
Kate memeluk Alice sebelum pulang.
Setelah mengobrol, mereka berempat memutuskan untuk berpisah.
Brein dan Alice akan kembali ke ruangan, sementara Ell akan mengantar Kate pulang.
"Pulanglah ke rumah kalau kau punya waktu Alice.
Kami begitu merindukanmu di rumah."
Alice tersenyum dan mengangguk.
"Baik Kak.
Aku akan datang."
"Kakak akan menunggu kehadiranmu.
Jadi jangan sampai kau tidak datang."
ucap Kate dengan nada memperingati.
Alice tersenyum lagi.
"Iya Kak.
Aku pasti akan datang."
"Baiklah kalau begitu, Kakak akan pulang.
Selamat bekerja sayang.
Kau harus memberitahu Kakak jika terjadi sesuatu padamu."
Alice menganggukkan kepalanya.
"Hem..."
Kate tersenyum dan kemudian mengarahkan pandangannya pada Brein yang berdiri di samping Alice.
"Selamat bekerja untukmu juga Kak Brein.
Aku mohon tolong jaga Alice.
Seperti di sekolah dulu, aku pikir di kantor ini juga banyak yang berniat mengganggu Alice."
"Kau tidak perlu khawatir Kate.
Aku akan menjaganya dengan baik."
ucap Brein sambil menatap Alice.
Kate tersenyum.
Bisa ia pastikan bahwa dugaannya benar.
Brein sepertinya menyukai Alice.
Terlihat dari tatapan Brein pada Alice yang menggambarkan perasaannya dengan jelas.
Alice memegang erat tangannya.
Tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Ell yang berdiri di belakang Kate.
Sepasang mata itu masih menatapnya hingga kedatangan Brein yang mendekati Ell akhirnya mengakhiri tatapan mereka.
Terlihat Brein sedang membisikkan sesuatu pada Ell.
"Aku sangat berharap kau bisa bersatu kembali dengan Kate dan bercerai dari Istrimu secepatnya.
Aku tahu kau sangat mencintai Kate Ell.
Kau harusnya tidak menyerah bukan?
Pertahankan cintamu dan kau bisa mendapatkan kembali hati Kate."
Brein menepuk pundak Kate dan kembali ke tempatnya semula.
"Kalau begitu, aku dan Alice akan kembali ke kantor.
Kalian berdua, berhati-hatilah di jalan."
Kate menganggukkan kepalanya.
Sebelum pergi, Alice sempat melambaikan tangan pada Kate.
"Ayo Alice..." ajak Brein.
Alice mengangguk dan kemudian pergi bersama Brein.
Setelah Brein dan Alice pergi, Kate dan Ell juga langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Ell menghentikan langkahnya.
Ell melihat ke arah Brein dan Alice yang masih terlihat dari kejauhan.
Sontak hal itu juga membuat Kate menghentikan langkahnya.
"Ada apa Ell?
Apa kau ketinggalan sesuatu?"
"Tidak.."
ucap Ell sekilas dengan mata yang masih mengarah ke arah yang sama.
Kate kemudian mengikuti arah pandangan Ell.
Ia tersenyum menyadari Ell yang sepertinya memiliki pendapat yang sama dengannya soal Brein dan Alice.
"Kau juga pasti bisa melihat ada sesuatu yang spesial setiap kali Kak Brein melihat Alice.
Aku rasa Kak Brein memiliki perasaan pada Alice.
Dan aku sangat setuju jika suatu saat nanti mereka berdua menjalin hubungan.
Kau juga akan mendukung hubungan mereka kan Ell?"
Ell hanya diam dan hal itu membuat Kate kebingungan.
"Ell, kenapa kau diam saja?"
"Aku merasa Brein bersikap biasa saja, sama seperti biasanya."
"Benarkah?
Tapi dari apa yang aku lihat tadi, tatapan Kak Brein pada Alice..."
"Sudahlah, kita tidak perlu membicarakan hal itu lagi.
Ayo kita pergi."
Ell membalikkan badannya dan meninggalkan Kate.
Kate menatap Ell dengan kesal dan kemudian mengikutinya dari belakang.
--
Alice masuk ke ruangan bersama Brein.
Seketika semua karyawan wanita di sana menatap Alice dengan tatapan tajam.
Sebelum pergi ke mejanya, Brein sempat memberikan senyuman pada Alice.
Hingga Sania yang berada tidak jauh dari Alice menggeram kesal.
Sania kemudian merencanakan sesuatu untuk membalas Alice.
Ia berniat membuat kopi panas dan akan menumpahkannya pada Alice.
Nanti ia juga akan bersikap seolah-olah tidak sengaja melakukannya.
Sania tersenyum licik ke arah Alice.
Ia kemudian berjalan menuju ke arah meja Alice.
Saat sudah mendekati posis Alice, Sania melancarkan aksinya namun sayangnya dia tersandung dan kopi panas itu malah mengenainya.
"Panas.. panas..."
Sania merasakan kepanasan di sekitar paha nya.
Semua karyawan langsung mendekati Sania yang terduduk di lantai.
Termasuk Alice yang berjarak sangat dekat dengan Sania.
"Sania, kau tidak apa-apa?"
Kenapa kau bisa begini?"
tanya Sinta dengan nada cemas.
Brein berjalan dari tempat duduknya.
Hal itu membuat Sania senang dan berpikir bahwa Brein akan khawatir padanya.
Namun kenyataannya sangat berbanding terbalik.
Brein malah mendekati Alice.
"Alice, kau tidak apa-apa?
Apa kau terluka?"
__ADS_1
tanya Brein pada Alice.
Alice menggelengkan kepalanya.
Hal itu membuat Sania semakin kesal.
Ia kemudian memasang wajah kesakitan.
"Alice menyenggol kakiku sehingga aku terjatuh.
Dan kalian lihat, tubuhku sangat panas karena ketumpahan kopi.
Semua orang seketika melihat ke arah Alice.
Alice menggelengkan kepalanya.
Ia begitu terkejut dengan pernyataan Sania yang memfitnahnya di depan semua orang.
"Tidak, aku tidak melakukannya.
Sedari tadi aku bekerja bahkan sama sekali tidak menyadari kehadiranmu."
"Kau..
Kau tentu tidak akan mengaku atas perbuatan burukmu Alice.
Kau sengaja kan melakukannya agar aku terkena kopi panas ini?"
Alice sama sekali tidak tinggal diam.
Ia tidak akan mau menjadi pelaku untuk hal yang tidak dilakukannya.
"Apa kau punya buktinya?
Salah satu dari kalian, apa ada yang melihat aku melakukan itu pada Sania?"
Alice melihat satu per satu ke arah karyawan di sana.
Sama sekali tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Alice.
Mereka hanya diam karena tidak ada yang bisa membuktikan tuduhan Sania pada Alice.
Alice kemudian melipat kedua tangannya.
"Tidak ada yang melihatku melakukannya kan?
Bisa saja kau tersandung hingga menumpahkan kopi itu ke tubuhmu.
Namun karena kau terlanjur malu karena perbuatan cerobohmu itu, kau akhirnya menyalahkan orang lain yang sama sekali tidak bersalah.
Tapi kau seharusnya tidak melakukan itu Sania.
Kau menjadi lebih malu berkali-kali lipat dari sebelumnya."
"Kau...."
Sania menunjuk ke arah Alice.
Sementara Alice hanya tersenyum dan kemudian menggelengkan kepalanya.
Brein yang berdiri di samping Alice merasa begitu bahagia melihat keberanian yang dimiliki oleh Alice.
"Sudah-sudah.
Sania kau bersihkan pakaianmu dan kembali ke ruangan secepatnya!
Dan satu lagi, Ibu peringatkan kau untuk tidak melakukan perbuatan buruk ini lagi!"
ucap Mariana dengan nada memperingati.
Mariana kemudian melihat ke arah Alice.
"Nona Alice, Nona boleh kembali ke meja anda."
Alice tersenyum dan kemudian mengangguk.
Satu per satu karyawan juga pergi meninggalkan Sania yang masih duduk di lantai.
Sania mengepal tangannya dengan erat dan kemudian pergi ke kamar mandi dengan perasaan malu bercampur kesal.
Sebelum Alice kembali ke mejanya, Brein membisikkan sesuatu padanya.
"Kau sangat hebat Alice."
Alice melihat Brein yang tersenyum padanya.
Ia juga membalasnya dengan senyuman.
Entahlah, Alice juga tidak tahu apa yang membuatnya berubah menjadi pribadi yang tangguh akhir-akhir ini.
Dulu dia hanya bisa diam bahkan menerima semua perbuatan buruk orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Namun sekarang, ia tidak bisa menerima semua itu lagi.
Ia akan belajar untuk lebih menyayangi dirinya sendiri.