Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Berusah tidak menghiraukan


__ADS_3

Alice pulang ke rumah dengan raut wajah bersedih.


Ia berjalan menuju kamarnya.


Tanpa diduganya, ia melewati Kate yang sedang berada di ruang tamu.


Kate menatap ke arah Alice dengan bingung.


Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Alice.


Tidak biasanya Alice pergi tanpa menyapa orang di sekelilingnya.


Kate kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menuju Alice yang sudah hampir masuk ke dalam kamarnya.


"Alice..."


Alice menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik.


Ia melihat Kate berjalan ke arahnya.


"Alice, wajahmu..."


Kate melihat mata sembab yang terpancar di wajah Alice.


Ia sangat terkejut sekaligus khawatir.


"Ada apa Alice?


Kau baru saja menangis Alice?"


Alice hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Kate.


Hal itu membuat Kate semakin khawatir padanya.


"Katakan pada Kakak, apa ada seseorang yang menyakitimu di sekolah?"


"Tidak ada Kak.


Aku hanya lelah.


Aku baru pulang sekolah karena harus memberikan pelajaran tambahan pada adik-adik kelas."


"Kau yakin Alice?


Dan mata sembab ini?"


Kate menyentuh wajah Alice.


Alice menarik napas panjang.


Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan yang dialaminya saat ini pada Kate.


"Aku sedih karena Rayn pergi Kak.


Itu karena aku belum terbiasa tanpa kehadirannya."


"Kakak mengerti perasaanmu Alice.


Walaupun begitu, kau harus tetap kuat."


"Iya kak, aku tahu."


Kate tersenyum.


"Aku lelah Kak.

__ADS_1


Aku ingin istirahat."


"Baiklah sayang.


Selamat malam."


"Selamat malam Kak."


Alice memberikan senyumannya.


Dan setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya.


Kate hanya bisa menatap punggung rapuh Alice dengan tatapan sedih.


Ia juga turut sedih atas luka yang dialami oleh Alice saat ini.


Saat sedih bila harus melepaskan kepergian orang yang sangat berarti di dalam hidupnya.


--


Keesokan harinya, Alice pergi ke sekolah.


Ia masuk ke dalam kelas.


Dan semua teman sekelasnya menatap ke arahnya.


Ia sama sekali tidak menghiraukan tatapan mereka dan memilih untuk pergi ke mejanya.


"Well, Rayn sudah pergi.


Kita semua disini sedih.


Tapi di saat yang bersamaan kita juga bahagia karena pada akhirnya seseorang yang kita benci tidak memiliki siapapun lagi di sekolah ini.


Dia pantas mendapatkannya."


Namun Alice tetap tidak menghiraukannya.


Ia tidak boleh terpancing oleh sikap Monica yang memang sengaja melakukan hal itu agar ia semakin terlihat buruk di mata siswa di sekolahnya.


"Kau benar Monica.


Tidak ada seorangpun yang mau berteman dengan anak haram sepertinya."


ucap Michelle dengan lantang.


Semua teman-teman sekelas Alice tertawa ke arahnya.


Alice seketika menghentikan kegiatannya setelah mendengar pernyataan Michelle yang menyebutnya "anak haram."


Ia mengepal tangannya dengan erat, berusaha menguatkan dirinya.


Tiba-tiba ia teringat dengan Rayn.


Biasanya di saat seperti ini, Rayn selalu menepis perkataan kasar yang diucapkan oleh teman-temannya.


Bahkan tidak jarang Rayn membalas perlakuan buruk mereka.


Setelah itu Rayn akan membawanya ke suatu tempat, sekedar untuk melupakan kejadian buruk yang dialaminya.


Alice menghapus air matanya dan kemudian keluar dari kelasnya.


Melihat kepergian Alice dengan raut wajah begitu terluka, membuat Michelle dan Monica tersenyum kemenangan.


Mereka akan membuat Alice membayar apa yang dilakukan Alice selama ini pada mereka.

__ADS_1


Bahkan mungkin jauh lebih buruk dari sebelumnya.


Alice pergi ke taman sekolah, tempat yang biasanya didatanginya bersama Rayn saat jam istirahat.


Alice duduk di kursi yang berada di taman.


Matanya menyorot ke arah sisi yang tersisa di sampingnya.


Sekelebat bayangan Rayn muncul di sampingnya.


Bagaimana biasanya pria itu tertawa dan berusaha menjahilinya yang sedang serius membaca buku.


Alice meneteskan air matanya lagi.


Ia begitu merindukan sosok itu.


Sangat.


Alice dengan wajah menunduk menangis di sana, menumpahkan kesedihannya.


Tiba-tiba Alice mendengar suara dering pesan dari handphonenya.


Ia menatap layar handphonenya dan melihat pesan yang berasal dari Rayn.


Alice langsung membuka pesan itu.


"Apa kau juga merindukanku Alice?


Aku sangat merindukanmu disini."


Alice tersenyum melihat pesan dari Rayn.


Seketika tangisannya berubah menjadi senyuman.


Dimanapun Rayn berada, pria itu selalu mampu menghiburnya bahkan hanya lewat pesan ataupun panggilan.


Alice tahu bahwa selamanya Rayn akan selalu ada untuknya.


Alice kemudian membalas pesan Rayn.


"Hem, aku juga merindukanmu Rayn.


Kau sedang apa di sana?"


Tidak lama kemudian, pesan Alice kemudian


dibalas oleh Rayn.


"Aku sedang memikirkanmu Alice :) ."


Alice terkekeh membaca pesan yang dikirim Rayn.


Ia kemudian kembali mengirim pesan pada Rayn.


Hingga akhirnya obrolan mereka pun berlanjut.


Alice pun menjadi tidak merasa sedih lagi.


Berkirim pesan pada Rayn seolah-olah membuatnya merasakan kehadiran Rayn di dekatnya.


Alice kemudian kembali ke ruangan kelasnya.


Di sana ia mendapati tatapan sinis dari teman-temannya.


Ia tersenyum tipis dan sama sekali tidak menghiraukan mereka.

__ADS_1


Alice kemudian kembali membuka buku pelajaran sekolah dan menyiapkan catatan sebelum memulai pelajaran pertama.


Ia berjanji tidak akan mengambil pusing perkataan ataupun perlakuan buruk dari temannya lagi.


__ADS_2