
Keesokan paginya, semua anggota keluarga sibuk mempersiapkan pertemuan hari ini.
Setelah bersiap-siap, Alice keluar dari kamarnya.
Matanya melihat ke arah pekerja-pekerja yang berlalu lalang kesana kemari.
Ia berniat membantu persiapannya.
Karena semua orang terlihat sangat sibuk.
Alice berjalan ke arah ruang tamu.
Di sana ia melihat Ell, Kate beserta Paman-Paman nya berdiskusi dengan beberapa orang yang ia yakini adalah merupakan perwakilan masyarakat.
Alice melihat ke arah Ell dan Kate yang sedang berbicara satu sama lain.
Mereka berdua terlihat begitu serasi dalam segala hal.
Alice menarik napas panjang.
Sekarang semuanya semakin terlihat sangat jelas.
Tidak ada alasan untuk mempertahankan perasaannya pada Ell.
"Alice..."
Terdengar suara dari belakang, memanggil nama Alice.
Alice berbalik dan kemudian tersenyum saat melihat Laura datang menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini sayang?"
Laura sekilas melihat ke arah dimana Ell dan yang lain berada.
"Aku hanya ingin membantu persiapan acara Bu.
Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa."
Laura tersenyum.
"Bukankah kemarin Pamanmu sudah memberitahu kita semua bahwa kau dan Bibi dan juga Bibi Marine akan mengatur sisa pekerjaan yang lain?"
Alice menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, sekarang kau ikut Ibu.
Kau akan menemukan pekerjaan khusus di sana."
Alice tersenyum dan kemudian mengikuti langkah Laura dari belakang.
Beberapa saat kemudian, Laura dan Alice sudah sampai di belakang rumah.
Terlihat Marine sedang mengarahkan beberapa pelayan untuk mengangkat barang-barang dan menyiapkan yang lain.
"Marine..."
Marine memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Laura dan Alice yang baru datang.
Kehadiran Alice di sana membuat raut wajahnya seketika berubah drastis.
Marine menunjukkan ketidaksukaannya dengan wajah kesalnya.
"Marine, Alice ingin membantu kita.
Aku rasa Alice akan mengatur dekorasi acara.
Alice pandai di bidang seni dan aku yakin dekorasi acara besok akan sangat memuaskan."
Marine menarik napas kasar dan kemudin melipat kedua tangannya.
"Dia tidak perlu melakukan itu Laura.
Aku sudah memanggil orang khusus untuk menangani hal itu.
Dan juga kita sama sekali tidak memerlukan bantuan lagi.
Semua sudah ditangani oleh orang-orang kepercayaanku."
Marine sengaja menekankan kalimatnya agar Alice tahu bahwa ia sama sekali tidak dibutuhkan di sana.
Laura tidak mengerti dengan perkataan Marine barusan.
__ADS_1
Ia sendiri tahu bahwa masih ada beberapa persiapan yang belum mereka kerjakan.
Termasuk untuk dekorasi.
"Ah, Rihanna sangat membutuhkan bantuan di dapur.
Masih banyak tamu kita yang belum datang.
Dia mungkin bisa membantu mengantar makanan dan minuman untuk para tamu."
"Marine, apa maksudmu berkata seperti itu?
Alice bukanlah pelayan.
Mengapa kau menyuruhnya melakukan pekerjaan dapur."
Laura sangat tidak terima Alice melakukan pekerjaan itu.
"Aku tidak menyuruhnya Laura.
Jika ia tidak mau membantu, aku sama sekali tidak keberatan dengan itu.
Hanya saja, bukankah ia memang berniat membantu?
Tidak akan ada bedanya jika ia mau membantu disini dan di dapur."
"Marine kau sudah sangat keterlaluan..."
Alice langsung menyentuh lengan Laura saat melihat Laura semakin tersulut emosi.
"Ibu, benar kata Bibi.
Aku akan membantu di dapur saja.
Pekerjaan dapur bukanlah hal yang buruk."
Laura menatap Alice dengan senduh.
Ia merasa bersalah pada Alice.
Lagi-lagi ia tidak bisa menghentikan Marine.
Alice tersenyum seolah mengerti apa yang dipikirkan Laura saat ini padanya.
Alice kemudian melepaskan tangannya dari lengan Laura dan pergi dari sana.
Marine tersenyum puas melihat kepergian Alice.
Ia kemudian mendekati Laura.
"Aku terkejut mendengarnya memanggilmu Ibu.
Dan tampaknya kau sama sekali tidak keberatan dengan panggilan itu Laura."
"Aku akan mengatur persiapan yang lain."
ucap Laura dan kemudian pergi meninggalkan Marine.
Ia hanya tidak ingin berlama-lama di sana.
Alice pergi ke dapur.
"Ibu Rihanna..."
"Nona Alice..
Apa yang Nona lakukan di sini?"
Rihanna cukup terkejut melihat Alice di sana.
Ia semakin terkejut melihat Alice mengenakan celemek di hadapannya.
"Nona, apa yang Nona lakukan?"
Alice tersenyum pada Rihanna.
"Aku akan membantu Ibu melayani para tamu."
"Tidak perlu Nona.
Sudah banyak yang membantu saya Nona.
__ADS_1
Nona juga tidak seharusnya berada di sini.
Dapur bukanlah pekerjaan Nona."
"Aku hanya sangat ingin membantu Bu.
Aku tidak tahu harus melakukan apa.
Tidak mungkin aku berada di dalam kamar seharian tanpa membantu sedikitpun Bu."
ucap Alice dengan tatapan memelas.
Ia rasa ini cara satu-satunya agar Rihanna tidak menolak bantuannya.
"Baiklah Nona."
Alice tersenyum puas.
"Baiklah, aku akan mengantarkan minuman ini pada tamu yang datang Bu.
Setelah itu, aku akan membantu yang lain."
Alice kemudian membawa beberapa minuman dan berjalan menuju ruang tamu.
Rihanna menatap kepergian Alice dengan sedih.
Sejak Alice datang ke rumah itu, Alice tidak pernah mendapatkan apapun yang ia inginkan.
Sebaliknya ia selalu mendapatkan penderitaan.
Alice mulai memberikan makanan dan minuman pada para tamu yang baru datang.
Sementara Ell dan Kate sedang berjalan bersama setelah melakukan diskusi.
Mario dan Sergio melakukan ambil alih selebihnya.
Ell menghentikan langkahnya saat melihat Alice yang sedang memberikan minuman pada para tamu.
Ia tahu apa yang membuat gadis itu melakukan hal itu.
Ell menatap Alice dengan lekat.
Alice tersenyum setiap kali memberikan minuman itu.
Hanya ada ketulusan di sana.
"Lagi-lagi Ibuku memperlakukan Alice dengan buruk."
ucap Kate yang berada di samping Ell.
Ia sedih melihat pemandangan itu.
"Aku sangat merasa bersalah setiap kali Alice diperlakukan seperti itu.
Aku tidak tahu apa yang membuat Ibuku begitu membenci Alice.
Sejak awal Alice datang ke rumah ini, Ibuku selalu mengatakan padaku bahwa Alice tidak layak untuk menjadi bagian dari kelurga kita.
Sampai sekarang aku tidak mengerti dengan maksud perkataan Ibu itu, mengingat Alice adalah Putri Kandung dari Paman Raphael.
Dan merupakan Keponakan Ibu sendiri.
Jika aku menjadi Alice, aku tidak akan sanggup hidup seperti ini.
Aku akan melarikan diri dari rumah ini dan pergi jauh tanpa diketahui oleh siapapun.
Dan mungkin, aku akan memutuskan hubungan dengan keluarga ini."
"Dan aku tidak tahu harus menyebut Alice bodoh atau aku harus merasa beruntung karena sampai sekarang Alice mau bertahan dan bahkan menerima semuanya tanpa mengeluh sedikitpun."
"Aku ingin menjaganya dengan sangat baik Ell."
Ell menatap wajah sedih Kate.
Kedua mata itu terlihat berkaca-kaca.
Ell kemudian memegang tangan Kate dan memeluknya.
Kate membalas pelukan Ell dan menangis di sana.
Mata Ell kemudian beralih pada Alice yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Selama ini ia juga sudah memperlakukan gadis itu dengan sangat buruk.