
Kate mengedarkan seluruh pandangannya.
Ell masih belum kembali juga.
Ia kemudian menghampiri Marine yang sedang berbincang dengan para tamu.
"Ibu, apa Ibu melihat Ell?
Tadi ia mengatakan padaku pergi ke kamar mandi.
Tapi sampai sekarang Ell belum kembali juga."
"Apa?"
(Apa Ell sedang bersama Alice sekarang?
Tidak, hal itu tidak boleh terjadi.)
"Kau kembali saja ke tempatmu sayang.
Ibu akan mencarinya.
Mungkin Ell sedang berada di tempat lain."
"Hem.."
Kate mengangguk dan kemudian kembali ke tempatnya.
Marine langsung melangkahkan kakinya ke dalam villa.
Pertama sekali ia mencari Ell di kamar Ell, namun ia tidak menemukan Ell di sana.
Ia kemudian memutuskan untuk mendatangi kamar Alice langsung.
Saat masuk ke dalam kamar Alice, Marine terkejut melihat Laura berada di sana.
"Laura..."
Laura seketika berbalik saat mendengar suara Marine dari belakangnya.
Ia menatap Marine dengan tatapan kecewa.
"Apa yang kau lakukan di sini Marine?
Apa lagi tujuanmu sekarang?"
"Mengapa raut wajahmu seperti itu Laura?
Tidak, aku hanya memastikan mengapa Alice belum datang juga ke pesta."
Laura terkekeh.
"Kau bertingkah seolah kau tidak tahu mengapa Alice tidak berada di pesta."
Laura kemudian mendekat.
"Bahkan kau tahu dimana Alice saat ini."
Marine mengerutkan keningnya dan bersikap santai seolah ia tidak tahu apa-apa.
"Apa maksudmu berkata seperti itu Laura?
Aku bahkan datang kesini karena mencarinya."
"Kau tidak perlu berpura-pura tidak tahu Marine!
Aku tahu apa yang kau lakukan pada Alice.
Kau sudah sangat keterlaluan!
Aku tidak pernah menyangka kau akan membahayakan Kepokanmu sendiri."
Marine tersenyum menyeringai.
"Rihanna yang mengatakan padamu?
Baiklah, itu memang benar.
Aku hanya ingin meminta bantuan padanya.
Apa itu salah?
Bahkan ia sendiri yang berniat membantu."
"Kau tidak merasa bersalah sedikitpun Marine?
Alice, sampai sekarang ia belum pulang.
Hari sudah malam, kau tidak khawatir terjadi sesuatu padanya?"
"Mengapa aku harus khawatir?
Itu resikonya sendiri karena tidak pulang tepat waktu."
"Kau benar-benar jahat!
Aku tidak menyangka kau sejahat ini Marine.
Tapi aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Alice lagi.
Alice juga Keponakanku.
Raphael juga memintaku untuk menjaga Alice sebelum ia meninggal.
Beruntung Ell pergi mencari Alice.
Aku yakin ia akan kembali dengan selamat."
Raut wajah Marine seketika berubah setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Laura.
"Apa?
Ell pergi mencari Alice?
Dan kau membiarkan Ell pergi begitu saja?
Semua orang tengah mencarinya saat ini.
Apa kau tahu apa akibatnya jika wartawan tahu jika Ell pergi meninggalkan acara?
"Tentu saja aku membiarkan Ell pergi.
Ell adalah Suami Alice.
Seorang Suami akan bergegas pergi saat terjadi sesuatu pada Istrinya.
Dan aku tidak peduli dengan acara malam ini."
Kalimat Laura membakar amarah Marine.
Apalagi saat mendengar kata "Suami" dan "Istri"
"Apa yang barusan kau katakan Laura?
Suami?"
Marine terkekeh.
"Kau juga tahu bahwa mereka tidak punya hubungan serius layaknya Suami Istri pada umumnya."
"Lalu aku harus menyebut mereka apa?
Kau tahu, aku bahkan tidak meminta Ell untuk mencari Alice.
Ell berinisiatif mencari Alice sendiri dan bahkan memaksa akan tetap pergi walaupun aku melarangnya.
Ia juga tidak peduli dengan acara itu."
Rasa khawatir dan juga marah kian melingkupi Marine.
Ia takut Ell mulai jatuh cinta pada Alice dan perlahan pernikahan mereka akan menjadi pernikahan sungguhan.
"Ell akan menyesali perbuatannya itu sama seperti sebelumnya Laura.
Ia akan semakin membenci Alice nantinya."
ucapnya mencoba memperingati Laura.
__ADS_1
"Aku begitu mengenal Putraku Marine.
Ell tidak akan menyesal atas apa yang dilakukannya kali ini."
Laura tersenyum dengan penuh keyakinan dan kemudian pergi meninggalkan Marine di sana.
--
Sementara di tengah acara berlangsung, Mario menyadari bahwa sedari tadi Ell tidak berada di sana.
Saat acara pembukaan tadi, ia terpaksa menggantikan Ell yang pergi entah kemana.
"Sergio, kemarilah."
Mario dan Sergio kemudian pergi menjauhi para tamu dan wartawan.
"Apa kau tahu dimana Ell?
Aku tidak melihatnya dari tadi."
"Aku juga tidak tahu dimana Ell sekarang Mario.
Aku sudah menghubunginya berulang kaki, tapi ia bahkan tidak menjawab panggilanku."
"Sayang, aku tahu dimana Ell sekarang."
Laura datang menghampiri mereka berdua.
"Katakan padaku dimana Ell Laura.
Apa dia tidak tahu semua orang tengah mencarinya saat ini?
Terpaksa aku mengatakan pada para tamu dan wartawan bahwa Ell sedang mengurus pekerjaan penting."
Sergio begitu kecewa dengan Putranya yang pergi tanpa alasan sedikitpun.
"Ell sedang pergi mencari Alice Sergio.
Kemungkinan Alice pasti tersesat di hutan."
"Apa?"
Mario dan Sergio sama-sama terkejutnya.
"Bagaimana hal itu terjadi?
Katakan padaku Laura, mengapa Alice pergi ke hutan?"
Laura kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan Alice dan Marine adalah dalang di balik itu semuanya.
Mario mengepal tangannya dengan erat setelah mengetahui semua kebenarannya.
Saat ini ia diliputi oleh amarah akibat perbuatan jahat Istrinya.
Tentunya ia sangat kecewa dengan Marine yang sudah bertingkah di luar batas.
"Dimana Marine sekarang?
Aku ingin bicara padanya!"
ucap Mario dengan napas menderu.
"Mario, tenanglah.
Kau tidak boleh melampiaskan amarahmu saat ini.
Banyak orang di sini.
Kita bisa membicarakannya sampai acara selesai.
Aku mohon tenanglah."
Sergio mencoba menenangkan Mario yang terlihat begitu marah saat ini.
Jangan sampai semuanya menjadi kacau.
Mereka sudah sangat berusaha sampai sejauh ini.
"Apa yang dikatakan Sergio benar Mario.
Sebaiknya kalian tetap disini mengurus semuanya sampai acara selesai.
Aku yang akan mengurus Ell dan Alice."
"Baiklah.
Terima kasih Laura.
Aku akan berusaha melupakan hal itu dan fokus pada acara."
Mario mengurut keningnya yang terasa begitu sakit karena memikirkan perbuatan Istrinya.
"Lebih baik sekarang kita kembali Mario."
"Hem.."
Mario dan Sergio kemudian kembali dan mengurus semuanya.
Sementara Laura juga kembali ke dalam villa menunggu kedatangan Ell dan Alice.
Sejujurnya ia masih khawatir dan takut Alice belum ditemukan juga.
Ia hanya berharap Putranya dan Alice kembali dengan keadaan baik-baik saja.
Sementara Ell dan Alice masih berada di setengah perjalanan menuju ke villa.
Ell sama sekali tidak merasa lelah sedikitpun dengan Alice berada di badannya.
Ia masih semangat untuk membawa Alice pulang dengan cepat.
"Alice.."
"Hem.."
"Apa kau merasa kesakitan?
Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai."
"Aku tidak merasa kesakitan Kak.
Sebaliknya, aku yakin Kakak pasti lelah karena menggendongku selama perjalanan."
Ell tersenyum.
"Aku tidak lelah."
"Benarkah?"
Alice mengangkat kepalanya melihat ke arah Ell.
"Hem...
Kalau kau mengantuk, tidurlah.."
Alice memilin jari tangannya yang mengalung pada leher Ell.
Ia tidak akan bisa tidur dengan keadaan seperti itu.
Pikirannya masih tertuju pada perkataan Ell tadi saat memaksanya untuk menurutinya.
Ell benar-benar khawatir padanya?
Dan satu kata yang masih membuat Alice seolah bermimpi adalah kata "suami" yang disebutkan oleh Ell.
(Dasar!
Aku tidak boleh berharap terlalu jauh!)
--
Beberapa menit kemudian, Ell dan Alice telah kembali.
Ell kemudian membawa Alice ke kamarnya.
Laura yang melihat kedatangan mereka, begitu bahagia dan langsung menghampiri mereka.
"Syukurlah, kau bisa membawa Alice kembali sayang.
__ADS_1
Tapi, apa yang terjadi dengan kaki Alice?"
"Kakinya terbentur batu Bu."
"Benarkah?
Baiklah, segera turunkan Alice sayang."
"Dimana Dokternya?"
tanya Ell pada salah seorang pengawal yang tadi pergi bersamanya.
"Beliau sedang berada di perjalanan Pak.
Sebentar lagi ia akan datang."
"Hubungi dia lagi dan suruh ia cepat datang ke sini."
ucap Ell tidak sabaran.
"Baik Pak."
Alice dengan duduk di tepi tempat tidur dengan Laura di sampingnya.
Ia mengerutkan keningnya mendengar Ell memanggil dokter untuk mengobati lukanya.
Sebenarnya ia bisa mengobati kakinya sendiri.
Dan selanjutnya Alice begitu terkejut melihat Ell datang dengan kotak P3K di tangannya dan kemudian berjongkok di hadapannya.
"Kak Ell, apa yang Kakak lakukan?"
"Aku ingin membersihkan lukamu terlebih dahulu."
"Tidak, aku saja.
Berikan obat itu padaku Kak."
Seperti sebelumnya, Ell sama sekali tidak mendengarkan Alice.
Ia mulai membersihkan luka Alice.
Laura tersenyum melihat keduanya.
"Ell memang keras kepala Alice.
Biarkan saja dia membersihkan lukamu sayang."
Ell menyentuh kakinya dengan penuh hati-hati.
Dan sejujurnya hal itu membuat Alice merasa tidak enak apalagi Laura juga ada disana.
Setelah membersihkan luka Alice, Ell kemudian membawa kotak P3K itu di tempatnya semula.
Dan tidak lama kemudian, Dokter datang.
"Aku sudah membersihkan lukanya Dokter."
"Baiklah Tuan Ell.
Saya akan memeriksa Kaki Istri anda."
Dokter mulai mengobati luka Alice yang cukup dalam.
Setelah itu, Dokter kemudian memberikan obat untuk dikonsumsi oleh Alice.
Dan juga obat penghilang bekas luka saat luka di kaki Alice sudah sembuh
"Luka Nona Alice cukup dalam.
Tapi bekasnya akan hilang setelah mengoleskan obat yang saya berikan.
Jangan lupa mengonsumsi obat juga."
"Baik, terima kasih Dokter."
"Sama-sama Pak."
"Saya akan mengantar Bapak ke luar."
Dokter itu kemudian pergi bersama Ell.
Laura mendekati Alice dan menyelimutinya dengan selimut.
Ia kemudian duduk di samping Alice.
"Maafkan Ibu sayang.
Ibu membiarkanmu menderita seperti ini."
Laura begitu merasa bersalah pada Alice.
Selama ini ia tidak bisa berbuat banyak saat Alice menerima perlakuan buruk dari Marine.
Air matanya jatuh seketika.
"Ibu tidak perlu minta maaf.
Ibu tidak melakukan kesalahan apapun."
Laura mengelus pipi Alice dengan lembut.
Gadis di hadapannya sudah menerima banyak luka sejak ia berumur 4 tahun.
Padahal saat itu Alice masih kecil dan belum tahu apa-apa.
"Kau sudah menderita sampai sejauh ini Alice.
Kau tidak pantas menerima itu semua.
Bahkan mungkin kehidupan panti asuhan jauh lebih baik dari pada di rumah yang merupakan milik keluargamu sendiri."
Alice tak kuasa menahan air matanya.
Laura memang benar.
Dirinya begitu bahagia saat di panti asuhan dulu.
Dan saat ia pergi dan masuk ke dalam Keluarga Dakota, hidupnya langsung begitu berubah.
"Maafkan Ibu sayang."
"Ibu tidak perlu minta maaf.
Bahkan aku seharusnya berterima kasih pada Ibu.
Selama ini Ibu menjaga dan merawatku.
Karena Ibu, aku bisa bertahan menghadapi itu semua.
Ibu membuatku merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang Ibu.
Terima kasih untuk semuanya Ibu.
Terima kasih telah sangat mencintaiku."
Laura menganggukkan kepalanya.
Ia kemudian berpelukan erat dengan Alice.
Alice meletakkan kepalanya di bahu Laura dan menangis sepuasnya di sana.
Dan Ell mendengar semuanya.
Ia berdiri di balik dinding dan melihat Alice menangis di dalam pelukan Ibunya.
Tangisan yang menggambarkan betapa menderitanya Alice selama ini.
Ell menutup matanya dan tangannya terkepal dengan erat.
Membayangkan bagaimana jika suatu saat nanti Alice tidak bisa menahan lukanya lagi dan akhirnya memilih pergi?
Ell langsung membuka matanya.
Matanya kemudian terarah pada Alice.
(Aku mohon bertahanlah.)
__ADS_1
Kalimat itu muncul di pikirannya.
Ia tidak ingin hal itu terjadi.