
Brein dan Alice berada di lantai satu dan berniat keluar dari gedung itu.
Namun sebelum keluar, mereka melihat Kate tengah berjalan sendirian.
Kate terlihat sedang mencari seseorang.
"Kak Kate...."
panggil Alice.
Kate langsung memalingkan wajah dan terkejut melihat Alice yang sedang bersama Brein.
Kalau begitu dimana Ell?
Bukankah Ell tadi pergi mencari Alice?
Ia juga tadi tidak melihat Brein di acara.
Alice kemudian mendekati Kate.
"Apa Kakak sedari tadi mencariku?
Maafkan aku Kak.
Aku pergi tanpa memberitahu."
Kate tersenyum.
"Tidak apa-apa.
Kakak senang kau baik-baik saja.
Aku sempat khawatir tadi."
Kate kemudian melihat ke arah Brein yang berada di belakang Alice.
Ia masih bingung mengapa Brein bisa ada si sana.
"Aku akan mengantar Alice pulang Kate.
Kau masih ada acara dengan Manajermu kan?"
Kate menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kau boleh pulang duluan Alice.
Kak Brein akan mengantarmu."
Alice tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah Kak.
Kalau begitu, aku pulang Kak."
"Hem, hati-hati di jalan.
Terima kasih sudah datang."
Alice tersenyum dan kemudian dirinya dan Brein pergi dari sana.
Kate masih menatap kepergian mereka dan kemudian kembali melihat ke sekitarnya.
Ia masih belum melihat Ell.
Sementara Ell masih berada di lantai atas.
Dirinya termenung dengan mata menatap lurus ke depan.
Pikirannya masih tertuju pada Alice.
Ell menutup kedua matanya, berusaha menghilangkan wajah gadis itu dari kepalanya.
Namun wajah itu masih muncul di pikirannya.
Ell membuka matanya dan kemudian melihat ke arah jam tangannya.
Sudah 30 menit ia berada di sana.
Kate pasti sedang mencarinya saat ini.
Ell menarik menghela napas.
Ia membalikkan tubuhnya dan mulai pergi dari tempat itu.
Sama seperti dugaannya, Kate memang sedang menunggunya.
Saat masuk ke dalam ruangan Kate, Ell melihat Kate sedang menatap handphonenya dengan wajah gusar.
Ia memang tidak menjawab panggilan gadis itu.
Kate berniat kembali menghubungi Ell.
Namun batal saat menyadari kedatangan Ell.
"Ell..."
ucapnya dengan lega.
Kate langsung menghampiri Ell.
"Ell, kau dari mana saja?
Aku mencarimu dari tadi.
Dan kau juga tidak menjawab panggilanku.
Aku sangat khawatir padamu Ell."
Ell bisa melihat kekhawatiran di wajah Kate.
Dan ia cukup menyesali hal itu.
"Maafkan aku Kate.
Aku hanya ingin mencari udara segar tadi.
Dan handphoneku juga mati."
__ADS_1
bohong Ell.
Karena sebenarnya handphonenya sama sekali tidak mati.
"Baiklah, tidak apa-apa."
Kate memegang wajah Ell.
"Apa kau sakit?
Wajahmu terlihat pucat."
"Tidak, aku baik-baik saja.
Bagaimana acaramu?
Kau masih memiliki acara bersama Manajermu kan?
Aku akan menunggumu sampai selesai."
Kate menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak akan ikut Ell.
Aku sudah berbicara pada Manajerku untuk tidak ikut.
Dan dia mengizinkannya.
Lebih baik kita sekarang pulang.
Kau terlihat tidak baik-baik saja Ell."
Ell kemudian mengangguk.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang."
--
Selama perjalanan menuju rumah Kate, sama sekali tidak ada pembicaraan di antara Ell dan Kate.
Sedari tadi Kate memandangi wajah Ell dari samping.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu?
Ell terlihat murung saat ini.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di depan rumah Kate.
"Ell, apa kau mau masuk ke dalam?
Ayah dan Ibu pasti sudah pulang.
Mereka akan senang bertemu denganmu."
"Hem, maafkan aku Kate.
Sebaiknya aku pulang.
Aku sedikit tidak enak badan.
Kau sampaikan saja salamku untuk Paman dan Bibi."
"Hem, baiklah Ell.
Aku akan menyampaikan salammu pada mereka.
Kau hati-hati di jalan ya.
Jika terjadi sesuatu, segera kabari aku."
Ell tersenyum tipis dan kemudian mengangguk.
"Selamat malam Kate."
"Selamat malam juga untukmu."
Kate kemudian keluar dari mobil Ell.
Mobil Ell langsung melaju dan keluar dari gerbang.
"Kate..."
Kate langsung memalingkan wajahnya dan tersenyum melihat Marine berjalan ke arahnya.
Marine langsung memeluk Kate dengan erat.
"Ibu sangat bangga padamu Kate."
Kate tersenyum dan membalas pelukan Ibunya.
"Ini semua juga berkat Ibu.
Ibu selalu mendukung karirku dan tidak pernah keberatan dengan kesibukanku selama ini."
Marine melepaskan pelukannya dan memegang wajah Kate.
"Ibu akan selalu mendukungmu sayang.
Apapun untuk kebahagiaanmu, Ibu akan lakukan."
"Terima kasih banyak Ibu."
Marine tersenyum.
"Sama-sama sayang.
Oh ya, Ibu mendengar suara mobil tadi.
Apa Ell yang mengantarmu pulang?"
Kate mengiyakan.
"Lalu kenapa Ell tidak mampir sayang?
Biasanya ia akan antusias bertemu Ayah dan Ibu."
"Ell kurang enak badan Bu.
__ADS_1
Jadi dia tidak bisa mampir."
"Oh, benarkah?
Baiklah.
Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam sayang.
Kita harus merayakan kemenanganmu bersama Ayah."
Kate mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumah bersama Marine.
--
Di dalam kamarnya, Alice merasa gelisah.
Ia masih teringat dengan sikapnya yang menolak ajakan Ell untuk mengantarnya pulang.
Apa yang akan dipikirkan Ell saat ini padanya?
Apa pria itu kembali marah padanya?
Padahal ia melakukan itu untuk kebaikan dirinya dan juga pria itu.
Alice kemudian keluar dari kamarnya.
Ia ingin mengambil air minum di dapur.
Saat Alice berada di dapur, Ell masuk ke dalam apartemen.
Alice berniat kembali ke kamarnya, namun tidak sengaja ia berpapasan dengan Ell yang baru saja pulang.
Alice menghentikan langkahnya dan menatap wajah Ell.
Pria itu memberikan tatapan datar padanya dan berjalan melewatinya.
Kini sudah bisa Alice pastikan bahwa saat ini Ell marah padanya.
Alice kemudian berjalan menuju kamarnya.
Namun saat baru beberapa langkah, suara Ell menghentikannya.
"Brein sepertinya menyukaimu."
ucap Ell yang masih berada di depan pintu kamarnya.
Alice membalikkan badannya dan menatap Ell.
"Kakak salah.
Kak Brein tidak mungkin menyukai wanita sepertiku.
Dia hanya peduli padaku."
ucap Alice.
Karena menurutnya selama ini Brein bersikap biasa padanya.
Pria itu memanglah pria yang baik.
Nyatanya ia memang benar-benar menyukaimu.
Bagaimana bisa kau tidak menyadarinya sama sekali?
Ell bergumam di dalam hati.
"Bagaimana denganmu, kau memiliki perasaan dengannya?"
Ell memandang Alice dengan lekat.
Alice seketika terdiam saat Ell menanyai bagaimana perasaannya.
Ia tidak bisa menjawab walaupun sebenarnya ia tidak memiliki perasaan pada Brein.
Hanya saja baginya pertanyaan itu cukup menyulitkannya.
Alice kemudian membalikkan badannya dan berniat pergi.
Namun Ell menarik tangannya.
"Kau menyukainya?"
Alice menutup kedua matanya dan beberapa saat kemudian berbalik.
"Aku bertanya padamu.
Kenapa kau tidak menjawab?"
tambah Ell yang menuntut jawaban dari Alice.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Kak Brein Kak.
Kami hanya berteman biasa."
Alice akhirnya memberitahu bagaimana perasaannya.
Ell menghela napas sesaat setelah ia mendengar jawaban dari Alice.
Ell kemudian menatap Alice dengan intens.
"Jangan pernah merasa tidak layak untuk dicintai oleh seseorang.
Kau memiliki sesuatu di dalam dirimu yang tidak dimiliki oleh orang lain."
Kalimat Ell terdengar serius.
Ell perlahan mulai melepaskan tangan Alice dan kemudian meninggalkan Alice.
Alice menatap Ell yang pergi dan masuk ke dalam kamarnya.
Perkataan Ell tadi membuatnya bertanya-tanya apakah ada seseorang yang akan mencintainya dengan tulus?
Selama ini latar belakang yang dimilikinya membuat orang-orang menjauhinya bahkan sangat membencinya.
Sehingga membuatnya tidak yakin akan hal itu.
Alice menghapus air matanya yang menetes.
__ADS_1
Kalimat Ell berhasil membuatnya meneteskan air mata.