
Alice masuk ke dalam toilet.
Samar-samar ia mendengar percakapan di dalam.
Alice menghentikan langkahnya.
"Kau lihat tadi penampilannya itu?
Dia terlihat seperti gadis kampungan."
ucap salah seorang karyawan wanita.
"Kau benar. Bahkan aku jauh lebih cantik darinya.
Bagaimana bisa Pak Ell yang begitu tampan menikah dengannya?
Sama sekali tidak ada yang spesial darinya.
ucap wanita lainnya.
"Aku sangat penasaran bagaimana cara dirinya merebut Pak Ell dari Nona Kate?"
"Apa dia melakukan hal mistis untuk memikat Pak Ell?"
Alice mengepal tangannya dengan erat.
Ia tidak tahan lagi dengan semua ucapan buruk mereka terhadap dirinya.
Ia kemudian memutuskan masuk ke dalam sana.
Kali ini Alice memasang wajah datar saat bertemu dengannya.
Tidak ada sapaan atau senyuman yang biasanya ia berikan pada setiap orang yang ditemuinya.
Entahlah.
Hanya saja ia begitu muak dengan semua ucapan buruk yang sama sekali tidak dilakukannya.
Sungguh ia tidak pernah berniat ataupun bahkan berpikir untuk merebut Ell dari Kate.
Mengapa mereka semua begitu tega mengucapkan semua hal buruk itu padanya?
Mereka menatap Alice dengan sinis.
Sementara Alice langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa memperdulikan tatapan mereka.
Setelah selesai, Alice keluar dari kamar mandi.
Ia kemudian berjalan menuju ruangannya.
Saat itu ia berpapasan dengan Brein yang baru keluar dari ruangan Ell.
Hanya saja Alice hanya melihat sekilas dan tidak menyadari bahwa pria berkacamata itu adalah Brein.
Alice terus melanjutkan langkahnya hingga ia mendengar suara dari belakang memanggil namanya.
"Alice..."
Alice menghentikan langkahnya dan langsung berbalik.
Ia mengerutkan keningnya saat melihat pria itu.
Apa pria itu mengenal dirinya?
Brein tersenyum.
Ia kemudian membuka kacamatanya.
"Sekarang kau sudah bisa mengenaliku Alice?"
Alice terkejut saat mengetahui bahwa pria yang di hadapannya adalah Brein.
"Kak Brein.."
Brein tersenyum setelah Alice akhirnya mengenalinya.
"Benar ini aku.
Apa yang kau lakukan di sini Alice?"
Alice kemudian melihat ke sekelilingnya.
Orang-orang sedang melihat ke arah mereka.
"Aku bekerja di sini Kak."
Brein memasang wajah terkejutnya.
"Benarkah?
Aku juga akan bekerja di sini.
Tadi aku barusan bertemu dengan Direktur Perusahaan ini."
Itu berarti Brein baru bertemu dengan Ell, pikir Alice.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi dengan cara seperti ini Alice.
Apalagi kau dan aku akan bekerja di tempat yang sama.
Bukankah ini bukanlah suatu hal yang kebetulan?
Apa kita berdua memang ditakdirkan untuk selalu bersama?"
Alice mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud ucapan Brein barusan.
Brein kembali memasang senyum di wajahnya.
Ia begitu suka melihat ekspresi kebingungan di wajah Alice.
"Aku berharap kita semakin dekat kedepannya.
Sampai jumpa kembali Alice."
ucap Brein dan kemudian pergi meninggalkan Alice.
Alice menatap kepergian Brein sebentar dan kemudian memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
Saat masuk ke dalam ruangannya, Celine menghampirinya.
"Ada apa Celine?
Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?"
"Pak Ell ingin bertemu dengan Nona di ruangannya."
Alice berpikir sejenak.
__ADS_1
Apa lagi yang akan dikatakan pria itu padanya?
Alice kemudian pergi ke ruangan Ell bersama Celine.
"Silahkan masuk Nona.
Pak Ell sudah menunggu kedatangan Nona di dalam."
Alice tersenyum.
"Terima kasih Celine."
"Sama-sama Nona."
Alice kemudian masuk ke dalam ruangan Ell.
Di sana ia melihat pria itu sedang berdiri menghadap ke jendela.
Ell kemudian berbalik setelah menyadari kedatangan Alice.
Kini Alice bisa melihat tatapan datar itu lagi.
"Kau bekerja di sini atas perintah Ayah.
Dan aku tidak pernah memintamu menuruti keinginannya.
Karena kau sudah memutuskan untuk bekerja di sini, aku minta kau bekerja layaknya karyawan biasa.
Pernikahan itu tidak akan membuatmu diperlakukan spesial di sini.
Jadi jangan pernah berpikir bahwa kau tidak perlu berkerja keras seperti karyawan lainnya."
ucap Ell dengan nada tegas.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu Kak.
Aku bekerja bukan karena perintah ayah atau apapun.
Aku bekerja untuk diriku sendiri dan aku akan melakukan yang terbaik."
"Itu bagus.
Itu berarti kau menyadari tempatmu.
Aku akan menunggu pembuktian darimu.
Jika kau tidak bisa, kau bisa berhenti dari pekerjaan ini."
Ucapan Ell semakin membuat Alice bersedih.
Perkataan orang-orang di toilet tadi, di tambah dengan ucapan Ell barusan.
(Selama ini aku begitu menyadari tempatku Kak.
Aku tahu, aku tidak akan pernah bisa memaksa orang-orang di sekitarku untuk bisa menyukaiku.
Tapi mengapa kalian selalu mengatakan hal-hal buruk padaku?
Bukankah aku hanyalah manusia biasa yang juga memiliki perasaan sama seperti kalian?)
Alice menatap Ell dengan tatapan senduh.
Ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.
Alice kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
ucap Ell.
Alice menganggukkan kepalanya dan kemudian keluar dari sana.
Seketika air mata Alice jatuh saat keluar dari ruangan Ell.
Celine yang melihat air mata Alice, langsung menghampirinya.
Ia begitu terkejut melihat Alice menangis.
"Nona, apa Nona baik-baik saja?"
Alice langsung menghapus air matanya.
"Aku tidak apa-apa Celine."
ucap Aline dan kemudian meninggalkan Celine.
Celine masih menatap kepergian Alice yang terlihat begitu sedih setelah keluar dari ruangan Boss nya.
Celine kemudian melihat ke arah ruangan Ell.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan Pak Ell dan Nona Alice.
Aku melihat dengan jelas bahwa Nona Alice tadi menangis setelah keluar dari ruangan Pak Ell.
Kasihan Nona Alice.
Aku harap hubungan mereka baik-baik saja."
Setelah kepergian Alice dari ruangannya, Ell menutup kedua matanya dan kemudian memijit keningnya.
Ell memegang erat sisi meja kerjanya.
Ia kemudian melihat ke arah pintu ruangannya.
Entah mengapa pikirannya saat ini menjadi kacau setelah mengucapkan kalimat itu pada Alice.
Di dalam ruangan kerjanya, Alice memegang erat handphonenya.
Semua perkataan itu masih terngiang-ngiang di pikirannya sehingga membuatnya tidak bisa bekerja dengan baik.
Selama berjam-jam ia menahan kesedihannya.
Dirinya menjadi tidak berdaya dan tubuhnya tiba-tiba merasa lemah.
Tidak terasa jam kerja sudah habis.
Semua karyawan mulai meninggalkan ruangan kerja satu per satu.
Alice kemudian membawa tasnya dan keluar dari ruangan.
Tatapannya mengarah lurus ke depan, tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
Sesampainya di depan parkiran, Alice menghentikan sebuah taksi.
Hari ini dirinya tidak bisa naik bus karena kondisinya yang tidak mendukung.
Alice menutup kedua matanya, berusaha melupakan semua yang terjadi padanya hari ini.
Hingga akhirnya Alice tertidur di dalam taksi dan sempat tidak menyadari bahwa taksi sudah sampai di depan apartemen Ell.
__ADS_1
"Nona....
Kita sudah sampai di depan tujuan."
Supir taksi tersebut berusaha membangunkan Alice.
Beberapa saat kemudian, Alice akhirnya bangun dari tidurnya.
"Kita sudah sampai Nona."
"Maaf, maafkan saya Pak.
Saya tertidur tadi."
"Tidak apa-apa Nona."
Alice kemudian memberikan ongkosnya.
"Terima kasih banyak Pak."
"Sama-sama Nona."
Alice masuk ke dalam ke gedung apartemen dan berjalan menuju lift.
Saat masuk ke dalam lift, Alice menundukkan kepalanya yang terasa berat.
Lift terbuka, Alice keluar dari sana.
Langkah Alice perlahan mulai berat.
Alice menempelkan tangannya pada dinding lorong agar ia tidak terjatuh.
Karena tidak tahan lagi, Alice kemudian meluruhkan tubuhnya dan posisinya saat ini berjongkok.
"Alice..."
Seseorang memanggil namanya, namun hal itu tidak membuat Alice menoleh walaupun suara itu begitu familiar di telinganya.
Dan saat menyadari orang itu menyentuh bahunya, Alice perlahan menaikkan wajahnya.
"Kak Brein..."
Alice melihat sosok yang berdiri di hadapannya adalah Brein.
"Alice kau tidak apa-apa?"
ucap pria itu dengan raut wajah khawatir.
Pri itu kemudian menyamakan posisinya dengan dirinya.
"Alice kau bisa mendengarku?"
Alice masih menatap wajah khawatir itu dan kemudian mengangguk.
Alice kemudian berusaha berdiri dengan bantuan Brein.
Ia sama sekali tidak menolak bantuan pria yang baru saja dikenalnya itu.
Setelah berhasil berdiri, Brein masih belum melepaskan tangannya dari tangan Alice.
"Alice wajahmu pucat.
Aku akan mengantarmu ke apartemenmu."
Lagi-lagi Alice mau menerima bantuan Brein.
Selama perjalanan menuju ke apartemen Ell, pandangan Brein terpusat pada Alice yang berada di sampingnya.
Ia begitu khawatir saat ini melihat Alice yang terlihat sedang sakit.
"Kamarku berada di lantai atas.
Aku tidak sengaja turun ke sini tadi."
"Benarkah?"
ucap Alice menanggapi pernyataan Brein barusan.
"Beruntung aku bertemu denganmu tadi.
Aku khawatir melihat kondisimu seperti ini Alice."
Alice hanya diam dan tidak bereaksi apapun mendengar pernyataan Brein yang khawatir dengannya.
"Apartemenku ada di sana."
"Baiklah."
Sesampainya di depan apartemen Ell, Brein langsung melepaskan tangannya dari Alice.
"Terima kasih banyak karena telah mengantarku Kak Brein."
"Sama-sama.
Ngomong-ngomong apa kau sakit?"
"Aku baik-baik saja Kak."
"Apa kau yakin?"
Alice mengnggukkan kepalanya.
"Hem."
"Baiklah kalau begitu."
Brein kemudian mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada Alice.
"Oh ya, ini kartu namaku Alice. Kau boleh menghubungiku kapanpun jika kau memerlukan bantuan."
Alice menatap kartu nama itu sebentar dan kemudian menatap Brein dengan seksama.
"Baik Kak."
"Kalau begitu masuklah.
Aku akan pergi setelah melihatmu masuk."
"Terima kasih Kak."
Alice tersenyum pada Brein dan kemudian masuk ke dalam apartemen.
Setelah melihat Alice masuk, tidak membuat Brein pergi dari sana.
Selama beberapa menit ia berdiri di depan apartemen Alice, memastikan tidak ada sesuatu buruk menimpa gadis itu.
Karena ia begitu khawatir saat ini.
__ADS_1