
Keesokan harinya, di sekolah...
"Semalam aku tidak melihatmu di pesta.
Apa Bibimu lagi yang melarangmu datang ke acara ulang tahun Kate?"
"Tidak Rayn, aku hanya tidak suka keramaian.
Kak Kate juga sempat membujukku untuk datang.
Tapi aku tidak bisa."
"Kau yakin?"
tanya Rayn mencoba mencari kebenaran dari mata Alice.
Alice mengangguk yakin.
"Aku tidak berbohong Rayn."
"Baiklah aku percaya padamu.
Oh ya, apa kau sudah tahu bahwa lusa kita akan melaksanakan kemah tahunan?
Dan tahun ini kita akan pergi bersama kelas XII"
Setiap tahun sekolah mereka memang mengadakan kemah tahunan setelah melaksanakan ujian di sekolah.
Tujuannya adalah untuk membuat murid-murid kembali bersemangat akibat ujian yang melelahkan.
"Benarkah?
Bukankah setiap tahun kelas XI dan kelas XII melakukan kemah dengan waktu yang terpisah?"
"Iya apa yang kau katakan benar Alice.
Hanya saja tahun ini dilakukan dengan berbeda."
"Tapi kau akan ikut kan?
Berjanjilah padaku bahwa akan ikut ke perkemahan lusa."
Alice terkekeh melihat ekspresi lucu Rayn.
"Iya, aku akan ikut Rayn.
Kau tenang saja."
"Baiklah, lusa kita akan berangkat bersama ke sana."
--
"Alice.."
Alice membalikkan badannya.
"Kak Kate.."
Kate memasang wajah cemberut.
Ia kecewa karena Alice mengingkari janjinya untuk datang ke acara ulang tahunnya.
Menyadari hal itu, Alice kemudian menghampiri Kate.
"Maafkan aku Kak.
Aku tahu Kakak pasti kecewa padaku."
"Sangat..."
Alice menjadi sangat merasa bersalah.
Ia tidak ingin Kate marah padanya.
Karena ia begitu menyayangi Kakaknya itu.
"Kakak marah padaku?"
"Hem."
Alice menundukkan kepalanya.
Wajahnya juga berubah menjadi sedih.
Kate tidak tahan melihat raut wajah sedih Alice.
Ia kemudian tertawa.
Sontak hal itu membuat Alice menaikkan wajahnya.
"Kakak tidak akan pernah bisa marah padamu Alice."
Raut wajah Alice seketika berubah.
Ia kemudian tersenyum.
"Aku tahu itu Kak.
Aku begitu menyayangi Kakak."
Alice memeluk tubuh Kate dengan erat.
Beberapa saat kemudian, ia melepaskan pelukannya.
"Oh ya, lusa sekolah kita akan mengadakan perkemahan untuk kelas XI dan XII.
Kau harus berangkat dengan kami ya."
"Maafkan aku Kak.
Aku sudah berjanji pada Rayn untuk berangkat bersamanya."
"Benarkah?
Alice, sepertinya Rayn menyukaimu.
Dan Kakak senang melihat kau bersama Rayn.
Rayn pria yang baik.
Dia tidak seperti pria lain di sekolah kita."
"Itu tidak mungkin Kak.
Rayn tidak mungkin memiliki perasaan padaku.
Dia hanya menganggapku sahabat, tidak lebih.
Aku akui memang dia pria yang baik."
"Alice, Kakak bisa melihatnya.
Rayn selama ini begitu perhatian padamu.
Ia bahkan melindungimu dari orang-orang jahat.
Kau hanya tidak menyadarinya Alice.
Kau harus lebih memahami perasaan Rayn padamu."
Alice terkekeh.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa Rayn menyukaiku Kak."
"Alice.."
"Sudahlah Kak.
Aku tidak ingin membahas soal itu.
Lebih baik kita makan siang bersama
Bagaimana Kak?"
"Itu ide yang bagus Alice.
Kakak akan meminta Ibu Rihana memasak makanan kesukaan kita."
"Hem, baiklah Kak."
"Tunggu sebentar."
Kate kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.
Alice mulai berpikir soal apa yang dikatakan Kate barusan padanya.
Rayn menyukainya?
Apa mungkin?
__ADS_1
Tapi jujur ia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi.
Bahkan ia tidak pernah memikirkan hal itu sekalipun.
Ia tidak mau persahabatannya dengan Rayn hancur hanya karena salah satu diantara mereka memiliki perasaan khusus terhadap yang lain.
Dan perasaannya terhadap Rayn hanyalah sebagai seorang sahabat.
--
Alice bersama Rayn menunggu kedatangan bus sekolah yang akan mengantarkan mereka lokasi perkemahan.
Murid-murid yang lain juga menunggu di depan sekolah.
Hanya saja bus untuk kelas XI dan XII terpisah.
Alice dan Rayn masuk ke dalam bus.
Sementara Monika dan Michelle menatap mereka tidak suka.
"Michelle apa yang harus aku lakukan?
Aku tidak suka melihat Rayn semakin dekat dengan Alice."
Selama ini Monica memang menaruh rasa pada Rayn.
Dan ia begitu cemburu setiap kali melihat Rayn bersama Alice.
"Kau tenang saja Monica.
Aku punya cara untuk membalasnya."
"Bagaimana caranya?"
"Kau lihat saja nanti."
Michelle tersenyum menyeringai.
Alice melihat ke arah luar jendela.
Rayn tersenyum melihat sosok yang berada di sampingnya.
Ia begitu menikmati saat-saat seperti ini.
Baginya momen terbahagianya adalah saat bersama dengan Alice.
"Kau tidak tidur?"
"Aku belum mengantuk Rayn."
"Kau bisa tidur di bahuku.
Bahuku ini sangat empuk Alice."
Rayn menepuk pundaknya, berniat menawarkannya pada Alice.
Alice terkekeh.
"Lebih baik aku bersandar di sini saja."
Alice mengarahkan kepalanya pada kaca mobil.
"Dasar gadis keras kepala."
ucap Rayn.
Alice hanya bisa tersenyum mendengar ucapan kekesalan Rayn.
Sama halnya dengan Kate yang duduk bersebelahan dengan Ell di bus yang lainnya.
Seketika raut wajah Kate berubah menjadi murung.
Sedari tadi Ell sibuk membaca buku dan sama sekali tidak menghiraukannya.
Kate kemudian meletakkan kepalanya di bahu Ell.
Dan berhasil, Ell meletakkan bukunya dan mulai memperhatikannya.
"Kau tahu, sedari tadi kau mengacuhkanku Ell."
Ell tersenyum.
"Benarkah?
Tapi kau salah Kate.
Walaupun mataku menatap buku, namun pikiranku tetap terpusat padamu dan aku tahu bahwa sedari tadi kau menatapku dengan tatapan kesal."
"Kau tidak perlu mengetahuinya."
"Cepat beritahu aku Ell."
"Aku tidak mau."
"Kalau begitu aku akan menggelitikimu agar kau mau memberitahuku."
Kate mulai menggelitiki Ell dan membuat Ell kegelian.
"Hentikan Kate."
"Cepat beritahu aku dan aku akan berhenti."
"Baiklah aku akan memberitahumu."
Kate akhirnya mau berhenti.
"Aku bisa memperhatikanmu dari ekor mata.
Kau juga bisa melakukannya Kate."
"Benarkah?"
"Hem."
Kate kemudian mulai mempraktikkannya.
"Iya, apa yang kau katakan benar Ell."
"Kau begitu menggemaskan."
Ell mengacak-ngacak rambut Kate.
"Ell hentikan.
Kau bisa merusak rambutku."
Ell terkekeh dan kemudian menghentikan perbuatannya.
Semua orang senang melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Ell dan Kate.
Mereka juga sangat mendukung hubungan keduanya dan berharap Ell segera mengungkapkan perasaannya pada Kate.
--
Semua bus berhenti dan akhirnya mereka sampai di lokasi perkemahan.
Semua murid keluar dari bus.
Satu per satu mulai membawa kembali tas mereka.
"Ini berat.
Aku yang akan membawanya."
Rayn membawa tas Alice
"Tapi Rayn.."
Pria itu langsung pergi meninggalkan Alice tanpa mendengarnya.
Alice kemudian mengikuti Rayn dari belakang.
Sementara Monica semakin kesal dengan apa yang dilihatnya.
"Aku sangat membencinya Michelle."
"Tenang saja.
Sebentar lagi ia akan mendapatkan pembalasan dari kita."
--
Setelah mendapat instruksi dari Guru, murid-murid kemudian memasang tenda untuk tempat beristirahat mereka.
Di saat murid-murid yang lain memiliki tenda untuk berkelompok, Alice malah memilikinya untuk dirinya sendiri.
Seperti biasa, tidak ada seorangpun yang mau berbagi dengannya.
Mereka begitu tidak menyukainya.
__ADS_1
Alice hanya bisa bersabar dengan apa yang dialaminya.
Alice mulai memasang tendanya.
Sebenarnya ia sedikit mengalami kesulitan.
"Kau bisa memasangnya?"
Alice membalikkan badannya dan melihat Rayn yang mulai memeriksa tendanya.
Ia selalu bersyukur karena mempunyai Sahabat seperti Rayn.
Rayn selalu ada untuknya apalagi di saat ia membutuhkan pertolongan.
Bahkan jika ia tidak meminta bantuan sekalipun.
Alice berdiri di tempatnya, menatap ke arah Rayn yang sedang memasang tenda untuknya.
Tidak perlu waktu lama bagi Rayn untuk menyelesaikannya.
"Sudah selesai.
Sekarang kau bisa memasukkan barang-barangmu ke dalam."
"Terima kasih Rayn."
"Hem, aku akan kembali ke tendaku.
Nanti malam aku akan menjemputmu Alice."
Alice tersenyum.
"Baiklah."
Rayn kemudian kembali ke tenda yang berada di barisan pria.
Tenda pria dan wanita memang terpisah.
Waktu sudah menunjukkan malam hari.
Setelah berberes-beres, waktunya untuk makan malam.
Makan malam sudah disediakan oleh pihak sekolah di tempat khusus.
Alice menunggu kedatangan Rayn yang akan menjemputnya.
"Kau sudah menunggu lama?"
"Tidak sama sekali Rayn."
"Syukurlah.
Kamar mandi pria tadi sangat ramai.
Jadi aku harus mandi belakangan."
Alice terkekeh.
"Baiklah, tidak apa-apa."
"Kalau begitu, ayo kita makan malam.
Aku sudah sangat kelaparan Alice."
"Iya aku tahu Rayn.
Ayo kita mengambil makanan."
Rayn tersenyum dan kemudian berjalan bersama Alice.
--
Alice dan Rayn mulai mengisi piring mereka dengan nasi dan lauk.
Saat ingin mengambil sayur, Michelle sengaja menabrak tubuh Alice sehingga semua makanannya jatuh ke lantai.
"Apa kau tidak memakai mata saat berjalan?"
ucap Michelle dengan tidak bersalahnya.
"Kau yang menabrakku Michelle.
Bagaimana bisa kau menyalahkanku?"
"Kau ingin mengelak, hah?
Semua orang di sini tahu bahwa kau yang bersalah."
Rayn kemudian maju ke depan.
Ia tidak bisa membiarkan Alice diperlakukan seperti itu.
Karena ia tahu Alice sama sekali tidak bersalah.
Michelle memang sengaja melakukannya.
"Aku melihat kau yang menabrak Alice duluan Michelle.
Karena sedari tadi aku berada di samping Alice.
Kau datang dan sengaja menabrak Alice.
Bagaimana bisa kau tidak tahu malu seperti ini Michelle?
Jangan mencari pembelaan pada semua orang di sini.
Nyatanya mereka sama buruknya sepertimu."
"Rayn lagi-lagi kau membelanya.
Sepertinya otakmu sudah diracuni olehnya.
Selamat Alice, kau berhasil membuat Rayn seperti ini."
"Diamlah!"
ucap Rayn dengan nada meninggi.
Menyadari Rayn yang mulai emosi, Alice kemudian mendekati Rayn.
"Rayn, sudahlah.
Aku bisa mengambil makanan yang baru."
Alice langsung segera mengambil makanan untuknya lagi.
Rayn masih tidak bergeming di tempatnya.
Alice kemudian menyentuh lengan Rayn.
"Rayn, ayo kita pergi dari sini."
Rayn melirik ke arah Alice dan akhirnya mau menurut.
Alice menarik tangan Rayn dan kemudian melepaskan tangannya setelah sampai di tempat yang ia rasa tepat.
Alice melihat raut wajah Rayn yang masih terlihat kesal.
"Rayn, sudahlah tidak apa-apa."
"Alice aku tidak tahan mendengar ucapan kasar mereka terhadapmu."
Alice terdiam sejenak.
Suasana menjadi hening dan tidak ada suara.
"Makanlah Rayn."
Bukankah tadi kau bilang padaku kau sangat kelaparan?"
Rayn masih tidak bersuara.
"Apa aku perlu menyuapimu?"
Ucapan Alice seketika membuat Rayn menoleh.
Ia langsung menganggukkan kepalanya.
Alice tertawa.
"Baiklah untuk kali ini saja Rayn.
Lain kali aku tidak mau melakukannya."
Rayn tersenyum puas saat menerima suapan dari Alice.
Alice juga memberinya minum.
Sungguh hal itu sangat menyenangkan baginya.
__ADS_1
Rasanya ia ingin menghentikan waktu, agar saat-saat seperti itu tidak cepat berlalu.