Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Pergi bersama


__ADS_3

Keesokan harinya, Alice merias dirinya dan kemudian memakai pakaian kantor yang dibelinya bersama Brein kemarin.


Alice tersenyum memandang wajahnya di depan cermin.


Hari adalah hari pertamanya pergi ke kantor dengan penampilan baru.


Ia harus percaya diri dan tidak memperdulikan perkataan orang-orang nantinya.


Karna ini adalah waktu yang tepat baginya untuk membuktikan pada mereka bahwa ia bukanlah seperti apa yang mereka pikirkan.


Alice melihat ke arah jam tangannya.


Sebentar lagi ia akan berangkat ke kantor bersama Brein.


Ia harus menunggu di luar sebelum pria itu datang menjemputnya.


Setelah memastikan kembali penampilannya, Alice membawa tasnya dan kemudian keluar dari kamarnya.


Dirinya sibuk memperhatikan handphonenya hingga ia hampir saja menabrak Ell yang berpapasan dengannya.


Alice membelalakkan matanya.


Ia sangat terkejut melihat wajah Ell berjarak sangat dekat dengannya.


Alice mengedipkan kedua matanya dan kemudian langsung memberi jarak.


"Ah, maafkan aku Kak.


Aku tidak memperhatikan langkahku tadi."


suara Alice terdengar gugup.


"Kau terlalu sibuk membalas pesan seseorang hingga tidak memperhatikanku?"


"Apa?"


Pertanyaan Ell membuat Alice terkejut.


Alice menatap wajah Ell, mencoba mencari jawaban mengenai maksud dari pertanyaannya.


Tiba-tiba dering hp Ell berbunyi hingga akhirnya memutuskan tatapan keduanya.


Ell melangkah ke depan dan menjawab panggilan itu.


Sementara Alice hanya diam di tempatnya sambil menatap ke arah punggung Ell.


Tidak biasanya pria itu belum berangkat jam segini.


Karena Ell biasanya berangkat pagi-pagi sekali.


Ell membalikkan badannya setelah selesai menelpon.


"Kenapa Kakak belum ke kantor?


Aku kira Kakak sudah berangkat tadi."


"Aku harus menemui seseorang terlebih dahulu sebelum ke kantor."


Alice mengangguk paham.


Ia kemudian melihat ke arah jam tangannya.


Brein sama sekali belum mengirim pesan padanya.


Tidak ada notifikasi pada handphonenya.


"Oh ya, kau harus berangkat ke kantor bersamaku hari ini."


Alice seketika langsung menatap Ell yang sedang menyilangkan kedua tangannya.


Ia begitu terkejut mendengar pernyataan Ell barusan.


Ell juga bisa melihat dengan jelas keterkejutan Alice.


"Aku akan mengurus sesuatu nanti.


Dan aku membutuhkan bantuanmu."


Ell menekankan kalimatnya.


"Tapi Kak, aku..."


"Aku atasanmu.


Apa kau bisa menolak perintah atasanmu sendiri?"

__ADS_1


Alice sama sekali tidak tahu harus melakukan apa.


Pikirannya sangat kalut saat ini.


Keterkejutannya, terlepas dari apa alasan Ell menyuruhnya berangkat bersamanya membuatnya tidak bisa berpikir.


Dan Alice juga tidak memiliki cara untuk menolak untuk berangkat bersama Ell.


Sebelumya ia sudah berjanji pada Ell untuk melakukan tugasnya dengan baik.


Ell melihat ke arah jam tangannya.


"Ayo berangkat.


Aku tidak mau dia menunggu."


Ell berjalan meninggalkan Alice dan berniat membuka pintu.


Namun saat menyadari Alice masih berada di tempatnya, Ell berbalik dan melihat ke arah Alice.


"Kenapa kau masih di sana?


Ayo cepatlah."


Alice kemudian perlahan melangkahkan kakinya mendekati Ell.


Ell kembali melanjutkan langkahnya setelah melihat Alice berjalan ke arahnya.


Alice berjalan sambil melihat ke arah handphonenya.


Lobi apartemen kosong, pertanda Brein belum datang menjemputnya.


(Sebaiknya aku mengrimkan pesan pada Kak Brein agar dia tidak perlu datang untuk menjemputku.)


Alice mengikuti Ell dari belakang hingga mereka sampai di parkiran.


Ell membuka mobilnya dan masuk sana.


Alice terdiam sejenak dan kemudian membuka pintu mobil setelah melihat tatapan Ell dari luar.


Selama perjalanan, Alice hanya diam dan bertanya-tanya di dalam hati.


Hal ini sangat membingungkan, mengingat Ell yang tiba-tiba sekali memintanya pergi ke kantor bersama.


Ini pertama kalinya ia berdua bersama Ell di dalam mobil pria itu.


Selama hidupnya, Ell tidak pernah mengajaknya pergi kemanapun.


Alice kemudian mengarahkan pandangannya ke arah lain.


Ia tidak ingin mengingat kenangan pahitnya dulu, saat dimana Ell begitu membencinya.


Bahkan hingga saat ini.


Beberapa saat kemudian, mobil Ell berhenti di sebuah kafe.


Alice kembali mengikuti langkah Ell dari belakang.


Hingga seorang pria muda muncul bersama seorang wanita, yang terlihat mungkin bawahannya.


"Pak Ell, selamat datang."


Pria itu mengulurkan tangannya pada Ell.


Dan Ell membalas uluran tangan pria itu.


Pria itu kemudian melihat ke arah Alice dan tidak berhenti menatapnya.


Hingga suara Ell mengakhiri tatapannya pada Alice.


"Pak Logan kita sebaiknya memilih tempat untuk mengobrol."


"Anda benar Pak Ell."


Mereka berempat kemudian duduk di meja yang sama.


"Saya sudah melihat desain properti yang perusahaan anda miliki.


Dan saya sangat tertarik untuk melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan anda.


Bagaimana dengan perusahaan anda Pak Ell?"


Ell tersenyum.


"Kami juga setuju bekerja sama dengan perusahaan anda."

__ADS_1


"Kalau begitu, suatu kehormatan bagi saya untuk bekerja sama dengan perusahaan ternama milik anda."


Setelah selesai mengobrol, Ell kemudian menandatangani kontrak kerja sama dengan pemilik perusahaan itu.


Ell lalu menyerahkan berkas itu pada Alice.


"Kau harus menyimpan berkas ini dengan baik.


Aku akan memintanya kembali padamu."


Alice hanya mengangguk dan memegang berkas itu dengan erat.


"Apa tidak seharusnya kita memesan makanan untuk mengobrol banyak hal lagi?"


tanya Logan sambil sesekali menatap ke arah Alice.


"Maaf Pak Logan, saya tidak bisa.


Saya harus menemui beberapa client lagi hari ini."


Ell kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Alice.


"Kau bisa menungguku di mobil.


Sebentar lagi aku akan menyusul."


"Baiklah."


Alice melihat ke arah mereka sebentar dan kemudian pergi.


"Terima kasih untuk pertemuan kita hari ini Pak Ell."


"Saya juga berterima kasih pada anda Pak Logan."


"Oh ya Pak Ell, apa wanita cantik tadi adalah Sekretaris anda?"


Ell mengerutkan keningnya.


"Tidak, dia bukan Sekretarisku."


"Kalau begitu, apa anda bisa memberikan kontak wanita itu pada saya?"


Ell seketika langsung memberikan tatapan tidak suka pada Logan.


"Tidak, tidak bisa.


Dia sudah mempunyai Suami."


"Oh benarkah?


Saya hanya berniat untuk mendekatinya tadi."


Ell memegang erat handphone di tangannya.


"Kalau begitu, saya permisi Pak Logan."


ucap Ell dengan nada datar dan kemudian langsung pergi dari sana.


Ell bergegas pergi ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.


Ia menutup pintu mobil dengan sangat keras.


Alice seketika terkejut dan menatap wajah Ell yang terlihat kesal.


Apa telah terjadi sesuatu di dalam?


Tapi sebelum ia pergi, semuanya baik-baik saja tadi.


Ell dan Alice saling bertatapan.


Sebelum akhirnya Ell mengalihkan pandangannya ke depan.


"Berkas itu tidak boleh hilang."


"Hem, aku akan menyimpannya dengan baik Kak."


Alice menggeser posisinya dan kemudian melihat ke arah jalanan.


Sejujurnya ia merasa kehadirannya tadi di sana sama sekali tidak penting.


Dan dirinya juga bukanlah Sekretaris Ell.


Paling memungkinkan jika Ell seharusnya meminta Celine pergi bersamanya dan bukanlah dirinya.


Alice sama sekali tidak akan pernah bisa mengerti jalan pikiran Ell.

__ADS_1


__ADS_2