
Hari ini hari libur.
Dan hari ini adalah salah satu hari yang spesial untuk Alice.
Alice keluar dari kamarnya.
Ia melihat semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tamu dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Kate.
Saat ini juga mereka akan sibuk mempersiapkan acara ulang tahun Kate yang diadakan setiap tahunnya.
Alice tersenyum.
Ia kemudian menghampiri Kate.
"Selamat ulang tahun Kak."
"Terima kasih Alice.."
"Maaf soal kemarin Kak."
"Tidak apa-apa Alice.
Lagian itu bukan salahmu.
Kami juga sudah berbaikan.
Kau tidak perlu khawatir."
"Syukurlah kalau begitu Kak."
"Oh ya, malam ini kau akan ikut kan?
Kakak sudah menyediakan gaun khusus untukmu."
"Maaf Kak.
Tapi seperti biasa aku akan membantu Ibu Rihanna untuk mempersiapkan segalanya."
"Alice, kau punya hak untuk datang ke acara ulang tahun Kakak.
Tidak ada seorangpun yang bisa melarangmu."
Kate memahami kekhawatiran yang dirasakan oleh Alice.
Bukan hanya dari Ibunya melainkan juga dari teman-temannya.
"Akan aku usahakan Kak."
"Kakak mengharapkan kehadiranmu Alice."
"Iya, aku akan datang Kak."
"Kalau begitu aku sangat senang mendengarnya."
Jauh di lubuk hati Alice, ia juga sebenarnya ingin hadir di acara ulang tahun Kate.
Hanya saja keadaan sangat tidak memungkinkan.
Kehadirannya pasti mendapatkan respon negatif dari orang-orang yang datang nanti.
Termasuk Bibinya sendiri.
Setiap tahun Bibinya selalu melarangnya untuk hadir di acara ulang tahun Kate.
Bibinya mengatakan bahwa kehadirannya akan mengacaukan acara.
Dan hal itu membuatnya enggan untuk datang.
Alice tersenyum.
Paling tidak ia harus ikut mempersiapkan apa yang diperlukan untuk acara malam nanti.
Walaupun ia tidak hadir nanti, ia akan mengerahkan tenaganya sebagai bukti bahwa ia begitu menyayangi Kate.
--
Semua persiapan sudah siap.
Acara ulang tahun bertema outdoor.
Sehingga acara ulang tahun diadakan di halaman perkarangan rumah.
Kate dan orang tuanya saat ini sedang menyambut para tamu yang datang.
Laura dan Sergio juga ikut berdiri di samping mereka.
"Kau sangat cantik sayang.
Ibu yakin semua tamu yang datang pasti terpukau melihat kecantikanmu."
ucap Marine pada Putrinya.
"Terima kasih Ibu.
Oh ya, dimana Alice Ibu?
Dari tadi aku belum melihatnya."
"Ibu juga tidak tahu Kate.
Sudahlah, jangan pikirkan dia.
Kau harus fokus dengan acara ulang tahunmu.
Kau tidak boleh mengecewakan para tamu yang sudah datang sayang."
Kate kemudian kembali menyambut tamu yang berdatangan.
Ia sesekali mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Alice.
Namun ia belum juga melihat Alice di sana.
Saat ini Alice sedang membantu Ibu Rihanna bersih-bersih.
"Nona, mengapa Nona belum juga bersiap-siap?
Acara sebentar lagi akan dimulai.
Saya bisa mengerjakan ini semua sendiri."
Alice tersenyum.
"Alice tidak datang ke acara itu Bu."
Ibu Rihanna tidak terkejut dengan jawaban Aliece.
Karena ia tahu alasannya.
"Apa Nyonya Marine yang melarang Nona datang?"
__ADS_1
"Tidak Bu.
Hanya saja Alice tidak nyaman dengan acara seperti itu.
Orang-orang pasti banyak hadir di sana.
Alice juga ingin membantu Ibu di sini."
Ibu Rihanna tersenyum.
Sebenarnya ia tahu bahwa saat ini Alice tengah berbohong padanya.
Selama bertahun-tahun, ia sudah sangat mengenal bagaimana kepribadian Alice.
Alice gadis yang baik dan begitu kuat.
Ia menjadi saksi bagaimana Alice diperlakukan buruk selama ini.
Sering kali ia merasa iba dan sekaligus bangga dengan sosok Alice begitu kuat menghadapi semuanya.
"Baiklah kalau begitu Nona."
Alice perlahan melangkahkan kakinya.
Matanya menatap ke acara sedang berlangsung.
Banyak orang hadir di sana.
Bahkan seluruh teman-teman di sekolahnya diundang ke acara itu.
"Maafkan aku Kak Kate.
Aku tidak bisa datang."
Alice sudah mempertimbangkannya beberapa kali.
Dan ia memutuskan untuk tidak datang ke acara ulang tahun Kate.
Walaupun Kate sudah membujuknya, rasanya ia masih merasa enggan untuk datang ke sana.
Ia tidak mau merusak acara spesial Kate.
--
Alice membersihkan beberapa meja yang jauh dari tempat acara.
"Sepertinya kau sangat cocok dengan pakaian itu."
ucap Marcell.
Alice membalikkan badannya.
Saat ini Kesha, Marcell dan juga Dion berdiri di hadapannya dengan tatapan meremehkan.
"Syukurlah kau tidak hadir ke acara ulang tahun Kate.
Karena jika kau hadir di sana, acara akan berakhir dengan kekacauan.
Kau sendiri tahu bahwa semua orang tidak menyukai kehadiranmu.
Lebih baik kau berdiri di sini dan mengerjakan tugasmu sebagaimana mestinya."
Alice hanya diam dan tidak menanggapi ucapan mereka.
"Tapi sepertinya ia mulai menyadari dimana seharusnya tempatnya Cell."
"Hem, kau benar Dion.
Aku ucapkan selamat untukmu.
Tapi sampai sekarang aku masih belum mengerti mengapa Kate begitu baik padamu."
"Oh aku tahu Cell.
Selama ini ia berpura-pura menjadi gadis yang baik dan penurut.
Ia menipu Kate dengan menunjukkan wajah polosnya itu.
Bahkan Rayn berhasil masuk ke dalam perangkapnya.
Dasar gadis licik!"
Alice mengepal tangannya dengan erat.
Perkataan mereka sangat menyakitinya.
"Aku harus mengerjakan pekerjaan yang lain Kak.
Aku permisi."
Alice membawa nampan berisi gelas yang berada di atas meja.
Alice berniat pergi dan melewati mereka.
Namun tidak disangka ia terjatuh karena kakinya dijegal oleh salah satu di antara mereka.
Akibatnya gelas-gelas itu pecah dan berserakan di lantai.
Mereka bertiga tertawa melihatnya terjatuh.
"Kaca matamu itu tidak berfungsi sama sekali rupanya."
Mereka kembali tertawa.
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara itu seketika membuat ketiganya berbalik.
Alice juga menatap ke arah sosok yang baru saja datang.
"Kalian ingin menciptakan keributan di sini?
Apa kalian berniat mengacaukan acara ulang tahun Kate?
Bukankah kalian teman-temannya?
Seharusnya kalian lebih menjaga sikap."
"Ell, kami bisa memberikan penjelasan padamu.
Gadis ini yang telah membuat keributan.
Ia berjalan tanpa melihat ke sekelilingnya.
Sehingga ia akhirnya terjatuh.
Kau lihat gelas-gelas itu?
Ia sendiri yang menjatuhkannya.
__ADS_1
Dasar gadis ceroboh!"
Alice melihat ke arah Ell.
Entahlah Ell akan percaya dengan ucapan mereka atau tidak.
Alice kemudian memungut pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Tanpa diduga Ell ikut membantunya.
Hal itu membuat Alice terkejut.
Begitu juga dengan ketiga orang itu.
Mereka menatap Ell keheranan.
Alice terdiam sejenak, menatap ke arah Ell yang sedang memunguti pecahan gelas.
Setelah selesai, Ell kembali berdiri dan menghampiri teman-temannya.
"Ell, kau..."
Kalimat Marcell terputus.
"Kate pasti sedang mencari kalian.
Kembalilah ke pesta dan jangan membuat keributan lagi."
ucap Ell dengan nada memperingati.
Kesha, Marcell dan Dion akhirnya pergi dari sana dan kembali ke pesta.
Ell menatap Alice sekilas.
Alice langsung beranjak dan ingin mengucapkan terima kasih pada Ell, namun pria itu keburu pergi dari sana.
Alice terdiam sejenak dan kemudian membawa pecahan gelas itu ke dapur.
--
Alice melangkahkan kakinya ke kamar Ibu Rihanna yang tidak jauh dari dapur.
Ia tersenyum saat melihat Ibu Rihanna sedang duduk di tepi ranjang sambil melipat baju.
"Ibu Rihanna.."
"Nona Alice..."
Ibu Rihanna langsung menghentikan kegiatannya.
"Apa Nona memerlukan bantuan saya?"
Alice kemudian duduk di sebelah Ibu Rihanna.
"Aku hanya ingin bersama Ibu di sini.
Bolehkan Bu?"
"Tentu saja Nona.
Saya sangat senang melihat kehadiran Nona di sini."
Alice tersenyum dan kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang.
Ia meletakkan kepalanya di paha Ibu Rihanna.
"Apa telah terjadi sesuatu?
Nona bisa cerita pada saya."
tanya Ibu Rihanna.
Rihanna bisa melihat kesedihan di wajah Alice.
"Tidak terjadi sesuatu apapun Bu.
Aku hanya lelah saja dan ingin tidur di pangkuan Ibu.
Rasanya sudah lama sejak aku lulus SMP.
Aku akan tidur nyenyak setiap tidur di pangkuan Ibu."
Alice tersenyum merekah.
Ibu Rihanna kemudian mengelus kepala Alice dengan lembut.
"Ibu.."
"Hem?"
"Alice ingin mengucapkan terima kasih pada Ibu."
"Terima kasih untuk apa Nona?"
"Terima kasih karena selama ini Ibu sudah begitu menyayangi Alice.
Ibu juga merawatku dengan sangat baik sejak aku kecil."
"Sama-sama Nona.
Sudah kewajiban Ibu menyayangi Nona.
Setiap kali melihat Nona, saya akan teringat sosok Tuan Raphael yang begitu baik pada saya.
Kebaikannya membuat saya begitu menghormati Beliau.
Tidak heran Nona juga memiliki kepribadian yang baik.
Saya yakin Ibu Nona merupakan sosok wanita yang baik juga."
"Ibu benar.
Ibuku adalah wanita yang sangat baik Bu.
Walaupun kami belum bertemu, aku yakin Ibu pasti begitu menyayangiku."
"Bersabarlah Nona.
Saya percaya bahwa suatu saat nanti, Nona akan dipertemukan dengan Ibu Sera."
Alice tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Aku selalu bersabar menunggu hari itu tiba Bu."
Tanpa disadari seseorang berdiri di sana dan mendengar pembicaraan Alice dengan Ibu Rihanna.
Awalnya ia ingin memeriksa pecahan gelas itu di dapur.
Setelah melihat pecahan gelas itu sudah berada di tempat sampah, ia berniat kembali.
__ADS_1
Namun saat berbalik, ia mendengar suara Alice dari ruangan Ibu Rihanna.
Ia mendekati ruangan itu dan mendengar semuanya.