
Alice masuk ke dalam apartemen.
Samar-samar ia mendengar suara orang tertawa dari arah ruang tamu.
Alice meletakkan bungkusan di tangannya di meja makan.
Ia kemudian perlahan melangkahkan kakinya ke arah sumber suara.
Matanya menangkap Kate dan Ell yang sedang menonton bersama di ruang tamu.
Alice menyungginggkan senyumannya saat melihat Ell tertawa.
Pria itu tampak begitu bahagia saat ini.
Ya, dirinya juga tahu bahwa Kakaknya adalah kebahagiaan Pria itu.
Dan senyuman itu hanya untuk Kakaknya.
Entah mengapa tiba-tiba Alice merasa sedih melihat kebersamaan Ell dengan Kate.
Alice langsung menggelengkan kepalanya.
(Tidak-tidak.
Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Aku harusnya bahagia melihat mereka sudah baikan.)
Tidak ingin semakin larut dalam perasaanya, Alice melangkahkan kakinya menuju pintu.
Sepertinya ia harus keluar untuk mencari udara.
Alice duduk di bangku taman yang tidak jauh dari apartemen.
Alice memegang bagian kiri dadanya.
"Mengapa aku bisa merasakan hal seperti tadi?
Aku tidak boleh memiliki perasaan pada Kak Ell.
Alice sadarlah.
Kak Ell mencintai Kak Kate dan sebaliknya ia begitu membencimu.
Tidak, kau tidak boleh seperti ini.
Aku mohon menghilanglah."
Alice menatap lurus ke depan sambil menghusap-husap dadanya.
Ia berusaha mengontrol perasaannya.
Ia tidak boleh memiliki perasaan apapun pada Ell.
Sebaliknya ia harus mendukung hubungan Ell dengan Kate, Kakaknya.
"Permisi..."
Tiba-tiba suara seseorang membuat Alice tersadar dari lamunanya.
Alice melihat ke arah sumber suara.
Ternyata suara itu berasal dari seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya.
Alice langsung beranjak dari tempat duduknya.
Sepertinya pria itu sedari tadi memanggilnya.
"Maafkan aku.
Aku sempat melamun tadi.
Apa Anda membutuhkan bantuan saya Tuan?"
Alice menghusap tengkuknya.
Pria itu tersenyum pada Alice.
"Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu Nona.
Apakah itu benar apartemen "X" ?"
"Iya Anda benar Tuan.
Itu apartemen X."
"Oh baiklah.
Aku pendatang baru.
Aku kurang yakin tadi.
Jadi aku rasa aku harus bertanya padamu Nona.
Kebetulan aku melihatmu di sini."
Alice tersenyum.
"Oh baiklah."
"Ngomong-ngomong, apa kau juga tinggal di sana?"
Alice menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita tinggal di apartemen yang sama.
__ADS_1
Sudah seharusnya kita berkenalan.
Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi."
Pria itu kemudian mengulurkan tangannya.
"Apa aku boleh tahu namamu?"
Alice menatap wajah pria itu sebentar.
Pria itu sepertinya orang yang baik.
Tidak terlihat niat buruk dari wajahnya.
Alice perlahan membalas uluran tangan pria itu.
"Aku Alice.."
"Alice?
Nama yang indah.
Seseorang yang kukenal juga memiliki nama yang sama denganmu.
Wajahmu juga terlihat mirip dengannya.
Ngomong-ngomong aku Brein.
Senang bertemu denganmu Alice."
"Senang bertemu denganmu juga Tuan Brein."
Pria itu kemudian melepas tangannya dari Alice.
"Kau bisa memanggilku Brein Alice.
Atau tidak kau juga boleh memanggilku dengan sebutan Kakak.
Aku pikir usiamu lebih muda dariku.
Kau tidak perlu meyebutku dengan panggilan formal seperti itu."
"Baiklah Kak Brein."
"Kalau begitu aku senang mendengarnya."
Alice lagi-lagi tersenyum.
Ia sama sekali tidak risih dengan sifat yang ditunjukkan oleh pria yang baru dikenalnya itu.
Entahlah, dirinya merasa Brein adalah pria yang baik.
"Aku akan masuk ke dalam.
"Sama-sama Kak Brein."
Pria itu kemudian berbalik dan meninggalkan Alice.
Namun baru beberapa langkah, pria itu berbalik dan kembali memanggil Alice.
Alice kembali melihat ke arah Brein.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi Alice."
ucap pria itu dengan senyuman penuh di wajahnya.
Alice membalas perkataan Brein dengan anggukan dan juga senyuman.
Pria itu kemudian benar-benar pergi dari sana.
Alice melihat ke arah jam tangannya.
Hari sudah hampir malam.
Sudah waktunya ia kembali ke apartemen.
Saat masuk ke dalam apartemen, Kate menyadari kedatangan Alice.
Ia kemudian berjalan mendekati Adiknya itu.
"Alice, kau dari mana saja?
Bukankah semalam kau ingin bertemu dengan Kakak karena memerlukan bantuan?"
Alice tersenyum.
"Sebenarnya aku hanya ingin Kakak menemaniku membeli sesuatu.
Tapi aku tadi berubah pikiran.
Aku pikir akan lebih baik jika aku pergi sendiri.
Maaf karena aku tidak mengirim pesan pada Kakak."
bohong Alice.
"Tidak apa-apa Alice.
Kakak mengerti.
Oh ya, ayo makan malam bersama kami.
Makanan sudah siap.
__ADS_1
Kau belum makan malam kan?"
Mata Alice kemudian melihat ke arah Ell yang duduk di meja makan.
Apa pria itu akan menyukai kehadirannya di sana?
"Alice, kita harus makan bersama.
Kau tahu Kakak tidak bisa sering datang ke sini.
Jadi selama Kakak ada di sini, kita harus menghabiskan waktu bersama."
"Baiklah Kak."
"Kalau begitu ayo."
Kate menarik tangan Alice dan membawanya ke kursi yang berada di sampingnya
Alice duduk di kursi yang berada di samping Kate.
Matanya sekilas menangkap mata Ell yang duduk di seberang Kate dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ia tidak ingin berlama-lama bertatapan dengan pria itu.
Kate menyendokkan nasi untuk Ell dan Alice.
Setelah itu, mereka mengambil lauk masing-masing.
Selama makan, hanya ada obrolan Ell dan Kate.
Sementara Alice hanya diam sambil menikmati makanannya.
"Alice..."
Alice melihat ke arah Kate.
"Hem.."
"Kau bisa pulang ke rumah kapanpun yang kau mau.
Ayah juga sudah merindukanmu di rumah.
Mari berkumpul di sana Alice."
"Hem, aku akan datang Kak."
Alice kemudian kembali menikmati makanannya.
--
Setelah selesai makan malam, Alice dan Kate masuk ke dalam kamar Alice.
Kate berjalan mendekati jendela.
Ia tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Ell tadi.
Ia kemudian membalikkan tubuhnya.
Kate menatap Alice dengan wajah berbinar.
Lalu ia langsung memeluk tubuh Alice dengan erat.
"Alice, kau tahu aku begitu bahagia hari ini.
Ell dan aku sudah berbaikan."
"Hem, aku tahu Kak."
"Kau mengetahuinya?"
Kate langsung merelai pelukannya.
"Maksudku, aku bisa melihatnya saat di meja makan tadi."
Kate tersenyum.
"Iya, kau benar."
"Selamat Kak."
ucap Alice dengan senyuman tulusnya.
"Terima kasih Alice.
Ini juga berkatmu.
Karenamu, aku bisa datang ke sini dan bertemu dengan Ell.
Kami mengutarakan semua perasaaan kami tadi.
Dan akhirnya kami bisa berbaikan."
Alice hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Kate kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah berbinar.
"Hem, aku begitu bahagia.."
(Aku begitu senang melihatmu bahagia seperti ini Kak.
Akhirnya rencanaku berhasil.
Aku berharap hubungan kalian selalu baik kedepannya.)
__ADS_1
ucap Alice dalam hati dengan penuh harap.