayah meninggal!
Aku begitu membenci Sera dan Putrinya."
__ADS_1
Alice menutup mulutnya.
Tubuhnya bergetar hebat.
Perasaanya begitu sakit mendengar Bibinya berkata buruk soal Ibunya.
Marine bahkan berkata bahwa Ibunya adalah wanita murahan dan dirinya adalah anak haram.
Sengguh kalimat itu sangat menyakitinya.
Air mata Alice keluar dengan begitu derasnya.
"Hatimu memang terbuat dari batu Marine.
Alice tidak tahu apa-apa soal itu.
Dan kau tega membencinya.
Kau benar-benar buruk!"
"Cukup Mario.
Aku tidak peduli bagaimana penilaianmu tentang diriku.
Sampai kapanpun aku akan tetap membenci mereka berdua!"
Alice sudah tidak tahan lagi.
Ia tidak akan sanggup jika harus kembali mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Bibinya.
Alice langsung pergi meninggalkan rumah Ell.
Ia berlari sekencang-kencangnya, mencari tempat untuk meluapkan perasaan sakitnya.
Ell mengikuti Alice dari belakang.
Sebenarnya ia juga baru saja pulang, bersamaan dengan datangnya Alice.
Namun Alice lebih cepat darinya.
Awalnya ia cukup terkejut melihat Alice yang berjalan menuju ke rumahnya.
Ia kemudian melihat buku catatannya di tangan gadis itu.
Kate pasti menyuruh Alice untuk mengembalikan buku itu padanya.
Ell berniat menghampiri Alice.
Namun terhenti saat melihat Alice tidak jadi masuk ke rumahnya.
Sepertinya Gadis itu sedang mendengar percakapan dari dalam rumah.
Dan dari tempatnya Ell bisa mendengar suara keras yang merupakan suara Mario dan Marine.
Ell memandang lekat gadis itu.
Tubuhnya bergetar hebat setelah mendengar perkataan buruk tentang Ibunya.
Alice tidak bisa memendung tangisnya.
Gadis itu pasti begitu terluka.
Dirinya juga bisa merasakan hal itu.
Alice kemudian pergi dan berlari kencang.
Entah mengapa Ell langsung mengikuti Alice dari belakang.
Alice menghentikan langkahnya di lapangan basket.
Seketika ia mengingat perkataan Ell yang melarangnya untuk pergi ke sana.
Namun ia tidak tahu harus kemana lagi.
Ia sama sekali tidak punya tempat tujuan.
Alice perlahan melangkahkan kakinya ke kursi yang berada di sana.
Ia duduk dan kemudian kembali menangis.
Alice memeluk erat tubuhya dan air mata itu tidak bisa berhenti keluar.
Ell hanya diam memandangi tubuh rapuh itu.
Alice mengeluarkan surat dari Ibunya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
"Kapan Ibu akan datang?
Aku mohon segera bawa aku pergi dari sini Ibu.
Aku tidak sanggup lagi.."
ucap Alice dengan nada lirih.
Alice kemudian mengangkat kakinya dan menaupkan wajahnya pada lututnya.
Di sana ia menangis sejadi-jadinya.
Selama berjam-jam Ell berdiri di sana.
__ADS_1
Matanya selalu mengarah pada Alice yang belum berhenti menangis.
Tangisan itu menjadi bukti bagaimana terlukanya Alice saat ini