
Setelah mengemas pakaian ke dalam koper, Alice dan Ell bersiap untuk kembali ke Jakarta.
Hanya mereka berdua yang kembali, mengingat urusan di sana sebenarnya belum selesai.
Namun karena peristiwa itu, semua keluarga terutama Ell tidak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Alice.
Pertama sekali Ell membawa koper miliknya dan milik Alice masuk ke dalam mobilnya.
Di sana juga ada Laura dan Kate yang turut membantu persiapan mereka kembali ke Jakarta.
Sementara yang lain sedang mengurus pers yang terus menerus menanyakan alasan kepergian Ell yang begitu tiba-tiba.
Keluarga Dakota tentunya tidak ingin hal itu semakin memperkeruh suasana dan kembali menciptakan masalah baru bagi keluarga mereka.
"Bagaimana sayang, apa semuanya sudah beres?
Jangan sampai ada barang kalian yang tertinggal."
ucap Laura pada Ell sesaat kembali ke kamar.
"Sudah Bu.
Tidak ada yang tersisa lagi.
Jika ada barang tertinggal, aku bisa meminta Ibu Rihanna atau yang lain membawanya."
"Syukurlah kalau begitu.
Alice, kondisimu benar-benar sudah membaik kan sayang?
Kau sudah siap berpergian jauh untuk kembali ke Jakarta?"
Laura mendekat pada Alice yang masih duduk di sofa.
"Sudah Bibi.
Maksudku sudah Ibu.
Kondisiku sudah membaik."
Laura tersenyum pada Alice.
"Kau lupa lagi Alice.
Tidak apa-apa, nanti kau akan semakin terbiasa dengan panggilan itu.
Syukurlah kondisimu sudah membaik, Ibu takut terjadi apa-apa padamu saat berada di perjalanan menuju Jakarta."
Sementara Kate yang mendengar panggilan itu, begitu terkejut karena ia tidak mengerti apa maksud Alice memanggil Bibinya dengan sebutan Ibu.
Pernikahan itu bukanlah pernikahan sesungguhnya, lantas mengapa Bibinya meminta Alice memanggilnya dengan sebutan itu?
Karena ia yakin Alice tidak akan mau berbuat sejauh itu apalagi menyangku soal pernikahannya dengan Ell.
Kate kemudian mengalihkan pandangannya pada Ell.
Pria itu terlihat tidak terkejut atau bereaksi sama seperti dirinya saat mendengar sebutan itu.
Apa jangan-jangan Ell justru dengan senang hati menerima hal itu?
"Kalau begitu, sudah saatnya kalian berangkat.
Akan lebih baik kalian berangkat lebih dini agar Alice bisa beristirahat dalam waktu yang lama di apartemen.
"Baik Ibu.
Kami akan berangkat.
"Hem, hati-hati sayang.
Ingat pesan Ibu, kau harus memperhatikan Alice setiap waktu."
"Baik Ibu.
Ibu tidak perlu khawatir."
Ell kemudian mendekat pada Kate yang sedang menatapnya dengan lekat.
Tanpa disadarinya, sedari tadi Kate memang memperhatikan gerak geriknya.
__ADS_1
"Kate, aku berangkat."
"Baiklah, aku harap kalian sehat dalam perjalanan sampai tiba di Jakarta.
Aku mohon jaga Alice." Kate langsung mengubah ekspresi terkejutnya tadi.
"Hem..." balas Ell sambil menganggukkan kepalanya.
Ell kemudian membalikkan badannya dan mendekat pada Alice yang masih berada di sofa.
Alice berniat berdiri dan berjalan tanpa dibantu.
Namun tiba-tiba Ell berdiri di hadapannya dan langsung menggendongnya.
Hal itu membuat Alice begitu terkejut.
Tidak hanya dirinya, Laura terutama Kate begitu terkejut atas apa yang dilakukan Ell pada Alice di hadapan mereka.
"Kak, apa yang kau lakukan?" tanya Alice.
Alice kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Laura dan Kate.
Saat melihat wajah Kate, Alice langsung berniat untuk turun, namun Ell semakin mengeratkan pegangan pada tubuhnya.
"Kau tenanglah.
Dari pada lukamu seperti tadi pagi, lebih baik aku menggendongmu masuk ke dalam mobil."
"Tapi, aku bisa berjalan sendiri Kak.." Alice masih merasa tidak enak atas perlakuan Ell yang diterimanya.
Apalagi ada Kate di sana.
"Aku akan percaya ucapanmu jika kita sudah sampai di Jakarta Alice.
Lebih baik kau jangan bergerak."
Ell kemudian membawa Alice keluar dari kamar.
Matanya begitu fokus membawa Alice sehingga tidak menyadari raut kesedihan di wajah Kate.
Sementara Laura hanya bisa tersenyum sekaligus bahagia melihat kedekatan Ell dan Alice.
Ia bisa melihat kenyamanan yang sesungguhnya pada diri putranya tersebut.
Laura kemudian mengikuti Ell dan Alice yang baru saja keluar dari kamar.
Kate hanya menatap lurus ke depan.
Ia masih tidak bisa percaya atas apa yang ia lihat tadi.
Perasaan Kate tiba-tiba begitu nyerih melihat pemandangan di hadapannya.
Menurutnya itu sudah terlalu jauh dari apa yang dipikirkannya soal hubungan mereka.
Bahkan Ell hanya fokus pada Alice saja sampai sampai tidak menghiraukannya yang juga berada di sana.
Kate menghusap wajahnya dan kemudian pergi dari sana.
Saat berjalan menuju mobil Ell, lagi-lagi ia melihat senyuman yang berbeda di wajah pria itu.
Cara Ell menatap Alice dan perhatian pria itu padanya, merupakan dua hal sama yang selalu ia terima sebelumnya.
Apa itu artinya Ell sudah memiliki perasaan pada Alice?
Apa kejadian kemarin membuat pria itu langsung luluh dan jatuh pada Alice?
Rasanya tidak mungkin secepat itu.
Apalagi sebelumnya Ell begitu membenci Alice atas pernikahan mereka.
Namun entah mengapa ia menjadi ragu dengan pertanyaan itu.
Karena fakta di hadapannya menunjukkan sebaliknya.
"Ibu, kami berangkat.
Aku akan menghubungi Ibu setelah sampai di sana.
Sampaikan salam kami pada Ayah dan Paman."
__ADS_1
"Baik sayang.
Ibu akan menyampaikannya.
Jika terjadi sesuatu juga segera hubungi Ibu."
Ell tersenyum dan mengangguk.
Sebelum masuk ke dalam mobil, ia memeluk Ibunya terlebih dahulu.
Matanya kemudian terarah pada Kate dan tersenyum pada gadis itu.
Setelah memastikan semuanya siap sedia, Ell langsung melajukan mobilnya.
Laura dan Kate melambaikan tangan sampai mobil Ell benar-benar sudah jauh.
Laura memutar posisi berdirinya, berniat untuk kembali ke villa.
Namun terhenti saat melihat tatapan Kate yang masih mengarah ke arah kepergian mobil Ell.
Benar, tatapan Kate masih belum berpindah dari sana.
Jujur, ada perasaan tidak rela saat menerima kenyataan bahwa Ell dan Alice akan berduaan selama di m perjalanan yang memakan waktu cukup lama pastinya.
Ia cemburu.
"Ada apa Kate?
Apa ada yang ingin kau sampaikan pada Bibi?"
"Tidak ada Bi.
Aku hanya mengkhawatirkan Alice atas apa yang telah terjadi kemarin."
Laura tersenyum dan kemudian mengelus pundak Kate.
Kate pasti begitu merasa bersalah pada Alice.
"Kau tidak perlu khawatir sayang.
Ell akan menjaga dan melindungi Alice sepenuhnya.
Kau bisa melihat bagaimana perlakuan Ell pada Alice tadi."
Kate kembali bersedih.
Benar saja soal apa yang dilihatnya tadi, siapapun pasti bisa menilai bahwa Ell begitu perhatian pada Alice.
"Iya Bi.
Aku juga yakin Ell bisa menjaga Alice dengan baik."
"Hem, kau juga tidak perlu bersedih Kate.
Kita semuanya hanya bisa berharap Ibumu segera berubah dan memperbaiki semuanya."
Kate hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Seketika ia tidak bisa memikirkan apapun sekarang selain Ell.
Termasuk soal Ibunya.
Segala macam pertanyaan sedang menghinggapinya sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
Ia takut, sungguh.
Ell adalah cinta pertamanya dan berharap menjadi cinta terakhirnya juga.
Pria itu begitu mengenalnya bahkan jauh melebihi dirinya sendiri.
Ia tidak mau kehilangan semua hal tentang Ell yang telah dimilikinya selama ini.
Termasuk perhatian dan kasih sayang pria itu.
Selama ini ia mungkin terlalu sepele sehingga tidak berpikir bahwa pria itu bisa saja pergi jauh darinya.
Namun sekarang ia harus menahan Ell untuk tetap berada di sisinya selamanya.
Ia yakin semuanya sama sekali belum terlambat.
__ADS_1
Jangan sampai apa yang ada di pikirannya saat ini benar-benar terjadi nantinya.