
Alice membawa kopernya menuju kamar yang berada di belakang villa.
Kamarnya cukup jauh dari kamar anggota keluarga yang lain.
Namun anehnya hanya dirinya yang berada di luar sendirian.
Faktanya Marine yang mengatur itu semua.
Hal itu adalah salah satu bagian dari rencananya untuk menjauhkan Alice dari Ell dan mendekatkan Ell dengan Kate.
Lihat saja, kamar Ell dan Kate berdampingan.
Tentu mereka akan berdekatan satu sama lain.
Ell berniat masuk ke dalam kamarnya.
Matanya kemudian menatap Alice yang membawa kopernya menuju kamarnya.
Entah apa yang mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar dan kemudian berjalan mendekati Alice.
Ell menghentikan langkah Alice dan kemudian mengambil alih kopernya.
"Aku akan membawanya ke kamarmu."
Lagi-lagi Alice terkejut dengan perlakuan Ell yang terbilang tiba-tiba.
Ia menatap punggung pria itu dan kemudian menarik napas panjang.
Beberapa saat kemudian, Ell dan Alice sudah sampai di kamar Alice.
Ell meletakkan koper Alice dan kemudian menatap seluruh isi kamar Alice.
Seharusnya Alice tidak berada di sana.
Karena kamar itu biasanya ditempati oleh Pak Ransen setiap kali mereka berlibur ke villa.
Kamar itu juga terpisah dari kamar yang lain.
Alice akan sendirian di sana.
Alice mengikuti arah pandangan Ell.
Pria itu menatap kamarnya dengan seksama.
"Pindahlah ke kamar lain."
ucap Ell tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hem, kenapa Kakak menyuruhku pindah dari kamar ini?"
"Kau tidak tahu ini kamar Pak Ransen?"
"Aku tahu Kak. Tapi Pak Ransen sudah pindah ke kamar lain.
Dan juga Bibi yang memintaku untuk tinggal di kamar ini."
"Apa kau tidak takut sendirian di sini?"
tanya Ell dengan tatapan selidik.
Alice hanya diam tidak menjawab pertanyaan Ell.
Ell kemudian membawa koper Alice agar gadis itu pindah ke kamar lain yang berada di dalam villa.
Namun Alice langsung menghentikannya.
"Tidak Kak.
Aku ingin berada di sini."
Sejujurnya Alice juga takut.
Apalagi jika ia memerlukan sesuatu ke dapur pada saat malam hari, ia harus keluar melewati pohon-pohon rindang.
Dan juga, apakah ia bisa tidur dengan nyaman nantinya saat malam hari?
Ia tergolong orang yang penakut.
Tapi ia harus bagaimana lagi?
Itu adalah keputusan Bibinya yang mengharuskannya untuk tetap tinggal di sana.
Bibinya akan marah besar nantinya jika ia menentang keputusannya.
Ia tidak mau menyebabkan masalah lagi.
"Aku sama sekali tidak takut Kak."
ucap Alice dengan yakin agar Ell tidak mengetahui bahwa ia sedang berbohong.
Ell meletakkan koper Alice kembali dan kemudian melangkahkan kakinya ke depan.
Ia mendekat pada Alice sehingga membuat Alice menjadi gugup.
Alice berusaha menahan dirinya agar tidak terjatuh pada sosok itu lagi.
"Kau yakin?"
tanya Ell pada Alice.
Alice langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku yakin Kak."
"Baiklah, kalau kau memang ingin tetap tinggal di sini.
Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa meminta bantuan Ibu Rihanna dan yang lain.
Dan jika ada apa-apa, segera hubungi aku."
Alice yang mulanya menundukkan kepalanya, perlahan menaikkan wajahnya dan menatap Ell.
"Kau mengerti?"
Alice terdiam sejenak di tempatnya.
Bibirnya keluh, tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Aku akan membawa kembali kopermu jika kau tidak menjawabku."
Perkataan Ell membuat Alice akhirnya tersadar.
"Aku mengerti Kak." ucapnya dengan cepat.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku."
Ell menatap Alice sekilas dan kemudian berbalik.
Sebelum pergi, ia memeriksa engsel pintu dan juga kunci kamar Alice.
Setelah yakin semua-semua baik saja, Ell kemudian benar-benar pergi dari kamar Alice.
Tanpa Alice sadari, senyuman muncul di wajahnya saat menatap punggung Ell dari belakang.
__ADS_1
"Alice, apa yang kau lakukan?"
Alice langsung menghapus senyumnya setelah menyadari apa yang ia lakukan barusan.
Alice kemudian menyentuh dadanya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Jujur, lebih baik ia bersikap cuek dan dingin padaku seperti sebelumnya dari pada bersikap baik begini.
Akan lebih sulit menghilangkan perasaan ini."
"Kau harus segera menghilangkannya.
Ya, kau pasti bisa Alice."
Ucap Alice meyakinkan dirinya sendiri.
Alice kemudian mengambil kopernya dan membereskan barang-barangnya.
--
Setelah makan malam selesai, seluruh anggota keluarga langsung masuk ke dalam kamar.
Karena besok adalah hari dimana acara besar itu akan dilaksanakan.
Tentu mereka harus tidur lebih cepat.
Besok pastinya hari yang sangat menyibukkan bagi mereka.
Alice masuk ke dalam kamarnya.
Ia naik ke tempat tidur dan kemudian menutup kedua matanya berniat untuk tidur.
Namun tidak lama kemudian, Alice kembali membuka matanya karena ia tidak bisa tidur.
Alice mencoba kembali dengan mencari posisi ternyamannya berulang kali.
Namun tetap saja ia tidak bisa tidur.
Entahlah, mungkin karena ia masih belum mengantuk.
Ataukah karena ia sebenarnya merasa takut sehingga tidak bisa tidur.
Kondisi kamarnya terlihat sangat sepi.
Tidak ada terdengar apapun, selain suara pohon yang tertiup angin dari luar.
Kondisi itu mencekam dan membuatnya sangat tidak nyaman.
Tidak terasa sudah 3 jam berlalu dan menunjukkan waktu pukul 12 malam, namun Alice masih belum bisa tidur.
Angin semakin kencang sehingga dedaunan dari luar bisa terdengar di telinga Alice.
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara dari luar.
Alice tidak tahu itu suara apa, hingga membuatnya menjadi lebih takut dari sebelumnya.
Alice kemudian mengambil bantal untuk menutupi telinganya dengan posisi tidur menyamping.
Tidak lupa, Alice juga membungkus tubuhnya dengan selimut
Peluh mulai keluar dari kening Alice karena ia semakin berpikiran yang tidak-tidak.
Napasnya berubah menjadi tidak teratur.
Ia sangat takut saat ini.
Alice kemudian teringat dengan dirinya saat berada di panti asuhan dulu.
Alice menutup kedua matanya dengan erat.
Sungguh ia ingin keluar dari kamarnya dan berlari ke dalam villa.
Namun ia juga tidak berani untuk keluar.
Bahkan bergerak ia juga tidak mampu.
Apa yang harus ia lakukan?
Alice mencoba menyakinkan diri untuk keluar dari kamarnya.
Ia harus keluar dan kemudian pergi ke kamar Ibu Rihanna.
Akan lebih baik ia tidur bersama Ibu Rihanna.
Ia tidak akan bisa seperti itu terus sampai nantinya menjelang pagi.
5 menit kemudian keberanian Alice mulai terkumpul.
Ia perlahan mengangkat bantal yang menutupi telinganya.
Alice memegang erat selimut di tubuhnya dan melepasnya dengan perlahan.
Tidak lama setelah itu, Alice langsung beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju pintu.
Alice berusaha segera membuka pintu dan bersiap untuk lari.
Pintu kamar sudah terbuka, waktunya Alice untuk berlari dengan cepat.
Alice berlari namun sesuatu yang berada di hadapannya sangat mengejutkannya.
.
.
.
"Ahhhh."
Alice berteriak ketakutan dan langsung menutup kedua matanya.
Suara langkah kaki mendekat semakin terdengar di telinga Alice.
"Alice..."
Suara yang terdengar di telinga Alice barusan membuat Alice membuka kedua matanya.
"Alice, apa yang kau lakukan di sini?"
Ternyata yang berada di hadapannya saat ini adalah Ell.
Ell semakin mendekati Alice saat melihat peluh membasahi wajah Alice.
"Apa telah terjadi sesuatu padamu?"
Katakan sesuatu padaku Alice."
Suara Ell berubah menjadi terdengar khawatir.
Alice sangat lega melihat Ell berada di hadapannya sehingga membuatnya tidak bisa menahan diri dan akhirnya menangis.
Hal itu membuat Ell semakin khawatir melihat Alice menangis di hadapannya.
__ADS_1
Ell kemudian mengikis jarak antara dirinya dan Alice mencoba mengetahui penyebab Alice menangis.
"Ada apa hem?"
ucap Ell dengan nada lembut.
Alice menatap Ell dengan air mata yang masih mengalir.
"Aku,
Aku...."
Alice belum bisa melanjutkan kalimatnya.
"Tenanglah, aku ada di sini."
Ell berusaha menenangkan Alice.
Alice memilin bajunya dan berusaha untuk tenang.
"Aku sangat ketakutan Kak.
Aku tidak bisa tidur karena aku merasa ada seuatu yang mengawasi di dalam kamar.
Aku sangat takut hingga tidak bisa melakukan apapun."
"Aku sudah menduganya.
Karena itu aku memintamu untuk menghubungiku jika terjadi sesuatu.
Aku tahu kau akan ketakutan seperti ini."
Gadis manapun pasti tidak akan mau tidur sendirian di kamar itu.
Termasuk Alice yang terlihat begitu ketakutan seperti saat ini.
Perlahan Alice mulai menjadi lebih tenang dari sebelumnya karena Ell berada di dekatnya.
Ell kemudian menarik tangan Alice.
"Kemarilah.."
Dan mengejutkan, Ell membawa Alice kembali ke kamar itu.
Sesampainya di kamar itu, Alice menatap Ell dengan lekat seolah menyiaratkan bahwa ia tidak mau tidur di sana.
Alice pikir Ell akan meninggalkannya sendirian di sana.
"Kak, aku..."
"Kau tidak perlu takut.
Aku akan menemanimu di sini."
Alice sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Ell barusan.
Pria itu kembali menarik tangannya menuju ke tempat tidur.
"Tidurlah."
Alice menatap Ell lagi.
"Aku akan duduk di kursi."
ucap Ell seolah mengerti apa yang di pikiran Alice saat ini.
Alice menganggukkan kepalanya dan Ell perlahan melepaskan tangannya dari Alice.
Alice kemudian berbaring di tempat tidur dan menaikkan selimut ke tubuhnya.
Ell berjalan ke kursi dan duduk di sana.
Alice masih belum menutup kedua matanya.
Ia takut Ell akan meninggalkannya di sana sendirian saat ia sudah tertidur.
"Kenapa kau belum tidur, hem?"
tanya Ell pada Alice saat melihatnya belum tidur.
Alice hanya diam karena tidak bisa menjawab karena tidak mungkin baginya untuk mengatakan yang sebenarnya.
Ia tidak bisa memaksa pria itu untuk tetap tinggal bersamanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini.
Sekarang tidurlah."
Alice perlahan menyunggingkan senyumannya.
Ia kemudian memperbaiki posisi tidurnya dan menutup kedua matanya.
Dan benar saja, tidak lama kemudian Alice akhirnya tertidur dan masuk ke dalam alam sadarnya.
Ell menatap Alice yang berhasil tertidur.
Ia tersenyum.
Sama seperti saat SMA dulu, ia kembali menemani gadis itu sampai tertidur seperti ini.
Hanya saja dulu ia menemaninya dari luar dan sekarang ia bisa melihat wajah Alice tertidur pulas seperti ini.
Sebenarnya tadi ia juga tidak bisa tidur karena memikirkan Alice.
Matanya tidak bisa tertutup saat memikirkan bahwa sama seperti sebelumnya saat berkemah dulu, Alice pasti juga tidak akan nyaman nyaman tidur sendirian di sana.
Berkali-kali ia juga menatap layar ponselnya, menunggu pesan ataupun panggilan dari gadis itu.
Namun setelah berjam-jam Alice sama sekali belum mengirim pesan ataupun menghubunginya.
Hal itu membuatnya semakin tidak yakin.
Dan dengan tidak sabarannya, Ell langsung memutuskan pergi ke kamar Alice untuk memastika sendiri.
Dan dugaannya benar.
Saat berjalan ke sana, ia melihat Alice berlari ketakutan dan untungnya saat melihatnya Alice tidak terjatuh.
Apa yang akan dilakukan gadis itu jika ia tidak datang tadi?
Alice akan tidur dimana?
Karena ia yakin bahwa Alice tidak akan mungkin kembali ke kamarnya.
Ell menarik napas panjang.
Untunglah ia datang di saat yang tepat walaupun terbilang cukup terlambat.
Dan selama-selama berjam-jam pula Ell berada di posisi itu sambil menatap Alice untuk memastikan gadis itu benar-benar tertidur pulas.
Setelah yakin Alice sudah tertidur pulas, barulah Ell menutup kedua matanya.
Ell tidur di kursi dengan posisi melipat kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Ia manfaatkan waktu yang sangat singkat itu untuk tidur.