
Kate menghampiri Marcell dan Dion yang sedang mengobrol.
Sedari tadi ia belum melihat Ell.
Jadi ia akan menanyakan keberadaan Ell pada mereka.
"Cell, Dion..
Apa kalian melihat Ell?"
"Ell masih tidur di tenda Kate.
Semalam ia kembali ke tenda dini hari.
Sepertinya Ell tidak bisa tidur."
ucap Marcell.
"Benarkah?
Tidak biasanya Ell seperti itu."
"Kami juga tidak mengerti Kate.
Setelah mengantarmu, Ell kembali terlambat."
ucap Dion sambil mengerdikkan bahunya
Sementara saat ini Alice tengah berjalan bersama Rayn.
Alice mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Ell.
"Apa kau tidur nyeyak semalam?"
tanya Rayn.
Alice menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah Alice.
Sebenarnya semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu.
Aku khawatir kau akan ketakutan."
Alice tersenyum.
Sebenarnya apa yang dikhawatirkan Rayn sangat benar.
Semalam ia merasa sangat ketakutan, hingga tidak bisa tidur.
Beruntung ada Ell, yang menemaninya dari luar.
Seketika perasaan Alice menghangat mengingat kejadian semalam.
"Semalam aku bisa tidur nyeyak Rayn."
"Hem, aku senang mendengarnya."
Mereka kemudian berjalan menuju tempat untuk sarapan pagi.
Sebagian besar murid sudah berkumpul di sana.
Monica dan Michelle mendekat saat melihat Alice yang sudah hampir sampai.
"Sebentar lagi dia akan datang Michelle.
Rencana kita harus berhasil.
Kita harus meyakinkannya agar mau memakan makanan ini."
"Iya kau benar Monica
Aku yakin rencana kita akan berhasil.
Rayn, biar aku yang urus dia."
Alice dan Rayn sudah sampai.
Seseorang tiba-tiba menghampiri Rayn.
"Alice, sebentar aku ada urusan.
Kau boleh mengambil makanan terlebih dahulu."
"Baiklah Rayn, tidak apa-apa."
"Aku akan segera kembali."
Alice menganggukkan kepalanya.
Ia kemudian menuju meja dimana semua makanan disiapkan.
Dan di saat itu juga Monica dan Michelle tiba-tiba datang menghampirinya.
"Alice.."
ucap Monica.
"Iya?"
Walaupun Monica dan Michelle sering memperlakukannya buruk, Alice masih mengasihi mereka dan menganggap mereka teman.
Ia tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan.
"Kami ingin minta maaf padamu Alice.
Maaf karena selama ini kami selalu berbuat jahat padamu."
Michelle memasak raut wajah bersalah.
Alice tersenyum.
"Tidak apa-apa Michelle dan juga Monica.
Aku sudah memaafkan kalian."
"Kau sama sekali tidak marah ataupun kesal pada kami?"
Alice menggelengkan kepalanya.
"Bagaimanapun kalian adalah temanku.
Aku tidak bisa marah pada kalian.
Apalagi kita sudah saling mengenal sejak TK."
"Kalau begitu, kami sangat senang mendengarnya Alice.
Kami juga lega karena kau sudah memaafkan kami.
Terima kasih banyak Alice."
"Sama-sama."
"Oh ya, sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih kami, kami membawakan makanan untukmu Alice.
Kami sudah menyiapkan makanan ini untukmu."
Alice tersenyum.
Ia berpikir Monica dan Michelle telah benar-benar berubah dan juga sudah menerimanya sebagai teman.
"Ini untukmu Alice."
Monica menyodorkan makanan yang telah disiapkan mereka pada Alice.
Alice menerima makanan itu.
"Terima kasih.
Kalian sudah repot-repot mengambilkan aku makanan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Alice.
Anggap saja kami melakukannya sebagai awal baru pertemanan kita."
Alice tersenyum.
"Aku senang menerimanya."
"Baiklah, kalau begitu kau bisa menghabiskan makanan itu Alice.
Semoga kau suka."
"Hem, sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama.
Oh ya, kami akan kembali ke meja kami.
Makanan kami sudah ada di sana."
"Baiklah."
Monica dan Michelle tersenyum puas.
Akhirnya rencana mereka berhasil.
Mereka berdua kemudian kembali ke meja mereka.
"Apa ia akan memakan makanan itu?"
"Tentu saja Monica.
Lihat saja nanti.
Aku tidak sabar untuk melihat kondisi tubuhnya setelah memakan makanan itu."
"Tapi aku sedikit khawatir.
Dia tidak akan kenapa-kenapa kan?"
ucap Monica dengan raut wajah khawatir.
"Tenang saja Monica.
Dia tidak akan mati karena memakan makanan itu."
Alice duduk di meja.
Ia sudah menyiapkan makanan untuk Rayn.
Sembari menunggu Rayn, ia mulai mencari keberadaan Ell.
Namun ia masih belum melihat Ell di sana.
Beberapa saat kemudian, Rayn menghampiri Alice dan duduk di kursi.
"Maaf sudah membuatmu menunggu Alice.
Tadi aku mengobrol sedikit dengan Varel.
Dan aku bingung mengapa ia memanggilku hanya untuk menanyakan hal yang sepele."
Alice terkekeh.
"Basa-basi juga hal yang baik Rayn."
Rayn terkekeh.
"Benarkah?
Baiklah Alice."
"Sekarang makan makananmu."
"Kau menyiapkannya untukku?"
"Tentu saja Rayn."
"Terima kasih."
Mereka kemudian menikmati makanan mereka masing-masing.
Setelah sarapan, Rayn dan Alice keluar dari tempat itu.
Saat di perjalanan, mereka bertemu dengan Kate dan Ell yang sepertinya baru saja datang untuk sarapan.
"Kak Kate.."
"Alice..."
Kate menghentikan langkahnya.
Sementara Ell terus berjalan hingga melewati mereka.
"Apa semalam kau tidur dengan nyenyak?"
"Iya Kak."
Alice sekilas menatap punggung Ell.
"Syukurlah.
Maaf karena Kakak tidak bisa menemanimu Alice.
Kakak sudah berjanji dengan Kesha untuk berbagi tenda."
"Tidak apa-apa Kak.
Aku bisa sendiri.
Lagian tidak akan terjadi apa-apa padaku.
Oh ya, kenapa Kakak dan Kak Ell datang terlambat?"
"Pagi ini Ell bangun kesiangan.
Terpaksa kami harus terlambat sarapan."
(Apa karena aku?
Semalam Kak Ell pasti tidak punya waktu tidur yang cukup karena menemaniku.)
"Benarkah Kak?
Kalau begitu, Kakak harus segera sarapan."
"Hem, kau benar Alice.
Kakak masuk dulu ya."
Alice tersenyum dan kemudian mengangguk.
--
Acara siang dilanjutkan dengan lomba bakat.
Setiap siswa wajib melakukan sesuatu untuk menunjukkan bakat mereka.
Pihak sekolah akan memberikan hadiah pada siswa yang menampilkan bakat terbaik menurut mereka.
Sama seperti halnya dengan Alice, yang saat ini sedang menunjukkan bakatnya lewat melukis.
Sementara Rayn juga melakukan hal yang sama dengan Alice.
Mereka sama-sama memiliki bakat di bidang seni, khususnya melukis.
Tiba-tiba Alice merasa pusing.
Rasa pusingnya semakin bertambah hingga ia mengeluarkan banyak keringat.
Alice meletakkan alat-alat lukisnya dan berhenti.
__ADS_1
Ia memiji keningnya, mencoba untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Wajahnya juga berubah menjadi pucat.
Ia juga mulai merasakan sakit pada perutnya.
"Alice, kau tidak apa-apa?
Wajahmu begitu pucat."
ucap Rayn dengan nada khawatir.
Ia merasa Alice sedang sakit.
"Rayn, perutku sangat sakit."
"Apa?
Kalau begitu kita harus segera ke poliklinik.
Aku akan membawamu Alice."
Alice perlahan menganggukkan kepalanya.
Saat ini tubuhnya terasa lemah dan tidak berdaya.
Rayn kemudian membantu Alice untuk berdiri.
Hingga akhirnya Alice bisa berjalan sendiri.
Alice berusaha bertahan hingga sampai di poliklinik.
Sama seperti sebelumnya, mereka kembali bertemu dengan Ell dan Kate.
Kate begitu terkejut dengan wajah pucat Alice.
"Alice, kau tidak apa-apa?
Apa yang terjadi denganmu?"
"Aku tidak apa-apa Kak.
Aku hanya merasa pusing."
"Kalau begitu, segera pergi ke poliklinik dan minum obat.
Kau juga harus istirahat.
Kakak akan meminta izin pada Guru."
Alice menganggukkan kepalanya.
Ia dan Rayn kembali melanjutkan langkah mereka menuju poliklinik.
Saat ingin melewati Ell, Mata Alice dan Ell bertemu.
Ell menatap wajah Alice yang begitu pucat.
Alice tersenyum pada Ell.
Langkahnya kemudian terhenti.
Ia tidak sanggup lagi berjalan dan bahkan menahan berat tubuhnya.
Kaki Alice terasa sangat berat hingga akhirnya tubuhnya oleng.
"Alice..."
Ell berniat untuk menangkap tubuh Alice, namun terhenti saat Rayn berhasil membawa tubuh Alice ke pelukannya.
Kate panik dan langsung menghampiri Alice yang berada di pelukan Rayn.
Saat ini Rayn juga begitu khawatir melihat kedua mata Alice hampir terpejam.
Ia kemudian menepuk pipi Alice dengan lembut.
"Alice, bangunlah.
Alice, katakan padaku kau baik-baik saja."
Alice sama sekali tidak merespon.
Rayn kemudian segera menggendong tubuh Alice menuju poliklinik.
Kate dan Ell mengikuti dari belakang.
Sesampainya di poliklinik, Alice segera dibaringkan ke ranjang.
Perawat langsung memeriksa keadaan Alice.
Sementara mereka bertiga berada tidak jauh dari sana.
"Alice tidak bisa dirawat di sini.
Dia harus segera di bawa ke rumah sakit."
"Apa yang terjadi dengannya Dok?"
tanya Kate dengan khawatir.
"Alice keracunan makanan.
Oleh karena itu kita harus membawanya ke rumah sakit."
"Kami yang akan membawanya Bu."
ucap Kate.
"Apa kalian yakin?
Pihak sekolah bisa membawa Alice ke rumah sakit."
tanya salah satu Guru mereka.
Kate mengangguk yakin.
"Kami yakin Bu."
Setelah mendapat izin dari pihak sekolah, mereka kemudian membawa Alice ke rumah sakit menggunakan mobil salah satu Guru.
"Aku yang akan menyetir."
ucap Ell.
Rayn kemudian mengalah dan duduk di samping kursi kemudi.
Sementara Alice berbaring di pangkuan Kate di kursi belakang.
Ell melajukan mobil dengan sangat cepat.
Piluh semakin membasahi wajah Alice.
Alice menutup kedua matanya dengan tangan yang memegang perutnya.
Ia merasakan sakit yang dahsyat.
"Alice, bertahanlah sayang."
Kate membersihkan piluh Alice.
Rayn menoleh ke belakang.
Ia sama sekali tidak bisa berpikir apa-apa saat ini.
Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Alice.
Ell semakin memperbesar kecepatan mobil.
Ia sama sekali tidak memperdulikan kendaraan yang berada di sekitar.
Yang ia tahu ia harus sampai di rumah sakit dalam waktu singkat.
__ADS_1