Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Pindah


__ADS_3

Setelah menemui Wali Kelas, Ell dan Kate kembali menemui teman-teman mereka.


Kate begitu terkejut saat tidak mendapati Alice bersama mereka.


"Dimana Alice?"


Kate mengedarkan pandangannya.


"Alice pergi bersama Rayn."


"Apa?"


Pernyataan Marchel cukup mengejutkan Kate.


Pasalnya Alice tidak memberikan pesan bahwa ia pergi bersama Rayn.


Ia kembali memeriksa handphonenya.


Sama sekali tidak ada pesan yang berasal dari Alice.


"Apa kau tidak mendapatkan pesan dari Alice, Kate?"


ucap Kesha yang bertingkah seolah tidak tahu apa yang terjadi.


"Mungkin dia lupa memberitahumu."


Ell meyakinkan Kate agar gadis itu tidak khawatir.


"Hem, kau benar Ell.


Rayn juga Pria yang baik.


Aku bisa mempercayainya."


"Kalau begitu biarkan saja dia bersama Rayn.


Mereka pasti akan segera kembali Kate."


Kate menganggukkan kepalanya.


Sementara saat ini Alice sedang bersama Rayn di lantai paling atas sekolah.


Alice senang Rayn membawanya ke sana.


Dari sana mereka bisa melihat lingkungan sekolah dengan jelas.


Langit juga tampak lebih indah dilihat dari sana.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku akan datang ke acara malam ini Rayn?


Bukankah sebelumnya aku memberikan pesan padamu bahwa aku tidak akan datang?"


"Aku begitu mengenalmu Alice.


Jadi aku tahu kau pasti akan datang."


Alice tertawa.


Ia kemudian kembali menatap lurus ke depan.


"Alice.."


panggil Rayn.


"Hem..."


Alice kemudian mengalihkan tatapannya pada Rayn yang berdiri di sampingnya.


"Kau sangat cantik malam ini."


Pujian Rayn seketika membuat Alice terdiam membisu.


"Dan aku sedang tidak bercanda Alice.


Kau juga pasti menyadari bahwa semua siswa disana menatapmu dengan kagum."


Alice terkekeh.


"Aku tahu Rayn.


Dan terima kasih atas pujianmu."


"Kau sebaiknya lebih berhati-hati lagi dengan Marchell dan teman-temannya Alice.


Mereka itu orang-orang yang sangat buruk.


Pastikan bahwa kau berjauhan dengan mereka.


Ketika mereka mendekatimu, dan saat aku tidak ada, kau harus lari ataupun menjauh.


Kau mengerti?"


Alice tersenyum.


"Bukankah kau selalu bersamaku Rayn?


Tentu aku tidak perlu takut pada mereka."


"Aku tidak akan bisa melindungimu selamanya Alice walaupun mungkin aku mau.


Suatu saat nanti kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing.


Salah satu dari kita juga mungkin akan pergi jauh."


"Apa yang kau katakan Rayn?"


Perkataan Rayn membuat Alice menjadi sedih.


Ia akan sedih bila harus berpisah dengan Rayn.


Paling tidak Alice berharap bisa berhubungan baik dengan Rayn selamanya.


Rayn menarik napas panjang, dan menatap wajah murung Alice.


"Alice, sebenarnya aku ingin memberitahumu bahwa aku dan kedua orang tuaku akan akan pindah ke luar negeri dalam jangka waktu dekat.


Alice langsung menggeser tubuhnya dan kini berhadapan dengan Rayn.


"A-apa?"


"Ayahku telah memutuskan untuk menjalankan bisnisnya di luar negeri."


"Rayn, itu artinya kau akan pergi jauh dan tidak akan kembali?"


"Sungguh aku juga tidak mau Alice.


Aku ingin selalu berada disini, menjaga dan melindungimu."


Kedua mata Alice mulai berkaca-kaca.


Sungguh ia sangat sedih mendengar kabar itu.


Rayn orang yang sangat berarti baginya.


Ia tidak sanggup jika harus berpisah dengannya.


"Ayahku memberitahuku begitu tiba-tiba.


Aku mencoba memaksa Ayah dan meyakinkannya untuk tidak jadi pindah.


Namun ia tetap bersikeras.


Ayah mengatakan bisnis yang dimilikinya akan jauh lebih berkembang di luar negeri."


Alice masih diam membisu di tempatnya.


Rayn melangkah maju mendekati Alice.

__ADS_1


"Dan aku juga ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu Alice.


Aku tidak mau pergi sebelum mengatakan ini padamu."


Alice menatap wajah Rayn yang terlihat serius.


"Aku menyukaimu Alice.


Aku menyukaimu selama 2 tahun belakangan ini.


Pertama kali bertemu denganmu, aku tahu kau gadis yang sangat tulus dan baik hati.


Kau berbeda dengan gadis yang lainnya."


Pernyataan Rayn sungguh mengejutkan Alice.


Ia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.


"Rayn, aku..."


"Aku tahu selama ini kau hanya menganggapku sebagai seorang sahabat Alice.


Aku tidak akan menyakitimu dengan memaksamu membalas perasaanku.


Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasaanku padamu."


Alice meneteskan air matanya dan kemudian menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku Rayn."


"Tidak apa-apa Alice.


Yang kuinginkan selama ini hanyalah melihatmu bahagia dan selalu berada di sampingmu, melindungimu dari orang-orang yang berniat buruk padamu.


Tapi sekarang aku sangat sedih karena aku tidak akan bisa melakukan hal itu dalam waktu yang lama."


"Aku tidak mau meninggalkanmu Alice."


tambah Rayn.


Alice menaikkan wajahnya dan kemudian menatap mata senduh Rayn.


Alice kembali meneteskan air matanya.


Ia perlahan mulai terisak.


Rayn langsung membawa Alice ke dalam pelukannya.


Mereka berdua berpelukan.


Alice menangis di dalam pelukan Rayn.


Sungguh ia tidak mau kehilangan Rayn.


Rayn yang selama ini menjaga dan melindunginya di sekolah.


Pria itu begitu baik padanya dan memberikan banyak perhatian yang tidak bisa ia dapatkan dari teman-temannya yang lain.


Rayn yang selalu ada untuk mendukung dan menyemangatinya.


Rayn merupakan rumah untuknya disaat ia sedih dan tidak tahu harus bercerita pada siapa.


Bagaimana jadinya ia saat Rayn tidak ada di sisinya nanti?


Alice menangis terseduh-seduh dan memeluk tubuh Rayn dengan erat.


Mengapa semuanya terjadi begitu tiba-tiba?


Padahal ia hanya memiliki beberapa orang di dunia ini yang benar-benar menyayanginya.


Dulu Ibunya, dan sekarang Rayn juga akan meninggalkannya?


--


Beberapa saat kemudian, Rayn dan Alice pergi dari tempat itu dan kembali ke pesta.


Rayn dan Alice duduk berdampingan di kursi belakang.


Selama acara berlangsung, tidak ada pembicaraan di antara keduanya.


Rayn dan Alice saling sibuk dengan pikiran masing-masing.


Mereka masih memikirkan hal tadi.


Bahkan keduanya sebenarnya tidak menikmati acara yang ditampilkan di hadapan mereka.


Hingga akhirnya acara selesai.


Acara ditutup dengan kata perpisahan pihak sekolah dan juga perwakilan tiap kelas.


Semua siswa berdiri dari tempat duduk masing-masing dan mulai meninggalkan sekolah.


Mulai menyadari kondisi di sekitar yang perlahan sepi, Rayn dan Alice kemudian berdiri dan juga berniat meninggalkan sekolah.


"Alice..."


Rayn berdiri di hadapan Alice.


"Aku akan memcoba berbicara lagi pada Ayah untuk tidak pindah ke luar negeri.


Dan jika memang aku harus pergi, aku berjanji akan kembali lagi Alice.


Aku berjanji, hem?"


Alice perlahan menganggukkan kepalanya.


Bagaimanapun ia harus bisa menerima keputusan Ayah Rayn walaupun harus kehilangan sahabatnya.


Rayn tersenyum dan kemudian menghusap bahu Alice dengan lembut.


"Kau terlihat jelek dengan wajah murung seperti itu Alice.


Maafkan aku.


Sepertinya aku harus menarik pujianku tadi."


Alice tersenyum tipis.


Ia tahu saat ini Rayn sedang berusaha menghiburnya.


"Alice..."


Panggil seseorang yang Alice yakini suara Kate.


Alice membalikkan badannya.


Dan benar saja, Kate berjalan menghampirinya bersama Ell di belakangnya.


"Kau dari mana saja Alice?


Kau tidak membalas pesan Kakak.


Kakak sangat mengkhawatirkanmu tadi."


"Maafkan aku Kate, ini salahku.


Aku membawa Alice pergi tanpa sepengetahuanmu.


Tadi kami juga asyik mengobrol hingga lupa mengabarimu.


Sekali lagi aku minta maaf.


"Tidak apa Rayn.


Sebenarnya tadi aku cukup lega saat mendengar bahwa Alice sedang bersamamu.


Apa kalian menikmati acaranya?"

__ADS_1


Rayn dan Alice saling melirik satu sama lain.


Dan Kate terkekeh melihat keduanya.


"Ada apa ini?


Kenapa kalian saling melirik seperti itu?"


"Kami menikmati acaranya Kak."


ucap Alice dengan nada gugup.


Kate tersenyum.


"Baiklah kalau memang begitu.


Sekarang sudah larut malam.


Kita harus pulang ke rumah.


Rayn, apa kau mau pulang bersama kami?"


"Tidak perlu Kate.


Aku tadi membawa mobilku datang ke sini."


"Baiklah, kalau begitu kami akan membawa Alice pulang bersama kami.


Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian esok hari."


ucap Kate dengan nada menggoda.


"Ayo, Alice.."


"Rayn kami pulang dulu.


Kau berhati-hatilah berkendara." ujar Alice.


Rayn tersenyum dan kemudian mengangguk.


"Hem, kalian juga."


Ell, Kate dan Alice kemudian berjalan menuju mobil.


Setelah melihat ketiganya masuk ke dalam mobil, Rayn kemudian masuk ke dalam mobilnya.


--


Rayn masuk ke dalam rumahnya.


Dan kebetulan sekali, kedua orang tuanya masih belum tidur dan saat ini sedang mengobrol di ruang tamu.


Rayn kemudian menghampiri mereka.


"Rayn, kau sudah pulang ternyata sayang.


Kau bisa duduk disini bersama Ayah dan Ibu."


ucap Ibu Rayn.


Rayn ikut duduk di sofa.


"Ayah, Ibu..."


"Ada apa Rayn?


Apa kau ingin berbicara sesuatu pada Ayah dan Ibu?"


"Hem, sebenarnya aku ingin memohon pada Ayah dan Ibu untuk tidak pindah ke luar negeri."


Ujaran Rayn mengejutkan kedua orang tuanya.


"Alasan apa yang membuatmu tidak ingin kita pindah ke luar negeri Rayn?


Bukankah Ayah sudah mengatakan padamu bahwa tujuan kita pindah ke luar negeri adalah untuk mengembangkan bisnis keluarga kita?"


tanya Ayah Rayn.


"Tapi aku tidak ingin pindah Ayah.


Aku tidak ingin meninggalkan Indonesia.


Aku lahir di sini, teman-temanku juga ada disini.


Akan sulit nantinya jika aku harus menyesuaikan diriku di sana."


"Kau juga bisa mendapatkan teman-teman disana Rayn.


Banyak orang-orang baik disana.


Kau tidak perlu khawatir untuk menyesuaikan diri.


Ayah dan Ibu akan membantumu.


Perlahan kau pasti akan terbiasa."


"Tapi Ayah..."


"Ayahmu benar Rayn.


Ini juga untuk kebaikan keluarga kita.


Kau bisa berkunjung ke Indonesia pada saat libur jika kau memang merindukan teman-temanmu disini."


"Ayah sudah memutuskan Rayn.


Dan keputusan Ayah sudah bulat."


Ayah Rayn menekankan kalimatnya yang berarti ia tidak akan mengubah keputusannya.


"Baiklah Ayah."


Rayn kemudian berdiri.


"Aku akan kembali ke kamarku.


Selamat malam Ayah, Ibu."


Rayn langsung berlalu pergi.


Dan kedua orang tuanya bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh Rayn barusan.


Tidak biasanya Rayn seperti itu.


"Apa telah terjadi sesuatu dengan Rayn di sekolah?" tanya Ayah Rayn.


"Aku juga tidak tahu sayang.


Rayn juga sepertinya ingin tetap tinggal di sini.


Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?


Wajahnya sangat murung setelah mendengar keputusan kita untuk pindah."


Rayn masuk ke dalam kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.


Tangan kanannya ia letakkan di keningnya.


Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang.


Tiba-tiba bayangan wajah Alice muncul di kepalanya.


"Sungguh, aku tidak bisa meninggalkanmu Alice.


Namun aku tidak bisa berbuat apa lagi.


Jika memang aku harus pergi, aku akan melakukan segala cara untuk membuatku bisa kembali padamu.

__ADS_1


Dan saat aku kembali nanti, aku tidak akan melepasmu lagi."


__ADS_2