Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Pelindung Alice


__ADS_3

Keesokan harinya, Alice sudah diperbolehkan pulang.


Dan saat ini mereka sedang berada di perjalanan menuju Jakarta.


Ell duduk di samping supir.


Sementara Laura dan Alice duduk di kursi belakang.


"Kau baik-baik saja sayang?"


Laura menyadari bahwa sedari tadi Alice tidak bicara sama sekali.


Alice tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sebentar lagi akan sampai di rumah.


Bersabarlah Alice."


Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah.


Kondisi rumah begitu sepi, mengingat bahwa Marine dan Mario sedang melakukan perjalanan ke luar negeri karena pekerjaan.


Begitu juga dengan Suaminya, Sergio.


Laura kemudian mengantar Alice ke kamarnya.


"Alice sekarang kamu harus istirahat.


Bibi akan merawatmu sampai kau benar-benar pulih."


"Terima kasih Bi."


Laura kemudian menyelimuti Alice.


"Tidurlah.


Sekarang, Bibi akan meminta Ibu Rihanna membereskan barang-barangmu."


Laura kemudian meninggalkan kamar Alice.


Alice menatap ke sekeliling kamarnya.


Ia kemudian melihat boneka beruang kesayangannya.


Ia memeluknya begitu erat sampai akhirnya ia tertidur dengan lelap.


--


Setelah selesai sarapan, Alice membawa tas dan buku-bukunya.


Saat berjalan menuju pintu, Alice bertemu dengan Laura.


Laura begitu terkejut melihat Alice mengenakan seragam sekolah dan membawa perlengkapan sekolahnya.


"Alice, kau ingin pergi ke sekolah sayang?


Bukankah kau harus istirahat beberapa hari dulu?


Pihak sekolah juga sudah memberi izin sampai kau benar-benar pulih."


"Hari ini Alice ada kuis di sekolah Bi.


Rasanya Alice tidak mau melewatkannya walau nantinya bisa kuis susulan.


Alice akan baik-baik saja Bi.


Bibi tidak perlu khawatir, hem?"


Alice memegang erat tangan Laura.


"Baiklah sayang jikalau kau memang menginginkannya.


Hati-hati ya."


"Baik Bi.


Aku pergi Bi."


Alice tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan rumah.


Beberapa saat kemudian, Kate dan Ell sarapan bersama.


Makanan dan minuman sudah disediakan oleh Ibu Rihanna di meja makan.

__ADS_1


"Dimana Alice Bu?


Apa dia masih berada di kamarnya."


"Tidak Nona.


Nona Alice sudah berangkat ke sekolah pagi-pagi tadi."


"Apa?


Bukankah dia masih belum pulih sepenuhnya Bu?


Kenapa ia harus memaksakan dirinya pergi ke sekolah?"


"Saya dengar, Nona Alice ada kuis sehingga harus datang ke sekolah.


Nyonya Laura juga sudah memberi izin pada Nona Alice."


"Sebenarnya aku masih khawatir dengan keadaan Alice Ell."


"Kau tenang saja.


Dia pasti akan baik-baik saja Kate."


"Aku sangat berharap seperti itu."


Ell kemudian menyodorkan makanan pada Kate agar ia bisa sarapan.


--


Di sekolah, Rayn langsung menghampiri Alice saat melihatnya sudah berada di ruangan kelas.


"Alice, aku begitu senang melihatmu sudah kembali ke sekolah.


Kau sudah pulih sepenuhnya kan?"


"Hem, tentu saja Rayn.


Aku bisa datang ke sekolah karna aku sudah pulih."


"Syukurlah."


Tiba-tiba, Ibu Safira, Wali kelas mereka menghampiri Alice dan Rayn.


"Alice, ikut Ibu ke ruangan Kepala Sekolah.


Ada suatu hal penting yang harus kita bicarakan bersama."


"Baik Bu."


Alice kemudian mengikuti langkah Ibu Safira.


Untuk beberapa saat, Rayn masih di tempatnya.


Namun ia kemudian memutuskan untuk pergi ke ruangan Kepala Sekolah.


Ia harus mengetahui hal penting apa yang dimaksud oleh Ibu Safira tadi.


Sesampainya di ruangan Kepala Sekolah, Alice begitu terkejut melihat kehadiran Monica dan Michelle yang juga berada di sana.


Monica menundukkan kepalanya sementara Michelle menatapnya dengan nyalang.


"Alice, Ibu sudah mengetahui bahwa Monica dan Michelle yang telah memberikan makanan itu padamu sehingga mengakibatkan kau keracunan."


Kepala Sekolah kemudian menatap Monica dan Michelle satu per satu.


"Kalian pastinya akan jauh lebih beruntung jika kalian tidak ketahuan.


Alice juga dari awal tidak berniat melaporkan perbuatan kalian berdua.


Syukurlah perbuatan kalian terbongkar."


Alice mengerutkan keningnya.


Itu berarti ada seseorang yang telah memberitahu Kepala Sekolah kebenarannya.


Tapi siapa dia?


Selain dirinya dan juga Monica dan Michelle, tidak ada seorangpun yang mengetahui siapa yang menyebabkannya keracunan.


"Sekarang kalian harus minta maaf pada Alice.


Jika kalian berdua mengulang perbuatan seperti itu lagi, Ibu akan memberikan hukuman yang lebih parah dari hukuman yang kalian berdua terima sekarang.

__ADS_1


Bahkan pihak sekolah tidak segan-segan untuk mengeluarkan kalian dari sekolah.


Ayo cepat minta maaf pada Alice."


Monica dan Michelle sebenarnya tidak berniat untuk meminta maaf pada Alice.


Namun karena perintah dari Kepala Sekolah, maka mereka terpaksa melakukan hal itu.


"Aku minta maaf Alice."


ucap Monica.


"Aku juga minta maaf."


Michelle melihat ke arah lain.


Ia tidak suka jika harus bersikap rendah di hadapan Alice.


"Aku sudah memaafkan kalian berdua."


ucap Alice dengan nada tulus.


"Baik, sekarang kalian bisa kembali ke kelas.


Untuk Monica dan Michelle, jangan lupa untuk membersihkan perpustakaan setiap hari selama sebulan.


Dan ingat pesan dari Ibu tadi.


Jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali.


Untuk Alice, terima kasih karena sudah mau memaafkan perbuatan Monica dan Michelle."


Alice tersenyum.


"Sama-sama Bu."


"Ya sudah, ini sudah waktunya untuk memulai pelajaran di kelas.


Kalian bisa kembali."


Mereka bertiga kemudian keluar dari ruangan Kepala Sekolah.


Saat berjalan di lorong sekolah, Rayn menghampiri mereka dengan tatapan kesal.


"Oh jadi kalian yang meracuni Alice.


Bagaimana bisa kalian melakukan hal sejahat itu, hah?"


Rayn meluapkan perasaan kesalnya.


"Dia pantas menerimanya."


ucap Michelle dengan nada santai.


"Aku tidak tahu terbuat dari apa hatimu.


Kau sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang telah kau perbuat.


Yang harus dibenci itu kalian, bukanlah Alice!"


Alice mendekat pada Rayn, mencoba untuk menenangkannya.


Ia juga tidak mau masalah itu muncul kembali setelah diselesaikan oleh Kepala Sekolah.


"Rayn, sudahlah."


"Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti Alice lagi.


Aku juga tidak segan untuk menyakiti kalian jika hal itu terulang kembali.


ucap Rayn dengan nada memperingati.


"Rayn, pelajaran sebentar lagi dimulai.


Kita tidak boleh ketinggalan."


Alice menarik tangan Rayn menuju ke kelas dan meninggalkan Monica dan Michelle.


Monica hanya bisa menatap keduanya dengan kecewa.


Bukannya semakin jauh dari Alice, sebaliknya Rayn malah semakin dekat dengan Alice.


Bahkan sekarang Pria itu menjadi pelindung Alice.

__ADS_1


__ADS_2