Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Hanya sekedar sahabat


__ADS_3

Tidak terasa, sebentar lagi murid-murid kelas XII akan melaksanakan ujian kelulusan. Mereka tampak sibuk mempersiapkan segalanya agar mereka bisa lulus dan mendapatkan nilai yang memuaskan.


Termasuk dengan Kate dan Ell.


Kate yang terkenal sibuk dengan dunia modellingnya, menyempatkan waktunya untuk belajar sekeras mungkin. Walaupun pekerjaannya sangat berharga, namun pendidikan juga penting untuknya.


Seperti saat ini, ia sedang belajar bersama dengan Ell di perpustakaan sepulang sekolah.


Ia meminta bantuan pada Pria itu untuk mengajarinya semua pelajaran dari awal.


Dan dengan senang hati Ell mau membantunya.


Kate tersenyum melihat Ell yang saat ini tengah sibuk membuat rangkuman untuknya.


“Apa yang kau lihat?


Cepat kerjakan soalnya.


Aku akan menghukummu jika kau mendapat nilai jelek.”


Kate terkekeh mendengar ucapan Ell.


“Baiklah.


Aku tidak membiarkanmu menghukumku Ell.”


Ell tersenyum.


Ia benar-benar ingin melihat kesungguhan Kate.


Kate memang jarang belajar karena sibuk bekerja.


Tidak jarang ia juga sering membolos sekolah.


Akibatnya sekolah sering memberinya peringatan.


Namun walaupun begitu, sekolah tidak akan berani mengeluarkan Kate mengingat bahwa Kate adalah cucu dari pemilik sekolah.


Kali ini ia harus membantu Kate agar bisa lulus dengan kemampuannya sendiri.


Kate memberikan kertas yang berisi jawaban atas soal yang diberikannya.


Ia kemudian memeriksa jawaban Kate.


“Bagaimana?


Apa aku lulus?”


ucap Kate dengan nada penasaran.


“Tidak buruk, walaupun kau belum mencapai nilai sempurna.


Kau lulus.”


“Benarkah?”


Kate begitu senang mendengar hal itu.


Akhirnya ia bisa menyelesaikan soal-soal yang diberikan Ell padanya.


“Hem...”


Ell mengangguk yakin.


Ia tahu Kate pasti begitu bahagia.


“Ini semua karenamu Ell.


Terima kasih banyak.”


“Kau harus banyak berlatih lagi Kate.”


“Tentu.


Aku akan belajar lebih keras Ell.”



Ell dan Kate berjalan menuju rumah.


“Ell...”


Kate menghentikan langkahnya.


“Hem?”


Ell ikut berhenti dan kemudian berhadapan dengan Kate.


“Maaf jika selama ini aku tidak pernah menepati janjiku.


Aku selalu membuatmu menunggu dan pada akhirnya aku masih belum mendengar apa yang ingin kau katakan padaku.”


“Tidak apa-apa.


Aku tahu kau sibuk Kate.”


“Kau bisa mengatakannya padaku sekarang Ell.


Aku tidak ingin melewatkannya lagi.”


Kate menatap Ell dengan tatapan menyesal.


Sungguh selama ini ia tidak pernah menepati janjinya sejak hari itu, di mana ia tidak datang ke lapangan basket dan meminta Alice yang menggantikannya menemui Ell.


Keesokan harinya ia berjanji lagi, namun ia juga tidak datang karena alasan yang sama.


Sampai Ell mengatakan padanya bahwa ia akan memberitahunya pada saat ia benar-benar siap.


Hingga saat ini, ia masih belum mengetahui apa yang ingin dikatakan Ell padanya.


Ia begitu menyesal.


Ell tersenyum tipis.


“Kau akan mengetahuinya sendiri Kate.”


“Apa itu hal yang sangat mudah untuk diketahui?”

__ADS_1


Kate tidak akan memaksa Ell untuk memberitahunya.


Karena itu semua salahnya yang tidak pernah menepati janji pada Ell.


“Hem...”


“Baiklah.


Aku berharap bisa mengetahuinya segera.”


Kate dan Ell saling bertatapan.


Mereka larut dalam perasaaan mereka masing-masing.


Perasaan bersalah yang menghinggapi Kate dan Ell yang berharap Kate bisa mengetahui perasaaannya suatu saat nanti.



Saat ini semua anggota keluarga makan malam bersama.


Seperti biasa, makan malam akan dihiasi oleh obrolan-obrolan keluarga.


“Bagaimana persiapan ujian akhir kalian Kate, Ell?


Tidak ada masalah kan?”


Mario melihat ke arah Kate dan Ell satu per satu.


“Tidak ada masalah Ayah.


Seperti biasa, Ell membantuku mempelajari materi yang tertinggal.”


Semua orang tersenyum.


Dari dulu Ell memang selalu membantu Kate dalam hal apapun.


Termasuk menjaga dan melindunginya.


“Terima kasih Ell.”


ucap Mario pada Ell.


“Sama-sama Paman.


Aku yakin Kate pasti bisa melewati ujian kelulusan dengan baik.”


Kate tersenyum ke arah Ell.


Ell selalu berpikiran optimis padanya. Dan itu selalu bisa membuatnya lebih semangat untuk meraih apa yang ia inginkan.


“Kami berharap kalian berdua meraih nilai yang memuaskan.


Setelah itu, kalian akan kuliah di perguruan tinggi di bawah naungan keluarga kita.


Keluarga pasti bangga dengan kalian.” Ujar Sergio.


“Tentu Ayah.”


“Jadi bagaimana dengan pekerjaanmu Kate?”


tanya Laura.


Mereka memberikan waktu sampai Kate menyelesaikan ujian.”


Marine memang sudah berbicara dengan Manajer Kate dan bahkan bertemu secara langsung dengannya.


“Syukurlah.


Dengan begitu, kau bisa menggunakan waktu belajarnya dengan baik sayang.”


Laura mengelus kepala Kate dengan lembut.


“Bibi benar.”


Semua anggota keluarga sibuk mengobrol satu sama lain.


Sementara Alice hanya bisa diam tanpa bersuara sedikitpun.


Ia tidak mau membuat suasana meja makan menjadi ricuh karenanya.


Dan ia hanya akan berbicara jika ada yang bertanya padanya.


Hal yang tidak pernah berubah adalah Marine masih belum memberikan tempat untuknya di dalam keluarga Dakota.


Sedih namun ia selalu berusaha menerima kenyataannya.



Saat bel istirahat, Alice berada di lantai paling atas sekolah sambil membaca buku di tangannya.


Ia ditemani oleh Rayn.


Rayn sibuk bermain game di handphonenya.


Sesekali ia melihat ke arah Alice yang tampak begitu serius membaca buku.


Ia tersenyum.


Alice terlihat lucu dan manis di waktu yang bersamaan.


“Alice...”


“Hem..”


Mata Alice belum berpindah dari buku di tangannya.


“Kau terlihat sangat manis setiap kali membaca buku.”


Seketika Alice langsung mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Rayn yang saat ini tengah menatapnya.


Ia kemudian tertawa.


Alice tahu saat ini Rayn pasti sedang menjahilinya.


“Hentikan candaanmu itu Rayn.


Aku sedang serius membaca.”

__ADS_1


Rayn tidak bergeming.


Wajah Pria itu berubah menjadi serius.


“Sudah lanjutkan permainanmu Rayn.


Kau tidak akan bisa mengalahkan Pria itu jika kau tidak serius bermain.”


Rayn kemudian mendekat pada Alice dan tidak berniat memutuskan pandangannya pada Gadis itu.


“Aku menyukaimu Alice.


Kenapa kau selalu menganggap pernyataanku sebagai lelucon?”


ucap Rayn dengan nada serius.


Alice terkejut bukan main.


Rayn mengucapkan hal yang seharusnya tidak diucapkan pria itu padanya.


Rayn sahabatnya, dan ia tidak mau persahabatannya hancur karena cinta.


Ia tidak mau lagi kehilangan orang yang sangat berarti padanya.


“Rayn, kau....”


Jujur, Alice tidak tahu harus mengatakan apa saat ini.


Ia sangat terkejut dengan pernyataan Rayn.


Jika ia menolak, apakah pria itu akan menjauhinya sama seperti orang lain?


Alice menatap Rayn dengan seksama.


Mencoba mencari cara untuk menyelesaikan situasi menegangkan yang terjadi pada mereka saat ini.


Raut wajah Rayn yang awalnya serius kemudian berubah menjadi riang.


Pria itu kemudian tertawa keras.


“Rayn, kau mengerjaiku?”


“Kau begitu polos Alice.


Kau sangat mudah dikerjai.


Wajahmu tadi begitu lucu dan terlihat konyol.”


“Itu karena candaanmu berlebihan Rayn.”


“Tapi jujur, tadi kau sangat lucu Alice.


Dan lihat, sekarang wajahmu memerah.


Aku berhasil mengerjaimu:”


“Diamlah.


Aku akan membalas perbuatanmu tadi Rayn.”


“Bagaimana caramu membalasku?”


“Aku tidak akan menemanimu ke kantin lagi.”


Alice mencoba mengancam Rayn.”


Rayn tersenyum.


“Aku bisa pergi sendiri Alice.”


“Aku tidak akan makan siang denganmu lagi.”


“Aku bisa makan di dalam kelas dan duduk di dekatmu.


Bukankah itu sama saja?”


“Aku tidak akan bicara lagi denganmu.”


“Kalau itu, aku tidak akan bisa.


Jangan lakukan itu, hem?”


ucap Rayn dengan raut wajah menyesal.


Alice tersenyum.


“Kau begitu, jangan pernah lakukan itu lagi.”


“Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi.”


Rayn kemudian mengeluarkan beberapa permen dari sakunya.


“Ini....”


Ia menyodorkannya pada Alice.


Alice tersenyum dan kemudian mengambil permen yang ditawarkan Rayn.


Rayn memang selalu memberikan permen padanya setiap kali kondisi hatinya sedang buruk.


“Terima kasih Rayn...”


Alice kemudin melanjutkan bacaannya.


Sementara Rayn masih belum mengalihkan pandangannya dari Rayn.


Ia tahu bahwa Alice tidak memiliki perasaan apapun padanya.


Gadis itu murni menganggapnya sebagai seorang sahabat.


Jujur ia sangat kecewa dan ingin menjadikan Alice lebih dari seorang sahabat.


Namun ia tidak akan memaksakan keinginannya pada Alice.


Terlebih ia tidak mau Alice terluka lagi.


Ia hanya bisa menikmati hari-harinya bersama Alice.

__ADS_1


Dan itu membuatnya sangat bahagia.


__ADS_2