Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Mari berteman baik!


__ADS_3

Alice memutuskan untuk pergi ke kantin.


Ia duduk sendirian di sana.


Matanya menatap ke arah bekal makan yang telah disediakan untuk Ell tadi pagi.


Perasaaan sedih kini menyelimutinya.


Ia terpaksa harus membanya bekal itu kembali ke ruamah.


"Alice..."


Seseorang memanggil namanya dari belakang.


Alice langsung membalikkan badannya.


Ia melihat Brein berjalan ke arahnya sambil tersenyum.


"Kak Brein..."


Brein kemudin duduk di samping Alice.


"Kau tahu, aku tadi mencarimu kemana-mana.


Dan ternyata kau ada di sini rupanya."


Alice mengerutkan keningnya.


"Kakak mencariku?


Apa Kakak memerlukan sesuatu dariku?"


Brein tersenyum.


Tentu saja ia mencari Alice karena ingin mengajaknya makan siang bersama bukan untuk hal lain.


"Tentu saja tidak Alice.


Aku hanya ingin makan siang bersamamu.


Kau juga makan siang sendirian kan?"


Brein kemudian mengarahkan pandangannya pada bekal yang berada di atas meja.


"Wah, apa ini?


Apa ini bekal makan siang Alice?


Apa kau yang memasak semua makanan ini?


Tiba-tiba aku merindukan masakan rumah.


Apa kau memasak porsi banyak hari ini?"


ucap Brein dengan tatapan berbinar.


Alice terdiam sesaat.


Ia kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kebetulan aku memasak lebih banyak hari ini Kak.


Kakak boleh memakan makanan ini."

__ADS_1


Alice memberikan bekal Ell pada Brein.


"Benarkah?


Aku sangat senang kalau begitu.


Kalau begitu, ayo kita makan bersama."


Alice membuka bekal untuknya.


Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada Brein yang sedang menyantap masakannya dengan begitu lahap.


"Ini adalah masakan terlezat setelah masakan Ibuku.


Kau koki yang hebat Alice."


Alice tersenyum.


"Terima kasih Kak."


"Oh ya, kau pasti terkejut melihatku hari ini di kantor.


Sama halnya juga dengan diriku.


Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini bahkan bekerja di divisi yang sama Alice.


Aku senang bisa bertemu denganmu lagi."


Alice hanya tersenyum tipis.


"Mulai sekarang mari berteman baik."


Brein mengulurkan tangannya pada Alice.


"Kau tahu, aku baru di sini dan aku sama sekali belum memiliki teman Alice.


Aku rasa kau adalah teman pertamaku di sini.


Dan bisa dikatakan bahwa aku bergantung padamu.


Ah, maksudku hanya sementara saja sebelum aku bisa mengenal lingkungan di sini."


Alice menganggukkan kepalanya dan kemudian membalas uluran tangan Brein.


"Terima kasih."


Brein senang karena Alice mau berteman dengannya.


Dengan begitu ia bisa dekat dengan gadis itu.


Brein dan Alice kemudian melanjutkan kegiatan makan mereka sambil diiringi obrolan-obrolan soal kantor.


Alice juga bercerita soal dirinya yang juga baru bekerja di sana selama tiga hari lamanya.


Dan Brein memasang wajah seolah-olah ia terkejut akan hal itu.


Padahal ia sudah mengetahui itu semuanya.


Bahkan kejadian tadi saat Alice masuk ke dalam ruangan Ell dan keluar dengan raut wajah sedih.


Tadi ia sempat melihat Alice masuk ke dalam ruangan Ell.


Ia belum pergi dari sana dan memutuskan untuk menunggu sampai Alice keluar dari sana.

__ADS_1


Namun baru beberapa menit, Alice sudah keluar dari ruangan Ell dan membawa kembali bekal di tangannya.


Ia begitu terkejut.


Dari raut wajah sedih Alice, bisa ia pastikan telah terjadi sesuatu yang buruk di dalam ruangan itu.


Setelah mendengar pembicaraan Alice dengan Celine, ia bisa melihat bahwa Alice berbohong.


Pasti ada hal lain yang membuat gadis itu keluar dari sana dengan cepat.


Dan ia akhirnya mengetahui kebenarannya.


Ternyata Ell sedang bersama dengan Kate di dalam ruangannya.


Ia tadi memutuskan untuk mengirim pesan pada Ell untuk mengetahui kebenarannya.


Brein ingin mengajak Ell makan siang bersama.


Dan Ell menolak karena ia ingin pergi bersama Kate.


Hal itu pasti membuat Alice sangat sedih.


Gadis itu pergi dan membawa kembali bekal yang telah disiapkannya untuk Ell karena melihat Kate di sana.


Brein kemudian menatap Alice yang sedang makan.


(Kau tidak pantas menerima semua itu Alice.


Kau gadis yang sangat baik.)


Ell dan Kate keluar dari ruangan Ell.


Mereka berjalan bersama dan berniat akan makan siang bersama di kantin.


Seketika mata karyawan yang berada di sana mentap ke arah mereka berdua.


Mereka semua tahu bahwa Ell sudah menikah dengan Alice.


Namun sepertinya itu tidak mengubah hubungan keduanya yang masih terlihat dekat.


"Kau lihat itu Sinta, Pak Ell bahkan sama sekali tidak peduli dengan perasaan gadis itu.


Pak Ell terang-terangan masih menjalin hubungan dengan Nona Kate."


Ucap Sania dengan senyuman puas.


"Kau benar Sania.


Pak Ell tidak akan mungkin bisa berpaling dari Nona Kate.


Nona Kate jauh lebih berkelas dari Alice.


Pria manapun pasti akan meninggalkannya demi wanita seperti Nona Kate.


Sungguh malang nasih gadis itu.


Suaminya padahal berada di kantor yang sama dengannya.


Tapi sama sekali tidak mempedulikannya."


Sania dan Sinta saling menertawai nasib Alice yang begitu malang.


Bagi mereka, Alice pantas menerima semua hal itu.

__ADS_1


__ADS_2