Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Tidak akan melepaskan


__ADS_3

Kate menatap Ell dan Alice bergantian.


"Kak Kate..."


Kate kemudian perlahan menyunggingkan senyumnya dan mendekati Ell dan Alice.


"Kebetulan Kakak bertemu denganmu disini Alice.


Tadinya Kakak ingin pergi ke ruanganmu untuk mengajak makan siang bersama.


Beruntung kau ada di sini."


Alice tersenyum dan melihat ke arah Ell sekilas.


Entah mengapa suasana menjadi canggung.


Sama sekali tidak pembicaraan.


Kate dan Ell juga hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.


Kate kemudian menatap Ell yang sedang melipat kedua tangannya dengan mata menatap ke arah lain.


Menurutnya ada sesuatu yang berbeda pada diri Ell.


Alice sadar bahwa tidak seharusnya dirinya berada di sana. Kehadirannya pasti membuat Ell dan Kate menjadi tidak bebas untuk mengobrol.


Alice memegang tangannya dengan erat.


Jam makan siang juga masih lama lagi.


Tidak mungkin ia menunggu jam makan siang di ruangan Ell.


Alice kemudian berdiri dan berniat meminta izin pada Ell dan Kate untuk kembali ke ruangannya.


"Kak, aku ingin kembali ke ruanganku.


Ibu Mariana pasti sedang mencariku di ruangan.


Aku juga tidak enak dengan karyawan lain."


ucap Alice pada Kate.


Kate tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Alice, kau boleh kembali.


Oh ya, kau jangan lupa untuk makan siang bersama kami.


Dan..." Kate menatap Alice dengan tatapan menggoda. Ia juga sekilas melihat ke arah Ell.


"Kau boleh mengajak Kak Brein makan siang bersama kita.


Kehadirannya pasti membuat suasana menjadi lebih menyenangkan."


"Hem, aku mengerti Kak.


Aku akan mengirim pesan sebelum jam makan siang."


Sebelum pergi dari sana, Alice sempat melihat ke arah Ell yang juga sedang menatapnya.


Sebenarnya ia juga ingin berbicara pada pria itu, namun menurutnya itu tidak memungkinkan.


Alice keluar dari ruangan Ell.


Kate menarik napas panjang dan kemudian mendekati Ell.


Namun mata pria itu masih mengarah ke arah pintu.


Kate mengikuti arah tatapan Ell.


"Ell..."


"Hem..."


Ell mengalihkan tatapannya pada Kate yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Tidak.


Aku tidak apa-apa."


Ell kemudian pergi ke meja kerjanya dan kembali memeriksa berkas-berkas di mejanya.

__ADS_1


"Tumben sekali kau datang tanpa memberitahuku."


"Hem, sebenarnya tadi aku ingin memberikan kejutan padamu.


Dan aku juga ingin menyampaikan sebuah kabar gembira padamu Ell."


"Kabar gembira apa?"


Ell menautkan kedua alisnya.


Kate tersenyum mengembang dan tidak sabar untuk segera memberitahu Ell.


"Aku terpilih menjadi salah satu model yang akan tampil lusa di ajang fashion bergengsi Ell."


Ell tersenyum.


"Benarkah?


Kau sangat hebat Kate.


Aku tahu itu adalah salah satu impianmu selama ini."


Kate tersenyum dan kemudian duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ell.


"Hem, aku begitu bahagia Ell.


Aku bahkan tidak pernah menyangka bahwa aku terpilih.


Manajerku memberitahuku tadi pagi, dan aku sangat terkejut sekaligus terharu mendengar kabar itu."


"Selamat Kate.


Kau pantas menerimanya."


"Hem, hanya ucapan selamat saja?"


Ell terkekeh.


"Kalau begitu, kau menginginkan apa dariku?"


"Aku tidak menginginkan apa-apa Ell.


Aku hanya ingin kau hadir di ajang fashion itu.Kau harus melihatku tampil di sana.


Tapi Ayah dan Ibu tidak bisa hadir karena ada pekerjaan di luar kota.


Paman dan Bibi juga ikut kesana.


Jadi aku hanya mengharapkan kehadiranmu dan Alice di sana.


Aku mohon kalian berdua datang ke sana."


ucap Kate dengan nada memohon.


"Hem, aku akan mempertimbangkannya.


Walaupun akhir-akhir ini aku sangat sibuk."


ucap Ell berniat untuk menjahili Kate.


Raut wajah Kate berubah menjadi kesal.


"Jangan coba untuk menjahiliku Ell.


Pokoknya kau dan Alice harus datang."


Ell tertawa.


"Baiklah, baiklah.


Aku akan datang ke sana."


"Kau selalu membuatku kesal Ell.


Tapi walaupun begitu, aku bersyukur karena kau mau hadir.


Aku tinggal memberitahu Alice nanti."


--


Saat Alice masuk ke dalam ruangan, semua teman-temannya terkejut melihat penampilannya.


Mereka menatap kagum Alice yang baru saja datang.

__ADS_1


Alice melihat sekilas Brein yang tersenyum padanya.


Pria itu juga senang melihat Alice yang terlihat begitu cantik.


Alice kemudian mendatangi meja Ibu Mariana berniat untuk meminta maaf karena datang terlambat.


"Maafkan saya Bu karena datang terlambat."


Ibu Mariana tersenyum.


"Anda tidak perlu meminta maaf Nona.


Pak Ell sudah memberitahu saya untuk mengajak anda pergi tadi.


Bahkan sebelumnya saya berpikir anda tidak masuk ke kantor hari ini karena pergi berkencan dengan Pak Ell."


Ibu Mariana tersenyum mengembang dan kemudian menutup mulutnya.


"Tidak Bu, aku dan Kak Ell sama sekali tidak seperti apa yang Ibu pikirkan.


Tadi pagi aku hanya menemani Kak Ell bertemu Client."


"Oh baiklah Nona."


Ibu Mariana masih memakai ekspresi yang sama.


"Kalau begitu saya kembali ke meja saya Bu."


Ibu Mariana tersenyum dan mengangguk.


Alice langsung berbalik dan berniat kembali ke mejanya.


(Bagaimana bisa Ibu Mariana bisa berpikir seperti itu?)


Alice duduk di kursinya.


Ia sama sekali tidak menghiraukan tatapan orang-orang di ruangannya.


Termasuk Sania dan Sinta yang sedang menatap sinis ke arahnya.


Bisa dibilang mereka tidak suka dengan penampilan baru Alice yang membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang di kantor.


Bahkan seluruh karyawan tidak ada henti-hentinya membicarakannya.


"Mengapa penampilannya bisa berubah seperti itu Sania?"


"Aku juga tidak tahu.


Tapi tetap saja, penampilanku jauh lebih elegan dibandingkan dirinya."


ucap Sania dengan nada tidak mau kalah saing dengan Alice.


"Kau benar Sania.


Dia sama sekali tidak bisa menjadi tandinganmu."


Alice mengalihkan perhatiannya dari komputer saat mendengar dering notikasi pesan dari handphonenya.


Dan ternyata pesan itu dari Brein.


(Apa kau mau makan siang denganku, gadis cantik?)


Alice tersenyum membaca pesan itu.


(*Kak Kate mengajakku dan juga Kakak makan sian*g bersama.


Apa Kakak ingin bergabung?)


(Tentu saja.


Aku pasti akan ikut jika kau juga ada di sana.)


(Baiklah Kak.


Saat jam makan siang kita keluar dari ruangan bersama.)


Brein tersenyum mendapati pesan Alice.


Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada gadis itu.


(Kau benar-benar sangat cantik Alice.


Aku tidak akan pernah melepaskanmu.)

__ADS_1


__ADS_2