
Matahari yang perlahan mulai memasuki kamar Alice membuat Ell terbangun dari tidurnya.
Ell membuka kedua matanya dan kemudian menghusapnya.
Ell merenggangkan ototnya yang terasa begitu pegal karena semalaman ia harus tidur di kursi yang tidak mampu menampung seluruh tubuhnya.
Benar, semalam ia sama sekali tidak beranjak dari sana dan kembali ke kamarnya.
Ada sesuatu yang menahan dirinya untuk tetap berada di sana.
Matanya kemudian melihat ke arah Alice yang masih tertidur pulas dengan posisi menghadap ke arahnya.
Senyuman perlahan terlukis di bibir Ell.
Ia teringat dengan kejadian semalam saat Alice berlari ketakutan.
Gadis itu pasti kelelahan karena kejadian semalam.
Beberapa saat kemudian, Alice terlihat tidak nyaman saat cahaya matahari menyinari wajahnya.
Tidak ingin Alice terbangun dari tidurnya, Ell langsung berdiri tepat di hadapan Alice sehingga menghalangi matahari mengganggu tidur Alice.
Perlahan Alice mulai kembali tenang di tempat tidur.
Pemandangan di hadapannya membuat Ell nyaman di tempatnya.
Cukup lama ia berdiri di sana hingga ia mendapatkan panggilan dari handphonenya.
Beruntung handphonenya tidak berdering sehingga tidak mengganggu tidur Alice.
Ell keluar dari kamar Alice dan menjawab panggilan itu.
Setelah selesai menjawab panggilan, Ell melihat ke arah kamar Alice sebentar dan kemudian memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Saat berjalan menuju kamarnya, Ell berpapasan dengan Marine yang kebetulan baru saja keluar dari kamar.
Senyuman Ell perlahan mulai memudar saat bertatapan dengan Marine.
"Ell kau dari mana?
Ini masih pagi."
Marine kemudian melihat ke arah datangnya Ell tadi.
"Hem, aku tadi mendapat telpon dari kantor Bi.
Aku keluar untuk menjawab sekaligus aku juga ingin menghirup udara pagi."
Ell terpaksa berbohong karena jika ia mengatakan yang sebenarnya, Marine pasti akan kembali melakukan sesuatu yang buruk pada Alice.
Marine mengerutkan keningnya.
Cuaca di luar dingin, dan Ell keluar tanpa memakai jaket?
Terdengar aneh menurutnya.
"Hem, aku akan kembali ke kamarku Bi."
Ell memberikan senyuman dan kemudian pergi me kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, Ell baru menyadari bahwa ia meninggalkan jaketnya di kamar Alice dan lupa membawanya.
"Alice bisa mengembalikannya nanti padaku."
--
Alice membuka kedua matanya.
Setelah benar-benar sadar, Alice mengubah posisinya menjadi duduk.
Ia melihat ke sekeliling kamarnya dan matanya menangkap sebuah jaket yang terpasang di kursi.
Perlahan senyuman mengembang mulai terukir di wajah Alice.
Ternyata ia sama sekali tidak bermimpi.
Ell benar-benar datang ke kamarnya dan menemaninya sepanjang malam.
Alice kembali tersenyum mengingat kejadian semalam.
Untuk sejenak ia melupakan niatnya untuk menghilangkan perasaannya pada Ell.
Walaupun nanti ia akan berusaha menata hatinya kembali untuk melupakan pria itu.
Alice beranjak dari tempat tidur.
Ia mengambil jaket Ell dari kursi.
"Terima kasih Kak Ell sudah menemaniku semalam."
Alice kemudian merapikan jaket itu dan memasukkannya ke dalam lemari.
Alice keluar dari kamarnya.
Semua persiapan sudah selesai.
Dan acara itu tepatnya akan dilaksanakan malam ini.
Alice melangkahkan kakinya untuk menemui anggota keluarga yang lain.
Sementara Marine senang berada di kamar Kate.
Dengan bantuan karyawan, ia membawakan banyak gaun indah untuk dikenakan Kate malam ini.
Tentu saja Kate harus tampil sangat memukau dan menjadi pusat perhatian orang-orang di acara nanti.
"Ibu, gaun ini sangat banyak.
Untuk apa semua ini Bu?
Lagian aku sudah membawa gaun untuk kenakan malam ini."
"Kate, Ibu ingin kau memilih satu di antara gaun-gaun ini untuk kau kenakan malam ini."
"Tapi Ibu, aku sudah memiliki gaun pilihanku."
Marine kemudian mendekati Kate.
"Kate, dengarkan Ibu.
Ibu hanya ingin kau tampil memukau malam ini.
Ibu juga sudah melakukan semua ini untukmu.
Paling tidak, hargai apa yang Ibu lakukan sayang.
Lagian kau hanya butuh gaun baru.
Ibu tahu, gaun itu gaun kesukaanmu.
Tapi kau tidak boleh mengenakannya berulang kali Kate."
Kate sejenak mempertimbangkan keputusannya kembali.
Sebenarnya ia sangat ingin mengenakan gaun kesukaannya, yang tidak lain adalah gaun pemberian Ell.
Tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan Ibunya yang sudah melakukan banyak hal untuknya.
Mungkin ia bisa mengenakan gaun itu di lain waktu.
"Ibu mohon Kate."
ucap Marine dengan tatapan memohon.
Kate langsung menanggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah Ibu.
Aku akan mengenakan salah satu di antara gaun itu."
Marine akhirnya tersenyum puas.
"Baiklah sayang, ayo pilih semua gaun itu."
Kate kemudian mencoba satu per satu gaun pemberian Ibunya.
Dan akhirnya ia memilih gaun indah bewarna merah.
Marine begitu puas melihat penampilan putrinya yang sangat memukau bahkan tanpa riasan sedikitpun.
Kate terlihat sangat elegan dan berkelas.
Kulitnya yang putih juga terlihat sangat menyatu dengan warna merah berani itu.
"Kau sangat cantik Kate."
Kate tersenyum dan kemudian melihat penampilannya di depan cermin.
Ia berharap seseorang yang ada di pikirannya saat ini juga akan bereaksi sama dengan Ibunya ketika melihatnya nanti.
Pujian orang itu sangat diharapkannya.
"Bagaimana sayang?
Kau menyukai gaun ini bukan?
Ibu berharap malam ini kau akan mengenakannya."
Kata kemudian berbalik dan menghadap Ibunya.
"Iya Bu.
Aku akan mengenakan gaun ini di acara nanti malam."
"Pilihanmu sangat tepat sayang.
Ibu juga sudah mengundang perias profesional yang akan meriasmu malam ini.
Ibu tidak sabar melihat penampilanmu secara keseluruhan."
"Terima kasih banyak Ibu.
Semuanya juga berkat Ibu."
Marine mengelus pipi Kate dengan lembut.
"Sama-sama sayang.
Ibu akan melakukan yang terbaik untukmu."
--
Sama seperti sebelumnya, Alice kembali membantu Ibu Rihanna di dapur.
Seolah tidak habis pekerjaan, Marine kembali menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan itu.
"Alice...."
Laura menemui Alice di dapur.
Alice tersenyum melihat kehadiran Laura.
"Kemarilah sayang."
Alice menghentikan pekerjaannya dan kemudian menghampiri Laura.
"Ada apa Ibu?
Apa Ibu memerlukan bantuan?"
Alice seketika menjadi bingung melihat tatapan keduanya.
Laura kemudian menarik tangan Alice.
"Ikut Ibu ke kamar Alice."
"Tapi Bu..."
Alice tidak bisa berkata apapun karena Laura langsung membawanya pergi dari sana.
Sesampainya di kamar, Laura menutup pintu kamar dan kemudian mengeluarkan sebuah gaun dari lemarinya.
Laura membawa gaun indah di tangannya dan menghampiri Alice.
Sementara Alice masih kebingungan dengan alasan mengapa Laura tiba-tiba membawanya ke sana
Apalagi saat melihat Laura mengeluarkan sebuah gaun dari lemari.
Gaun bewarna peach dengan tali pundak dan renda di seluruh bagian.
"Ini gaun Ibu saat muda dulu dan ini adalah gaun kesukaan Ibu.
Tapi walaupun gaun ini sudah lama, gaun ini masih terbilang elegan dan indah.
Alice cobalah gaun ini."
"Hem, aku tidak mengerti Bu."
Laura tersenyum melihat raut kebingungan di wajah Alice.
"Ibu memberikannya padamu Alice.
Dan Ibu ingin kau mengenakan gaun ini nanti malam."
Walaupun Alice sudah membawa gaun untuk dikenakannnya malam ini, tapi ia tidak bisa menolak Laura yang begitu baik padanya.
"Cobalah sayang.
Ibu yakin gaun ini sangat cocok untukmu."
Alice tersenyum dan kemudian mengangguk.
Tidak lama kemudian, gaun itu sudah terpasang sempurna di tubuh Alice.
Laura begitu terpukau melihat Alice yang terlihat begitu cantik mengenakan gaun miliknya.
Ia tersenyum lebar.
Memorinya saat pertama kali mengenakan gaun itu kembali berputar di kepalanya.
Waktu itu ia berkencan dengan Sergio hingga di malam itu Suaminya itu melamarnya dan mereka akhirnya memutuskan untuk menikah.
Alice terlihat persis seperti dirinya dulu.
Tidak, Alice terlihat lebih memukau dari dirinya.
Apalagi Alice saat ini tengah menggulung rambutnya hingga menampilkan pundaknya yang indah.
"Alice kau sangat cantik sayang."
Raut wajah Laura sudah menunjukkan bagaimana penilaiannya terhadap penampilan Alice.
"Terima kasih Bu."
Alice juga menyukai gaun pemberian Laura.
"Akhirnya gaun ini menemukan pemilik barunya.
Ibu sangat senang memberikannya padamu."
Alice tersenyum mendengar hal tersebut.
__ADS_1
"Oh, Ibu melupakan sesuatu.
Tunggu sebentar Alice.
Ibu akan segera kembali."
Alice tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Laura keluar dari kamar.
Setelah pintu tertutup, Alice perlahan melangkahkan kakinya menuju cermin.
Ia tersenyum saat melihat dirinya di depan cermin.
Sungguh ia begitu menyukai gaun itu.
Lagi-lagi Alice tersenyum.
Alice masih fokus pada dirinya hingga tidak menyadari seseorang masuk ke dalam kamar itu.
"Ibu..."
Langkah Ell yang ingin bertemu dengan Ibunya terhenti saat melihat seorang gadis dengan balutan gaun Ibunya.
Ya, Ell datang ke kamar Ibunya karena ia ingin menanyakan sesuatu.
Mata Ell fokus memandang ke arah tubuh yang membelakanginya itu.
Gadis itu memiliki ukuran yang sama dengan Ibunya saat muda dulu.
Sangat indah.
Tidak lama kemudian, Alice berbalik dan kedua pasang mata mereka seketika bertemu.
Senyuman Alice perlahan memudar.
Ia begitu terkejut saat melihat Ell berada di sana.
"Kak Ell..."
Alice kemudian melihat tubuhnya yang masih mengenakan gaun milik Laura.
Hal itu membuatnya cukup malu saat berhadapan dengan Ell.
Alice perlahan menaikkan wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap mata Ell.
"Bibi memintaku untuk mengenakan gaun ini di acara nanti malam Kak.
Sebenarnya aku sudah mempunyai gaun tapi.."
"Kau mengenakan gaun ini saja.
Kau cantik."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Ell.
Ia ingin Alice mengenakan gaun itu malam ini.
Dan untuk sekian kalinya, Alice tampil begitu cantik di hadapannya.
Namun menurutnya kali ini Alice jauh lebih cantik dari sebelumnya walau tanpa riasan sedikitpun.
Wajah natural dan juga rambut Alice yang tergulung membuat gadis itu terlihat sempurna di matanya.
Dan kali ini ia mengeluarkan pujian itu untuk Alice.
Alice begitu gugup setelah mendengar pujian itu dari Ell.
Ia kemudian melihat ke arah lain, berusaha untuk mengontrol jantungnya yang mulai berdetak dengan kencang.
"Ada apa?
Apa kau tidak suka dengan pujianku?"
Ucap Ell sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Hem?"
Alice terpaksa kembali menatap Ell.
"Tidak, bukan seperti itu Kak.
Aku...
Hem, terima kasih Kak.
Dan juga untuk semalam, aku belum mengucapkan terima kasih pada Kakak.
Terima kasih sudah menemaniku Kak."
Alice perlahan tersenyum mengembang.
Ell menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Entah apa yang membuatnya bertingkah layaknya seorang bocah remaja saat ini.
"Hem, malam ini kau jangan tidur disana lagi.
Aku akan meminta Ibu Rihanna untuk membantumu pindah ke kamar dalam."
Alice menganggukkan kepalanya dan kembali tersenyum.
Tanpa diduga, jepitan di kepala Alice mulai melonggar hingga gulungan rambutnya terlepas begitu saja.
Alice langsung menyadarinya dan menyentuh rambutnya.
Ell melangkahkan kakinya mendekati Alice.
Entah apa yang akan dilakukannya kali ini.
"Berbaliklah."
Alice mengerutkan keningnya saat melihat Ell sudah berada di dekatnya.
Namun apa maksud perkataan Pria itu barusan?
Ia masih belum berbalik.
"Berbaliklah.
Aku akan membantu menggulung rambutmu."
Ell kemudian berdiri di belakang Alice dan membuat Alice mengubah posisinya.
Beberapa saat kemudian, Ell mulai menyentuh rambut Alice
Ia memegang setiap helaian rambut Alice dan perlahan menggulungnya dengan rapi.
Sementara Alice hanya bisa memegang erat sisi gaunnya.
Dirinya tidak pernah membayangkan berada di kondisi seperti itu.
Saat ini ia bahkan susah untuk mengatur napasnya yang mulai tidak teratur.
Tanpa mereka sadari, Laura melihat keduanya dari pintu saat masuk ke dalam kamar.
Ia perlahan melangkahkan kakinya dengan mata tertuju pada putranya yang saat ini menyentuh rambut Alice.
Suatu kejutan baginya melihat Ell bersikap sangat manis pada Alice.
Dan saat ini tidak dalam kondisi depan kamera.
Laura tersenyum senang.
(Seandainya Ell memiliki perasaan pada Alice, aku akan sangat senang memiliki Alice sebagai Menantuku.)
__ADS_1