Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Tidak boleh!


__ADS_3

Setelah selesai makan, Alice dan Kate pergi ke toilet.


Alice keluar dari kamar mandi, dan menghampiri Kate yang sedang tersenyum ke arahnya.


Alice mengerutkan keningnya saat melihat tatapan Kate yang memiliki maksud tersembunyi.


"Ada apa Kak?


Kenapa Kakak menatapku seperti itu?"


Alice kemudian mencuci tangannya.


"Hem.."


Kate menatap penampilan Alice dari bawah ke atas.


"Kau sangat cantik Alice.


Kakak senang melihatmu berpenampilan seperti ini.


Dan aku yakin pasti ada alasan yang membuatmu akhirnya merubah penampilan."


"Tidak ada alasan khusus Kak.


Aku hanya ingin berpenampilan lebih baik saja."


"Oh benarkah?"


Kate berniat menggoda Alice yang menurutnya masih menyembunyikan perasaannya.


Adiknya itu pasti malu mengakui bahwa ia mengubah penampilannya untuk Brein.


"Kakak jangan berpikiran yang tidak-tidak."


Alice mencoba meyakinkan Kate bahwa ia sama sekali tidak menyembunyikan apapun.


"Seorang yang sedang jatuh cinta pasti melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian dari orang yang dicintainya."


Alice kembali mengerutkan keningnya.


Apa Kate berpikir saat ini ia sedang jatuh cinta dengan seseorang?


Alice mulai merasa gelisah.


Ia khawatir Kate mengetahui bagaimana perasaannnya terhadap Ell.


"Kak, aku..."


"Katakan saja kalau kau sedang jatuh cinta pada Kak Brein."


ucap Kate menyela kalimat Alice.


"Benarkan?"


Kate menyentuh tangan Alice dan kemudian tersenyum mengembang.


"Tidak Kak.


Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Kak Brein.


Kami hanya berteman biasa."


"Alice kau tidak perlu berbohong.


Kakak bisa melihat bahwa sejak kedatangan Kak Brein, kau terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.


Kak Brein juga pria yang sangat baik.


Dia pasti akan selalu menjagamu."


"Kakak salah.


Aku dan Kak Brein tidak memiliki hubungan apapun Kak.


Aku tidak berbohong."

__ADS_1


"Hem, baiklah.


Mungkin saat ini kalian belum berhubungan.


Tapi Kakak yakin cepat atau lambat, Kakak akan segera mendapatkan kabar baik dari kalian berdua."


Kate masih memegang teguh pemikirannya.


Ia tidak mengambil pusing semua ucapan Alice.


Karena baginya, Alice dan Brein memliki hubungan yang spesial.


Alice masih tidak menyangka bagaimana bisa Kate berpikir bahwa dirinya menyukai Brein.


Karena selama ini menurutnya dia memperlakukan Brein layaknya teman baik.


Ya, Brein memanglah bukanlah teman biasa untuknya.


Namun baginya, Brein sama halnya dengan Rein.


Mereka sudah seperti Saudara laki-laki untuknya.


"Ayo kita keluar.


Mereka pasti sudah menunggu kita."


Kate kemudian pergi terlebih dahulu.


Sementara Alice masih berkutat pada pikirannya.


--


Ell menatap Brein yang sedang melihat ke arah lain.


Saat ini mereka sedang di parkiran, menunggu Alice dan Kate yang berada di toilet.


"Brein, aku ingin bertanya sesuatu padamu."


Brein kemudian mengalihkan pandangannya pada Ell.


Nada bicara Ell terdengar serius di telinganya.


"Apa maksud dari sikap yang kau tunjukkan selama ini terhadap Alice?"


Ell bertanya langsung pada intinya.


Ia hanya ingin segera mengetahui kebenarannya.


Brein menegakkan badannya dan kemudian berdiri sejajar dengan Ell.


Ia tahu maksud dari pertanyaan Ell barusan.


"Aku menyukai Alice."


Deg, tenggorokan Ell terasa tercekat setelah mendengar jawaban Brein.


Ia tidak bisa berkata apa-apa.


"Dan aku ingin meminta bantuanmu agar bisa memiliki Alice."


Ya, Brein memang sudah lama memiliki perasaan pada Alice.


Sejak kecil ia selalu menyimpan memori tentang Alice walaupun ia belum pernah bertemu secara langsung padanya.


Dan ia selalu berharap bisa membawa Alice kembali ke rumahnya.


Ucapan Brein seketika membuat Ell mengepal tangannya dengan erat.


Ell perlahan menarik napas kasar.


"Kenapa harus Alice?"


Pertanyaan itu keluar dari mulutnya begitu saja.


"Apa maksudmu berkata seperti itu Ell?

__ADS_1


Aku benar-benar menyukai Alice, bukan gadis lain."


"Kau tidak boleh menyukai Alice!"


Brein mengerutkan keningnya.


Baru kali ini ia melihat kemarahan di wajah Ell.


Ia seketika heran melihat sikap yang ditunjukkan oleh Ell seakan tidak suka mendengar ungkapan perasaannya terhadap Alice.


Bukankah selama ini Ell begitu membenci Alice?


Bahkan Ell tidak pernah menghargai Alice yang berstatus sebagai Istrinya.


Kalau begitu, kenapa ia harus marah?


"Oh ayolah Ell.


Kau tidak perlu meragukanku.


Aku tidak akan menyakiti perasaan Alice, jika itu yang membuatmu khawatir padanya."


Brein berusaha mencari jawaban atas kemarahan Ell padanya.


"Aku sama sekali tidak khawatir padanya."


Tapi ada alasan lain yang membuatku tidak suka melihatmu bersama Alice.


"Lalu, apa masalahnya?"


"Alice..


Alice adalah..."


Kalimat Ell terputus saat kedatangan Kate.


"Ell, Kak Brein, maaf karena telah membuat kalian menunggu lama."


ucap Kate.


Tidak lama kemudian, Alice datang.


Sementara Ell dan Brein hanya diam dan tidak menanggapi.


Kate melihat Ell dan Brein satu per satu.


Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada mereka berdua.


Alice juga merasakan hal yang sama.


"Apa telah terjadi sesuatu?"


tanya Kate, mencoba memecahkan suasana.


"Ayo kita kembali ke kantor."


Ell langsung pergi dan masuk ke dalam mobil.


Apa yang terjadi dengan Kak Ell?


Tanya Alice di dalam hati.


Ia masih melihat ke arah Ell yang sudah masuk ke dalam mobil.


Mereka bertiga juga kemudian masuk ke dalam mobil.


Suasana di dalam mobil menjadi canggung dan tidak ada pembicaraan.


Kate mengarahkan pandangannya pada Ell yang sedang menatap lurus ke depan.


Terlihat kerutan di kening pria itu yang menandakan bahwa ia sedang marah.


Kate bisa melihatnya dengan jelas karena ia begitu mengenal Ell.


Ia tahu bagaimana gambaran saat Ell marah ataupun kesal.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi padamu E**ll?


Jujur, saat ini Kate begitu khawatir dengan Ell.


__ADS_2