
Alice melihat ke arah luar jendela.
"Aku harus bisa membuat Kak Ell dan Kak Kate berbaikan lagi.
Bagaimanapun mereka bertengkar karena aku.
Aku membuat Kak Ell berpisah dengan gadis yang dicintainya."
"Ah, aku punya ide."
Alice tersenyum merekah saat sebuah rencana muncul di pikirannya.
"Aku berharap rencana ini bisa berhasil."
Tiba-tiba Alice mendengar suara bel apartemen berbunyi.
"Siapa yang berkunjung ke apartemen Kak Ell?"
Alice kemudian keluar dari kamarnya dan membuka pintu.
Ia melihat Pak Ransen berdiri di hadapannya dengan bungkusan di tangannya.
"Pak Ransen..."
"Nona, saya datang ke sini untuk mengantar pesanan Nyonya Laura.
Beliau memasak makanan untuk Nona dan Tuan Ell."
Pak Ransen memberikan bungkusan itu pada Alice.
Alice tersenyum melihat bungkusan itu.
(Sepertinya Bibi tahu bahwa Kak Ell tidak akan mau memakan masakanku.)
"Nyonya berpesan agar Nona dan Tuan Ell menghabiskan semua makanan itu.
Beliau juga sudah mengirimkan pesan pada Tuan Ell."
(Syukurlah.
Aku tidak perlu membujuk Kak Ell untuk menghabiskan makanan ini.)
Alice menarik napas lega.
"Baiklah terima kasih banyak Pak.
Tolong ucapkan terima kasih juga pada Bibi Pak.
Dan juga sampaikan salam saya pada anggota keluarga yang lain."
"Baik Nona.
Saya akan sampaikan salam Nona.
Saya permisi Nona."
"Hati-hati di jalan Pak."
Pak Ransen mengangguk dan kemudian pergi.
Alice melihat bungkusan di tangannya.
"Aku rasa Kak Ell tidak akan menolak makanan buatan Bibi."
--
"Ell.."
Ell melihat ke arah Ayahnya yang baru masuk ke dalam ruangannya.
"Ayah memutuskan bahwa Alice akan mendapat posisi sebagai Sekretarismu.
Dan Yana akan dipindahkan ke Divisi lain."
"Apa?
Aku tidak setuju dengan hal itu Ayah."
"Kenapa kau tidak setuju Ell?
__ADS_1
Semua orang tahu bahwa Alice adalah Istrimu.
Posisi itu sangat cocok untuk Alice.
Alice juga gadis yang cerdas.
Dia tentu bisa memahami pekerjaan Yana dalam waktu yang cepat."
"Aku tetap tidak setuju Ayah.
Ayah tidak boleh mengganti Nira dari posisinya.
Biarkan gadis itu saja yang ditempatkan di Divisi lain."
"Ell..."
"Aku tidak ingin melihat wajahnya."
Sergio menarik napas panjang setelah mendengar alasan Ell barusan.
"Ayah masih tidak mengerti dengan sikapmu ini Ell.
Mengapa kau masih saja menyalahkan Alice atas kejadian yang menimpa keluarga kita?
Dia hanya korban sama halnya dengan dirimu.
Saat ini kau mungkin menyesal karena telah menyelamatkannya hari itu.
Tapi mengertilah jika saat ini kau yang berada di posisinya."
Sergio menggelengkan kepalanya.
Ia kecewa dengan sikap Putra nya itu.
Sergio kemudian meninggalkan ruangan Ell.
Ell berkutat di dalam pikirannya.
Dirinya sendiri menyangkal semua perkataan Ayahnya.
Nyatanya ia masih menganggap bahwa Alice adalah penyebab semua kejadian yang menimpanya.
Pernikahan itu telah membuatnya berpisah dengan Kate.
--
Ell berjalan menuju ke apartemennya.
Ia pulang setelah menyelesaikan pekerjaan kantor yang menumpuk.
Saat masuk ke dalam, Ell mencium aroma masakan dari arah dapur.
Ell meletakkan jasnya di sofa dan kemudian berjalan menuju ke dapur.
Ia berniat mengambil air minum karena ia begitu haus.
Dan disana ia bertemu dengan Alice yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.
Setelah menghangatkan makanan pemberian Laura, Alice menghidangkan makanan itu.
Matanya tidak sengaja bertatapan dengan Ell yang baru saja pulang dari kantor.
"Kak Ell, Kakak sudah pulang?"
tanya Alice dengan senyuman tulusnya.
Namun Ell tidak menjawab pertanyaan Alice.
Pria itu berjalan terus dan kemudian mengisi gelas yang berada di tangannya.
Alice melihat pergerakan dari belakang.
"Kak aku sudah menyiapkan makanan yang diberikan oleh Bibi.
Sekarang Kakak boleh makan malam."
Alice tersenyum sekilas dan kemudian meninggalkan meja makan.
Ia ingin memberikan ruang untuk Ell.
__ADS_1
Karena ia tahu bahwa Ell tidak akan menyukai kehadirannya di sana.
Alice masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum masuk ia sempat melihat ke arah Ell yang sedang menggeser kursi untuknya.
Alice tersenyum.
Ia tahu bahwa Ell tidak akan menolak masakan Bibinya.
Akhirnya sekarang Alice bisa bernapas lega.
Paling tidak Pria itu tidak perlu makan di luar.
Setelah selesai makan malam, Ell meninggalkan meja makan.
Ia mengambil kembali jasnya dan masuk ke dalam kamarnya.
Alice keluar dari kamarnya setelah memastikan Ell sudah masuk ke kamarnya.
Alice kemudian kembali ke dapur untuk membereskan meja makan.
Alice memasukkan kembali makanan pada tempat khusus penyimpanan.
Setelah itu ia berniat mencuci piring-piring yang kotor bekas Ell dan juga dirinya.
"Apa yang kau lakukan disitu?"
Alice begitu terkejut mendengar suara dari belakang.
Beruntung ia tidak menjatuhkan benda di dekatnya.
Alice perlahan membalikkan badannya.
Ia melihat Ell menatapnya dengan tatapan tajam.
Ell terlihat sudah mengganti bajunya.
Mengapa Ell kembali lagi?
Bukankah tadi pria itu sudah masuk ke dalam kamarnya?
"Aku ingin membersihkan piring-piring kotor Kak."
"Tidak perlu!
Aku tidak suka barang yang kugunakan dibersihkan oleh orang lain."
Ell mendekati tempat pencucian.
Alice seketika menggeser posisinya dan membiarkan Ell mencuci piring yang digunakannya tadi.
"Kenapa kau masih berdiri disitu?"
Secara tidak langsung Ell ingin Alice pergi dari sana.
"Aku ingin mencuci piring dan gelas yang kugunakan tadi Kak.
Aku juga tidak suka barang yang kugunakan dicuci oleh orang lain."
Seketika Ell melihat ke arah Alice karena gadis itu mengulangi apa yang diucapkannya tadi.
Apa maksudnya itu?
Sementara Alice berusaha mengontrol dirinya saat menerima tatapan tajam dari Ell.
Ingin rasanya ia tertawa saat ini.
Ell kemudian mengalihkan pandangannya dari Alice dan melanjutkan kegiatannya.
Setelah selesai mencuci piringnya, Ell langsung kembali ke kamarnya.
Sepeninggalan Ell dari sana, Alice tersenyum.
Pasti tadi Ell begitu kesal dengannya.
Pria itu langsung menatapnya tadi.
Alice melihat ke arah kamar Ell yang tertutup.
__ADS_1
(Maafkan aku Kak Ell.
Aku tidak bermaksud membuatmu kesal.)