
Alice menghampiri Mario yang sedang berdiri di balkon rumah.
"Paman..."
panggil Alice.
Mario membalikkan badannya
"Alice.."
"Apa Paman baik-baik saja?"
"Tentu saja sayang.
Paman baik-baik saja."
"Paman berbohong.
Paman bertengkar dengan Bibi.
Itu artinya Paman sedang tidak baik-baik saja.
Dan itu adalah karena aku."
"Alice, jangan katakan seperti itu sayang.
Itu bukan karenamu.
Paman hanya tidak suka dengan perkataan dan tindakan Bibi yang menyakitimu."
"Kehadiranku memang melukai hati semua orang Paman.
Apa Paman bisa membawaku kembali ke panti asuhan sekarang?"
tanya Alice dengan wajah memelas.
Mario melihat tatapan senduh Alice.
Ia tahu Alice pasti merasa bersalah.
"Alice...
Kau harus tetap tinggal di sini sayang.
Rumah ini adalah rumahmu.
Orang lain akan menyalahkan keluarga ini jika kami membiarkan kau tinggal di sana.
Kekacauan juga akan terjadi sayang.
Jadi kau harus bertahan Alice.
Kau mau kan?"
Alice perlahan menganggukkan kepalanya.
Sungguh ia tidak tahu harus melakukan apa.
Ia merasa sangat dilema.
Di satu sisi, ia sangat ingin pergi dan melakukan apa yang Ell katakan padanya.
Tapi di sisi lain, ia takut kepergiaannya semakin membuat kekacauan.
"Mulai besok, Paman akan mengantar dan menjemputmu ke sekolah."
"Tidak perlu Paman.
Alice bisa naik angkutan umum bersama Bu Rihanna.
Naik angkutan umum jauh lebih menyenangkan Paman."
Alice mencoba meyakinkan Mario.
"Benarkah?"
Alice menganggukkan kepalanya.
"Hem.."
"Baiklah kalau begitu.
Sekarang, waktunya Alice kembali ke kamar.
Besok kau akan pergi ke sekolah.
Paman tidak mau kau datang terlambat."
"Paman berjanjilah, bahwa Paman tidak akan marah lagi pada Bibi.
Paman akan segera berbaikan pada Bibi kan?"
Mario diam sejenak dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Paman berjanji."
__ADS_1
"Kalau begitu Alice akan pergi ke kamar.
Selamat malam Paman."
"Selamat malam Alice."
Alice tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Mario.
Mario menatap kepergian Alice.
Alice memang anak yang sangat kuat.
--
Keesokan Paginya, anak-anak hendak berangkat ke sekolah.
Ibu Rihanna membawa Alice ke meja makan untuk makan bersama Ell dan Kate.
"Bawa anak itu makan di dapur.
Aku tidak ingin melihat wajahnya!"
perintah Marine.
"Kau tidak dengar?
Aku bilang bawa dia pergi!"
Alice memegang tangan Ibu Rihanna sebagai tanda untuk membawanya ke dapur.
Marine begitu kesal setiap kali melihat wajah Alice.
Anak itu telah membuat keluarganya berantakan.
Bahkan pagi ini Mario, Suaminya pergi ke kantor pagi-pagi sekali hanya untuk menghindarinya.
Setelah bersiap-siap, Ell dan Kate masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan rumah.
Ada perasaan sedih dirasakan Alice saat melihat pemandangan yang ada di depannya.
Ibu Rihanna mengelus kepala Alice.
Ia juga merasa iba dengan Alice.
"Ayo Nona kita berangkat."
Alice menatap kepergian mobil itu.
Ia kemudian tersenyum pada Ibu Rihanna.
Sesampainya di depan sekolah, Alice memberi salam pada Ibu Rihanna dan kemudian berjalan menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangan, Alice bingung dengan tatapan aneh yang diberikan teman-teman sekelasnya.
Alice melewati mereka.
"Kau tahu, Ibuku bilang, dia itu anak haram.
Makanya keluarga Kak Kate tidak mau dia dan Ibunya tinggal bersama mereka."
ucap Monica.
"Benarkah?
Jadi sekarang dia tinggal dimana?"
"Baru-baru ini keluarga Kak Kate membawanya ke rumah.
Aku yakin mereka terpaksa melakukannya."
"Kalau begitu, aku tidak ingin berteman dengannya."
Alice menghentikan langkahnya.
Ia begitu sakit hati mendengar penilaian buruk tentang dirinya.
Alice berusaha menguatkan dirinya.
Ia sudah berjanji pada Mario untuk tetap bertahan.
Lagian apa yang dikatakan mereka tidaklah benar.
Ia kemudian berjalan menuju mejanya.
Sama halnya dengan teman-temannya lain, Michelle juga menatapnya sinis.
Alice membalasnya dengan senyuman.
Ia tahu bahwa itu juga bukan salah merela.
Mereka tidak tahu kebenarannya.
Selama pelajaran berlansung, semua murid-murid menatap Alice dengan tatapan sinis.
Bahkan di antara mereka, banyak yang berbisik-bisik ke arahnya.
__ADS_1
Hal itu membuat Alice tidak nyaman.
Ibu Guru juga menyadari hal itu.
Pada jam istirahat, semua murid telah keluar dari ruangan.
Kini tersisa Alice dan Ibu Hanni.
"Alice, apa mereka memperlakukan dengan buruk?
Ibu bisa menegur mereka nanti."
"Tidak Bu.
Mereka memperlakukanku dengan baik."
"Kau yakin Alice?
Ibu tadi bisa melihat tatapan sinis mereka padamu.
Mereka seharusnya tidak seperti itu.
Karena kau adalah teman sekelas mereka."
"Mereka hanya salah paham Bu.
Aku yakin sebentar lagi mereka akan kembali seperti semula."
"Baiklah kalau begitu.
Jika mereka berbuat sesuatu, kau bisa mengatakan langsung pada Ibu."
"Baik Bu."
Ibu Hanni kemudian meninggalkan ruangan.
Sungguh Alice tidak semuanya menjadari runyam karena dirinya.
Sudah cukup ia mengacaukan rumah, ia tidak mau teman-teman di sekolahnya juga ikut membencinya.
Alice kemudian membuka kotak makannya.
Lebih baik ia makan di kelas.
Ia tahu teman-temannya tidak akan suka melihat kehadirannya di kantin.
Tiba-tiba 4 orang temannya masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Alice.
"Kau.."
ucap Monika.
"Ada apa?"
ucap Alice dengan nada lembut.
"Jangan coba-coba kau mengadu pada Guru tentang perlakuan kami padamu."
"Apa maksudmu?
Aku sama sekali tidak mengerti."
"Kau pikir kami tadi tidak mendengar pembicaraan kau dengan Bu Hanni?"
"Kalian bisa mendengar sendiri kalau aku tidak mengatakan apa-apa pada Bu Hanni."
"Mungkin untuk tadi kau tidak mengadu apa-apa.
Tapi untuk seterusnya, kami memperingatkan kau untuk tidak mengatakan apapun pada Bu Hanni.
Kalau tidak, kami akan memperlakukanmu jauh lebih buruk dari sebelumnya."
"Kalian tenang saja.
Aku tidak akan melakukannya."
"Ayo kita kembali Monica.
Aku tidak tahan melihat wajah tidak tahu malunya ini."
"Kau benar Rani."
"Ayo kita pergi."
Sebelum pergi, mereka sempat memberikan tatapan sinis pada Alice.
Alice hanya bisa menghela napas.
Mulai sekarang ia harus terlatih dengan itu semua.
Ia tidak boleh menangis ataupun bersedih.
Mungkin kelak ia akan menghadapi masalah yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang ia alami saat ini.
Ia harus bertahan sampai Ibunya datang menjemputnya!
__ADS_1